
Tas yang akan kubawa ke sekolah sudah siap dan kuletakan di meja. Aku sibuk memoles wajahku dengan bedak dan sedikit lip tint dengan warna soft di bibir. Ku semprotkan parfum paris hilton ke seluruh tubuhku yang kini menggunakan seragam sailor dilengkapi jilbab segiempat berwarna putih , tidak lupa memakai hand body di kedua tangan dan kakiku. Aku memeriksa ponsel apakah Harsa sudah ada di kursi koridor atau belum dan ternyata tepat sekali pesan dari Harsa masuk.
Harsa
Sel, gece
Ok, otw
Aku langsung pamitan kepada anak kamar. Mereka masih sibuk berleha-leha dengan rutinitas pagi sebelum berangkat ke sekolah. Maklum sudah kelas 12, tidak ada lengkingan yang membuat telinga sakit dan jantung berdebar kencang hingga refleks membuat gerakan tubuh bergetar dan terburu-buru. Karena kalau tidak, resikonya harus mendengarkan ocehan kakak kelas juga hukuman yang menanti.
"Duluan ya. Assalamuallaikum." Aku bergegas mencangking sepatuku dari rak sepatu.
Aku sengaja bersiap-siap lebih cepat karena harus bertemu Harsa untuk mengambil kisi-kisi yang ia janjikan. Biasanya aku pun sama seperti teman-temanku yang berangkat ke sekolah jika waktu sudah mepet, berangkat pagi hanya ketika sedang niat. Padahal, asrama kami paling jauh dari sekolah jika dibandingkan dengan asrama lain. Kami pun sering hampir dihukum, untung saja kami memiliki alasan yang masuk akal bahwa kami harus mengurus santri MI terlebih dahulu. Karena memang kami harus memastikan seluruh santri MI sudah sarapan dan pergi ke sekolah, kecuali yang sakit.
Tanpa mencari, aku langsung menemukan sosok Harsa yang sedang duduk di kursi koridor tengah. Aku segera menghampirinya.
"Sa, udah dari tadi?"
"Ngga, baru kok. Nih." Harsa menyerahkan 2 buku paket dan 1 kantung plastik yang sepertinya berisi makanan.
Aku menerima buku yang ia serahkan. "Kok sama pelajaran sejarah?"
"Iya. Sempet minta ke Abi juga kisi-kisi Sejarah. Eh, kelas ente sejarah diajar sama Ustadz Yahya, bukan?"
"Bukan, sih. Tapi insyaallah sama lah soal ujiannya mah. Hehe."
"Ini terima juga dong." Harsa menyerahkan lagi kantung plastik putih tadi kepadaku.
"Buat siapa ini?" Aku menerima kantung plastik yang ternyata berisi 2 susu kotak full cream Ultra Milk ukuran sedang dan 1 botol nutriboost.
"Buat ente. Dah. Saya duluan, ya." Ia tersenyum dan berlalu meninggalkanku.
"Eh, makasih." Aku meneriakinya.
"Baik banget pake kasih ini segala. Padahal waktu pertama ketemu, aku mau nitip aja dia nggak mau," ucapku sambil menghampiri teman-temanku yang sedang menggunakan sepatu di kursi depan asrama.
__ADS_1
"Tungguin, dong." Aku segera menyusul memakai sepatu kets berwarna pink soft dan kaos kaki dengan warna senada.
Salah satu hal yang aku suka bersekolah di sini adalah tidak adanya larangan untuk menggunakan sepatu dan kaos kaki berwarna di sini. Di SMP-ku dulu, sepatu wajib berwarna hitam dengan tali putih dilengkapi kaos kaki putih dan itu membuatku bosan. Sedangkan di sini, aku bisa menggunakan sepatu dengan warna kesukaanku. Hm, memang agak kekanak-kanakan pola pikirku soal ini.
"Sel, ayok cepetan."
"Iya, Ra. Eh ngomong-ngomong kita UTS berapa hari lagi? Senin depan, ya?"
"Yups."
***
Hari ini adalah hari pertama pelaksanaan ujian tengah semester. Aku sibuk menghafal materi-materi yang telah diajarkan oleh guru. Sebenarnya aku sudah belajar dari malam dan kini mataku mulai lelah juga kantuk mulai menyerang, memang kantukku selalu datang di pagi hari seperti ini. Mau tidur sebentar pun rasanya tidak tenang, apalagi melihat teman-temanku yang super rajin ini. Beruntung aku sekamar dengan mereka lagi sehingga aku terbawa rajin.
