
Seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya, malam ini adalah malam pelepasan bagi santri kelas dua belas oleh pimpinan pesantren. Acaranya diadakan di gedung serba guna yang terletak tepat di depan asrama Madrasah Ibtidaiyah, asrama yang aku tempati. Berbeda dengan auditorium saat acara anniversary angkatan, yang letak gedungnya di dekat gerbang utama pesantren. Lumayan jauh dari asrama karena membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di sana, sedangkan ke gedung ini tidak sampai lima menit.
Adapun gedung serba guna ini biasa digunakan untuk acara seperti kampanye calon ketua organisasi pelajar beserta pemilihannya, khutbah pimpinan pesantren, acara expo tiap angkatan, silaturahmi santri dengan pimpinan pesantren, class meeting, pentas seni santri, maupun segala macam acara yang diadakan oleh organisasi pelajar.
Dalam acara kali ini, pimpinan pesantren akan menyematkan medali dan memberikan piala sebagai apresiasi santri berprestasi. Setelah itu, beliau akan meresmikan bahwa angkatan kami resmi lulus.
"Siapa yang punya kerudung biru langit lagi? Kerudung biru aku dua-duanya nggak ada. Kayaknya masih di laundry, deh," keluh Iffah kepada anak kamar.
Aku mengambil satu kerudung segi empat berwarna biru langit dari tumpukan kerudung di dalam lemariku. "Ini, Fah. Aku ada lagi." Aku menyerahkan pada Iffah.
"Aaaa ... makasih, Selina."
Acara formal seperti ini santri diwajibkan memakai kemeja sesuai warna angkatan dengan bawahan hitam. Tidak lupa dilengkapi jas atau blazer hitam. Namun, biasanya santri rijal ada saja yang memakai setelan jas berwarna coklat susu ataupun abu-abu.
"Ayok temen-temen, cepetan siap-siapnya. Nanti kita telat," ujar Aidha mengingatkan.
Syilla yang masih sibuk memoles wajahnya dengan moisturizer langsung terkesiap. Ia menyadari dirinya paling lama dalam bersiap-siap. Teman-teman yang lain sudah memakai kerudung sedangkan ia masih sibuk pada wajahnya.
"Temen-temen tungguin aku, lho," pinta Syilla dengan nada memaksa.
"Cepetan makanya, Syill. Nanti keburu banyak cowok." Zahra geregetan melihat tingkah Syilla yang selalu lama kalau persiapan pergi.
Aidha juga ikut tidak tahan. "Syill, kalau kelamaan datengnya, nanti nggak bisa milih tempat yang strategis. Nanti dapet bagian depan, ngerengek deh kamu nggak bisa ngobrol."
"Iya-iya. Asrama kita paling deket dari yang lain, kok. Tenang aja kita nggak akan dateng terakhiran," balasnya.
Aku membuka lemari Syilla. Berinisiatif mengambil blazer, rok dan kerudungnya. "Syill, kaos kakinya masih di lemari juga nggak?" tanyaku dengan agak berteriak.
"Nggak, udah di rak sepatu." Syilla yang melihatku menyiapkan perlengkapannya langsung kegirangan. "Aaaa ... makasih. Sekalian semprotin parfum, Sel. Hehe ... ."
Lalu, aku menyemprotkan di kemeja yang sudah Syilla kenakan, juga di perlengkapan lainnya. Sekaligus menyemprotkan parfum Syilla ke pakaian yang aku gunakan. Kebetulan parfumku habis tadi. "Syill, aku minta parfumnya."
"Seli, ada adik kamu di depan," ungkap Nisa yang baru saja melihat ke jendela. Kamar kami menghadap koridor tengah sehingga hanya dari jendela kamar, kami dapat melihat keadaan di koridor tengah.
"Mau ke sini dia?"
