Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Terkasihku


__ADS_3

🌺🌺🌺


Pak Wibowo memandang foto yang terserak didepannya dengan tangan gemetar. Hatinya diliputi kemarahan dan penyesalan. Ia marah dengan siapa yang mengirim foto ini, ia juga menyesal telah mengenal orang dalam foto ini. Ternyata apa yang dilakukannya bagai duri dalam daging yang lama-kelamaan malah menyakiti putrinya. Putri yang sejatinya ingin dijaganya.


Pak Wibowo melakukan semua untuk putrinya. Ia bahkan meminta Anton membantu putrinya membesarkan perusahaan putrinya dengan imbalan investasi yang banyak. Tapi apa yang didapat? Anton malah menodai putrinya yang berharga, Anton malah ingin menghancurkan masa depan putrinya. Sebagai seorang ayah, kesalahannya sudah tak termaafkan. Apalagi kesalahan yang dilakukan sebelumnya belumlah mendapatkan maaf dari Intan, sekarang ia malah menambah daftar kesalahannya.


Pak Wibowo tak sanggup melihat foto itu dua kali saking murkanya. kemarahannya melihat Anton menodai putrinya, menodai kepercayaanya. Sejatinya, bukan ia tidak tahu reputasi buruk Anton, tapi ia dengan bodohnya  percaya bahwa Anton akan mengambil hati putrinya. Sekarang ia tahu cara yang dilakukan Anton ternyata sangat menjijikkan. Masalah terbesarnya tentu saja bukan hanya ini. Anton mengancam akan menyebarkan foto tak senonoh ini jika ia tak segera mengumumkan pertunangan Anton dengan Intan. Pak Wibowo tentu saja tahu tujuan Anton melakukan ini adalah untuk masuk ke dalam keluarganya dan mendapatkan akses keuangannya.


Pak Wibowo sampai harus mengetuk-ngetuk kepalanya pada tembok dengan kesal. Jika benar Anton menyebarkan foto ini maka ia tak bisa membayangkan dampaknya. Masa depan putrinya pasti akan benar-benar hancur karena skandal ini. Sudah cukup buruk citra putrinya dengan pernikahan singkat yang menghebohkan, sekarang putrinya akan dianggap sebagai wanita murahan.


Pak Wibowo merapikan foto-foto yang berserakan dan menyimpannya di brangkas. Dia takut istrinya melihat foto itu dan menimbulkan keributan. Pak Wibowo bertekad tidak akan menyerahkan putrinya pada pria seperti itu. Karena sekali pria itu mempunyai akses pada keuangan keluarganya dan menjadi pemilik perusahaan besar yang berkuasa. Tak akan ada yang bisa membayangkan kekacauan yang akan ditimbulkan dari pria seperti itu.


Pak Wibowo menarik nafas panjang berulang kali untuk menangkan hatinya. Berulang kali ia berjalan hilir mudik di ruang kerjanya sambil memikirkan solusinya. Apa rencananya setelah ini? ia sama sekali bukan tandingan Anton. Pria itu sperti hiena yang licik, sedangkan ia hanya singa ompong yang sudah tua, ia tak punya cukup kekuatan untuk melawannya, tapi ia juga tak hendak menggadaikan kebahagiaan putrinya.


Pak Wibowo lantas teringat pada seorang pria mumpuni yang bisa menjadi lawan Anton dan memberinya pelajaran. Seseorang yang pastinya akan rela melakukan apa pun demi putrinya. Pria yang bahkan saat ini rela mengorbankan kebebasannya.


Hendrayan! nama itu tiba-tiba tercetus dalam pikirannya. Sudah lama Pak Wibowo menganggap Rayan telah mati. Tapi saat ini, mau tak mau ia harus menurunkan semua egonya dan memohon pada Rayan karena hanya Rayan yang sanggup melawan Anton, hanya Rayan yang bisa melakukannya tanpa pamrih. Dia mengingat Rayan sebagai pria muda yang genius dan penuh semangat. Bahkan dulunya ia  sampai mempercayakan putrinya pada Rayan. Meski tak disangka Rayan juga menyakiti putrinya karena suatu hal yang ia sendiri menolak bertanya, bisa saja Rayan menyakiti putrinya karena perbuatanya juga, siapa yang tahu?


