Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Petunjuk


__ADS_3

🌺🌺🌺


“Rayan... Rayan...” panggil Intan membabi buta. Ia tiba-tiba terbangun dan hanya mendapati Putrinya, tidak dengan Putranya. Ia harus segera memberitahukan ini pada Rayan.


Mama Intan membuntuti Intan dari belakang mencoba mencegah Putrinya berjalan mencari Rayan karena kondisinya yang masih lemah.


“Tenanglah, Mama yang akan memanggil Rayan kemari.”


“Ma, Rayan di mana? Bawa dia padaku...” tangis Intan pecah.


Semua orang langsung keluar menuju sumber suara tatkala mendengar suara Intan yang telah siuman. Tak terkecuali Rayan. Rayan segera keluar dari ruangan bersama Johan. Ia langsung memeluk Intan mencoba menenangkannya.


“Rudy, Rudy... orang itu membawa Rudy...” tangis Intan.


“Tenanglah, ceritakan padaku apa yang terjadi.”


“Orang itu membunuh semua orang dan membawa Rudy,” kata Intan sambil menangis.


“Orang itu siapa?” tanya Rayan.


“Bisakah Anda menceritakan seperti apa orang itu?” Johan ikut bertanya.


“Dia masih muda, terlihat tinggi seperti...” Intan terdiam sejenak mencari perumpamaan tinggi semua orang di sekitarnya. Tiba-tiba tangannya berhenti pada Jonathan, ia menunjuk Jonathan. Ya, persis seperti Nathan. “Orang itu masih muda, memakai lensa warna abu-abu, dia tinggi kurus, memakai pakaian serba hitam dan penuh bau darah. Dia sebenarnya akan membunuhku tapi Rudy menawarkan dirinya demi keselamatanku. Kenapa Rudy melakukannya? Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada anak itu?” tangis intan menyesali keputusan yang dibuat Rudy. Biar saja ia meninggal asalkan anak-anak selamat.


Rayan segera merangkul Intan menangkan tangisannya.


“Rayan temukan Rudy, jangan biarkan pria itu menyakitnya.”

__ADS_1


“Ya, aku akan mengerahkan semua yang bisa kulakukan untuk menemukannya,” janji Rayan


“Pakaian terakhir yang dikenakan Rudy seperti apa?” tanya Johan lagi, ia menanyakannya sambil mengetik semua petunjuk untuk dikirimkan pada tim yang sedang melakukan pencarian.


“Rudy mengenakan piama lucu yang belakangan menjadi favoritnya karena itu baju coupel kita berempat.”


“Baju yang seperti apa?” tanya Johan lagi.


“Bu Sri tolong ambilkan piama milikku. Yang warna biru laut.” Milik Rayan persis sama dengan milik Rudy, hanya berbeda ukuran.


“Apakah ada foto Rudy saat memakai ini?” tanya johan sembari menenteng baju yang diambilkan Bu Sri.


“Ya, ada di ponselku,” jawab Intan. Tapi ia tidak tahu di mana ponselnya saat ini.


“Polisi telah membawanya,” jawab Johan menjawab kebingungan Intan.


Ema segera menyerahkan ponselnya pada Intan, ia tak tahu foto mana yang dimaksud, biarkan Kakak iparnya yang mencarinya sendiri. “Ini, foto yang ini.” Kata Intan sambil menunjukkan fotonya pada Johan.


“Baik, kita akan mengganti foto selebarannya dengan ini,” ujar johan sambil ,mengirim foto itu ke ponselnya.


🌺🌺🌺


Rudy bangun dengan perlahan, ia masih berpikir antara sadar atau tidak karena ia merasa ranjang tempatnya tidur seolah bergerak-gerak. Mimpi atau kah sungguhan, ia seperti mendengar deru angin dan ombak. Apakah ia tengah berada di lautan? Batinnya bertanya-tanya. Ia lantas memandang sekitar. Ada lubang kaca berbentuk bulat di dalam ruangan, ia bangun dengan perlahan dan mencari pijakan untuk melihat apa yang ada dibalik kaca.


Sesuai dugaannya, Rudy melihat hamparan lautan luas dan ombak yang seolah tak kunjung reda mengombang-ambingkan seluruh kapal. Rudy lantas memandang isi kamarnya. Mencari penculik yang membawanya. Penculik itu tak terlihat di mana pun, hem meski penculik itu tak terlihat di mana pun, tapi bisakah ia melarikan diri di tengah hutan. Rudy tak peduli, ia bisa meminta tolong pada siapa pun untuk menyelamatkannya. Rudy lantas berjalan ke arah pintu mencoba melihat apakah pintu itu tidak terkunci. Namun sebelum ia mencapai pintu pintu itu sudah lebih dulu terbuka. Rudy membeku di tempat saat seseorang masuk ke ruangan. Rudy tak berani melihatnya, karena ia sudah melihat dari siluetnya bahwa orang yang datang adalah penculiknya, orang yang mau mencelaki Mamanya.


“Oh, kamu sudah bangun,” sapa pria itu.

__ADS_1


Rudy hanya mengangguk dan menunduk, ia tak berani menatap wajah pria itu. Namun sepertinya pria itu tak senang karena Rudy tidak menatap wajahnya. Pria itu segera berjongkok dan memaksa Rudy memandangnya.