"Assalamuallaikum, ada Seli, nggak?" tanya Syahla-anak kelas sebelah yang super aktif di organisasi, biasanya pagi-pagi begini ia baru selesai ijtima.
Aku mendongak karena kini aku tengah belajar di kolong meja dan Syahla hanya berdiri di pintu kelasku. "Wa'allaikumsalam. Selinya ada, Syahla. Kenapa?"
"Itu dicari Andra di koridor tengah, Sel. Cepetan katanya."
"Iyah, Seli. Kamu juga jangan tidur mulu," teriaknya sambil masuk ke dalam kelasnya.
Teman sekelasku sudah terbiasa mendengar aku dipanggil oleh Andra di koridor jadi mereka tidak heboh, hanya terkadang mereka mengatakan 'cie-cie' saja.
Aku segera menuju koridor tengah. Sudah nampak sosok Andra sambil membawa kantung plastik yang isinya pasti coklat seperti biasanya. Tetapi aku tidak tahu coklat itu untukku atau Vira. Bisa saja kan dia mau kasih ke Vira melalui aku yang kebetulan memang letak kelasku dekat dengan koridor tengah.
"Kenapa, Ndra?"
"Mau ujian, makan coklat dulu biar otaknya fresh." Ia menyerahkan plastik yang berisi 2 batang coklat.
"Buat aku atau buat Vira?" tanyaku santai.
"Buat kamu, Sel. Pake nanya lagi. Udah sono balik ke kelas, belajar."
Aku mengangguk. "Makasih. Belajar yang rajin lu. Jangan nyontek."
__ADS_1
"Iya-iya." Andra balik badan dan kembali ke kelasnya. Begitu pun aku.
Kuletakan coklat itu di laci dan aku kembali berkutat dengan buku-buku. Bel berbunyi 5 menit setelahnya. Seluruh santri bersiap dengan meletakan buku dan tas di depan kelas dan hanya menyisakan alat tulis, kartu peserta ujian dan botol air minum di meja masing-masing. Santri tidak diperkenankan meletakan apa pun di laci meja saat ujian dimulai.
Ujian telah berlangsung 15 menit. Pengawas ujian berkeliling kelas seperti ujian biasanya karena terkadang ada saja santri yang tertidur saat ujian, tidak membawa kartu peserta atau bahkan ketahuan membawa kertas contekan.
Ustadz tersebut tiba-tiba berhenti di belakangku dan menyuruhku mengambil sesuatu yang ada di laci mejaku, hingga membuat seluruh kelas tertuju padaku. Memangnya laci mejaku ada apanya?
Kuraba laciku dan aku baru ingat bahwa aku belum meletakan coklat pemberian Andra ke dalam tasku. Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur diketahui oleh ustadz pengawas ujian. Kuserahkan plastik berisi coklat itu dengan ragu-ragu.
Ustadz itu membuka plastiknya dan menemukan secarik kertas. "Wah, ini kertas apa? Jangan sampe ada yang menyontek anak-anak karena beresiko tidak dapat mengikuti ujian."
Aku ketar-ketir karena aku tidak tahu apa isi kertas itu. Pasalnya, saat kelas sepuluh Andra pernah memberikanku kertas contekan buatannya karena selama di SMP Andra sudah terbiasa menyontek saat ujian. Saat itu aku menolaknya karena aku tidak pernah ingin menyontek, bahkan aku menyarankan Andra untuk tidak menyontek lagi. Tetapi, apakah dia melakukan hal ini lagi?
"Ternyata ini isi kertasnya. Ustadz bacain, ya."
Ya Allah, aku mohon. Jangan sampe aku nggak bisa ikut ujian. Ya Allah semoga itu bukan kertas contekan. Aamiin.
"Hai, Seli," ucap Ustadz itu, matanya masih tertuju kepada kertas yang dipegangnya.
Aku langsung menoleh, apa maksud ustadznya?
"Hai, Seli. Jangan lupa berdo'a dan belajar sebelum ujian. Jangan lupa juga dimakan coklatnya. Sukses Selina Mufida binti Abi Yusuf Gunawan." Ustadz itu membacakan apa yang tertulis di kertas tersebut.
Ekhemmmm... Cieeeee
Uhuyyy, Seli...
Uwwuww. Itu yang dari Andra tadi, ya, Sel?
Cieee Seliii mukanya merahh.
Seisi kelas langsung ramai karena mereka menyadari aku memang habis bertemu Andra dan pasti itu dari Andra.
Aku tersenyum kikuk. Malu sekaligus lega bahwa itu bukan kertas contekan. Ngapain sih Andra nulis gituan? Ah sudahlah, intinya aku tetap bisa ikut ujian.
__ADS_1
***