
Gugup dan takut, itu rasa yang lebih mendominasi diriku saat ini. Aku melangkah perlahan menuju koridor tengah lantai satu, tempat anak-anak menonton siaran kartun di televisi besar. Napas kuhela berkali-kali dengan bibir yang terus kugigit karena merasa cemas. Suara bising anak-anak bermain sambil berteriak seperti tidak terdengar olehku. Mataku hanya tertuju kepada seseorang berkemeja hitam polos berbahan wolfish.
Sesuai permintan Zahra kepadaku tadi malam, aku harus bertemu Harsa pagi ini. Setelah aku berkata jujur kepada Zahra tadi malam bahwa laki-laki yang aku sukai bukanlah Harsa, Zahra pun memintaku menanyakan langsung kepada Harsa mengenai bagaimana perasaannya terhadap Zahra dengan syarat, Harsa tidak boleh tahu bahwa ini permintaan Zahra. Aku kebingungan bagaimana caraku bertanya, tidak mungkin aku langsung ke inti. Bisa-bisa Harsa kaget dan menyangka yang tidak-tidak mengenai aku.
Selain itu, aku juga takut dengan jawaban Harsa nanti. Bagaimana jika Harsa tidak memberikan jawaban yang menyenangkan? Sudah pasti Zahra kecewa dan aku tidak sanggup jika harus terus-terusan dibenci oleh Zahra. Kami pulang besok dan kemungkinan aku tidak akan bertemu Zahra lagi. Tidak mungkin perpisahan kami semenyedihkan ini. Pertemanan kami kandas begitu saja hanya karena seorang laki-laki.
Kakiku berhenti tepat satu langkah di belakang Harsa yang tengah duduk bersama anak-anak. Aku menatap punggungnya yang kokoh itu agak lama, sambil terus meminta pertolongan kepada Allah. Berharap akan ada hal baik hari ini. Aku memutar otak untuk mencari topik dan pemilihan kalimat yang baik agar Harsa tidak curiga.
“Harsa,” panggilku dengan hati-hati.
Dia menoleh dan kebingungan melihatku berdiri di belakangnya. “Eh, Seli. Ada apa?”
Aku yang kebingungan dan salah tingkah hanya bisa menatapnya. Otakku berpikir keras dan menyuruh mengatakan sesuatu pada Harsa, tetapi mulutku tak dapat berkata apa-apa. Membisu.
Harsa yang melihatku seperti itu pun menjadi ikut kebingungan. Tak lama kemudian, dua orang anak yang sejak tadi duduk di samping Harsa, pergi. Tanpa berpikir panjang, Harsa memintaku duduk di samping dirinya. Aku mengangguk tanda menyetujuinya.
“Ada apa, Sel?” tanya Harsa sekali lagi padaku setelah aku duduk.
Usai menghela napas, aku mulai berbicara. “Harsa, ente pernah bilang sesuatu ke saya waktu di auditorium, kan?”
“Sesuatu yang mana?”
“Itu ... .” Ah, bagaimana aku mengatakannya bahwa sesuatu yang kumaksud adalah pengakuan perasaannya padaku waktu itu. Ini Harsa pura-pura tidak tahu atau memang benar tidak tahu, sih? “Itu ... sesuatu yang kata ente semoga nggak membawa mudharat buat kita,” sambungku.
“Ah, pengakuan perasaan saya ke kamu?” tebaknya dengan nada mengejek.
“Iya itu. Jadi, sekarang saya mau tanya ke ente. Misalnya ada cewek yang bilang begitu ke ente. Gimana respon ente?”
“Ceweknya siapa contohnya? Kamu?”
“Nggak. Perempuan lain selain saya.”
Lelaki yang suaranya saat kelas sepuluh aku kagumi ini tampak bingung. Lalu, wajahnya terlihat sedang berpikir untuk menjawab pertanyaanku. “Mungkin saya seneng dan nggak enak hati. Saya seneng karena ada orang yang suka sama saya, tapi saya juga jadi nggak enak karena nggak bisa balas perasaannya.”
“Seandainya yang bilang begitu perempuan pinter, lembut dan cantik. Misalnya perempuan kayak Zahra, Maryam atau Syahla gitu. Ente berarti bisa kan balas perasaannya?”
__ADS_1
Harsa terkekeh mendengar perkataanku.
Apa aku salah bicara? Aku sebisa mungkin tidak membuat Harsa curiga bahwa kedatanganku menemuinya untuk mencari tahu apakah Harsa mempunyai perasaan serupa dengan Zahra kepada dirinya. Sejujurnya aku juga malu bertanya seperti ini kepada seorang laki-laki.
