BULAN DI PESANTREN

BULAN DI PESANTREN
Situasi itu Kembali Terjadi


__ADS_3

Koper-koper mulai berjejer di samping ranjang masing-masing. Ada rasa sedih yang lebih mendominasi dari rasa bahagia dan haru. Tiga tahun berada di pesantren ini masih terlalu sebentar bagiku, merasa masing kurang walaupun sebenarnya aku juga sudah ingin lulus dan memasuki dunia perkuliahan. Agak sedikit menyesal aku tidak masuk ke sini dari kelas tujuh. Teman-temanku yang dari MI di sini saja masih belum merasa bosan berada di lingkungan pesantren yang nyaman ini.


Aku bersama teman sekamarku menatap lembaran-lembaran foto kami sewaktu acara Rihlah satu minggu yang lalu. Momen perjalanan atau yang kami sebut Rihlah ini adalah acara wajib bagi santri kelas dua belas, yang diselenggarakan setelah pengumuman kelulusan. Foto itu menggambarkan secara jelas kami mengukir kenangan bersama yang mungkin tak pernah bisa dilupakan. Konon, kisah masa-masa SMA yang paling berkesan.


“Zahra, ini kamu foto sama siapa? Nggak pernah liat dia di angkatan,” tanya Dilla sambil menunjukan salah satu lembaran foto kepada Zahra.


“Masa sih nggak pernah liat dia? Dia bagian sekretaris kedua takmir masjid.”


“Jarang ngawal di masjid ya? Jarang liat, deh.”


Di salah satu foto yang berserakan itu, aku melihat fotoku bersama Zahra dan Harsa dengan latar belakang bus pada malam hari. Saat itu, sembilan bus rihlah kami mampir di rest area, aku dan Zahra tanpa sengaja berpapasan dengan Harsa setelah turun dari bus.


Aku masih ingat betul apa yang Zahra katakan kepadaku sebelum mengajak Harsa foto bersama. Kira-kira kalimatnya begini, ‘Sel, kita foto sama Harsa yuk. Kamu suka sama dia juga kan? Pengen punya kenang-kenangan sama orang yang aku suka dari dulu’. Sebenarnya aku butuh penjelasan mengenai perkataannya itu yang sepertinya Zahra mengira aku juga menyukai Harsa. Tetapi, Zahra tidak sama sekali membahas tentang itu lagi hingga sekarang.


“Sekretaris takmir masjid itu yang suka sama kamu kan, Ra?” Iffah ikut bertanya.


“Nggak tau. Tapi, aku sukanya bukan sama dia.”


Syilla tiba-tiba menyeletuk. “Sama Harsa, ya?”


Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Mungkin karena sebagian dari mereka menyadari Harsa menyukaiku. Sekarang aku menjadi serba salah kepada Zahra. Padahal hanya beberapa hari lagi kami berpisah untuk melanjutkan pendidikan masing-masing. Aku bersyukur Zahra dan Harsa diterima di kampus yang sama, karena bisa saja mereka berjodoh.


Zahra melirik ke arahku sekilas, lalu menjawab pertanyaan Syilla tadi. “Siapa sih yang nggak suka sama Harsa? Dia pinter, cakep pula. Santri nisa banyak yang naksir.”


Seisi kamar langsung ramai karena mendengar jawaban dari Zahra mengenai Harsa.

__ADS_1


***


Setiap sebelum liburan, pasti diadakan acara penutup kepada anak-anak. Apalagi liburan kami kali ini adalah liburan yang tidak ada ujungnya, liburan yang tidak mempunyai waktu kembali. Ya, liburan kali ini adalah perpisahan yang sesungguhnya. Mungkin kami hanya bisa bertukar kabar melalui media sosial dengan anak-anak, karena mereka juga tidak membawa ponsel ke sini. Mungkin hanya saat mereka liburan kami bisa bertukar kabar. Sepertinya akan sangat susah untuk bertemu apalagi berkumpul bersama anak-anak.


Acara penutup di setiap tingkatan kelas berbeda-beda, kelas yang aku kawal bersama teman-teman ini mengadakan acara tukar kado. Mereka sangat bersemangat untuk membuka kado masing-masing. Kado ini ditukar secara acak sehingga membuat mereka lebih penasaran dari siapakah kado yang mereka dapatkan.


Suasana ini mungkin tidak akan kulupakan juga. Ekspresi mereka yang gembira saat mendapat hadiah yang mereka sukai, maupun ekspresi kecewa yang menggemaskan karena tidak menyukai isi kadonya. Semuanya terekam jelas dalam ingatanku. Momen pada malam ini sudah diabadikan oleh jepretan kamera, berkali-kali pula para pengurus santri kelas empat merekam keseruan mereka dalam sebuah video.


“SAMPAI JUMPA LAGI KAKAK-KAKAK YANG CANTIK DAN GANTENG,” teriak anak-anak yang memberi salam perpisahan kepada kami yang diiringi tepukan tangan. Jujur saja, aku hampir meneteskan air mata. Kami saling berpelukan dan mengucapkan ungkapan perpisahan lainnya. Aku sungguh berharap bisa berkumpul bersama mereka lagi.


Selesai acara, aku kembali ke kamar tetapi tidak bersama teman-teman pengurus. Sebab, tadi sempat menenangkan salah satu anak yang menangis karena belum mau berpisah denganku. Lucu sekali dia. Alhasil, sekarang aku menuruni anak tangga sendirian. Lalu, aku melihat Zahra duduk seorang diri di kursi lantai satu. Aku baru berniat menyapanya, tiba-tiba dia memintaku duduk di sebelahnya.