Pak Wibowo meleleh mengingat pertemuan mereka terakhir kali, ia sendirilah yang  mengusir Rayan ke luar negeri, itu pun  setelah memukulinya sampai babak belur. Ia memisahkan Rayan dengan Intan meski Rayan telah memohon padanya dengan putus asa, ia juga telah memisahkan Intan dengan anak yang bahkan belum pernah disentuh Intan sejak dari lahir, ia jugalah yang telah membangun pusara untuk cucunya yang masih hidup. Ia menyadari betapa kejamnya ia sebagai seorang ayah juga sebagai kakek, ia telah berdosa pada Rayan dan Intan, ia lantas tertunduk malu. Mungkin semua yang terjadi hari ini adalah karma untuknya.


Pilihan terbaik Pak Wibowo saat ini adalah Hendrayan karena Eka sama sekali bukan tandingan Anton, Eka adalah pribadi yang welas asih jadi Eka bisa saja malah akan menjadi korban Anton. Hendrayan, pria muda didikannya dulu memang menyakiti putrinya tapi ia tahu bahwa Rayan mencintai putrinya. Apakah tak apa jika pak Wibowo memohon pada Rayan untuk menolong putrinya? Tapi demi putrinya ia rela bersujud bahkan mengemis pada Rayan untuk menolong putrinya, semoga semua belum terlambat utnuk itu. Ia tak ingin putrinya menjadi korban kejahatan Anton dan menjadi wanita kesekian yang dirusak Anton.


Pak Wibowo mencari alamat Rayan di brangkasnya, ia sudah lama tahu tempat tinggal Rayan di luar negeri karena membuntuti Johan, Johan adalah pria yang menjalankan perusahaan Rayan sepeninggal Rayan ke luar negeri.


Johan yang masih berada di Indonesia berulang kali ke luar negeri dan ia telah memerintahkan seseorang untuk membuntuti Johan. Persis sesuai dugaannya, Johan membawanya pada alamat Rayan. Meski Rayan sering berpindah tempat, namun negara terakhir yang masih sering menjadi tujuan Johan adalah Northland, NZ. Seharusnya Rayan masih di sana.

__ADS_1


Dengan tekad bulat pak Wibowo memutuskan akan meminta Rayan menyelamatkan putrinya. Apa pun syaratnya, ia akan melakukannya demi menyelamatkan putrinya, termasuk membolehkan Rayan kembali ke Indonesia.


🌺🌺🌺


Dengan wajah lelah karena perjalanan jauh tanpa istirahat, pak Wibowo sampai juga di depan alamat yang dituju. Dia tiba di sebuah rumah berwarna putih dengan halaman yang luas dan green house seluas rumah dibagian kanan rumah. Ada plakat tertulis Diamond florist disamping pagar. Pak Wibowo berdiri mematung didepan pagar, ia takjub betapa cintanya Hendrayan pada putrinya sampai tetap menggunakan namanya. Sekarang ia yakin bahwa ia telah berada di alamat rumah yang benar.


Dengan menghela nafas panjang, Pak Wibowo menguatkan diri untuk menekan tombol bel.


Satu kali, dua kali, tiga kali, tak ada jawaban, juga tak ada yang datang. Hari sudah siang, kemanakah semua orang? batin Pak Wibowo. Dia lantas menggoyang-goyangkan pagar sambil memanggil-manggil, berharap ada orang yang menanggapi panggilannya.


"Permisi... permisi... apa ada orang?"


Pak Wibowo mulai putus asa, ia sudah jauh-jauh kesini tapi masakan tak ada yang bisa ditemuinya. Dia lantas berinisiatif mengecek gembok pagar, yang untungnya tidak terkunci. Akhirnya, ia pun bisa masuk ke dalam kawasan rumah meski tanpa izin.


Dengan tergesa-gesa setengah berlari, ia langsung menuju pintu rumah utama. Berharap kali ini ada orang yang bisa ditemuinya, orang yang bisa membawanya bertemu Hendrayan. Saat sampai di depan rumah, ia mendengar alunan musik familiar dari green house. Lagu Cinta Pertama, dari Elvy Sukaesih.


Jauh-jauh ke sini mendengarkan musik dangdut, membawa rasa penasaran dihati Pak Wibowo, siapakah gerangan yang menyukai musik lama ini? batinnya penasaran.


Pak Wibowo disambut pohon besar di depan bangunan green house, pohon dengan bunga warna kuning dihampir semua dahannya, daun dan bunganya mirip dengan pohon turi yang ada di Indonesia hanya saja pohon ini berdaun lebih kecil dan mahkota bunganya pun tak sebesar bunga turi. Dia tidak tahu tanaman apa ini, mungkin saja memang tanaman asli daerah sini, yang ia tahu warna kuningnya mengingatkannya pada seseorang.


