BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Pergi


__ADS_3

...5 Chapter menuju Epilog. Happy Reading 💜💜...


Aku menggeleng pelan. “Nggak usah. Aku nggak pengen denger pengakuan tentang perasaan kamu ke aku. Ngomong-ngomong, ini kita udah sampe perempatan jalan. Kita pisah di sini ya, aku duluan. Assalamualaikum.”


Andra terpaku beberapa detik setelah itu baru menjawab salamku.


Aku berjalan seorang diri dengan pikiran menerawang jauh. Memikirkan masa depanku. Bagaimana dengan kuliahku, pekerjaanku nanti, dan hal lainnya termasuk tentang jodoh.


Terkadang kekhawatiran akan masa depan pasti hinggap di pikiran setiap orang. Dan alasanku memilih untuk tidak mendengar pengakuan Andra karena menurutku tidak ada gunanya. Bagiku, sekarang bukan waktunya sibuk mencari seseorang yang mencintai tapi sibuk memperbaiki diri.


Singkatnya begini, misalnya aku tahu kalau ternyata Andra tidak menyukaiku, mungkin aku akan sedih. Dan kalaupun ternyata Andra menyukaiku, lalu bagaimana? Aku harus menunggunya pulang dari Turki? Menikah pun masih terlalu dini untuk kami. Kami harus fokus melanjutkan pendidikan.


Turki. Andra akan kuliah di Turki. Jika seandainya aku tahu bahwa kami mempunyai perasaan yang sama, yang bisa aku lakukan hanyalah menanti hingga dia kembali ke Tanah Air. Itu pun jika berjodoh. Jika tidak, mungkin penantianku hanyalah hal yang sia-sia. Maka, menurutku lebih baik sekarang kami memperbaiki diri masing-masing.


Begitu tiba di depan kamar, aku berniat membuka pintu. Namun, terkejut karena terdengar suara ramai dari dalam. “Assalamualaikum,” ucapku seraya masuk ke kamar.


“Waallaikumsalam,” jawab seisi kamar serempak. Ramai sekali, sepertinya lengkap 10 orang.


“Sel, buruan, Sel. Taro dulu itu sendal jepitnya di rak. Sini mau denger sesuatu nggak?” ujar Syilla heboh.


“Tau nih, Seli lama banget pulangnya. Ketinggalan berita deh kamu,” sahut Najwa.


“Ada apa, sih?” tanyaku usai menaruh sandal di rak lalu duduk untuk bergabung dengan mereka.


“ZAHRA UDAH NERIMA LAMARAN USTADZ ZIDAN!!”


“Uuuuuu ...,” teriak Iffah yang disambut tepuk tangan meriah dari yang lain.


Aku melongo. “Eh, serius? Nyesel deh tadi nggak cepet-cepet pulang jadi ketinggalan berita. Berarti kabar ini udah boleh disebar dong?” tanyaku antusias.


“Boleh dong. Besok langsung rame nih satu pesantren,” jawab Syilla hingga wajah Zahra semakin memerah karena malu campur bahagia.


Zahra ini memang sangat baik, ia tidak ingin orang lain tahu kalau ia dilamar oleh Ustadz Zidan kecuali jika dirinya sudah yakin menerima ajakan Ustadz Zidan untuk menikah. Karena Zahra tidak mau Ustadz Zidan menjadi bahan omongan orang dan merasa malu karena lamarannya ditolak. Cukup sahabatnya dan kami sebagai teman sekamarnya saja yang tahu. Ia sebisa mungkin menjaga nama baik dirinya dan Ustadz Zidan. Namun kini, berita baik ini mungkin akan segera tersebar ke seluruh penjuru pesantren.


“Terus Ustadz Zidan ngelamar ke rumah kamunya abis lebaran, Ra?” tanyaku.


Zahra mengangguk pelan dengan wajah tersipu malu, lesung pipi mempercantik senyumnya. “Iya. Do’ain, ya semoga lancar.”


“Aamiin Ya Rabbal Alamin ... .” Semua serempak mengaminkan.

__ADS_1


“Walaupun rumah kita jauh-jauhan, kalian bisa kan dateng ke nikahan aku nanti?” tanya Zahra dengan wajah memohon.


“Tenang aja, Ra. Insyaallah pasti kita usahain walaupun jauh juga.”


