
Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu. Besok adalah hari pertama di bulan suci Ramadhan, sehingga nanti malam kami akan melaksanakan shalat tarawih. Bagi santri dari kelas tujuh hingga kelas sebelas wajib melaksanakan shalat tarawih di masjid. Untuk santri Madrasah Ibtidaiyah melaksanakan di asrama.
Aku meneguk es teh yang kubeli di kantin bersama Aidha. “Ahhh ... seger banget, Dha. Siang-siang begini minum es.”
“Puas-puasin dah tuh minum esnya. Besok udah nggak bisa. Besok kita harus menahan haus dan lapar. Semoga Allah menerima ibadah puasa kita,” ucap Aidha yang duduk lesehan bersamaku di ujung koridor, menghadap taman asrama.
“Iya, Aamiin,” ucapku lalu menoleh ke belakang. “Eh, itu yang lagi di tangga adik aku bukan, sih?” Aku menunjuk ke arah tangga utama asrama.
Aidha mengikuti arah pandangku. “Iya, itu Faaz. Pasti dia mau ke kamu, deh.”
Aku mencibir. “Pasti dia mau minta duit, nih.”
Kini Faaz telah berada di hadapanku bersama dua temannya. “Kak, duit dong.”
Dengan sedikit malas, aku menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan. “Duit mulu.”
“Dikit banget, Kak?”
“Segitu cukup kali buat sekali jajan. Dua kali jajan juga cukup.”
Faaz mendengus. “Iya-iya. Eh, Kak. Kakak kenal sama cewek yang namanya Adelia Putri?”
“Siapa itu? Cewek kamu? Kakak nggak kenallah.”
Faaz mengerucutkan bibir. “Enak aja cewek aku. Bukanlah. Aku tuh liat nama itu di notifikasi chat-nya Kak Andra.”
“Kamu pinjem hp Andra?”
Kedua alis Faaz terangkat lalu ia tertawa. “Udah sering minjem kali, Kak. Lagian Kakak pelit nggak mau minjemin. Terus Kak Andra nawarin minjemin handphone-nya, ya jelas aku terimalah,” ucapnya bangga.
“Emang isi chat Adelia Putri kenapa? Kok kamu sampe nanya ke Kakak segala?”
Faaz tertawa dan diikuti teman-temannya untuk meledekku. “Wah, Kakak kepo, tapi nggak papa, deh dikasih tau aja. Soalnya Kak Seli kan suka sama Kak Andra.”
Mataku membesar. Lagi-lagi Faaz berkata seperti itu. Anak ini memang paling suka membuatku marah, tetapi amarahku berusaha kupadamkan. Aku juga sebenarnya penasaran dengan Adelia Putri, aku merasa tidak asing dengan namanya.
Faaz berlagak keren dan berkata, “Jadi gini, Kak. Awalnya Adelia Putri itu kirim pesan yang isinya, ‘Makasih atas ungkapan belasungkawanya. Aamiin, semoga abang aku diterima semua amal ibadahnya’. Terus nggak lama kemudian dia nelpon. Aku bingung tuh mau diangkat apa nggak, tapi setelah dia berkali-kali nelpon akhirnya aku angkat. Aku bilang kalau Kak Andra lagi di asramanya dan hp-nya lagi aku pinjem.”
“Oh, gitu. Terus dia bilang apa?”
__ADS_1
“Katanya nanti Kak Andra suruh telpon balik dia secepatnya. Ya udah, aku mau ke kantin dulu, Kak. Assalamualaikum.” Faaz cium tangan kepadaku dan Aidha yang diikuti oleh dua temannya. Setelah itu, mereka berlalu pergi.
Aidha yang melihatku diam langsung bisa menebak. “Kamu mikirin Adelia Putri itu siapa? Bukannya kamu bilang kalau temennya Andra ada yang meninggal beberapa hari lalu? Mungkin Adelia Putri itu adiknya kalau diliat dari balasan pesannya.”
Aku berpikir sejenak. Sepertinya ucapan Aidha benar juga. Aku mengangguk pada Aidha dan membuka ponsel. Menuju aplikasi Instagram, lalu mengetik nama seseorang pada laman pencarian. Setelah menemukan profil seseorang yang aku cari, aku membukanya. Menggulir beberapa postingan dan menemukan sebuah foto seorang laki-laki dan perempuan tengah berdiri di tepi pantai.
“Itu siapa, Sel?” tanya Aidha penasaran.
“Ini temen Andra yang meninggal itu, Dha. Dia orang yang pernah bawa aku ke ruang gelap mengerikan itu.”
Aidha terkejut seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Dia orang yang pernah nampar kamu itu? Jadi, temen Andra yang meninggal itu dia? Kok kamu nggak bilang kalau temen Andra yang meninggal itu orang yang pernah jahat sama kamu?”