Untung pintu green house tidak dikunci, jadi Pak Wibowo bisa masuk kedalam. Kesan pertama yang didapatnya setelah masuk kedalam adalah rasa takjub dan tak percaya, ada banyak sekali tanaman bunga bermekaran di sini. Sejauh mata memandang hanya ada bunga berbagai macam warna.


Seolah masuk ke dalam dunia yang berbeda, semua bunga bermekaran dengan bau harum yang semerbak menenangkan. Ia bukan penggemar bunga jadi ia tidak bisa mendiskripsikan bunga yang dilihatnya, hanya saja berada di sini seolah berada di surga, ia seolah terhanyut ke dalam fantasi yang tiada berujung.


"Sungguh indah sekali, aku sangat beruntung bisa datang ke sini setidaknya sekali," gumam Pak Wibowo.

__ADS_1


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?"


Suara seseorang bertanya padanya membuat Pak Wibowo terkejut, serta merta ia menoleh pada sumber suara.


Pak Wibowo melihat seorang wanita paruh baya, dengan rambut hitam pendek yang sudah mulai memutih memandang ke arahnya. Wanita itu memakai pakaian berkebun dengan boot dan sarung tangan, ditangan kiri wanita yang menyapanya terdapat bunga aster putih bercorak kuning dan terdapat rangkaian bunga yang hampir jadi dibelakang wanita itu berdiri, sepertinya wanita itulah yang mengerjakan karangan bunga itu.


Pak Wibowo tak perlu bertanya untuk memastikan, karena ia sudah sangat yakin wanita didepannya adalah ibu Hendrayan, yang perlu ditanyakannya saat ini adalah bisakah ia bertemu Hendrayan.


"Permisi, bisakah aku bertemu... " Pak Wibowo belumlah selesai meneruskan perkataannya wanita didepannya lebih dulu balik bertanya padanya.


"Hasan, kaukah itu?"


Pak Wibowo terkejut dengan pertanyaan itu, Ali Hasan Wibowo adalah namanya dahulu tapi ia sudah lama mengubur nama aslinya. Hari ini seseorang menyapanya dengan nama itu. Siapakah gerangan wanita didepannya? Kenapa ia bisa tahu namanya? batinnya keheranan. la lantas mengambil beberapa langkah kedepan untuk memastikan pandangan matanya yang mungkin saja sudah kabur.


Pak Wibowo berhenti ditempat saat ia bisa mengenali siapa wanita didepannya. Lututnya terasa lemas saat ia menyadari wanita didepannya adalah kekasihnya dulu, Maria. Maria versi paruh baya, wajahnya masih tetap ssama seperti saat dikenalnya dulu. Meski wajah itu penuh guratan-guratan umur, namun baginya, Maria tetap tidak berubah, hanya rambut pendeknya yang membuat Maria sulit dikenali, karena seingatnya, Maria tak pernah memendekkan rambut.


Maria segera melepaskan sarung tangannya dan mengulurkan tangannya pada Pak Wibowo, tapi Pak Wibowo tidak menyambut uluran tangan itu, ia malah jatuh tertunduk dengan mata berkaca-kaca, tak pernah sedetikpun ia berpikir bisa berjumpa lagi dengan Maria, kali ini setelah berjalan melintasi benua ia berjumpa dengan Maria, sedihnya lagi dialah yang mengirim Maria sejauh ini.


Bagaimana ia bisa melupakan kekasihnya, meski hidup mereka sudah tak sama lagi tapi Pak Wibowo tak pernah mengenyahkan Maria dari hatinya. Meski, ia tak bisa kembali ke masa lalu, ia sungguh lega bisa menuntaskan kerinduannya hari ini.


"Maria... " panggil Pak Wibowo pelan. Mulutnya bergetar menahan emosi dihatinya. Matanya berlinang penuh perasaan kerinduan dan kelegaan.


Kisah cinta Pak Wibowo dulu belumlah usai, kisah cintanya dipaksa usai dengan akhir yang buruk. Kendatipun begitu, masih ada cinta dihatinya untuk wanita ini. Meski dikhianati, bagaimanapun juga wanita didepannya pernah menjadi satu-satunya wanita yang dicintainya, pernah menjadi satu-satunya penyemangatnya, pernah menjadi satu-satunya hidupnya.


Sekarang teranglah sudah bagi Pak Wibowo kisahnya yang berakhir buruk dengan Maria mungkinlah menjadi alasan Hendrayan menyakiti putrinya.

__ADS_1


"Oh Tuhan, bagaimana aku sanggup meminta bantuan pada Hendrayan, jika ternyata ada beban dimasa laluku."


🌺🌺🌺


__ADS_2