Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Penjelasan


__ADS_3

🌺🌺🌺


Rayan memandangi Intan yang tengah tertidur dipelukannya, nafasnya terlihat naik-turun dengan berat, wajah lelahnya terbayang pada tidurnya. Perut Intan yang membuncit besar membuatnya terlihat tak nyaman dalam setiap gerakannya.


"Maafkan aku Intan, karena akulah kamu menjalani hidup yang berat. Kamu telah berjuang demi anak kita. Terimakasih," ucap Rayan lirih, tak ingin membangunkan Intan.


"Beri aku kesempatan sekali lagi untuk menebus kesalahanku," bisik Rayan sembari memberanikan diri melingkarkan tangannya diatas lengan Intan.


Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rayan begitu ia merasakan Intan dipelukannya. Sungguh hatinya terasa disayat sembilu. Dosanya sedemikian besar sampai tak termaafkan. Akibat balas dendamnya, Intanlah yang harus menanggung semua.


Rayan lantas menggenggam jemari Intan yang terkulai di sampingnya. Dia menggenggamnya dengan lembut khawatir membangunkan Intan. Air matanya mulai menetes di pelupuk mata, ia ingin menangis dengan keras kala merasakan tangan Intan tak seperti dulu. Dulu jemari ini begitu lentik dan halus dengan kuku yang putih terawat. Tapi sekarang tangan ini terasa kasar, dengan kulit bersisik dan bekas bisul kehitaman yang mencoreng kulit putihnya. Ada gurat-gurat disekitar kuku Intan, dulunya kuku ini selalu terpotong rapi. Tapi kini, kuku ini bahkan tak simetris. Ditambah berat badan akibat kehamilan Intan, jemari ini turut membesar sampai dua kali lipat biasanya. Cincin yang dulu Rayan sematkan saat pernikahan mereka bahkan harus pindah di jari kelingking. Meskipun bersusah payah karena tak muat lagi tapi Intan tetap memakainya, Intan tetap menghargai pemberiannya meski ia telah menceraikannya dengan tanpa perasaan.


Rayan mengusap air matanya yang mengalir. Mulai saat ini ia berjanji tak akan menyakiti wanita ini lagi, wanita yang masih setia padanya meski telah disakiti sedemikian rupa olehnya. Apapun yang terjadi Rayan akan memperjuangkan cintanya dan menjaga Intan serta buah hati mereka.


Rayan lantas menciumi tangan Intan sebagai ungkapan rasa syukurnya karena masih diberi kesempatan bersama. Masih memegang tangan Intan, Rayan sejenak penasaran ingin memegang perut Intan yang membuncit. Ada buah hatinya disana, ia masih belum sempat meminta izin Intan untuk memegang perutnya. Rayan sedikit ragu, apakah tidak apa-apa jika ia memegangnya.


Dengan sedikit menahan nafas untuk mengurangi ketegangan, Rayan mendekatkan tangannya yang masih memegang tangan Intan ke arah perut Intan yang membuncit. Ia ingin menyapa buah hatinya, dengan tangannya dan tangan Intan bersama Rayan merasakan perut Ibu hamil untuk pertama kali. Ia sangat antusias apalagi gerakan janin yang dirasakannya kali ini adalah buah hatinya.


Perut Intan terasa keras dan lentur di saat bersamaan. Ada sedikit gerakan di balik perutnya seolah sedang menyapa Rayan, wajahnya langsung sumringah, kesedihan yang dirasakannya tadi seolah sirna. Ia memandang wajah Intan dengan takjub, ingin rasanya ia berbagi pengalaman ini, tapi Intan masih tertidur. Dengan lebih berani Rayan mengarahkan kedua tangannya agar bisa merasakan gerakan janin yang lebih intens lagi.


Dan benar saja, tak menunggu lama. Rayan meraskan tendangan yang kuat pada tangannya.


"Aduh" Pekik Rayan.

__ADS_1


Namun suara Rayan kalah oleh jeritan Intan.


"Arghhhhh.... Aduh duh duh..." Teriak Intan yang langsung meloncat berusaha duduk dengan susah payah karena perut besarnya.


Rayan dengan spontan membantu Intan duduk. Wajahnya panik melihat Intan berpeluh keringat dengan wajah yang pucat pasi dan nafas tersengal-sengal.


"Bayi nya menen dang ter lalu keras," ucap Intan terbata-bata tatkala melihat Rayan melongo ke arahya.


