
🌺🌺🌺
Intan mengerjap-ngerjapkan matanya, kepalanya terasa berat dan matanya enggan terbuka, rasa-rasanya ia selalu merasa dalam kantuk yang tak kunjung usai. Setiap ia bangun dari tidurnya hanya satu pertanyaan yang selalu diajukannya, "dimana bayiku? berikan aku bayiku?" Suster perawat, atau siapapun itu yang setia disampingnya setiap Intan terjaga selalu mengatakan hal yang sama,"tenang, Ibu. Semua baik-baik saja," jawab seseorang itu sambil menyuntikkan sesuatu pada selang infusnya dan tak lama kemudian kegelapan menyelimutinya lagi. Saat tersadar kali ini Intan mencoba tetap tenang dan tak langsung mengajukan pertanyaan. Intan akan berpura-pura tetap tidur.
"Aku merasa ada yang kurang beres disini," batin Intan. Kala siuman kali ini, ia ingin sekali membuka matanya dan menanyai perawat, tapi ia merasa jawabannya akan tetap sama jadi ia menunggu dalam diam. Dengan mata terpejam Intan mencoba mengamati keadaan sekitar.
Tak seberapa lama Intan merasakan kedatangan seseorang yang lantas duduk disamping ranjangnya. Intan tak bisa memastikan apakah itu orang yang dikenalnya ataukah hanya perawat yang akan memperlakukannya seperti kemarin.
Tak seberapa lama tangan kanannya digenggam dengan lembut oleh sosok itu. Tangannya terasa besar dan lembut. Mungkinkah itu tangan mas Rayan, batin Intan bahagia. Ia berniat membuka matanya namun sedetik kemudian Ia mengurungkannya ketika sosok itu berbicara, karena ia sudah hafal diluar kepala siapa yang sedang berbicara, suaranya bukanlah suara Mas Rayan, tapi suara Mas Eka.
"Intan, cepatlah sembuh. Mas Eka merindukanmu, maafkan Mas Eka karena berada jauh darimu saat itu. Kenapa saat itu kamu harus menemui Rayan? padahal kamu tahu Papa sangat menentangnya. Kenapa saat itu justru saat aku berada jauh darimu? maafkan, Mas," wajah tampan Mas Eka terkulai disisi ranjang, ia menangis.
Intan menahan diri untuk tak membelai kepala kakaknya. Ada gejolak pertentangan dibatinnya, andai saat itu Mas Eka tidak memberitahu Papa dan Mama perihal dirinya. Mungkin kejadian ini tak perlu terjadi. Saat ini, bukan hanya berpisah dengan Rayan, Intan meyakini ia juga telah kehilangan buah hatinya. Betapa Intan ingin berteriak nyaring dan menghujat Mas Eka. Tapi ia tak berani melakukannya, karena ia masih menunggu kebenaran apalagi yang terungkap dari mulut Mas Eka.
"Intan, salah Mas Eka membuatmu lari dari Rumah sakit dan karena kesalahan Mas jugalah, kamu harus kehilangan bayimu. Maafkan, Mas, Intan," aku Mas Eka sambil tak kuasa menahan tangis.
Intan tertegun dalam diamnya, air mata meleleh keluar dari pelupuk matanya yang tertutup. Awalnya ia meyakini Bayinya akan bersama Mas Rayan karena Papa melarang mereka bersama. Tak apa kehilangan buah hatinya jika bayinya bersama Mas Rayan. Tapi, jika harus kehilangan buah hati untuk selama-lamanya, ia tak rela, ia tak kuasa, rasanya ia tak sanggup lagi berpura- pura untuk tidak menangis. Bayi kembar yang dijaganya sedemikian rupa ternyata sampai akhir tak bisa diselamatkannya. Lalu buat apa lagi dirinya hidup, Tuhan. kebahagiaan mana lagi yang tersisa untukku jika Kau mengambil semuanya.