Nisa kembali melihat ke jendela. "Kayaknya nggak. Faaz lagi ngobrol sama Andra. Terus kayaknya tadi Andra ngasih bingkisan makanan gitu deh ke adik kamu, Sel."
"Andra ngasih bingkisan makanan ke Faaz?"
"Iya, abis itu mereka kayak ketawa-tawa gitu. Ya, biasalah Faaz kan keliatan lebih sayang sama Andra dari pada sama kamu, Sel," ledek Aidha yang ikut-ikutan Nisa mengintip ke jendela. Lalu, diiringi tawa teman-teman sekamar.
Aku mendengus. "Ih, Faaz sayang sama aku juga tau. Walaupun aku galak ke dia," balasku sambil memakai kaos kaki untuk bersiap berangkat.
"Ayok tinggalin Syilla," ledek Zahra sambil berlari keluar kamar lalu diikuti oleh yang lain hingga membuat Syilla berteriak-teriak memohon untuk ditungguin.
...***...
__ADS_1
Kursi-kursi di bagian belakang dan tengah sudah banyak terisi. Hanya kursi bagian depan saja yang masih sepi penghuni. Sudah menjadi habit, para santri jarang memilih kursi bagian depan. Barisan kursi dibuat perkelas, satu kelas dibuat dua kolom ke belakang. Santri rijal di bagian barat dan santri nisa di bagian timur. Pada bagian tengah di gelar karpet merah dari pintu utama sampai ke tangga di panggung. Pintu utama ini digunakan untuk pimpinan pesantren beserta jajarannya masuk ke aula lantai dua gedung serba guna. Untuk santri masuk melalui pintu yang terdapat di setiap sudut gedung.
Kami bersepuluh duduk berpencar. Zahra duduk bersebelahan dengan sahabatnya. Aku duduk bersebelahan dengan Aidha. Di belakang kami duduk Syilla dan Dilla. Sedangkan lima orang lainnya di bagian belakang agak jauh dari kami.
"Nanti anterin aku ke kamar mandi ya, Sel." Aidha berbisik kepadaku karena suasana aula super besar yang sangat ramai. Maklum acara belum dimulai, sedangkan peserta acara berjumlah sekitar 600 santri kelas dua belas.
"Baru dateng masa udah pengen pipis aja sih, Dha?"
Aidha tersenyum merayu. "Bukan sekarang pengen pipisnya tapi nanti kayaknya bakal pengen. Kan janjian dulu biar kamu siap-siap."
"Hemm. Ya udah, iya."
Menunggu acara dimulai, sound system di samping kiri panggung mengeluarkan suara merdu sholawat 'Pejah Husnul Khotimah'. Dengan volume yang cukup keras dan suara yang lembut, mampu menggetarkan hati, memasuki ruang-ruang di dalam hati dan pikiran yang mendengarnya.
"Sel," panggil Aidha. Melihat aku sudah menoleh ke arahnya, ia memasang raut wajah sedihnya. "Aku sedih, kita semua mau pisah. Besok kita beneran pulang, Sel? Kenapa cepet banget?"
Aku terkekeh mendengar Aidha. "Emangnya kamu masih mau di sini? Kalau masih mau, ya udah kamu pulangnya ngaret aja, tapi sendirian karena yang lain udah pada pulang. Ha ha ha ... ."
"Ih, apa-apaan." Aidha cemberut.
Tanpa aku sadari, suasana di sini seakan menyeretku ke dalam ruang waktu. Di mana semua momen yang telah aku lewati di sini seperti teringat kembali. Masih dapat kuingat dengan jelas awal mula aku menginjakkan kaki di sini sebagai santri baru. Hatiku yang masih kaku, belum ikhlas sepenuhnya untuk menjadi santri. Namun, seiring berjalannya waktu semua berubah, aku mencoba melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Ternyata sebahagia itu menjadi seorang santri.