“Iya, Ra.  Insyaallah aku terbang antar pulau buat dateng di acara penting kamu. Ikut seneng denger kabar gembira ini. Selamat ya,” ucap Anninda yang rumahnya di luar Pulau Jawa.


Syilla menggeser tubuhnya dan mendekati Zahra. “Boleh nanya nggak, Ra?”


Zahra mengangguk. “Bolehlah.”


“Kuliah kedokteran kamu tetep lanjut, kan?”


“Insyaallah aku tetep kuliah kedokteran. Buat aku pendidikan penting banget. Ustadz Zidan juga ngizinin aku kuliah, bahkan dia bilang mau selalu dukung aku sampe aku bisa jadi dokter. Dia kan sebentar lagi lulus S2 Biologi, bisalah ngajarin aku sambil bantu aku ngerjain tugas-tugas nanti,” jawab Zahra dengan senyuman yang belum hilang dari wajah mulusnya.


“Masyaallah. Keren-keren. Sama-sama pinter.”


“Mantap banget, Ra. Pasangan serasi kalian.”


“Barakaallah fiikum, Zahra.”


Zahra merentangkan tangan untuk mengajak kami semua berpelukan. “Makasih banyak semuanya.”


...***...


Aku berdiri di depan kamar dan berniat mencari udara segar sambil menunggu waktu berbuka puasa. Tiba-tiba mataku melihat sosok Harsa yang sedang duduk di kursi koridor sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Aku tidak menggubris karena kupikir lambaian itu ditunjukan untuk orang di belakangku.


“Seli! Pura-pura nggak liat ya kamu? Sini!”


Aku menghentikan langkah kaki dan menoleh ke arahnya. “Manggil saya? Kenapa?”


Dia tak menjawab, hanya memberi isyarat untuk menghampirinya.


Dengan langkah malas, aku menhampiri laki-laki berpredikat johan ini. “Apaan?” tanyaku datar setelah berdiri tidak jauh darinya.


“Mau curhat. Kabar Zahra dilamar sama Ustadz Zidan bikin saya seneng tapi ada sedihnya juga.”


“Sedih kenapa? Oh, atau jangan-jangan sebenernya kamu suka sama Zahra, ya? Kasian," ucapku yang diakhiri kekehan untuk mengejeknya.


“Bukan.” Harsa menghela napas lelah yang sedikit dibuat-buat. “Setelah kabar itu menyebar di adek kelas, setiap saya ketemu mereka, saya pasti diledekin ‘Sad Boy’. Mereka kira saya ditinggal nikah sama Zahra. Padahal kan saya sama Zahra dari dulu nggak ada hubungan apa-apa. Mereka sampe pada DM di instagram manggil-manggil saya ‘Sad Boy’ segala lagi.”

__ADS_1


Aku menahan tawa mendengarkan curhatan Harsa. “Udah belom curhatnya? Kalau udah, saya mau pergi nih.”


“Sebenernya saya juga seneng akhirnya Zahra sadar siapa laki-laki yang sebenernya dia suka. Dia itu suka sama Ustadz Zidan dari dulu tapi dia nggak pernah sadar. Dia terlalu fokus sama masa lalunya,” ungkap Harsa bernada serius, ekspresi bercanda di wajah Harsa tadi memudar.


“Tau dari mana?” tanyaku heran. “Kamu kan udah tau, Sa, kalau Zahra sukanya sama kamu.”


Harsa bangkit dari kursinya dan berdiri di sampingku. “Ustadz Zidan ngajar di sini dari angkatan kita kelas 7 dan saat itu Ustadz Zidan masih kuliah semester 1. Karena waktu itu pesantren lagi butuh guru, Ustadz Zidan sebagai alumni pesantren diminta untuk bantu ngajar  di sini. Saat itu, beliau bagian bimbing tahfidz dan biologi untuk santri-santri yang ikut lomba mewakili pesantren. Kamu tau kan Zahra sering dipilih untuk perwakilan lomba karena dia johan di angkatan? Nah, setiap dibimbing Ustadz Zidan, Zahra selalu excited cerita ke saya tentang Ustadz Zidan, kebetulan saya sama Zahra bimbingan Biologi di hari yang sama. Dan sejak itu saya yakin kalau Zahra suka sama Ustadz Zidan.”


Aku mengernyitkan dahi, menatap Harsa dengan tatapan menyelidik. “Yakin begitu? Kan bisa aja Zahra itu cuma mengagumi Ustadz Zidan karena beliau pinter, maklum Ustadz Zidan emang johan di angkatan dulunya. Mana putih, tinggi, cakep pula.”