Aku tersenyum kecil. “Ya buat apa aku bahas kejahatan orang, apalagi dia udah meninggal. Harusnya aku berusaha lupain kejadian itu. Aku emang udah maafin dia, tapi jujur sampai sekarang aku belum bisa lupain itu.”
Perempuan yang selalu mendengar keluh kesahku ini menyentuh tanganku. “Kamu udah bisa maafin dia aja tuh udah Alhamdulillah, Sel. Kamu nggak dituntut untuk lupain perbuatan dia, kamu cuma perlu memaafkannya.” Aidha meraih ponsel yang berada di tanganku. “Terus cewek ini siapa? Pacarnya? Oh, atau adiknya? Yang namanya Adelia Putri tadi?”
Aku meraih kembali ponsel itu dan mengetuk layar untuk melihat nama akun yang ditandai dalam postingan itu. Setelah muncul sebuah username bertuliskan ‘adelia_put’ aku iseng membuka profilnya. Lalu menggulir beberapa sorotan pada akunnya dan menemukan salah satu sorotan dengan judul ‘Kenangan SMP’. Aku melihat isi sorotan itu dan menemukan beberapa foto yang membenarkan dugaanku tadi.
“Ternyata dugaan aku bener, Dha. Ini Adelia Putri, dia adik dari temen Andra sekaligus mantan pacar Andra waktu SMP.”
“APA?”
“Nggak usah kaget gitu. Andra kan mantannya emang banyak, Dha. Dan dia salah satunya.”
Aku merenung. Pikiranku membenarkan opini Aidha. Mungkin saja saat itu Andra membantu almarhum membalaskan dendamnya padaku karena almarhum adalah kakak dari pacanya. Namun, semuanya sudah berlalu, untuk apa aku mempermasalahkan hal itu kan?
...***...
Aku berjalan bersama Aidha menuju masjid. Agak jauh di depan kami, Dilla berjalan bersama Syilla. Kami menjinjing mukena beserta sajadah untuk melaksankan shalat Tarawih, sebelumnya kami sudah melaksanakan shalat Magrib di asrama. Karena presiden santri beserta jajarannya sudah dilantik sejak angkatan kami mulai mendekati masa ujian, maka santri kelas sebelas sudah melaksanakan tugas-tugasnya menggantikan kami. Begitu juga dengan tugas pengurus asrama MI, maka aku bersama teman-teman bisa melaksanakan shalat Tarawih di masjid karena di asrama sudah ada kepengurusan dari kelas sebelas.
Kami menggelar sajadah di shaf belakang. Memakai mukena dan menunggu adzan Isya dikumandangkan. Suara gemuruh seribu lima ratus lebih santri yang kini berada di dalam masjid mendominasi, sebagian dari mereka sedang membaca Al-Qur’an dan sebagian lainnya mengobrol maupun senda gurau bersama teman. Suasana yang akan sangat aku rindukan suatu saat nanti.
Masjid dengan nuansa putih ini memiliki 2 lantai dan terdapat kolam cukup besar di bagian belakang. Lokasi masjid ini bersebelahan dengan hotel tak terlalu besar milik pesantren. Hotel yang biasa digunakan ketika wali santri ingin menginap atau ketika orang luar ingin berkunjung untuk melihat-lihat pesantren dan keperluan lainnya.
Aku iseng membuka ponsel, tiba-tiba masuk notifikasi pesan Whatsapp dari Andra. Dengan ragu-ragu, aku membukanya, rupanya ia mengirim sebuah foto dirinya bersama seorang perempuan memakai hodie biru muda dan bawahan rok plisket warna serupa, dilengkapi dengan jilbab pashmina hitam. Wajah perempuan itu menghadap Andra sehingga tidak nampak jelas di kamera, tetapi sepertinya aku bisa mengenalinya. Dia ... .
Adelia?
Detik berikutnya foto itu langsung dihapus oleh Andra. Sepertinya dia salah kirim. Mengapa aku merasa ada sesuatu dengan Adelia? Apa mungkin seseorang yang tidak pernah bisa Andra lupakan adalah perempuan bernama Adelia Putri? Aku meringis mengingat diriku yang belum bisa menghilangkan perasaan pada Andra. Mungkin menyukainya adalah kesalahan terbesarku.
__ADS_1
“Eh, itu Harsa bukan sih yang siap-siap mau jadi imam?” Aidha menepuk-nepuk bahuku seraya menunjuk ke barisan depan, tempat imam.
“Mana?” Aku celingukan ke arah tempat imam yang sangat jauh dari barisan aku duduk. Meski jauh, aku tahu betul bahwa itu adalah Harsa. Ia memakai setelan jas berwarna coklat susu dan peci hitam. “Iya, itu Harsa.”
