
..."Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketabahan"...
..._Imam Syafi'i_...
"Ini udah 40 hari, Sel."
Vira menemuiku di asrama pagi ini. Sesi ujian kelasnya yang dilaksanakan sore hari, membuat Vira menyempatkan datang ke asramaku. Ia hanya menggunakan kaos berlengan pendek yang dibalut cardigan rajut oversize, dilengkapi bergo dan rok jersey berwarna abu-abu. Pakaian santai yang biasa digunakan santri ketika ke kantin, toko, laundry, maupun tempat-tempat non-formal lainnya.
"Kamu khawatir sama dia? Aku yakin dia baik-baik aja," terangku agar Vira tidak terlalu cemas. "Lagi pula, itu bukan hukuman yang berat. Dia udah sering dapet hukuman yang jauh lebih berat dari ini."
"Harusnya hukuman dia selesai hari ini, kan?"
Aku mengangguk seraya tersenyum. "Lain waktu kita ngobrol lagi, ya. Aku udah janji mau ngembaliin buku ini ke temen."
"Kalo gitu, makasih, Sel. Aku mau pulang ke asrama, deh. Bye, Seli." Vira berjalan menuju asramanya.
"Bye." Aku melambaikan tangan.
Seharusnya aku mengembalikan buku Harsa jam depalan, tetapi karena Vira datang dan ingin mengobrol untuk mencurahkan isi hatinya, maka aku menemaninya dulu. Sekarang sudah hampir jam sembilan. Aku bergegas menuju kamar Harsa yang berada di blok A lantai satu ini.
"Asalamualaikum ... ada Harsa?"
Seketika kamar pengurus rijal yang tadinya ramai menjadi sunyi ketika mendengar suaraku. Begitu juga kamarku, biasanya kami berisik sekali saat mengobrol, dan ketika ada suara ketukan pintu atau terdengar suara rijal, kami langsung terdiam. Khawatir obrolan terdengar oleh mereka. Tetapi, terkadang justru makin ribut karena menyoraki mereka.
Tak lama kemudian, muncul Zafran dari balik pintu. "Waalaikumsalam. Harsa lagi di atas, Sel. Tadi nitip pesen, katanya kalo ente ke sini mau ngembaliin buku, suruh ngembaliin di atas aja."
"Ngapain dia? Di lantai berapa?"
"Lantai tiga. Nggak tau deh dia ngapain. Kayaknya tadi dipanggil Ustadz gitu, mungkin ada tugas."
Aku mengangguk tanda paham. "Oke. Syukron, Zafran." Lalu, aku pergi menuju tangga di koridor tengah.
Asrama sepi hanya ada santri pengurus asrama yang belum sesi ujian, ditambah beberapa guru MI. Sesampainya di lantai tiga, aku langsung melangkahkan kaki menuju ruangan 329, mengingat ruangan itu yang biasa digunakan sebagai kantor.
“Asalamualaikum.”
Terlihat Harsa duduk di sebuah kursi dengan laptop di atas mejanya. Dilengkapi banyak tumpukan kertas di meja itu. Ia menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arahku. “Waalaikumsalam. Masuk aja, Sel.” Seperti biasa, senyumnya terpancar.
“Ente lagi ngapain di sini?” tanyaku setelah masuk dan melihat-lihat ruangan yang rupanya hanya ada Harsa.
Harsa yang masih menggerakan jari jemarinya dengan lincah di atas key board, menjawabku, “Bantuin Ustadz Fajar rekap hasil hafalan santri di sekolah.”
“Itu diluar tugas pengurus, ya? Emangnya harus sekarang?”
“Nggak tau, sih. Kayaknya Ustadz Fajar nggak tau angkatan kita lagi ada ujian dan saya juga nggak enak mau nolaknya. Ente ke sini mau ngembaliin buku?”
"Oh iya, ini. Makasih, Harsa." Aku menyerahkan buku LKS yang dia pinjamkan kepadaku semalam.
Harsa menerimanya. "Sama-sama. Emm ... boleh minta tolong, Sel? Atau ente lagi sibuk?”
Aku yang sudah ingin berjalan menuju pintu, kembali menghadapnya. “Nggak sibuk, cuma mau baca-baca materi pelajaran lagi. Minta tolong apa?”
“Nah, kebetulan. Mau nggak belajar bareng saya di sini?”
Harsa yang melihatku tidak merespon, langsung menjelaskan, “Kalo nggak mau, nggak papa, Sel. Nanti saya segera selesaikan ini dan abis itu langsung belajar.”
“Eh, nggak. Saya bisa kok bantuin ente bacain pertanyaan dari LKS ini. Supaya ente bisa sambil ngerjain tugas itu.” Aku menarik kursi agar duduk tidak jauh dari Harsa. Mulai membuka buku itu. “Semalem ente udah sempet belajar?”
__ADS_1
“Belum, nih. Kebetulan semalem ada tugas lain. Kamar ente semalem belajar bareng, ya? Rame banget.”