“Kamu lagi kenapa, Sel? Tiba-tiba nanya begini. Apa karena kita besok pulang jadi kamu penasaran sama saya? Oke deh, saya juga harus berbaik hati jawab pertanyaan kamu supaya kamu nggak penasaran.” Harsa terdiam sebentar dengan pandangan ke arah halaman luar. “Mau cewek itu pinter, cantik atau yang lainnya, tapi kalau dia bukan orang yang saya sukai, saya tetap nggak tertarik sama dia.”
Pandangan Harsa tetap ke halaman luar, ia tidak menatapku saat mengatakan hal ini. Nada bicaranya berubah tidak seperti saat kami mengobrol di awal tadi. “Saya cuma bisa menyukai satu perempuan. Jadi, selama saya masih menyukai satu orang perempuan, perempuan lain nggak bisa saya sukai juga.”
Aku tertegun mendengar pernyataan Harsa barusan. Dia pria yang baik dan tulus. Semoga Allah jodohkan dengan wanita yang terbaik pula. Sangat beruntung wanita yang akan menjadi jodohnya kelak. Tidak pernah kubayangkan seseorang sebaik dia pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Namun, saat itu dan bahkan sampai detik ini laki-laki yang kusukai bukanlah dia.
Laki-laki yang duduk tidak terlalu jauh dariku ini menatapku dengan bola mata cokelatnya. “Waktu acara di auditorium, kamu udah saya kasih tau kan siapa perempuan yang saya sukai?” Tatapan mata Harsa terlihat serius. “Ya, perempuan itu kamu, Sel. Dan itu masih sampe sekarang.”
Aku cepat-cepat mengalihkan padanganku dari Harsa. Ia membuat hatiku terenyuh. Aku semakin dilanda kebingungan. Situasi ini membuatku mengerti salah satu alasan mengapa perasaan menyukai seseorang tidak selamanya baik untuk diungkapkan. Ada kalanya lebih baik disembunyikan. Andai saja aku tidak mengetahui bahwa Harsa menyukaiku, mungkin saat Zahra bertanya padaku tadi malam aku akan langsung menjawab tidak. Tadi malam aku memang berniat menyembunyikan kebenarannya tapi rasanya sulit sekali untuk membohongi teman sendiri. Apalagi Zahra orang yang sangat tidak suka dibohongi. Aku tidak sanggup jika nantinya Zahra tahu bahwa aku telah berbohong padanya.
Tidak boleh begini, ini semua sudah terjadi dan aku tidak boleh menyesali apa yang tadi malam sudah terjadi. Mungkin itu sudah kehendak Allah dan mungkin itu pilihan yang terbaik. Harsa juga tidak salah sepenuhnya karena dia tidak mengetahui bahwa Zahra menyukainya.
Harsa, ternyata ungkapan ente saat di auditorium membawa mudharat untuk saya, batinku.
Setelah agak lama aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, aku menyadari Harsa juga seperti memikirkan sesuatu. “Ngomong-ngomong, ente kan kenal sama Zahra sebelum saya masuk pesantren ini, ya? Berarti kalian udah kenal lama banget. Eumm, gimana pandangan ente ke Zahra? Soalnya kalau saya lagi sama Zahra, adik kelas pada nanyain ente. Terus, waktu kita dihukum bersihin ruang kesiswaan, adik kelas nanyain Zahra ke ente, kan?” Aku memancing Harsa agar mengungkapkan sesuatu tentang Zahra. Aku berharap Harsa memberikan jawaban yang tidak menyakiti perasaan Zahra agar aku tidak perlu membohongi Zahra tentang isi obrolan kami ini.
“Betul tuh. Dia emang jago apa aja, aku sama temen-temen juga salut sama dia. Dari awal saya ketemu, dia ramah dan baik banget.”
Harsa mengembangkan senyuman. “Iya. Saya pun bersyukur bisa kenal sama Zahra.”
...***...
Aku mencari Zahra di kerumunan santri Madrasah Ibtidaiyah. Mereka yang sedang menikmati persembahan lagu dari band yang beranggotakan guru-guru muda di asrama ini maupun para pengurus asrama. Sudah menjadi rutinitas kami untuk memberikan hiburan kepada anak-anak dengan bernyanyi bersama. Awalnya program ini hanya untuk menunggu waktu berbuka puasa saja, tetapi ternyata berlanjut sampai sekarang walaupun hanya dua atau tiga hari sekali.