Mataku menelusur ke arah barat. Pandanganku menangkap sosok lelaki yang selalu membuatku bertanya-tanya. Ingatanku kembali pada cerita yang disampaikan oleh Zahra kepadaku. Sebuah dugaan tentang Andra. Andra yang memiliki seseorang di masa lalu, yang katanya tidak bisa ia lupakan hingga sekarang.
Aku tidak bisa menebak siapa dan yang mana perempuan itu. Aku sudah tahu sejak dulu bahwa Andra memang memiliki banyak mantan pacar. Aku tahu bahwa wajahnya yang tampan membuatnya diidamkan oleh banyak wanita di sekolahnya saat itu. Andra pernah cerita bahwa ada beberapa wanita yang pernah mengutarakan sendiri perasaannya pada Andra baik secara langsung atau pun melalui surat. Wow, memangnya Andra setampan dan sehebat apa saat itu hingga membuat para wanita kepincut.
"Baik, acara akan segera dimulai. Para hadirin dimohon untuk tenang." Pembaca acara dari kelas sebelas mulai berdiri. Acara ini khusus untuk kelas dua belas, maka seluruh panitia berasal dari kelas sebelas.
Atur acara setelah pembukaan, dilanjut dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan sari tilawah yang juga dibawakan oleh santri kelas sebelas. Mereka membacakan surat An-Nisa ayat 122-124.
"Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah. Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun."
Para pagar ayu dengan pakaian berseragam anggota PASKIBRA berdiri di sepanjang karpet merah dengan tangan posisi hormat. Siap menyambut Syekh pimpinan pesantren beserta jajaran untuk memasuki aula. Usai pimpinan pesantren duduk di kursi yang telah disediakan, dilanjut dengan atur acara selanjutnya yaitu sambutan singkat dari beberapa Ustadz dan Ustadzah.
"Aidha, itu Ustadz Zidan lagi ngobrol sama siapa? Zahra ya?" Aku menunjuk ke barisan depan, di mana Ustadz Zidan sedang berdiri di bagian pinggir barisan kursi nisa.
Aidha mengikuti arah tanganku lalu menyipitkan matanya. "Iya bener, itu Zahra. Biasalah, Ustadz Zidan kan deket ama Zahra. Kayaknya Ustadz Zidan naksir Zahra, deh."
"Lagi pada ngomongin Zahra, ya?" Syilla dan Dilla tiba-tiba ikut nimbrung dari belakang. Lalu, Aidha memberi isyarat untuk diam dan kembali memperhatikan depan.
Pembawa acara membacakan nama-nama santri yang meraih juara 1-3 di setiap jurusan. Para johan jurusan IPS rijal dan nisa menaiki panggung usai disebutkan namanya. Barulah kini saat-saat menegangkan bagi jurusanku, jurusan IPA, walaupun sebagian dari kami sudah bisa menebak johan tahun ini adalah johan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, sulit sekali untuk menggeser predikat johan dari mereka.
"Hebat Syahla, MasyaAllah. Syahla bisa jadi johan tiga di jurusan IPA nisa, padahal kan tahun ini dia sibuk di organisasi," puji Dilla setelah juara dua dan tiga disebutkan oleh MC.
"Barakaallah fiikum, Syahla," imbuhku. "Kira-kira johan satu tetep Zahra nggak, nih?" tanyaku sembari menoleh ke Syilla dan Dilla.
"Pasti, deh. Zahra mah konsisten pinternya."
__ADS_1
"Selanjutnya, juara satu jurusan IPA rijal jatuh kepada ... Harsa Al-Hafidz," ucap MC yang langsung disambut tepuk tangan dan sorakan dari seisi aula. "Untuk juara satu jurusan IPA nisa, jatuh kepada ... Az-Zahra Maulida ... ."
"Wowwww ... Selamat, Ra." Kami berempat kompak memberi tepuk tangan heboh mengiringi Zahra menaiki panggung.