Aduh, jadi malu. Benar, semalam aku dan teman-temanku di kamar, secara bergantian membacakan soal-soal dari LKS dan yang lainnya menebak jawabannya. Tanpa sadar, sepertinya suara kami sangat keras.
Aku tertawa kecil. “Iya, begitulah. Coba sekarang ente jawab. Khalifah pertama Dinasti Abbasiyah adalah Abu Abbas As-Saffah, ia memerintah dari tahun berapa sampai tahun berapa?”
“Tahun 750 sampai 754 Masehi.”
“Pertanyaan selanjutnya. Ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Dinasti Umayyah di antaranya bidang Agama, muncul Ilmu Nahwu atau Gramatika Bahasa Arab untuk menunjang Ilmu Fikih. Siapakah yang dikenal sebagai bapak Ilmu Nahwu? Perlu dibacain pilihan gandanya nggak?”
“Bapak Ilmu Nahwu, Abu Aswad ad-Duali.”
Aku menatap Harsa, jawabannya selalu tepat walaupun tanpa pilihan ganda. Aku membalik halaman-halaman untuk mencari pertanyaan yang sekiranya sulit dijawab. “Kayaknya pertanyaan tadi terlalu gampang. Coba sekarang jawab, kemunduran umat islam disebabkan karena lemahnya persaudaraan antara sesama umat, maka perlu sebuah wadah yang bisa mempersatukan umat sedunia, yaitu ‘Pan Islamisme’. Siapakah tokoh pembaru yang mendirikan organisasi tersebut?”
Harsa belum menjawab, ia masih sibuk menatap layar laptop. “Jamaluddin al-Afghani,” jawabnya kemudian.
Sudah setengah jam berlalu, dari sekitar lima puluh pertanyaan yang kubacakan, Harsa hanya salah tujuh soal. Dia benar-benar cerdas, aku iri dengan kecerdasan dan keuletannya itu. Meskipun ia rajin di bidang akademik, tidak membuatnya meninggalkan bidang-bidang lainnya. Ia membuat semuanya seimbang, dirinya juga mudah bergaul dan tidak pelit dengan pengetahuan yang dimilikinya.
“Sel, baca buku paket SKI-nya juga. Jangan baca dari LKS aja, itu terlalu sempit.” Harsa menyerahkan buku paket pelajaran SKI yang sepertinya sengaja ia bawa. “Baca yang udah saya kasih warna stabilo. Itu yang penting-penting.”
“Oke.” Aku menerimanya dan mulai membaca hingga berlembar-lembar.
Harsa menutup laptop dan membereskan mejanya. “Saya udah selesai, Sel.” Ia berjalan mendekat, mengambil LKS dan buku paket dariku. Memberikanku beberapa soal dan Alhamdulillah aku bisa menjawanya, walaupun tidak sedikit yang salah.
“Sa, ini jam berapa? Kita lama banget di sini.”
Harsa memeriksa jam tangannya dan menunjukannya padaku.
“HAAA??? Astagfirullah udah jam segitu. Aaaa ... ujian hampir mulai.” Aku langsung berlari meninggalkan Harsa dan menuruni anak tangga hingga tiba di lantai satu.
Melihat jendela yang tertutup, aku curiga teman-temanku sudah meninggalkanku dan berangkat ke sekolah. Segera aku berlari mendekati pintu yang dislot dari dalam dengan jendela tidak dikunci. Tanganku masuk melalui jendela untuk membuka slot pintu. Untung saja aku sudah mandi tadi pagi sehingga dengan gesit aku langsung bersiap-siap. Setelah mengunci kamar, aku berlari untuk memakai sepatu di trotoar.
Sepertinya aku harus menerima ajakannya karena di saat seperti ini teman sangat diperlukan. “Boleh.”
Harsa berjalan di depanku. Langkahnya sangat cepat, aku hampir tertinggal. Aku terus mengimbangi langkahnya hingga terkadang berlari. Kami berjalan di jalanan khusus santri nisa, aku terheran seorang Harsa mau melintasi jalan ini. Tibalah kami di sekolah, halaman sudah sepi dan sepatu-sepatu berjejer di dekat pintu basement, pertanda sesi kami sudah memasuki ruangan. Alhamdulillah, aku berangkat dengan Harsa yang berjalan cepat sehingga aku terbawa cepat, jika aku berjalan sendiri mungkin lebih terlambat lagi.
Kini kami berada di ruang operator untuk melapor kedatangan kami yang terlambat. Seluruhnya menyaksikan kami dari bilik kaca masing-masing, rasanya aku ingin menangis. Malu dan khawatir akan kehabisan waktu untuk mengerjakan soal ujian. Jika terlambat bersama teman cewek mungkin aku tidak semalu dan sekhawatir ini. Ini bersama cowok, bahkan yang terlambat hari ini hanya kami berdua. Menyedihkan.
“Kenapa bisa terlambat?” Ustadzah yang hari ini bertugas di ruang operator membuka suara setelah beliau hanya fokus dengan komputer di depannya selama beberapa menit kami di sini.