Laki-laki berpredikat johan IPA di sampingku ini melipat tangannya di dada lalu menghela napas. “Sorot mata Zahra itu beda kalau ke Ustadz Zidan, masa kamu sebagai temen sekelas dan sekamarnya nggak sadar sih? Oh iya, sahabatnya Zahra juga dulu sempet bilang ke saya kalau dia juga berpikiran sama tapi Zahra selalu ngebantah dan bilang kalau dia masih suka sama laki-laki yang dia liat waktu pendaftaran pesantren.”


“Laki-laki yang Zahra liat waktu pendaftaran pesantren, itu kamu, kan? Jadi, maksud kamu Zahra yang udah suka sama kamu dari lama membuat dia nggak sadar kalau sebenernya dia udah pindah hati dan menyukai laki-laki lain? Dan laki-laki lain itu Ustadz Zidan?”


Harsa mengangguk yakin. “Menurut saya sih begitu. Saya pernah baca novel dan tokoh utamanya terlalu fokus sama seseorang yang dia sukai duluan dari pada seseorang yang ada di hadapan dia, yang mungkin lebih baik dari masa lalunya. Dia terjebak oleh masa lalunya.”


Aku mengetuk-etukan jari di dagu, mencoba memikirkan apa yang Harsa sampaikan. “Bener sih, kita perlu liat apa yang ada di depan. Bukan terus tenggelam dalam masa lalu.”


“Terus kenapa kamu juga masih terjebak oleh masa lalu?”


"Ha?" Aku refleks menoleh ke arah Harsa, menatap matanya yang juga sedang menatapku. Pertanyaan yang ia ajukan tadi, tepat sasaran. Aku merasa Harsa sedang menyinggungku yang masih terjebak perasaan di masa lalu dengan Andra. Aku segera mengalihkan pandangan ke tempat lain, menutup bibir rapat-rapat, tidak tahu harus merespon bagaimana.


“Seli,” panggilnya setelah kami terdiam cukup lama.


“Ya?”


Harsa berdeham lalu memutar tubuhnya menghadapku. “Besok kita pulang dari pesantren dan nggak kembali lagi. Mungkin kembali lagi tapi status kita bukan lagi santri. Semangat kuliahnya, perjuangan kita masih panjang. Saya nggak tau jodoh kamu siapa, saya juga nggak tau jodoh saya siapa. Saya cuma berharap suatu saat kamu bisa menemukan laki-laki yang tepat, laki-laki yang bisa bikin kamu merasa spesial, laki-laki yang bisa memuliakan kamu, laki-laki yang bisa membuat kamu semakin dekat dengan Allah. Mungkin laki-laki itu bukan saya, tapi semoga dia yang terbaik buat kamu.”


Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan ucapannya.


Harsa yang memakai kaos berwarna putih ini tertawa kecil lalu melanjutkan kalimatnya. “Ternyata saya nggak tau diri ya. Dari awal saya udah tau kalau kamu suka sama Andra dan mungkin Andra juga sama. Tapi, dengan percaya dirinya saya mengungkapkan itu ke kamu. Padahal Andra itu temen saya sendiri. Maaf, Sel. Maaf karena saya udah suka sama kamu.” Harsa terdiam sejenak lalu bertanya, “Gimana? Udah tau belum gimana perasaan Andra sama kamu selama ini?”


Aku menunduk dalam, tak menjawab. Hanya menatap kedua kakiku. Berkali-kali menelah ludah di setiap kalimat yang Harsa lontarkan, mencoba tetap tenang meski mataku sudah siap meneteskan air mata sejak tadi. Aku tidak tahu mengapa rasanya ucapan Harsa berhasil menohok hatiku.


“Sel, kalau suatu saat kita nggak sengaja ketemu, kamu jangan menghindar ya. Kita bisa saling sapa selayaknya temen. Tapi, Insyaallah saya akan berusaha menghilangkan perasaan saya ke kamu.” Harsa mengembuskan napas pelan. “Kayaknya udah nggak ada yang perlu kita bicarain lagi ya, kalau gitu saya duluan. Kamu jangan lupa siap-siap ke rumah makan, bentar lagi buka puasa. Assalamualaikum.”


Harsa langsung pergi tanpa menunggu jawaban salam dariku. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. “Waallaikumsalam, Harsa.”


...***...

__ADS_1


__ADS_2