BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Menuju Acara Anniversary


__ADS_3

Siang tadi aku menerima telepon dari sahabatku saat di SMP. Sudah jarang sekali aku berkabar dengannya, hanya saling melihat story kemudian reply. Sesekali melakukan chat, tidak sesering dulu saat masih bersama. Walaupun saat di sekolah bertemu, malamnya tetap berkomunikasi. Membicarakan apa yang harus dibawa esok hari, tugas untuk esok, atau bahkan saling curhat mengenai pria yang disukai. Begitulah masa SMP-ku. Mungkin masa SMP kalian juga seperti itu.


Saat aku bertelepon dengan sahabat lamaku tadi, Vira datang ke kamarku. Katanya ingin mendengar langsung cerita mengenai keadaan Andra. Aku memang memberitahu Vira bahwa aku mengunjungi Andra di kamar Ustadz Zidan tempo hari. Aku hanya berniat memberitahunya bahwa Andra baik-baik saja dan hukumannya akan segera selesai. Vira tidak mengharapkan Andra membalas rasa sukanya. Ia hanya menyukai Andra, itu saja. Tidak peduli siapa wanita yang Andra sukai, Vira tetap menyukai Andra tanpa mengganggunya. Itulah keputusannya. Vira berkata kepadaku bahwa ia Insyaallah tidak keberatan jika Andra menyukaiku, ia cukup menyukai Andra dari jauh.


"Geser, Sel." Zahra naik ke atas kasurku lalu berbaring di sampingku. Menatap plafon dengan hiasan yang berbentuk bintang-bintang.


"Kamu tumben Ra, sore-sore gini nganggur."


Zahra menghela napas. "Pengen tidur sebenernya, ngantuk banget. Tapi, sore ini aku mau geladi buat acara besok."


"Oh, kamu jadi pembaca sari tilawah, ya? Sama siapa? Harsa, ya?"


Zahra mengangguk. Jari jemarinya memainkan rambutku yang panjang melebihi bahu. "Iyah. Eh, ngomong-ngomong baju buat besok kenapa belum dateng, ya?"


"Udah dateng tapi belom nyampe ke kamar kita, kan banyak banget tuh angkatan. Mungkin nanti malem. Kamu pake adat mana, Ra?"


"Adat Bali. Masyaallah, anggun banget keliatannya, langsung aku beli deh waktu itu," jerit Zahra antusias hingga ia bangkit dari rebahannya. "Kamu mau liat, nggak?" Zahra meraih ponselnya dan menunjukan sebuah gambar busana khas bali.


Aku meraih ponsel Zahra. Melihat potret model wanita memakai kebaya putih dengan selendang merah, dilengkapi bawahan songket berwarna keunguan. Gelang naga satru menghiasi tangannya. Di sampingnya terdapat model pria memakai baju safari putih dengan penutup kepala yang disebut destar atau udeng. Kamen berwarna coklat diikat melingkar di pinggang. Lalu, ditutupi oleh kain berukuran 3/4 berwarna keunguan yang disebut kampuh. Umpal dieratkan di sebelah kanan yang kemudian tertutup baju safari.



Sumber: https://www.femalesia.com/id/news/printpage/5c8104f266fb785f188b4567


"Cantik banget Ra bajunya. Apalagi kalo dipake kamu."


Zahra tersenyum hingga gigi gingsulnya nampak. "Alhamdulillah dan semoga bajunya nanti cocok di aku, hehe. Aku udah bilang Harsa mau pake baju adat bali yang kayak gini, tapi nggak tau deh dia mau pake adat bali juga atau nggak."


"Oalah, semoga aja dia pake adat bali juga. Kan biar bagus kalo pembaca ayat suci Al-Qur'an dan sari tilawahnya pake baju couple."


"Kamu sendiri adat mana, Sel?"


"Adat NTT. Nggak tau kenapa aku jatuh cinta banget sama modelnya waktu pertama liat. Nuansanya warna item, Masyaallah keren banget diliatnya. Bentar deh aku cari gambarnya."


