Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Air Mata


__ADS_3

🌺🌺🌺


Rayan hanya sedikit tersenyum meski saat ini suasana penuh suka cita. Hingar bingar pesta pernikahan Ema dan Edi, adiknya dengan sahabatnya, tak lantas menghalau kegusaran dihatinya, apalagi sekarang Rayan tahu Intan sudah pulang ke Indonesia. Menurut kabar dari informannya, gadis itu juga tidak berada di rumah karena diusir oleh Pak Wibowo. Rencananya memang berhasil membalas dendam sampai Pak Wibowo sedemikian marahnya, tapi Rayan tak habis pikir, kenapa sampai mengusir Intan dari rumah. Apa gerangan yang terjadi?


Rayan meminum winenya sembari melihat adik semata wayangnya, Ema sedang berdansa dengan suami sekaligus sahabatnya, Edi. Mereka berdua terlihat bahagia. Rayan ikut bahagia. Bagaimanapun juga, kehidupan masa kecil Ema tidaklah mudah.


Edi, tetangga sekaligus sahabat mereka sudah membantu mereka sedari kecil jadi, Rayan dengan kerelaan hati menyerahkan Ema padanya. Rayan juga tahu Ema adalah cinta pertamanya. Maka dari itu, tak ada alasan menolak hubungan mereka.


Ah, senangnya! batin Rayan saat melihat kebahagiaan keduanya. Edi mengejar cinta pertamanya tanpa putus asa sampai menikah. Sedangkan dirinya, hanya berakhir dengan pernikahan palsu juga wanita-wanita murahan yang hanya menginginkan uangnya.


Tiba-tiba seseorang dengan manja duduk dipangkuan Rayan. Hanya dengan melihat siluetnya, Rayan langsung tahu kalau itu Nina. Nina berbeda dari kebanyakan wanita yang mendekatinya. Nina kaya raya, ia seorang model dan pemilik bisnis kosmetik atas namanya. Rayan tahu Nina mulai menaruh hati padanya jadi, Rayan bersikeras menegaskan bahwa dia tak butuh cinta. Ia tidak ingin ikatan apapun membelenggunya.


Nina yang malam itu mengenakan gaun hitam backless dengan sengaja menggoda Rayan dengan tubuhnya yang indah, bau parfum mahal menyeruak, harum yang memabukkan. Rambutnya yang disanggul memperlihatkan leher jenjangnya yang indah dihiasi liontin mewah yang pastinya berharga fantastis.


"Aku merindukanmu," kata Nina dengan nada manja.


Rayan yang memang sengaja berada jauh dari pusat pesta mudah saja membalas perlakuan Nana. Rayan lantas mendaratkan ciuman pada Nana. Namun, begitu merasakan bibir Nana, ia mendadak berhenti, moodnya langsung berubah. Nina tentu saja kaget tak seperti biasanya Rayan seperti itu jadi, kenapa tiba-tiba Rayan berhenti.


Rayan teringat bibir Intan yang lembut dan manis. Ia tak bisa menemukannya pada Nina. Hal itu membuatnya frustasi. Dengan sopan ia meminta Nina turun dari pangkuannya. Nina berdiri dengan canggung. Ia tak pernah di tolak, ada sebersit sakit hati atas perlakuan Rayan. Namun, rupanya Rayan tak peduli, ia mengambil jas hitamnya dan pergi.


Rayan memacu mobilnya di jalanan yang macet. Ia memacu mobilnya ke tempat yang jauh, ke tempat Ibunya dirawat, rumah sakit jiwa.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Suasana sudah sepi saat Rayan tiba di bangunan rumah sakit karena malam sudah larut. Rayan langsung saja memdatangi resepsionis. Seorang suster paruh baya langsung menyambutnya, rupanya sudah biasa bagi Rayan berkunjung larut malam.


"Bagaimana keadaan Ibu, Suster?" tanya Rayan yang langsung menuju ke ruang perawatan Ibunya, kamar inap nomor 103.


"Tidak seperti biasa, hari ini Nyonya Maria banyak melamun. Biasanya beliau rajin sekali merajut, tapi hari ini beliau tidak melakukan apapun, beliau hanya duduk memandang keluar jendela," suster memberi penjelasan panjang lebar dalam perjalanan menuju ke kamar.


Rayan berhenti didepan kamar Ibunya. Suster Minah ikut berhenti.


"Aku ingin berkunjung sendirian. Terimakasih telah merawat Ibuku," kata Rayan sopan.


"Sama-sama, Nak Rayan," kata Suster Minah lantas kembali ke ruang utama.


Ibunya tidak menoleh meski, Rayan membuat suara berisik dengan langkah kakinya.


"Ibu, Rayan datang," kata Rayan sambil sungkem, mencium punggung tangan Ibunya.


"Bagaimana kalau kita melihat tamannya dari luar? Apa Ibu suka warna kuning? Rayan menanam semua bunga warna kuning untuk Ibu," Rayan lalu mendorong kursi roda Ibunya ke arah taman. Rayan mendesign taman itu seperti taman yang yang pernah mereka kunjungi waktu kecil, taman bunga kesukaan Ibunya.


