
Sebisa mungkin aku melepaskan tanganku dari cengkeraman tangan Andra. Nyatanya tenaga Andra lebih kuat. Ia masih terus memegangi pergelangan tangan kananku. Bisa-bisanya dia menyentuh tanganku. Selama ini tidak pernah dia tidak sopan kepadaku seperti ini. Ini membuatku semakin kesal kepadanya.
"Andra, lepasin!"
"Oke. Tapi, dengerin aku dulu. Aku mau ngomong sebentar, Sel." Andra melepaskan tangannya.
Aku diam.
"Sel, demi Allah. Aku punya niat buruk itu cuma di awal. Itu cuma sewaktu aku belum kenal dunia pesantren. Sewaktu aku masih punya pikiran bodoh. Sel, maafin aku."
"Ada yang mau diomongin lagi?"
Andra menghela napas. "Kalo kamu nggak bisa maafin aku sekarang, nggak papa. Sorry udah bikin kamu sakit hati. Maaf juga baru bisa kasih tau kamu sekarang karena aku nggak pernah tau cara untuk jelasin ke kamu."
Aku langsung pergi meninggalkan Andra yang masih mematung.
Brakkk!
Aku menutup pintu dengan kasar. Aku benar-benar sedang kesal dan sepertinya setan gembira melihatku marah seperti ini. Seakan hati dan pikiranku sudah dipenuhi amarah hingga memintaku untuk melampiaskannya.
Tubuhku duduk di dekat pintu. Pandanganku kosong. Rasa kecewa dan marah kepada Andra terus mengalir dalam darahku. Sebenarnya mungkin kejadian ini terlihat sepele. Tapi, saat aku merasakannya tidak sesepele itu.
"Assalamualaikum. Kak ini Faaz." Terdengar ketukan pintu setelahnya.
Aku menarik napas dan mengembuskan segera. "Iya waallaikumsalam. Kenapa, Faaz?" kataku agak keras tanpa membukakan pintu.
"Aku mau minta uang. Uang aku udah abis."
"Iya, tunggu." Aku masuk ke ruang tidur dan menuju lemari untuk mengambil uang.
Aku menyerahkan uang seratus ribuan kepada Faaz. "Jangan boros-boros, ya."
"Oke. Makasih, Kak. Eh Kak itu di kursi depan ada Kak Andra dari tadi pagi. Ngapain, tuh? Nyari Kakak?"
"Nggak tau. Udah gih sana," usirku kemudian menutup pintu.
***
Sudah lima hari lebih sejak Andra menemuiku di asrama. Aku masih belum mengatakan kepadanya bahwa aku telah memaafkannya. Sejujurnya rasa kesalku kepadanya sudah mereda. Tidak baik terlalu lama kesal atau pun marah kepada seseorang. Aku memakai mukena karena waktu salat asar akan segera tiba.
Ponselku bergetar dan layar menunjukan nama 'Umi Devi'. Jarang Umi Devi meneleponku jika tidak ada hal yang penting. Kira-kira kenapa, ya? Kugeser tanda hijau untuk mengangkat panggilan.
"Hallo. Assalamualaikum, Selina."
"Wa'alaikumsalam, Umi." Aku duduk di dekat ranjangku.
"Gimana kabarnya, Sel? Sehat?"
__ADS_1
"Alhamdulillah. Sehat, Umi. Umi sendiri gimana?"
"Sehat, Alhamdulillah." Diam beberapa detik, terdengar helaan napas di seberang sana. "Umi denger Andra ngerokok lagi. Itu bener nggak, ya, Sel?"
"Andra ngerokok lagi, Umi? Umi tau dari siapa?" tanyaku. Karena aku pun terkejut dengan perkataan Umi Devi.
"Dari Vira, katanya dia sempet liat Andra terima rokok dari temennya di gerbang belakang pesantren. Vira juga belum tanya langsung ke Andra. Umi khawatir karena Andra udah kelas dua belas, tinggal tunggu lulus sebentar lagi. Jangan sampe dikeluarin gara-gara ketauan ngerokok. Umi udah coba chat Andra, dari beberapa hari lalu, tapi nggak dibales-bales."
Umi Devi terdengar sangat panik. Aku sendiri bingung karena aku memang tidak tahu apa pun soal ini. Beberapa hari ini aku memang benar-benar menutup diri dari segala apa pun yang berkaitan dengan Andra. Seingatku Vira juga sempat mengajakku berbicara soal Andra tetapi aku menolaknya. Apa mungkin soal ini?
"Kalo gitu nanti Seli coba cari tau, ya, Umi. Nanti Seli kabarin."
"Iya, Seli. Makasih, ya. Assalamuallaikum."
"Waallaikumsalam."