Aku membuka halaman toko online di ponselku, lalu menunjukan kepada Zahra potret model pria dan wanita mengenakan busana khas Nusa Tenggara Timur atau yang disebut adat Rote . Busana wanitanya yaitu kain tenun dengan warna didominasi hitam yang digunakan di seluruh tubuh sehingga membentuk sebuah baju terusan dengan ikat pinggang emas bernama pendi. Aksesorinya berupa selempang, gelang emas dan hiasan kepala yang berbentuk bulan sabit atau yang disebut bula molik. Sedangkan busana pria menggunakan kemeja hitam berlengan panjang dan celana hitam yang dilengkapi sarung tenun ikat dengan warna yang didominasi hitam pula. Dilengkapi topi bernama Ti'i langga dengan bentuk seperti topi khas meksiko sombrero yang terbuat dari bahan daun lontar kering. Untuk penutup dada, berupa sebuah selendang kain dengan motif yang sama di bahu.



Sumber: https://id.pinterest.com/bangtiar/baju-adat-ntt


"Masyaallah, Tabarakallah. Cakep banget, Sel. Pasti cocok sama kamu."

__ADS_1


"Jazakallah khair. Kamu juga pasti tambah cantik pake kebaya bali itu. Aku beli baju ini adanya sepasang sama baju yang cowok, jadi aku beli yang buat cowoknya juga. Tapi nggak tau baju cowoknya mau diapain nanti."


"Buat Andra dong. Andra udah selesai kan hukumannya?"


Aku menarik napas dan mengembuskan perlahan. "Belum dapet kabar lagi. Padahal acaranya besok." Jeda beberapa detik, "Eh, kamu nggak jadi ke auditorium buat geladi?"


"Jadi, jadi. Ini mau siap-siap. Takut keduluan Harsa yang sampe di sana." Zahra bangkit dari kasurku.


***


"Seli ... bajunya udah dateng nih. Ini lagi pada nyobain. Cepetan sini." Suara Syilla memanggilku yang sedang berada di dekat kamar mandi.


"Iya, Syill. Tanggung nih, nanti aku nyusul."


Pakaian kotorku di dalam ember sudah menggunung. Sudah waktunya pergi ke laundry. Aku melipat pakaian-pakaian itu agar bisa dimasukan ke tas sambil mencatatnya di nota laundry. Memisahkan pakaian yang akan dicuci sendiri di kamar atau diantar ke laundry.


Setelah selesai, aku membawa tas dan menghampiri yang lain di ruang belajar. Berhamburan pakaian-pakaian adat beserta aksesorinya di meja dan lantai. Teman-teman sibuk mencoba pakaian adat yang telah dipesan dan akan dipakai di acara besok. Aku meletakan tas di lantai dan meraih kantong plastik besar itu untuk mencari pakaian adat milikku.


"Wah, cantik banget Zahra," puji Iffah yang melihat Zahra berdiri di depan cermin. Mencoba baju kebaya bali miliknya.


Semua melihat ke arah Zahra dengan wajah terpesona. Cocok sekali kebaya khas bali yang berwarna putih itu di tubuh Zahra. Kulit putih dan wajah cantiknya menambah kesan anggun pada dirinya. Gigi gingsul menghiasi tiap kali ia tersenyum.


Persiapan acara ini sudah dimulai sejak beberapa minggu sebelum pelaksanaan UAMBN. Tema yang diangkat ini bertujuan untuk melestarikan budaya-budaya dari berbagai daerah di Indonesia sehingga dapat menambah kecintaan terhadap bangsa dan negara. Agenda dalam acara besok seperti penampilan beberapa tari tradisional, menyanyikan lagu daerah maupun pertunjukan seni lainnya yang bisa dilakukan berkelompok atau individu. Selain itu, akan ada penayangan beberapa video dari angkatan, biasanya bagian itu paling membuat haru karena menayangkan kebersamaan kami.


"Oke, sebentar."


"Kamu bawa tas itu mau ke laundry, Sel? Malem-malem gini?" tanya Dilla.


Aku sedang mencoba bajuku dan berdiri di depan cermin. "Belum malem banget kok, baru jam delapan."


"Waww ... Bagus Sel bajunya. Suka liatnya. Kamu nanti pake kerudungnya pashmina atau segiempat?"


"Segiempat kayaknya. Lebih simple gitu. Tinggal dimodel-model dikitlah."