Acara kecil-kecilan yang biasa diadakan ba’da ashar ini berubah menjadi pagi menjelang siang untuk hari ini karena hari ini adalah hari terakhir para pengurus asrama berada di sini. Betul sekali, nanti malam adalah acara pelepasan bagi santri kelas dua belas.
Zahra duduk dengan beberapa santri kecil yang sepertinya santri kelas dua. Aku berjalan menghampirinya di koridor yang menghadap para personil band dadakan ini. Mereka tampil di halaman depan asrama dekat dengan bunga-bunga yang indah di taman yang terawat dengan baik.
“Zahra, aku udah tanya-tanya Harsa tadi,” kataku kepadanya dengan agak berbisik.
“Udah? Cepet banget. Ya udah, kamu mau ceritain sekarang?”
__ADS_1
Aku mengangguk. “Mau di mana? Di sini banyak anak-anak.”
Zahra berdiri dan menggandeng tanganku agar mengikutinya. “Deket tangga situ aja yang sepi.”
Kami duduk di anak tangga yang berada di blok untuk santri rijal. Agak jauh dari keramaian, tetapi yang tampil masih terlihat dari sini. “Jadi gini, Ra.” Aku memulai bicara setelah menghela napas.
“Tar dulu, Sel. Em, kamu udah maafin sikap aku semalem, kan? Iya, sih semalem kamu udah bilang kalo kamu maafin aku tapi aku tetep ada rasa bersalah. Sebenernya aku tahu kalau sikap aku yang kayak semalem itu salah, salah banget. Tapi, itulah aku, Sel. Itu kekurangan dan aib aku. Aku berusaha nggak begitu lagi, kok. Aku berusaha berubah,” tuturnya yang diakhiri dengan kekehan karena ia merasa malu mengingat sifatnya yang seperti itu.
“Iya-iya. Sambil berusaha berubah, lho, Ra.” Aku mencubit pelan lengannya. Aku juga harus berusaha lapang menerima kekurangan temanku karena mungkin ada suatu keadaan atau kejadian di masa lalu yang membuatnya seperti itu. Yang penting dia menyadari kesalahannya dan berusaha untuk berubah.
Aku melepaskan tubuhnya yang dari tadi menyandar padaku. “Jadi mau diceritain nggak, nih?”
“Iya. Jadi, gimana tanggapan dia? Nggak ketahuan kan kalau aku yang nyuruh kamu?”
“Nggak, kok. Tadi tuh dia bilang kalau dia bersyukur kenal kamu. Dia juga kagum sama kegigihan kamu kalau belajar dan kamu juga serba bisa.”
Zahra tersenyum sedikit. “Aku juga bersyukur kenal dia. Dan lebih bersyukur lagi kalau dia suka sama aku.” Ia berhenti sejenak lalu melihat ke arahku. “Aku nggak berhak marah sama kamu, Seli. Apalagi kamu juga nggak suka sama Harsa.”
“Berarti kalau suatu saat aku suka sama Harsa, kamu marah dong sama aku?”
Zahra terkekeh. Gigi gingsulnya nampak jelas, menambah kesan manis pada wajahnya. “Kalau suatu saat kamu suka sama Harsa dan Harsa juga begitu, semoga aku udah nggak suka sama Harsa dan aku udah ketemu sama laki-laki yang emang jodoh aku.”
Kami tertawa bersama. Lagu yang dinyanyikan oleh vokalis itu mengiringi obrolan kami ini. Tiba-tiba tanpa sengaja aku menoleh ke belakang, ke arah atas tangga.
Deg!
Mataku membelalak. Terkejut dengan apa yang aku lihat ini. Zahra yang melihatku menoleh ke belakang mengikuti arah pandangku. Ia sama terkejutnya. Berdiri seorang laki-laki berkemeja dan celana hitam, membuat kulitnya makin terlihat putih bersih. Dialah seseorang yang mengobrol denganku belum lama ini.
“Zahra, afwan. Bisa saya ngobrol sebentar sama kamu?”
Aku dan Zahra saling pandang. Kenapa Harsa mau ngobrol sama Zahra? Apa dia dengar semua yang aku dan Zahra bicarakan sejak tadi? Ya Allah semoga tidak ada hal yang membuat Zahra sedih. Walaupun aku juga tahu bahwa Harsa tidak akan menyakiti perasaan Zahra.
Zahra hanya menggigit bibirnya. Wajahnya tampak cemas, mungkin ia merasa malu jika Harsa memang mendengar semua perbincangan kami tadi.
...***...
__ADS_1