
🌺🌺🌺
Intan mendengar lamat-lamat suara isak tangis. Suara tangisan itu terdengar timbul-tenggelam terbawa semilir angin. Intan yang penasaran mencari sumber suara, ternyata seorang pasien sedang menangis, dibawah kaki pasien itu terdapat beberapa bunga mawar yang kemungkinan baru dipetik. Ketika Intan mendekat, ia melihat darah ditangan pasien tersebut. Pastilah karena kurang hati-hati waktu mengambil bunga.
Intan lantas jongkok disamping pasien itu, diamatinya dengan seksama ternyata seorang wanita paruh baya berambut pendek, masih ada sisa-sisa kecantikan masa muda diwajah wanita itu. Apa gerangan yang membuat perempuan secantik ini harus berada di rumahsakit seperti ini? Beban hidup macam apa yang membelenggunya? batin Intan bertanya-tanya.
Intan mencari plester didalam tas mungilnya. Sejak berada di Panti plester merupakan hal wajib yang mesti dibawa Intan, kecelakaan ringan yang terjadi pada anak-anak memudahkannya memberi pertolongan pertama. Pertama ia menyapukan kapas yang telah lebih dulu dibasahi alkohol ke bagian yang terluka dan terakhir ia memasangkan plester.
Setelah Intan selesai dan mengemasi sisa peralatan medisnya, mendadak pasien tersebut bangkit dan menjambak rambut Intan dengan kencang, kontan saja ia berteriak minta tolong.
"Tolong..."
"Kau pencuri, pencuri jangan curi anakku. pergi kau, pergi!" teriak pasien itu sembari terus menarik rambut Intan.
Intan yang kehamilannya telah membuncit tak kuasa membela diri sampai jatuh tersungkur. Para perawat berdatangan menolong Intan dan memisahkan pasien tersebut darinya.
🌺🌺🌺
Intan terduduk lemas di ruang istirahat para perawat. Seorang perawat datang memberinya segelas air putih. Ia langsung meminumnya sampai tandas. Seorang perawat paruh baya yang mengaku bernama suster Minah meminta maaf pada Intan
"Maafkan atas kelalaian kami sehingga hal yang tidak di inginkan terjadi pada Ibu."
"Nama saya Intan, panggil Intan saja, saya guru magang di Panti asuhan Bumi Kasih, tak jauh dari sini," kata Intan memperkenalkan diri.
__ADS_1
Suster Minah mengangguk-angguk.
"Aku yang minta maaf, aku tidak bermaksud membuat pasien merasa terganggu, aku hanya mengobati lukanya secara tidak sadar karena sudah terbiasa membawa plester untuk anak-anak"
"Aku tahu niat Nak Intan baik, hanya saja Ny. Maria memang punya trauma dengan rambut panjang, Ny Maria akan hilang kendali jika melihat ada wanita berambut panjang didekatnya," jelas Suster Minah.
"Benarkah!" Intan sedikit tidak percaya, namun tetap mengangguk mengiyakan.
"Saya pun selalu memotong pendek rambut saya"
Intan manggut-manggut.
"Sudah berapa lama Ny Maria disini?"
"Sudah cukup lama, yang membangun Bangunan dan taman di sini putra Ny Maria, bahkan taman didesain sendiri oleh putranya, dengan bunga warna kuning kesukaan Ny Maria."
"Biasanya Ny. Maria akan mengambil bunga untuk mengganti vas bunga di kamarnya. Tapi hari ini terjadi hal yang tidak diinginkan, karena kelalaian saya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua yang terjadi hari ini. Nak Intan juga harus memeriksakan kandungannya siapa tahu terjadi apa-apa."
"Saya merasa baik, tapi nanti sore waktunya kontrol rutin jadi sekalian biar di pantau dokter perkembangannya. Tidak usah merasa bersalah, Suster," jawab Intan menenangkan.
Intan lalu pamit kembali ke panti karena sebentar lagi jadwalnya memberi les. Namun, Intan berjanji pada dirinya sendiri ia akan kembali ke sini.
Misteri bunga mawar kuning di seluruh area taman membuat Intan teringat Papanya. Papanya selalu terlihat sedih tatkala melihat bunga warna kuning. Di lain pihak, di sini ada seorang yang terlalu mencintai bunga warna kuning sampai-sampai meskipun berada pada kondisi yang tidak stabil kecintaanya pada bunga warna kuning masih tidak berubah.
__ADS_1
"Apa salahnya jika aku ingin mengenal sedikit lebih jauh, siapa tahu aku juga bisa memahami kenapa Papa tidak begitu menyukai warna kuning" pikir Intan saat perjalanan pulang. Karena sibuk berpikir, Intan sampai tak menyadari sebuah mobil sport berwarna perak melintas melewatinya, jika Intan melihatnya, ia pasti hafal, mobil itu favorit seseorang.
🌺🌺🌺
Rayan bergegas mengunjungi Ibunya begitu mendapat telfon kalau Ibunya menyerang seseorang. Umtung saja Rayan sedang berada di daerah yang dekata dengan rumahsakit, jadi ia bisa bergegas. Dia begitu tergesa-gesa sampai tak menyadari sesorang yang sedang dicarinya, dirindukannya berada sangat dekat dengannya. Rayan tak melihat Intan yang berjalan berlawanan arah dengannya, takdir belum mempertemukan mereka.
"Ibu sudah lama tidak seperti ini,"kata Rayan saat berbincang dengan Suster Minah.
"Nyonya masih punya trauma dengan rambut panjang, Itu mengingatkannya pada kenangan buruk."
Rayan mendesah melihat ibunya yang terlelap tidur karena obat penenang. Ia tertunduk sedih melihat perkembangan Ibunya.
"Siapa yang di serang oleh ibuku?" tanya Rayan.
"Guru magang di panti asuhan tak jauh dari sini, orangnya sangat baik, untung tidak terjadi hal yang buruk, karena guru itu sedang hamil tua."
Rayan memandang suster Minah dengan khawatir.
"Tenang saja, tidak terjadi hal-hal yang buruk, kok. Bu Guru itu hanya mengobati luka nyonya akibat bunga mawar, tapi begitu nyonya menyadari bu guru berambut panjang, nyonya jadi terpancing emosinya."
"Pastikan keamanan diperketat, jangan sampai ada tamu tak berkepentingan apalagi yang berambut panjang didekat ibuku," ucap Rayan tegas. Ia marah karena kondisi psikis Ibunya seharusnya sudah lebih baik.
"Baik Tuan," jawab Suster Minah patuh.
__ADS_1
Rayan kemudian berpamitan, Suster Minah hanya bisa memandang punggung pria muda itu, sungguh kasihan, Nyonya Maria seharusnya sudah mengalami kemajuan, tapi dengan insiden ini mungkin kondisinya akan mengalami kemunduran lagimundur. Semoga segera nyonya di beri kesembuhan, doa Suster Minah tulus.
🌺🌺🌺