Najwa ikut berdiri di sampingku. "Iyah, bajunya pas di badan Seli yang nggak kurus dan nggak gemuk juga. Kalo aku yang gemuk gini, nggak bakal cocok," adu Najwa dengan wajah cemberut. Najwa selalu tidak percaya diri dengan tubuh yang baginya agak gemuk.


"Kamu segitu pas, Wa. Nggak gemuk, kamu kan tinggi." Selesai mencoba baju itu, aku segera bersiap kembali. "Aku mau ke laundry dulu, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati, Sel."


***

__ADS_1


Setelah aku menaruh tas yang berisi pakaian kotorku di tumpukan tas-tas, aku menuju loket pembayaran. Malam ini tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang saja sehingga aku tidak perlu mengantri terlalu lama. Selepas itu, aku segera keluar untuk kembali ke asrama. Namun, sepertinya barusan aku melihat Faaz berlari ke samping tempat laundry ini. Segera aku mengejarnya. Tetapi gang sempit ini sepi, hanya remang-remang cahaya lampu dari tempat laundry. Tidak ada siapa pun di sini.


Aku celingak-celinguk mencari Faaz. Bisa saja dia bersembunyi agar tidak ketahuan olehku kalau dia kabur dari belajar malam. Hal seperti ini bukan kali pertama, sering Faaz kabur dari kegiatan asrama maupun sekolah.


Kebetulan ada bapak-bapak petugas laundry berjalan dari arah belakang tempat laundry. "Pak, maaf. Bapak liat nggak anak MI cowok lewat di sini tadi?"


"Anak MI pake baju item?"


"Iya, Pak. Bapak liat?"


Bapak dengan seragam laundry berwarna hitam itu menunjuk ke arah belakang. "Tadi lewat di belakang, Kak. Coba ke sana saja."


"Baik. Terimakasih, Pak." Segera aku berjalan menuju belakang. Ternyata di belakang tidak ada siapa pun. Astagfirullah, kenapa jadi merinding begini.


Baru saja aku berniat untuk putar balik, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku pelan. Membuatku membeku. Aku beristigfar dalam hati sambil berusaha menoleh.


"Dorrrrrr!"


"Astagfirullah, Faaz! Bandel banget." Tanpa pikir panjang, kutarik telinga kirinya sambil berjalan kembali ke asrama.


"Aaaa ... Sakit, Kak. Iya ini aku mau balik ke asrama, kok. Eh, Kak Harsa. Kak, tolongin aku," adu Faaz saat melihat Harsa datang dari arah gedung asrama.


Aku melepaskan tanganku dari telinga Faaz. Namun, tetap menarik tangannya agar dia tidak kabur lagi.


"Faaz kenapa, Sel? Oh iya, kebetulan banget ketemu ente, Sel. Saya ada kabar baik. Besok Andra bisa ikut acara."


Saking terkejutnya, tanganku lepas dari tangan Faaz. Dia langsung berlari menaiki anak tangga. Semoga saja langsung kembali ke kamar untuk mengikuti belajar malam di kamarnya.


"Alhamdulillah. Berarti besok bisa ikut acara anniv, dong?"


Harsa mengangguk dan tersenyum. "Saya denger dari Zahra kalo ente udah beliin baju pasangan sama Andra buat acara besok. Mau saya kasih ke Andra, nggak? Kebetulan sekarang saya mau ke asrama rijal."


Aku berpikir sejenak. Zahra bilang soal ini ke Harsa? Khawatir jadi fitnah. Padahal aku membeli itu bukan karena ingin berpasangan dengan Andra. "Boleh, Sa. Tapi, ngerepotin ente, nggak?"


"Nggak, kok."


Ini hanya perasaan aku saja atau memang benar, ya. Mengapa aku merasa ada yang berubah dari ekspresi wajah Harsa. Matanya tiba-tiba terlihat sendu. Senyumnya seperti dipaksakan. Tapi, Harsa kan memang seperti itu. Mudah berubah raut wajahnya.


"Sebentar, ya. Saya ambil di kamar dulu." Aku bergegas ke kamar.


Tak lama kemudian, aku membawakan baju itu dan menyerahkannya pada Harsa. "Makasih, Harsa."

__ADS_1


"Sama-sama."


***


__ADS_2