“Ganteng banget ih Harsa kalau diliat-liat. Keren pake setelan jas warna itu. Kenapa kamu nggak bisa suka sama dia sih, Sel? Aneh banget, deh.” Aidha menggerutu.
“Emangnya semua cewek harus suka sama Harsa?” tanyaku sambil tertawa pelan.
“Bukan gitu, Sel. Dulu kan kamu naksir berat sama suaranya, tapi pas kamu tau orangnya, kenapa kamu malah ngehindar gitu, sih? Bingung aku. Dan kamu malah masih suka sama Andra yang udah bikin kamu sakit berkali-kali?”
Aku tidak bisa membantah perkataan Aidha barusan. Semua yang dia katakan tadi, benar adanya. Aku meringis merenungkan apa yang terjadi denganku. Setelah aku tahu laki-laki yang aku kagumi suaranya itu adalah Harsa, aku segera berusaha melupakannya sebelum aku semakin jauh menyukainya. Sebab, aku tahu bahwa teman dekatku sudah menyukai Harsa jauh sebelum aku datang ke pesantren ini. Dialah Az-Zahra Maulida.
Para jamaah berdiri usai iqamah dikumandangkan. Imam memulai shalatnya. Suara Harsa yang merdu membaca surat Al-Kahfi beberapa ayat setelah membaca surat Al-Fatihah di rakaat pertama.
...***...
Sebelum para santri dibubarkan oleh kelas sebelas bagian takmir masjid, para alumni kelas dua belas sudah bergegas meninggalkan masjid, khawatir akan mengantri ketika mengambil sandal. Begitulah enaknya ketika sudah menjadi kelas dua belas, pulang pun tak harus menunggu aba-aba dari kakak kelas. Santri biasanya dipulangkan berdasarkan barisan paling rapi agar tidak berdesak-desakan karena jumlah santri yang lebih dari seribu lima ratus ini.
“Tadi adik kelas yang duduk sebelah aku ngomongin Harsa terus waktu dia tau kalau Harsa yang jadi imam shalat Tarawih tadi. Dia bilang ke temennya kalau dia sering DM Instagram Harsa tapi nggak pernah dibales sama sekali,” papar Aidha padaku saat kami berjalan melintasi kantin.
Aku tak menjawab, hanya tertawa pelan. Tak sengaja kedua mataku menangkap sosok Ustadz muda, siapa lagi kalau bukan Ustadz Zidan yang belum lama ini mengajak Zahra untuk menikah. Ustadz Zidan sedang duduk bersama seorang laki-laki paruh baya, sepertinya beliau adalah bapak dari Ustadz Zidan.
“Jangan-jangan, bapaknya Ustadz Zidan mau ketemu Zahra, Dha.”
“Hah? Ketemu gimana?”
Aku menunjuk ke arah Ustadz Zidan. “Itu ada bapaknya Ustadz Zidan.”
“Wah, iya deh kayaknya. Ya udah nanti kita kasih tahu Zahra biar dia nggak kaget kalau emang bener bapaknya Ustadz Zidan mau ketemu dia.”
Aku dan Aidha tiba di rumah makan. Ketika ingin mengambil ompreng, kami berpapasan dengan Vira.
Vira tersenyum padaku untuk menyapa. “Eh, Sel. Main ke kamar aku dong sekali-kali. Kamu mah sibuk ngurusin anak MI mulu. Oh iya, Sel. Kamu tau kan mantan Andra yang namanya Adelia?”
Pertanyaan Vira tak terduga. Ia tiba-tiba menanyakan mengenai Adelia Putri. “Iya, aku tau doang tapi nggak kenal dan nggak pernah ketemu juga.”
“Oh gitu. Kemarin dia minta nomor kamu ke aku, Sel. Aku mau bilang ke kamu lupa mulu. Tapi, bolehkan kalau aku kasih nomor kamu ke dia?”
Kedua alisku terangkat. Semakin banyak pertanyaan di kepalaku tentang Adelia Putri ini. Mengapa dia meminta nomorku? Perasaanku menjadi tidak enak. Aku takut kalau aku disalahkan karena aku dekat dengan Andra selama ini. Aku takut akan disalahkan untuk kesekian kalinya oleh seorang perempuan yang cemburu kepadaku. Meski kini mereka telah kembali ramah padaku, tetap saja aku takut suatu saat mereka akan membenciku lagi.
__ADS_1
Aku menyusul Aidha mengambil nasi setelah membolehkan Vira memberikan nomorku kepada Adelia Putri. Tadi Vira sempat mengatakan padaku bahwa Adelia Putri juga mantan pacar kakaknya, David. Isi kepalaku dipenuhi rasa penasaran, semakin dipikirkan menjadi semakin membingungkan. Jadi Adelia Putri ini adalah mantan pacar Andra dan almarhum David? Terus kenapa dia minta nomor aku?
...***...