Aku menghampirinya, lalu duduk tepat di sebelahnya. “Kenapa, Ra? Kamu lagi nunggu siapa di sini duduk sendirian?”


“Aku lagi sedih, Sel.”


Zahra mengembuskan napasnya perlahan. “Karena itu juga. Tapi, ada hal lain lagi.”


“Apa? Cerita aja, Ra. Biasanya aja kamu langsung cerita.”


“Aku, aku kagum sama seseorang dari awal pendaftaran masuk ke sini. Dan, sampe sekarang aku masih kagum sama dia.” Zahra terdiam sejenak, seperti berat untuk mengatakaan isi hatinya. “Besok lusa kita udah boleh pulang ke rumah masing-masing, jadi aku pengen dia tau apa yang aku rasain selama 5 tahun.”


“Emangnya seseorang yang kamu maksud itu siapa, Ra? Harsa, ya?”


Zahra mengangguk pelan dengan wajah menunduk. Jari-jemari tangannya memainkan ujung jilbab bergonya.

__ADS_1


“Kamu pengen dia tau apa yang kamu rasain ke dia selama ini? Gimana caranya? Em, kamu mau bilang langsung ke dia gitu, Ra?”


“Harusnya dia sadar tentang perasaan aku dong. Atau, sebenernya dia sadar tapi pura-pura nggak tau? Mungkin karena dia suka sama cewek lain gitu. Iya kan, Sel?”


Tubuhku langsung merasa dingin. Gemetar mendengar pernyataan Zahra. Apa cewek lain yang Zahra maksud adalah aku? Aku trauma kejadian seperti perlakuan Vira kepadaku waktu itu terulang lagi. Aku tidak mau disalahkan atas hal semacam ini lagi.


Zahra melanjutkan perkataannya. “Kebayang nggak, sih kalau orang yang Harsa suka itu ternyata temen deket aku sendiri? Aku harus gimana, Sel? Kalo kamu ada di posisi aku, apa yang kamu lakuin?”


“Seli, maaf aku ngomong begini sama kamu. Tapi, aku pengen denger sendiri dari kamu. Jawab jujur, ya. Harsa beneran suka sama kamu?”


Tak ada respon apa pun dariku. Aku tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Wajah kutundukan sambil menggigit bibir, kucoba menahan air mata yang sudah siap mengalir ke pipiku.


Melihatku yang tak kunjung menjawab, Zahra memutuskan beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar. Aku bergegas menyusulnya masuk ke kamar. Ia masuk salah satu kamar mandi, lalu terdengar menyalakan kran shower setelahnya.


Aku menunggunya di dekat balkon yang berdekatan dengan pintu luar kamar mandi, berharap dia segera keluar agar aku bisa memastikan bahwa dia baik-baik saja. Namun, 15 menit telah berlalu. Zahra tak kunjung keluar dan kran shower masih terdengar menyala terus menerus sejak tadi.


“Kenapa Zahra nggak keluar-keluar, ya? Apa dia guyur seluruh badan di bawah shower sampai kedinginan kayak waktu itu?” pikirku.


Karena khawatir, akhirnya aku memutuskan untuk mendekati pintu kamar mandi itu dan memanggilnya. “Zahra ... .”


Tak ada respon darinya. Aku mendekatkan telingaku ke pintu kamar mandi, mencoba mencari tahu sesuatu. Tiba-tiba, terdengar isak tangis dari dalam. Aku panik dan segera mengetuk pintunya. “Zahra, Zahra. Kamu kenapa? Kamu marah soal tadi? Ra, keluar dulu, ya. Aku minta maaf, Ra.”


Teman-temanku yang tadi sedang asik mengobrol di ruang tengah menyusul ke kamar mandi karena mendengar suaraku memanggil-manggil Zahra. Mereka ikut membantuku membujuk Zahra. Dulu, Zahra pernah melakukan ini saat orang tuanya ingin bercerai. Ia membasahi tubuhnya hingga menggigil di bawah kran shower yang terus mengalir.


Aku terus melontarkan kata maaf kepada Zahra berkali-kali sambil menghapus air mataku yang mengalir. Situasi seperti ini kembali terjadi. Saat itu, Vira membenciku karena Andra berteman dekat denganku. Sekarang, Zahra kecewa padaku karena Harsa menyukai aku. Ya Allah, apa aku penyebab patah hati teman-temanku? Kenapa aku selalu disalahkan atas kecemburuan mereka? Apa itu salahku jika seseorang menyukaiku?

__ADS_1


Tak lama kemudian, Zahra membuka pintu. Air menetes dari bajunya. Ia basah kuyup dengan mata merah akibat menangis. Dilla memberikan handuk Zahra kepadaku. Kami membantu Zahra mengeringkan tubuhnya.


Aku dan teman sekamar yang lain tidak menyukai sikap Zahra yang seperti ini. Ia menyiksa dirinya sendiri dan itu jelas dilarang Allah. Padahal dibalik sikapnya ini, ia orang yang sangat baik dan penyayang. Ia mudah bergaul dan senang membantu. Semoga Zahra bisa segera menghilangkan kebiasaan buruknya yang seperti tadi.


__ADS_2