BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Kesal


__ADS_3

1 Bulan Kemudian... .


"Seli, cepetan mandinya. Kita ujian hari ini, kalo telat gimana?" Syilla berteriak di depan pintu kamar mandi.


Nisa yang juga sedang mengantri Iffah mandi, tidak tahan. "Cepetan, Fah. Udah jam enam tau."


Setiap kamar tersedia tiga kamar mandi dan satu wastafel. Biasanya satu kamar terdiri dari 9 atau 10 santri, sehingga satu kamar mandi untuk tiga atau empat santri. Harusnya kami lebih bersyukur mondok di pesantren yang menyediakan kamar mandi di setiap kamar. Banyak kudengar dari temanku yang mondok di pesantren lain dengan beberapa kamar mandi saja untuk puluhan santri.


Dalam pekan ini, seluruh kelas dua belas akan melaksanakan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) berbasis komputer. Mata pelajaran yang diujiankan dalam UAMBN ini yaitu Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam dan Al-Qur'an Hadist. Ya, karena kami Madrasah Aliyah, maka kami harus melaksanakan ujian yang lebih banyak dari sekolah pada umumnya. Kami memiliki mata pelajaran lebih dari dua puluh.


Keluar kamar mandi, aku segara menyisir rambut lalu menguncirnya. Meratakan pelembab ke seluruh wajah dan menepuk-nepuk pengoles bedak. Sedikit memberi warna pada bibir agar tidak terlihat pucat. Tidak lupa menyemprotkan parfum dan memakai calir raga, atau yang biasa disebut hand body.


"Ayok, guys. Udah mau setengah tujuh." Aku berteriak kepada temen-temen sambil memakai kerudung.


"Seli, tolong ambilin kerudung aku di lemari terus dilipet jadi segitiga dong." Dilla masih menyisir rambutnya dengan secepat-cepatnya.


Karena aku sudah selesai bersiap-siap, maka aku membantu yang lain. Rasanya sial sekali hari pertama ujian, kami sekamar terlambat bangun. Itulah salahnya kami yang terlalu fokus belajar sampai larut malam sehingga sulit bangun di pagi hari. Seharusnya belajar dari jauh-jauh hari sehingga mendekati ujian hanya mengulas saja.


Zahra yang kebetulan selalu bangun pagi sedang menginap di kamar sahabatnya yang memang berada di asrama lain. Kami sekamar bahkan tidak mengawal salat subuh santri MI karena terlambat bangun. Pasti setelah ini pengurus asrama rijal berkomentar karena kami tidak mengawal. Ya, mereka mengambil alih tugas kami semua.


Kami tiba di asrama dengan napas terengah-engah. Untung saja tidak ada barang yang tertinggal, karena jarak gedung asrama ke gedung sekolah lumayan jauh. Biasanya jika ada barang yang tertinggal, kami harus izin ke ruang tata usaha dan mencari pinjaman sepeda kepada guru agar lebih cepat sampai. Jika tidak dapat pinjaman, mau tidak mau harus jalan terbirit-birit atau bahkan lari untuk cepat sampai.


Kriingg!


Bel sudah berbunyi, seisi kelas mulai ribut karena ujian akan segera dimulai. Kami segera turun menuju basement gedung sekolah karena ujian dilaksanakan di sana. Para santri yang mendapat ujian sesi ini langsung berbaris untuk memasuki basement dengan tidak lupa membawa alat tulis dan kartu peserta ujian.


"Aidha, aku deg-deg-an." Tangan Aidha kuraih untuk bergandengan.


Aidha menangkis tanganku. "Lebay, deh. Udah, Bismillah aja."


"Iya. Lagi berdo'a, nih dari tadi."


Aku sudah masuk basement. Dinginnya AC mulai terasa di seluruh tubuh. Beginilah enaknya jika ujian di basement, tidak perlu khawatir gerah dan panas ketika mengerjakan soal karena AC-nya begitu dingin. Yang ada justru menggunakan kaos kaki karena saking dinginnya.


Terdapat tiga ruangan yang dipisahkan oleh bilik kaca, di mana setiap ruangan terdapat sekitar 40 meja dengan sebuah komputer di atasnya. Ujian dibagi menjadi tiga sesi. Untuk kelas MIA atau IPA berada di sisi kanan ruang bawah tanah ini, sedangkan kelas IIS atau yang dulunya disebut IPS berada di sisi kiri dengan jumlah ruangan yang sama.


