
Aku dan Maryam tiba di kelas setelah berjalan terburu-buru.
"Guys, video drama SKI kita ditonton anak kelas MIA-A-01 coba," kataku dengan nada kecewa sambil mengadu kepada teman-teman.
"HEH. DEMI APA?" Iffah langsung bangkit dari kolong meja, tempat ternyamanmya untuk tidur saat di kelas.
Maryam mengangguk meng-iya-kan.
"MIA-A-01? Ih malu dong. Itu kan kelasnya si dia." Syilla memang dianggap sebagai wanita yang lembut dan pemalu oleh santri rijal, padahal ia salah satu yang sering melawak di kelas atau pun di kamar.
"Ah, kok bisa ada di mereka, sih?"
"Parah ih mereka."
"Ustadznya yang ngasih, ya? Parah tau."
"Mana di video itu, aku jelek banget lagi. Pake daster sama kerudung ala emak-emak segala pula." Syilla menyahuti lagi.
Seisi kelas tertawa karena sambil mengingat kejadian saat Syilla memainkan perannya menjadi seorang ibu-ibu yang menyedihkan saat itu. Tugas pembuatan video pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam atau yang biasa disingkat SKI ini memang diperintahkan untuk dibuat semenarik mungkin asal tidak menyimpang dari tema yang telah ditentukan.
"Itu semua video kelas kita atau satu kelompok doang?" tanya Nisa karena memang satu kelas dibagi menjadi 5 kelompok.
"Ngga tau deh. Tadi Yusuf cuma bilang video kelas kita."
Kriiinggggg!!!!
Seluruhnya langsung kembali ke tempat duduk masing-masing, karena guru pelajaran selanjutnya akan segera datang.
__ADS_1
"Sekarang pelajaran Biologi," kataku setelah melihat jadwal pelajaran yang sengaja aku dan Aidha tempelkan di meja agar kami selalu ingat dan tidak perlu jauh-jauh melihat ke mading kelas yang berada dekat pintu.
"Eh, biologi ada tugas, ya, Dha?"
"Iya. Yang suruh ngerjain esay di buku paket."
"Itu doang, kan? Soalnya aku lupa bawa bukunya ke kamar. Kalo yang esai udah aku kelarin di sekolah."
"Iya, Seli. Itu doang. Panik mulu," jawab Aidha sambil bercermin, cermin kecil yang selalu ia bawa ke sekolah.
Kami santri memang diperintahkan untuk meninggalkan buku paket di sekolah, di sini memang disediakan rak buku di setiap kelas untuk meletakan buku paket masing-masing. Membawa buku paket ke asrama jika ada tugas, ulangan atau ujian saja karena membawa buku paket setiap hari pasti akan membebankan para santri. Jarak dari asrama ke sekolah lumayan jauh dan belum lagi jika kelas atau kamarnya berada di lantai atas, dapat menyebabkan punggung para santri bungkuk jika setiap hari membawa beban berat dalam jarak jauh.
"Assalamuallaikum." Ustadz muda yang mengajar biologi muncul di pintu.
"Wa'allaikumsalam." Kami menjawab serentak.
"Oke. Ustadz," jawab kami sebelum Ustadz Zidan pergi.
"Yeayy. Belajar di bawah."
"Bosen di kelas mulu," kata Syilla.
"Bilang aja biar ketemu cowok-cowok, kan, Syill?"
"Heh. Bener banget."
"Udah. Ayok cepetan turun, guys." Maryam selaku ketua kelas mengingatkan kami.
__ADS_1
***
Lab biologi berada di blok rijal lantai 1. Kami turun melalui tangga tengah, melewati beberapa ruangan yang saling berhadapan di koridor. Koridor begitu sepi karena sekarang jam pelajaran, hingga langkah kaki kami pun terdengar jelas. Aku dan Aidha jalan paling terakhir, tiba-tiba terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema di koridor.
"Sabbaha lillahi ma fis-samawati wa ma fil-ard, wa huwal-'azizul-hakim."
"Ya ayyuhallazina amanu lima taquluna ma la taf'alun."
"Kabura maqtan 'indallahi an taqulu ma la taf'alun."
Aku dan Aidha saling tatap. "Masyaallah. Suara siapa itu?" tanya Aidha padaku karena suara tersebut sangat merdu, sesuai makhorijul huruf juga hukum tajwidnya.
Aku mengangkat bahu tanda tidak tahu. Kami pun melanjutkan berjalan.
Saat kami melewati ruang administrasi, suara semakin terdengar, rupanya yang sedang muroja'ah dari ruang administrasi.
"Innallaha yuhibbullazina yuqatiluna fi sabilihi saffang ka`annahum bun-yanum marsus."
Tanpa aba-aba, aku dan Aidha kompak berjalan ke arah pintu ruangan tersebut yang sedikit terbuka, kami mendapati seorang pria dengan baju seragam seperti kami, baju kemeja berwarna biru muda, seragam angkatan kami di hari rabu dan kamis, jadi pria tersebut sudah dipastikan adalah angkatan kami. Ia menghadap ke kiblat sehingga kami tidak dapat melihat wajahnya.
"Angkatan, tuh. Cakep bener suaranya, tapi nggak keliatan mukanya."
Aku tersenyum lebar. "Iya, Masyaallah. Semoga jodohku seperti dia."
"Aamiin. Dah, yuk." Aidha balik badan, berjalan menuju lab biologi yang diikuti olehku.
***
__ADS_1