Aku bingung harus menjawab apa, terkadang jawaban yang kita berikan dianggap sebagai alasan saja. Aku memilih diam.
“Afwan, Ustadzah. Kami belajar sambil mengerjakan tugas asrama dan kami tidak sadar bahwa ujian akan segera dimulai,” jawab Harsa santai.
“Yang lain bisa kok, nggak terlambat. Jangan jadikan tugas lain sebagai alasan. Biasakan disiplin waktu dalam hal apa pun. Ini Selina sudah pernah terlambat juga sebelumnya. Harsa baru pertama kali. Harsa juga tidak punya catatan apa pun di bagian kesiswaan. Selina beberapa kali masuk kesiswaaan,” ungkap Ustadzah tersebut sambil melihat data pelanggaran santri di sekolah.
Aku berusaha menelan ludah yang terasa pahit. Kenapa Ustadzah ini mengungkit kesalahan di masa lalu, sih? Segala membandingkan aku dan Harsa pula, kan jelas aku tidak sebaik Harsa.
“Harsa yang terbiasa disiplin jangan terbawa Selina. Ya sudah, nanti setelah selesai ujian, kalian bersihkan ruang kesiswaan, ya. Sekarang segera kembali ke ruang ujian masing-masing.”
“Baik, Ustadzah. Asalamualaikum,” ucapku dan Harsa bersamaan.
Segera aku masuk dan duduk di kursiku, setelah banyak mata tertuju ke arahku.
“Sel, kita kira kamu udah berangkat duluan bareng Vira tadi. Seragam kamu nggak ada di depan lemari, jadi kita kira udah berangkat,” tutur Aidha dengan wajah merasa bersalah.
Aku mengerjakan soal nomor satu setelah berhasil login. “Seragam aku di balkon tadi.”
__ADS_1
“Selina yang cantik imut, maafin kita ya. Tadi juga sengaja kita slot aja pintunya karena takut kamu belum berangkat.” Syilla yang masih duduk di kursinya ikut menambahkan.
“Iya, Sel. Tadi kita bingung kamu ke mana. Kirain udah berangkat.”
“Ssuutttt. Iya-iya aku nggak marah, santai aja. Aku baru ngerjain satu nomer, nih,” jawabku.
...***...
UAMBN selama tiga hari ini telah usai. Hari ini adalah hari terakhir, sehingga setelah selesai sesi, setiap kelas diperkenankan untuk berpotret bersama wali kelas sebagai dokumentasi.
“Satu ... dua ... tiga ... .”
Cekrek!
...
...
Aidha menarik tanganku. “Ayok, Sel. Pulang.”
“Kalian duluan aja, aku mau bersihin ruang kesiswaan.”
“Hukuman tadi? Terus nanti kamu pulang sendirian?”
Aku mengangguk sambil tersenyum dipaksakan. Lalu, terlihat Harsa berjalan ke arah kami.
Syilla langsung mendekat ke Harsa. “Harsa, tolong jagain Seli yang teledor ini, ya. Jangan lupa diajak makan siang. Gih Seli, ikut Harsa.”
“Iya, Harsa. Titip Seli, ya.” Dilla menambahkan.
“Kalian apaan, sih?” tegurku.
Setibanya di depan ruang kesiswaan, nampak banyak santri berkerumun, sepertinya santri kelas sepuluh. Mungkin mereka sedang menunggu hukuman seperti aku dulu. Aku membuntuti Harsa untuk masuk ke ruang kesiswaan, membelah kerumunan mereka.
“Asalamualaikum, Ustadzah. Kami mau melaksanakan hukuman,” ucap Harsa.
“Waalaikumsalam. Iya silakan langsung saja.”
Kerumunan santri kelas sepuluh itu memperhatikan aku dan Harsa yang sedang menyapu. Dilengkapi bisik-bisik dan tatapan sinis, menyebalkan. Mengingat aku menyapu bersama Harsa, maka aku harus menyapu sebersih-bersihnya sebelum dikomentari oleh cowok bak pangeran itu.
“Kak Harsa lagi dihukum?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya, nih.”
“Kakak nggak sama Kak Zahra?”
Aku pura-pura tidak mendengar percakapan mereka. Pantas saja mereka melihatku sinis, ternyata mereka penggemarnya Harsa. Bahkan, sepertinya mereka mendukung kedekatan Harsa dan Zahra.
Hukuman telah Harsa dan aku kerjakan. Harsa duduk di lantai teras untuk mengenakan sepatu, begitu juga aku. Aku duduk agak jauh darinya.
“Pake sepatunya cepetan, Sel. Saya tau kamu udah laper.”
Ih! Emangnya bunyi perut aku kedengeran sampe situ?
Aku menyusulnya berdiri. “Emangnya kalo saya laper, kenapa?”
“Mau cepet-cepet beliin kamu makananlah. Mau sekalian ketemu Andra, nggak?”
__ADS_1
“Andra?”
...***...