Layar proyektor di depan ruangan sudah menyala dan siap menampilkan waktu pengerjaan ujian. Para santri mulai mencari mejanya masing-masing sesuai nomor urutnya. Sebagian santri sudah duduk di tempatnya, beberapa masih berdiri.


Aku sudah duduk dan meletakan alat tulis di meja. Namun, aku kehilangan sesuatu yang sangat penting. Aku rogoh saku baju dan celanaku ternyata nihil. Tidak menyerah, aku melihat-lihat ke kolong tiap meja, mungkin saja jatuh di sekitar sini. Rupanya tidak ada di ruangan ini. Terpaksa aku harus mencari ke luar.


Aku merutuki diri sendiri. "Padahal kartu ujian udah pake name-tag. Kenapa masih ilang juga?"


"Seli, mau ke mana?" tanya Aidha yang melihatku berjalan menuju pintu.


"Nyari kartu ujian. Ada yang liat nggak temen-temen?"


"Nggak, Sel."

__ADS_1


"Kartu ujian? Tadi aku liat ada kartu ujian jatuh di deket pintu ruangan sebelah." Maryam menunjuk ruangan yang berisi santri rijal itu. "Nggak aku ambil karena tadi banyak cowok di situ. Kirain punya salah satu dari mereka."


Aku melihat layar proyektor yang menunjukan bahwa ujian akan dimulai satu menit lagi. "Oke. Makasih, Maryam."


"Aku temenin, ya, Sel." Aidha bangkit dari duduknya.


"Nggak usah, Dha. Kamu di situ aja." Aku berjalan cepat menuju tempat yang ditunjuk Maryam.


Koridor basement sudah sepi, sepertinya seluruhnya sudah masuk ruangan masing-masing. Terlihat dari kaca bahwa sesi kali ini kelasku diapit oleh dua kelas rijal. Aku sudah berada di pintu tersebut, ternyata tidak ada name-tag ujianku di sini.


"Kayaknya udah ada yang ngambil. Mana ujian udah mau mulai," gumamku sambil melihat-lihat ke lantai.


Aku bersandar di dekat pintu ruangan rijal ini. "Sial banget, sih, hari ini. Udah bangun terlambat, kartu ujian ilang pula. Ya Allah, tolong."


"Cari ini?"


Name-tag yang berisi kartu ujian dengan nama 'Selina Mufida' diayun-ayunkan di depan wajahku. Langsung aku menoleh ke orang yang melakukannya.


"Harsa?" Aku menarik kasar benda yang aku cari-cari itu. Sedangkan Harsa hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.


"Seli, belum ketemu, ya?" teriak Aidha sambil berjalan ke arahku.


"Udah, kok," jawabku kepada Aidha. Lalu, menoleh kepada Harsa. "Makasih, Harsa." Aku segera berlari menghampiri Aidha.


Kini aku sudah duduk di tempatku. "Alhamdulillah."


Tanpa sengaja aku melihat lipatan kertas di dalam name-tag milikku. Langsung aku buka karena aku tidak merasa meletakan kertas di dalamnya. Ternyata begini isi kertasnya.


...JANGAN CEROBOH LAGI, YA...


Sudah pasti itu dari Harsa. Lalu, aku menoleh ke ruangannya yang hanya dibatasi kaca dengan ruanganku. Dia sedang melihat ke arahku sambil tersenyum meledek. Aku pura-pura saja melihat ke arah lain dan tidak melihatnya. Tidak minat untuk meladeni Harsa.


Melihat kelas Harsa, aku jadi mengingat Andra. Andra satu kelas dengan Harsa, maka seharusnya dia sedang berada di ruangan itu. Kursi yang semestinya ditempati oleh Andra, kosong tanpa penghuni.


"Mari kita mulaikan ujian pada hari ini dengan berbasmallah bersama-sama," perintah pengawas ujian.


***


"Makan di kantin, yuk!"


"Yukkk!" jawab kami serempak.


Kami langsung berjalan beriringan ke arah kantin usai memakai sepatu di trotoar dekat basement. Ramai anak sesi kedua yang datang, karena sesi mereka akan dimulai sekitar 25 menit lagi.