Dua belas orang johan mendapat piala dan medali yang diserahkan langsung oleh Syekh, tidak lupa dengan buket bunga indah. Dilanjut dengan sesi foto bersama Syekh dan Ustadz serta Ustadzah pembina angkatan kami.
Syilla berkata sedikit pelan di antara aku dan Aidha. "Bayangin kalau Harsa bisa suka balik ke Zahra terus mereka menikah, nanti anak mereka sepinter apa coba? Emak bapaknya pemegang rekor johan."
"Tapi, kasian juga kalau ternyata anaknya kurang pinter, pasti tekanan buat dia karena orang tuanya yang kelewat pinter," sanggah Dilla.
Di pertengahan Syekh memberikan pidato di atas mimbarnya, Aidha mengajakku menemaninya ke toilet. Saat Aidha di dalam toilet dan aku sedang bercermin, terdengar sorakan keras dari seisi aula. Sontak membuat aku dan Aidha ikut heboh karena kebingungan lagi penasaran.
"Itu kenapa, Sel? Kok pada teriak?"
"Mana kutahu. Kan aku di sini. Udah, makanya cepetan. Udah belum?"
"Iya-iya, udah." Aku dan Aidha keluar dari toilet dan hendak bergegas menuju barisan kami. Namun, tiba-tiba aula sebesar ini menjadi gelap gulita. Seketika membuat semua orang berteriak histeris.
Aidha langsung meraih tanganku dan berhenti di tempat. "Seli, aku takut."
"Nah, tuh nyala. Cuma beberapa detik doang, kok. Untung kita udah keluar dari toilet, ya. Udah ayok, cepetan." Aku menarik tangan Aidha untuk berlari kecil menuju kursi kita.
"Ada apa tadi sebelum mati lampu? Kok pada teriak?" tanyaku pada Syilla dan Dilla setelah mendaratkan tubuhku di kursi.
"Pasti kalian kaget nih. Ini belum pernah terjadi di angkatan-angkatan sebelumnya. Tau nggak tadi Syekh bilang apa?" Syilla membulatkan kedua matanya.
"Apa? Cepetanlah."
"Kita besok nggak boleh pulang!"
"Ha? Maksudnya?"
Dengan tetap menghadap ke arah depan, aku dan Aidha mendengarkan penjelasan Syilla dan Dilla dari belakang. Syekh belum selesai berpidato sehingga kami harus tetap tenang dan memperhatikan beliau yang berdiri gagah di belakang mimbar.
"Kan dari dulu kelas dua belas selalu pulang duluan dari angkatan lain karena emang udah selesai ujian. Terus, tadi Syekh bilang, kita emang udah lulus dan bukan santri lagi. Tapi ... kita masih harus tinggal di sini. Syekh masih mau merasakan bulan Ramadhan bareng angkatan kita. Bulan Ramadhan kan beberapa hari lagi, makanya perpulangan kita diundur, kita juga kan masih punya banyak waktu sebelum persiapan pendaftaran perguruan tinggi."
"Serius? Terus angkatan kita pada setuju?"
Dilla angkat suara. "Mau angkatan pada setuju atau nggak, ini kan udah keputusan Syekh. Siapa coba yang bisa lawan? Insyaallah ini yang terbaik buat semuanya."
Aku mengangguk tanda paham. "Lagi pula, katanya status kita bukan santri lagi, kan? Berarti kita udah alumni, enak dong."
"Eh, iya, bener. Mungkin kita sedikit bebas. Bisa ke kantin kapan aja, udah nggak sekolah juga. Asalkan, kita tahu diri ya. Bukan berarti ngelanggar semua peraturan."
"Ada hikmah lain juga nih selain itu. Kita juga bisa bikin banyak kenangan sama temen-temen sambil nunggu pulang. Bisa ngabisin banyak waktu sebelum nanti kita bener-bener berpisah dan terbang menuju cita-citanya masing-masing."
...***...
__ADS_1