Resiko dari merokok di pesantren memang tidak main-main. Jika ketahuan, maka akan langsung dikeluarkan tanpa basa basi. Santri yang sedang ujian dan tinggal satu langkah lagi menuju lulus saja jika ketahuan merokok langsung dikeluarkan. Bagaimana jika Andra beneran merokok? Ya Allah.
Ponsel kuletakan di dalam lemari dan bergegas naik untuk mengawal salat asar kelas tiga di lantai atas. Azan sudah selesai dari tadi maka aku naik dengan terburu-buru. Rok mukena aku cincing dengan tangan kanan agar mudah untuk berjalan dan sajadah di tangan kiri.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
Hayya 'alalfalaah
Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah
"Ayok berdiri, berdiri. Udah qomat."
"Nggak boleh ngantuk abis asar."
Terdengar dari tangga suara para pengurus sedang mengatur para santri MI. Aku selalu salut kepada santri-santri MI, mereka mau masuk pesantren dari usia anak SD seperti ini. Memang, mayoritas dari mereka di sini berawal dari keinginan orang tua bahkan pernah aku tanya salah satu dari mereka kenapa mau masuk pesantren dan jawabannya membuatku tertegun. Ia menjawab bahwa sebenarnya ia tidak tahu sama sekali bahwa ini adalah pesantren. Anak itu hanya diberitahu akan sekolah di tempat yang bagus dan mewah. Dibawalah anak itu ke sini. Tapi sekarang anak itu sudah sangat nyaman di pesantren.
Menurutku, tidak ada salahnya orang tua melakukan hal itu. Ingat kata-kata yang sering diucapkan orang-orang. Bisa karena terbiasa. Maka, semua orang bisa menjadi santri jika sudah terbiasa. Jika tidak tahan di pesantren, cobalah bertahan sedikit lagi saja maka kebaikan akan menghampiri kita.
Santri langsung bubar setelah salat asar selesai. Aku berdiri untuk turun dan kembali ke kamar.
"Seli, sebentar."
Aku menoleh dan mendapati Harsa berjalan ke arahku. "Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Album pengurus kan masih banyak yang kosong, kemarin Yusuf udah cetak foto-foto pengurus lagi. Kata Yusuf sore ini pengurus yang cewek bisa bantuin guntingin dan tata foto ke album, nggak? Sekalian rapihin perpus sama ruang rapat asrama."
"Butuh berapa orang?"
"Tiga kayaknya cukup."
Aku mengangguk tanda paham. "Oke. Abis ini saya dan yang lain langsung ke perpus."
***
"Guntinginnya agak rapi dikit, ya, Sel." Harsa memperingatiku sambil merapikan rak buku dekat meja di mana aku menggunting foto-foto bersama Zahra dan Aidha.
Aku nyengir kuda. Malu ketahuan asal menggunting. "Iya, Harsa. Tadi nggak sengaja ke gunting."
"Biasa, Sel. Harsa mah harus perfect," imbuh Zahra.
Yusuf datang sambil membawa label untuk buku. "Nanti sekalian labelin buku, ya. Udah mulai pada ilang labelnya."
"Siap," jawab kami serempak.
Foto-foto sudah kami tempelkan ke album. Sekarang saatnya memberi label pada buku-buku di perpustakaan ini. Aku memberi label pada buku-buku di rak yang berada di pojok ruangan.
"Assalamuallaikum."
"Waalaikumsalam. Cari siapa, Vir? Terdengar suara Aidha menjawab salam seseorang.
"Seli ada?"
"Seli....," panggil Aidha dari arah pintu. "Ini dicariin Vira."
"Iya." Aku langsung menghampiri Vira yang sudah duduk di kursi depan perpustakaan. Ia menggunakan blouse berwarna hitam dilengkapi rok berwarna sama dengan jilbabnya, coklat susu.
"Andra beneran ngerokok, Sel?" ucap Vira saat aku duduk di sebelahnya.
Aku menghela napas kemudian menggeleng karena sebenarnya aku juga tidak tahu apa pun. "Aku udah nggak pernah ketemu atau komunikasi sama Andra."
"Semoga yang aku liat hari itu salah. Itu bukan rokok. Aku udah coba tanya lewat chat tapi nggak dibales. Kamu nggak coba tanya Andra, Sel?"
"Nggak. Kenapa kamu nggak tanya langsung ke Andra kalo ketemu dia?"
"Masalahnya aku nggak pernah liat Andra lagi setelah hari itu. Di rumah makan nggak pernah liat, di kantin yang biasanya dia nongkrong sama temen-temennya ini nggak ada juga."
Kami terdiam beberapa saat.
"Nanti aku coba chat dia," ucapku yang dibalas dengan pelukan oleh Vira. Aku bisa merasakan betapa Vira mengkhawatirkan Andra.
***
__ADS_1