Rudy terkesiap melihatnya. Pria ini terlihat berbeda dengan yang pria yang menculiknya. Pria ini mungkin sama tapi berbeda. Atau mungkin karena saat kejadian malam itu, Rudy tidak melihatnya dengan benar. Wajah di depannya saat benar-benar teduh, seteduh cerita-cerita tentang malaikat dengan mata hitam yang menyesatkan, padahal seingatnya malam itu warna mata pria ini berwarna abu-abu, pasti karena lensa. Pria ini berambut ikal yang juga berwarna hitam, Kulitnya sangat putih sebening kaca. Jemarinya panjang dan lentik dan tak terlihat kuat sama sekali, padahal tangan ini adalah tangan yang sama dengan tangan yang menyakiti Mamanya, tangan itu membelai wajah Rudy dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi mungil bocah itu.


“Apa kamu lapar?” tanya pria itu sambil menyodorkan roti isi daging dan susu kotak rasa cokelat.


Rudy mengangguk, ia tak tahu sudah berapa lama ia tak sadarkan diri, sekarang ia merasa lapar sekali.


“Beri kakak ciuman, maka Kakak akan memberikan ini,” pinta Pria itu.


Rudy dengan patuh memegang wajah pria itu lalu mendaratkan ciuman di pipi kanan pria itu. Tapi, pria itu malah mengangkat bahunya.


“No... no... bukan di sana,” ujar pria itu sambil meletakkan makanannya di kursi yang ada di sampingnya. Pria itu mendekatkan Rudy ke pelukannya dan langsung mencium bibir bocah itu. Ia hanya berniat sebentar tapi bibir itu manis sekali, ia ingin sedikit lebih lama. Tapi bocah lelaki itu mendorongnya begitu ia berusaha menciumnya sedikit lebih lama. “Hahaha....” responsnya sambil tertawa senang. “Maafkan Kakak, Kakak lupa. Lain kali ciumannya pendek saja seperti ini. Chu...” katanya sambil mempraktikkan ciuman cepat.


Rudy hanya bisa memasang wajah marah dan jengkel. Apakah ia harus selalu berciuman untuk mendapatkan makanan? Ia tak pernah berciuman kecuali dengan keluarganya, itu pun tidak di bibir. Ia tak pernah melakukannya lagi setelah ia besar. Ciuman di bibir hanya untuk orang dewasa yang sedang berkencan. Rudy segera menghapus bibirnya menggunakan punggung tangannya. Tapi, tubuhnya langsung membeku saat pria itu menatap tajam ke arahnya saat melihatnya menghapus bekas ciuman di bibirnya. Rudy menciut, ia tiba-tiba merasa ketakutan.


“Jangan melakukannya lagi,” kata pria itu datar. Tapi wajahnya langsung berganti senyum saat mendudukkan Rudy di kasur dan menyuruhnya makan. Ia berjongkok di depan Rudy dan memastikan bocah itu memakan semua makanannya.


Dengan sedikit takut Rudy makan degan lahap dan cepat. Ia berharap saat selesai makan, pria ini akan pergi. Tapi begitu ia selesai makan, ia merasa ingin buang air kecil. Ia memandang pria yang duduk di depannya itu. “Aku ingin buang air kecil,” ucap Rudy. Ia tidak begitu bisa bahasa Indonesia tak seperti Saudarinya yang mahir, ia tak yakin pria itu paham maksudnya. Tapi sepertinya pria itu paham maksud Rudy karena Rudy di arahkannya ke pintu yang lain yang ada di kamar. Pria itu berdiri di pintu mengawasi Rudy buang air kecil. Rudy kecil hanya bisa memunggunginya karena malu. Ia sudah besar, sudah bisa buang air sendiri, juga sudah bisa merasakan malu. Tapi ia mengalami kesulitan membuka celananya. Pakaian ini bukan baju yang dipakainya terakhir kali, pakaian ini bukan miliknya.


“Butuh bantuan?” tanya pria itu.


Rudy pun berbalik dan mengangguk. Pria itu membantunya, tapi Rudy merasa sangat malu. Apalagi pria ini seolah sengaja melakukan gerakan-gerakan tak perlu pada miliknya, seperti ingin berlama-lama memainkannya, padahal Rudy sedang buang air.


“Aku sudah selesai, bisakah kamu berhenti melakukannya,” ujar Rudy takut.


Pria itu hanya mengangguk dan membantu Rudy membersihkan miliknya. Rudy dengan saksama mengawasi cara memakai celana yang benar, karena ia tidak ingin saat kencing nanti dibantu lagi oleh pria ini. Tapi Rudy tiba-tiba merasa pusing dan mengantuk, matanya mulai memberat dan kabur meskipun ia telah berusaha terjaga. Akhirnya, ia menyerah dan memejamkan matanya, ia merasa pria itu membawanya dan membaringkannya ke ranjang. Haruskah ia kembali tidur? batinnya. Apakah ada obat tidur dalam makanan itu? Apakah pria ini akan membawanya semakin jauh. Bagaimana kalau Mama, Papa dan Ruby tak bisa menemukannya? Ruby? Ingatannya berakhir pada Saudarinya sebelum ia jatuh terlelap.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2