"Tunggu disini, kuambilkan minum," Rayan langsung lari ke dapur. Biasanya ia menaruh segelas air di kamar tidur. Tapi karena ia ketiduran, ia tak sempat menyiapkannya. Tanpa menunggu persetujuan Intan ia bergegas kedapur mengambilkan air.


🌺🌺🌺


Rayan duduk tenang disamping Intan yang sekarang duduk menyender di papan ranjang.


"Ehem...." Intan pura-pura berdehem, padahal tenggorokannya baik-baik saja.


"Intan," panggil Rayan pelan, "aku minta maaf atas perbuatanku selama ini. Aku menyesali semuanya"


"Apa kau menyesal karena aku sekarang hamil," sindir Intan, "tenang saja, aku tidak akan meminta pertanggungjawabanmu," lanjut Intan, mendengar kata menyesal membuat Intan salah paham. Padahal penyesalan yang dimaksud Rayan ternyata tak seperti itu.


Rayan mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab. Pasti ada tantangan untuk menaklukan hati Intan. Jadi, Rayan tak akan menyerah.


"Aku bersyukur karena kamu hamil anakku. Jadi kamu tak punya alasan untuk meninggalkanku," jawab Rayan sedikit bergurau. Hanya saja gurauannya terasa garing karena Intan bahkan tak tersenyum.Wajah Intan benar-benar datar.

__ADS_1


"Apakah aku tak salah dengar. Bukankah kamu yang meninggalkanku," kata Intan sembari melotot ke arah Rayan.


Rayan ingin sekali mencubit pipi Intan karena wajah Intan sangat menggemaskan ketika ia cemberut. Apalagi ia tak pernah melihat Intan melotot sebelum ini. Tapi tentu saja ia harus menahan diri untuk mencubit pipi Intan yang menggemaskan.


"Apa yang harus kulakukan agar kamu mau memaafkanku?" tanya Rayan. Ia tidak ingin percakapan ini berputar-putar karena Rayan takut semakin banyak ia berkata-kata peluang maafnya akan semakin kecil. Ia takut akan berbuat salah lagi.


Intan memandang pria tampan yang tengah duduk diatas ranjang dekat kaki kanannya. Pria tampan yang sekarang tengah memohon. Siapa yang bisa menolak permohonan maaf seorang pria tampan jika pria tampan ini masihlah satu-satunya pria yang mengisi hatinya.


Intan menghela nafas. Sambil berfikir sejenak Intan lantas mengutarakan persyaratannya. Kali ini ia harus bijak. Meski pria ini adalah cintanya. Tapi, masa depannya tak akan manis jika ia hanya berorientasi pada cinta sepihak.


"Kamu berhutang penjelasan padaku," kata Intan tegas, "aku akan memaafkan atau tidak tergantung seberapa tulusnya penjelasanmu. Aku dan bayi dalam kandungan ini menunggu penjelasan darimu. Kenapa kamu menikahiku jika dari awal kamu telah berniat untuk mencampakkanku? kenapa kamu menghamiliku jika pada akhirnya harus meninggalkanku? kenapa wanita itu harus aku dan bukan yang lain? kenapa setelah semua perlakuanmu padaku, aku masih saja mencintaimu? kenapa, Rayan....! Jelaskan padaku," jerit Intan emosional. Air mata mengalir dipipi Intan yang memerah menahan emosi.


"Aku minta maaf," jawab Rayan sambil tertunduk. Sejujurnya aku melakukan ini karena ... " Rayan tak meneruskan ucapannya karena didengarya Intan bernafas dengan keras.


"Aduh... Duh... " Intan menangis dan mengaduh bersamaan. Rayan tak tahu apa Intan masih melanjutkan kemarahannya tadi.


"Perutku sakit sekali.." keluh Intan


Ataukah, Intan akan melahirkan!


"Ya Tuhan... Tunggu sebentar... " ucap Rayan panik sembari lari keluar kamar memanggil bantuan.


Rayan mengangkat Intan dalam bopongannya dan berjalan menuruni tangga dengan hati-hati. Ia harus fokus membawa Intan yang sedemikian berat agar tak jatuh dari dekapannya. Rayan bersyukur masih rajin berolahraga, ia tak mengira hasil olahraganya akan berguna dalam hal ini. Dengan bantuan Bu Sri dan Suaminya, Rayan membawa Intan ke rumahsakit.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2