Rayan mencari bangku lalu duduk di sana, disamping Ibunya. Rayan menoleh ke arah Ibunya. Wajah Ibunya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya, kerutan-kerutan mulai timbul di sana-sini. Rambut pendeknya tertata rapi dengan jepit rambut bunga yang manis sebagai penghiasnya, jepit rambut yang sama dengan punya Ema. Ema sengaja membelikannya karena Ema tidak bisa membelikan baju yang sama untuk di kenakan Ibunya saat pernikahannya. Ibunya tidak pernah punya rambut panjang sejak di rumahsakit jiwa. Jika kondisinya tidak stabil Ibunya kerap menyakiti diri sendiri dengan menarik-narik rambutnya.

__ADS_1


Demi menjaga kondisi ibunya, Ema pun tidak pernah memanjangkan rambutnya. Ema akan ke salon untuk potong rambut sebelum pergi ke rumahsakit untuk memotong rambut Ibunya. Ema ingin punya quality time dengan Ibunya meski, cuma ritual potong rambut. Potongan rambut yang sama membuat Ema dan Ibunya terlihat mirip. Ia benar-benar menyayangi kedua wanitanya, Ibu dan Adiknya.


"Hari ini Ema menikah, Bu," kata Rayan memulai monolog. Ibunya tak pernah peduli apapun yang diceritakan Rayan, tapi Rayan senang membagi kisahnya. Baginya cukup Ibunya mendengarkan, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.


"Ema menikah dengan Edi. Ibu ingat Edi? tetangga kita dulu, yang rambutnya keriwil dan badannya gempal. Sekarang masih seperti itu, sih! hanya sekarang dia sedikit lebih tinggi dariku, cuma sedikit kok , Bu, jangan khawatir."


"Ema pasti bahagia. Sebelum pergi berbulan madu mereka akan mampir ke sini. Ibu akan melihat betapa serasinya mereka."


Selesai membahas Ema, Rayan pun mulai membahas dirinya. Rayan hampir tak pernah membicarakan dirinya sebelumnya, tapi Rayan ingin berterus terang tentang balas dendamnya. Ia juga ingin menceritakan tentang Intan yang tak pernah lepas dari pikirannya.


"Bibi Romlah memberitahuku tentang kisah Ibu dan Wibowo, pacar Ibu yang mengkhianati Ibu untuk menikahi wanita lain yang lebih kaya, sehingga Ibu harus berakhir di rumahsakit jiwa. Kalau bukan karena perbuatan Pak Wibowo, Ibu pasti tidak akan menikah dengan Ayah yang pemabuk, Ibu pasti tidak akan menderita, Ibu pasti tidak akan berakhir di rumahsakit jiwa."


"Ibu tak perlu khawatir karena aku sudah mencampakkan anak Pak Wibowo, biar dia tahu rasa sakitnya dicampakkan. Aku telah mengumumkan di semua media untuk mempermalukan mereka. Aku melakukannya supaya keluarga mereka hancur, agar mereka tahu sakitnya dipermalukan, sakitnya dikhianati," kata Rayan menggebu-gebu, tapi sedetik kemudian kesedihan mulai menghinggapi wajah tampannya.


"Tapi, Ibu, kenapa tak ada rasa puas dihatiku meski aku telah membalas dendam. Kenapa aku malah merasa sakit hati? Aku telah membuat mereka sakit hati, tetapi kenapa rasanya seperti aku lebih sakit hati daripada mereka. Wanita yang kunikahi itu bernama Intan. Dia gadis yang murah senyum dan baik hati. Aku sempat takut jatuh cinta karena gadis itu demikian cantik, perangainya lembut, dan tutur katanya sopan. Ibu pasti menyukainya, tapi aku mencampakkannya, Ibu," air mata Rayan mulai menetes. Sungguh, mengingat Intan membuat hatinya diliputi kerinduan.


"Aku tak yakin, tapi lama-kelamaan aku menyadari kalau aku jatuh cinta pada gadis itu, Ibu. Apa yang harus ku lakukan? Sekarang gadis itu sudah diusir dari rumahnya karena aku. Aku tak tahu sekarang dia dimana, Apakah gadis itu sanggup bertahan? bagaimana kalau ternyata gadis itu memilih bunuh diri? lalu aku harus bagaimana? Aku ingin meminta maaf, tapi aku tak tahu sekarang dia dimana. Apakah salah yang kulakukan selama ini Ibu? Salahkah aku membalas dendam? Salahkah!"


"Aku mungkin telah mendapat karma. Aku malah jatuh cinta dengan anak dari orang yang paling kubenci. Aku mencintai gadis itu, Ibu. Apa yang harus ku lakukan?"


Hening... Tak ada jawaban dari Ny. Maria, hanya suara isak tangis Rayan.

__ADS_1


Rayan mengusap air matanya sambil memeluk Ibunya, tanpa disadarinya Ibunya pun meneteskan air mata mendengar ceritanya. Apakah suatu saat nanti cintanya akan menyelamatkan Ibunya? Siapa yang tahu.


🌺🌺🌺


__ADS_2