
"Eh, iya ini udah hafal kok, Dha." Setelah selesai menghafal tadi, entah kenapa tiba-tiba aku teringat tragedi 3 tahun yang lalu. "Kamu udah setor?"
"Udah. Gih kamu setor dulu. Biasanya kamu paling duluan kalo setor."
Aku tertawa. "Itu mah lagi lancar aja otaknya. Ya udah aku mau setor dulu." Aku berjalan masuk ke kantor asrama santri aliyah nisa untuk menemui Ustadzah Fathimah. Uji kompetensi ini dilaksanakan ba'da maghrib setiap seminggu sekali kepada wali kelas masing-masing.
Setelah Ustadzah Fathimah menjawab salamku, aku duduk di hadapannya. "Mau setor Surat Al-Anbiya ayat 1 sampai 8 Ustadzah."
"Ayok. Silahkan."
Setelah Ustadzah Fathimah membubuhkan nilai di buku milikku, aku mengucapkan terimakasih dan berpamitan.
"Sebentar, Selina. Ustadzah mau kasih ini." Ustadzah Fathimah menyerahkan sebuah buku berjudul Psikologi Remaja: Penanggulangan Kenakalan Remaja karya Dr. Sri Wahyuni, M. Th.
"Buat siapa ini, Ustadzah?"
"Buat kamu. Kamu mau masuk psikologi, kan? Semoga buku ini bermanfaat. Kamu bisa baca-baca kalau lagi senggang."
Aku bingung, bagaimana Ustadzah Fathimah tahu bahwa aku berniat masuk psikologi? Pasalnya, aku saja baru memutuskan masuk psikologi setelah liburan kemarin, memang sangat telat jika dibanding teman-temanku. Sesi pembahasan masuk perguruan tinggi pun belum diadakan lagi saat di kelas. Bahkan, aku sendiri belum cerita kepada teman sekelasku.
"Makasih banyak Ustadzah. Alhamdulillah ini pasti bermanfaat banget. Emm, Ustadzah tau dari mana aku mau masuk psikologi?"
"Dari Harsa."
Aku terkejut hingga hampir melotot. "Harsa cerita ke Ustadzah?"
__ADS_1
Ustadzah Fathimah mengangguk sambil tersenyum.
"Baik Ustadzah. Nanti kalau saya sudah selesai bacanya saya segera kembalikan."
"Nggak usah. Ustadzah sengaja belikan untuk kamu, kebetulan teman Ustadzah seorang psikolog. Jadi, Ustadzah belikan buku yang menurut dia cocok untuk seusia kamu."
"Masyaallah. Terimakasih banyak, Ustadzah. Jadi merepotkan."
"Ustadzah nggak merasa direpotkan, kok."
Aku memang pernah mengatakan kepada Harsa soal jurusanku saat dia bertanya liburan kemarin. Tapi, bisa-bisanya Harsa cerita ke ibunya hanya soal jurusan tujuanku ini. Untuk apa coba? Aku jadi tidak enak, walaupun Ustadzah Fathimah wali kelasku sendiri. Apalagi sampai diberikan buku seperti ini.
***
"Itu buku siapa, Sel?" tanya Zahra saat menyadari aku membawa buku yang diberikan Ustadzah Fathimah.
"Buku Ustadzah Fathimah."
"Oalah. Itu dikasih apa dipinjemin? Baik banget Ustadzahnya." Aidha menanggapi.
"Katanya sih nggak usah dikembaliin. Zahra, kamu juga pernah dikasih buku sama Ustadzahnya, kan?" tanyaku.
Zahra mengangguk. "Waktu aku ikut lomba fisika ke luar pesantren, pulangnya mampir ke toko buku dan Ustadzahnya beliin aku beberapa buku buat persiapan lomba berikutnya."
"Mantab. Dah yuk pulang." Aidha menarik tangan kami berdua.
__ADS_1
Setelah kuperhatikan, ada yang tidak biasa dari ekspresi wajah Zahra. Setiap kali aku mengatahan mengenai Harsa mengapa ia terlihat tidak menyukainya? Apa Zahra menyukai Harsa? Kalau mau bicara fisik dan kemampuan, aku kalah jauh dari Zahra. Zahra yang pintar, pandai dalam semua bidang, fisik pun ia terbilang sangat memesona, cantik dan putih.
Seharusnya Zahra tidak perlu cemburu terhadapku. Dia akan selalu lebih unggul dariku dan Harsa pasti juga menyukai Zahra, bukan aku. Mereka dekat sebelum aku mengenal Harsa, mereka sering dapat job bersama dan mengikuti perlombaan untuk perwakilan santri rijal dan nisa. Lagi pula, aku tidak menyukai Harsa.
Sesampainya di asrama, aku menghubungi Harsa. Butuh penjelasan mengapa dia bilang ke ibunya soal jurusanku. Aku jadi tidak enak sampai dibelikan buku seperti ini. Belum juga bertanya, ternyata Harsa sudah menjelaskan melalui pesan yang dikirimnya.
Harsa
Awalnya saya tanya ibu, pnya buku psikologi atau ngga
Trs ibu tnya, buat apa. Sya jwb aja buat Seli, dia mau msuk psikologi.
Tiba² aja ibu beliin.
Gtu, Sel.
^^^Ih, kan sya ga minta ente buat cariin buku psikolog!^^^
Iya emg ga minta. Sy yg mau cariin bukunya.
Ente itu sebenernya pinter, syang klo otaknya ga diasah.
Malas meladeni Harsa yang seperti itu. Tidak kubalas lagi pesannya. Dari pada menggerutu kepada Harsa, lebih baik aku baca-baca buku ini. Buku ini sudah jadi milikku, aku harus bisa manfaatin buku ini sebaik mungkin.
Beberapa lembar telah kubaca. Aku semakin menyukai bidang psikologi ini, karena dengan mempelajari ini, insyaallah aku dapat memahami pemikiran dan perasaan seseorang menurut sudut pandangnya. Terkadang, seseorang yang punya emosional tinggi ternyata memiliki luka yang mendalam dalam hidupnya.
__ADS_1