Aku, Aidha, Dilla dan Syilla berjalan sambil mengobrol hal apa pun yang ingin kami ungkapkan dengan sesekali tertawa. Membicarakan apa pun yang kami lihat. Tetapi, bukan membicarakan keburukan orang lain. Hehe.


"Itu Ustadz Zidan mau lewat. Ayok ucapin salam bareng-bareng." Syilla menghentikan kami agar berdiri di tempat. "Satu, dua, tiga."

__ADS_1


"Assalamualaikum, Ustadz Zidan ...," ucap kami serempak hingga Ustadz muda nan tampan itu tertawa. Mungkin juga malu.


"Waalaikumsalam," jawab Ustadz Zidan dengan tetap mengayuh sepeda gunungnya.


Kami lanjut berjalan menuju kantin dengan melewati gedung Madrasah Ibtidaiyah, gedung Sekretariat, dan terakhir masjid yang biasa digunakan untuk kegiatan ibadah santri, bukan masjid yang digunakan untuk acara besar.


Tibalah kami di kantin. Kantin lumayan sepi, hanya diisi beberapa santri angkatanku yang ujian sesi pertama. Sesi kedua sedang berangkat ke sekolah dan sesi tiga masih di asrama. Sedangkan santri MTs dan MI masih di sekolah tentunya. Jadi, makanan dan minuman juga belum terlalu lengkap, ini masih terlalu pagi.


Kini, makanan sudah terjejer rapi di meja kami. Sedangkan minuman belum kami beli, karena minuman yang ingin kami beli dipenuhi santri rijal. Aku duduk di sebelah kiri Aidha dan di depan Syilla. Dilla di depan Aidha.


Saat asiknya menyantap makanan, tiba-tiba ... .


Bruukk!


Empat gelas teh rosella dingin diletakan oleh Zafran dan ... Harsa?


Kami saling pandang, tidak paham mengapa mereka meletakannya di meja kami.


"Makasih, ya. Harsa, Zafran," ucap Syilla tiba-tiba. Lalu, dijawab anggukan oleh mereka dan berlalu pergi.


Syilla langsung diwawancarai oleh aku, Aidha dan Dilla.


"Nggak usah bingung. Aku yang minta beliin ke mereka dengan jual nama salah satu dari kita," tutur Syilla seraya melanjutkan makan tanpa rasa bersalah.


Aku dan yang lain hanya geleng-geleng kepala dan berdecak heran melihat kelakuan Syilla. Perilakunya memang tengil. Tidak jarang dia kena omel karena begitu jail.


"Kamu minta beliin ke mereka pake nama siapa, Syill?" tanya Dilla.


Syilla mengunyah dan menelan makanan kemudian menjawab, "Aku bilang ke Harsa kalo Seli lagi kehausan, pengen teh rosella. Mau beli tapi rame cowok."


Mataku membesar. Terkejut dengan tuturan Syilla yang sudah pasti dia hanya bercanda untuk meledekku. "Jangan macem-macem, Syill. Mau aku cubit sampe merah tangan kamu?" ancamku.


"Udah, jangan ribut. Alhamdulillah dibeliin. Mending abisin dulu makanannya, nanti kita bahas lagi." Aidha menyudahi.


"Aidha nyebelin!"


Aidha hanya mengangkat alis sambil mengembangkan senyuman.


Mau tidak mau aku sudahi berdebat dan melanjutkan makan. Syilla bercanda nggak, sih? Kalo beneran gimana? Syilla kan emang suka jail begitu, batinku.


Beberapa menit kemudian, kami selesai makan. Langsung aku menatar Syilla kembali. "Kamu nggak bilang begitu beneran, kan, Syill?"


Syilla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya nyengir kuda. "Maaf, Sel. Tadi aku bingung gimana, kalian juga pada haus kan tadi? Iseng-iseng aja bilang begitu ke Harsa. Eh, beneran dibeliin kita."


"APAA?" Aku bangkit dan siap mencubit Syilla. Namun, nahas, Syilla menghindar lebih dulu.


"Aku duluan, ya. Mau ke laundry soalnya. Dadaahhh" Syilla lari terbirit-birit menghindar dariku.

__ADS_1


***


__ADS_2