Intan menangis dengan mata terpejam. Tangisannm yang keras menyayat hati. Mas Eka yang menyadari Intan menangis. Lantas berteriak pada suster jaga
__ADS_1
"Suster, tolong! suster"
"Intan, bangun," teriak Mas Eka sambil mengguncang tubuh Intan. Namun, Intan enggan membuka matanya, intan hanya bisa berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi, jika saat ini Intan membuka matanya, ia tak sanggup lagi menerima kenyataan pahit yang menghadangnya.
"Bu, tenang Bu. Apa yang terjadi tadi?" tanya suster tersebut pada Eka.
"Aku tidak tahu, Intan menangis dengan mata terpejam dan tangisannya menjadi semakin keras."
"Baik , kita coba suntik penenang dulu supaya pasien stabil kembali," ujar suster sembari menyuntikkan sesuatu pada infusnya.
Tak seberapa lama tangis Intan mereda dan Intan jatuh tertidur. Eka menunggui adiknya sembari mengusap sisa air mata yang membasahi mata adiknya.
🌺🌺🌺
Angin sepoi-sepoi memainkan ujung rambut Intan yang panjang. Suasana sepi di sore hari menambah syahdu suasana, wangi bunga kamboja yang terbawa angin, membawa ketenangan bagi jiwa-jiwa yang kehilangan. Ia berdiri termenung menatap pusara buah hatinya, tak ada air mata, tak ada kesedihan.
*Rudy D. Hendrayan*
Intan terduduk disisi makam.
__ADS_1
"Anakku, maafkan Ibu yang tak bisa melindungimu, maafkan Ibu, sayang. Maafkan Ibu, Jika Ibu lebih kuat, Ibu pasti mampu menyelamatkanmu, Ibu minta maaf" Intan akhirnya tak sanggup lagi menahan diri untuk tak mencurahkan perasaannya.
1 bulan berlalu dan ia baru berkesempatan datang mengunjungi anaknya. Apakah pantas ia disebut ibu? Intan berdiam diri lama di samping pusara anaknya sembari menebarkan bunga dan menuang air dalam kendi yang dibawanya.
"Rudy, namamu sangat Indah, terimakasih sudah menjadi bagian dari hidup ibu. Rudy D. Hendrayan, diamond itu nama ibu, kamu membawa nama ayah dan ibu. Berbahagialah meski kamu sudah lebih mendahului ibu. Tunggu ibu, Sayang."
Hari sudah menjelang senja saat Intan memutuskan untuk pergi. Ada rasa berat dihatinya. Namun mau tak mau, Intan harus melangkahkan kakinya juga menjauh.
Baru beberapa langkah, Intan tiba-tiba berdiri mematung, tak mampu beranjak pergi. Ia menoleh sekali lagi ke arah pusara buah hatinya. Dengan secepat kilat ia kembali ke tempat pembaringan buah hatinya dengan tangisan yang lebih kencang. Namun, bukan ratapan yang datang, ia malah berucap syukur.
"Terimakasih, Tuhan. Terimakasih! Betapa bodohnya! aku tak menyadarinya lebih awal. Rudy, ibu baru sadar bahwa saudaramu masih hidup."
Intan baru sadar hanya satu nama yang terukir di pusara, artinya bayinya yang lain masih hidup. Ia benar-benar bersyukur dalam tangisnya.
"Rudy, ibu akan menjadi lebih kuat dan mencarinya. Rudy, ibu menyayangimu. Terimakasih salah satu dari kalian tetap hidup demi Ibu. Terimaksih anakku. Terimakasih... Terimakasih, Tuhan. Kamu memberiku alasan untuk tetap melanjutkan hidup. Terimakasih."
Intan tak tahu akhirnya, yang ia tahu Mas Eka telah menyeretnya keluar dari area pemakaman dengan paksa meski kondisinya sangat berantakan tapi tekad kuat terpancar dari wajahnya. Ia bertekad harus menjadi lebih kuat, harus menjadi lebih berkuasa agar bisa berdiri sendiri, ia harus mampu menemukan Rayan dan buah hatinya.
🌺🌺🌺
__ADS_1