Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Intan dalam bahaya


__ADS_3

🌺🌺🌺


"Tn Rayan, Ny. Intan hilang."


"Katakan sekali lagi," perintah Rayan pada Johan yang menghubunginya melalui video call.


"Jhonatan mengantarnya malam ini ke panti asuhan karena Ny Intan akan menghadiri pemakaman, ditengah jalan Jhonatan menelefonku karena curiga ada van yang mengikutinya. Aku memang mengirim Soni untuk menjaga mereka tapi Soni memakai mobil kantor bukan van, saat itu telfon terputus karena Jhonatan mengalami kecelakaan. Saat Soni tiba ditempat kejadian, ia hanya mendapati Jhonatan terluka dan Ny. Intan menghilang," terang Johan, nada suaranya bergetar karena khawatir.


"Perintahkan anak buahmu untuk mencarinya, kerahkan lebih banyak orang dan berikan hasilnya padaku!" perintah Rayan, ia sangat khawatir mengenai keselamatan Intan. Namun, meski hatinya diliputi kekhawatiran, ia masih ragu untuk memutuskan akankah ia menjadikan ini sebagai alasannya pulang ke Indonesia. Akhirnya, ia memilih untuk menunggu hasil penyelidikan Johan baru memikirkan langkah selanjutnya.


"Baik, Oia Tuan, apa aku harus mengabari Eka?" tanya Johan.


"Tunggu sampai hasil penyelidikannya keluar, jangan beritahu siapapun dulu."


"Baiklah"


"Bagaimana kabar Jhonatan?" tanya Rayan. Bagaimanapun juga Jonathan adalah orang terpenting bagi Johan.


"Aku masih menunggunya didepan ruang operasi, lengan kirinya patah. Aku tidak tahu seberapa parah kecelakaannya, tapi kuharap Ny Intan baik-baik saja."


"Aku juga berdoa semoga operasinya berjalan lancar dan Jhonatan bisa segera pulih. Segera setelah mengetahui siapa yang bertanggung jawab mengenai ini, aku janji tidak akan memaafkannya," janji Rayan sambil mengakhiri panggilannya.


🌺🌺🌺


Setelah menelfon, Rayan mondar mandir tak sabar dikamarnya sampai pagi, Ibunya datang mengetuk pintu kamar membangunkannya

__ADS_1


"Rayan, sudah pagi, bangun nak! ayo memasak sebelum si kembar bangun," ujar Ny Maria membangunkan Rayan sambil mengetuk pintu kamar.


Ny Maria, Ibu Rayan, kondisi psikisnya sudah membaik sejak mereka tinggal bersama Rudy dan Ruby. Sepertinya menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya sangat baik untuk kesembuhan Ibunya, bisa dibilang ibunya sudah sembuh sekarang.


Ny Maria sering mengajak Rayan memasak. Rayan tak tahu pasti mengapa ibunya suka memasak bersamanya, tapi Rayan suka melakukannya, seolah kebersamaan ini sebagai pengganti waktu yang tak bisa mereka lalui bersama sewaktu Rayan remaja. Menganai ini Ema sangat iri pada Rayan. Kakaknya bisa menghabiskan waktu bersama ibu mereka sedang Ema yang menetap di Indonesia sangat jarang bertemu, kecuali hanya saat berkunjung kemari itupun tidak pasti karena Ema juga sudah disibukkan dengan kesibukannya menjadi seorang ibu.


"Baik ibu, aku ganti baju dulu," ujar Rayan patuh sambil tetap membiarkan ponsel tetap berada didekatnya untuk memudahkannya mendapatkan kabar terbaru dari Johan.


Hujan gerimis nampak menghiasi Northland pagi ini. Ya, Rayan memutuskan Selandia baru sebagai tempat yang nyaman untuk membesarkan anak-anak. Disamping tingkat kriminalitas sangat rendah, rasa toleransi terhadap pendatang juga sangat bagus disini, yang paling penting cuaca juga tak jauh beda dengan Indonesia sehingga ibunya pun betah disini.


Ruby dan Rudy sudah masuk primary school tahun ini, kalau di Indonesia setara sekolah SD. Untung saja mereka langsung sepasang jadi meski sebagai pendatang kedua anaknya tidak kesepian, anak-anak di sini juga memahami benar arti bullying jadi tak ada bully membully di sini, yang mana itu menenangkan bagi single parent seperti Rayan.


Rayan sudah tidak sabar memberikan putra putrinya keluarga yang lengkap. Semoga keluarga kecil mereka bisa berkumpul lagi, jauh sebelum 15 tahun seperti perjanjiannya. Ah, aku merindukanmu Intan. Aku berdoa semoga kamu baik-baik saja, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk atau aku benar benar tidak akan memaafkan Pak Wibowo.


🌺🌺🌺


Ze memang tak pernah mengecewakannya. Anton akan memberikan bonus pada Ze nanti. Ia lalu meminta Sania melucuti pakaiannya. Sania dengan patuh melepas jas dan kemeja Anton.


Anton mulai memosisikan dirinya disamping Intan yang tergletak diranjang, lampu temaram menambah kesan intim hasil fotonya nanti. Lagipula Anton perlu menutupi kenyataan bahwa Intan melakukannya dalam keadaan tak sadarkan diri, dalam kegelapan Intan hanya akan terlihat seolah sedang menutup matanya meresapi kenikmatan.


Sedangkan Sania, asisten Anton, berdiri tak jauh dari mereka sambil memegang kamera mengabadikan setiap moment yang dilakukan Anton.


Sania yang melihat perlakuan Anton pada Intan lantas menelan ludah dengan iri karena perlakuan Anton sangat manis pada Intan. Meski Anton melakukannya hanya untuk kelihatan saling mencintai di kamera tapi Sania benar-benar cemburu.


Anton merubah pemikirannya yang semula menolak berhubungan dengan gadis yang sedang tak sadarkan diri. Namun, saat ia bersiap membuka ikat pinggangnya, ketukan dipintu terdengar memecah kesunyian kamar.

__ADS_1


"Sial, waktunya sudah habis!" umpat Anton, "rapikan pakaiannya seolah malam ini tak pernah terjadi," perintah Anton pada Sania.


🌺🌺🌺


"Ny Intan sudah ditemukan," lapor Johan pada Rayan, "ia tiba di panti pagi ini menggunakan taksi. Sepertinya Ny Intan tidak mengingat kejadiannya dengan detail karena barusan ia menelefon Jonathan. Aku sedikit berbohong saat menjawabnya tadi, perlukah aku menanyakan detailnya pada nyonya?"


"Tidak perlu, jika Intan tidak mengingatnya tak perlu diingatkan. Jangan lupa untuk menambah keamanan disekitar Intan. Aku tak mau kejadian seperti ini terjadi lagi."


"Baik."


"Bagaimana keadaan Jhonatan?" tanya Rayan.


"Operasinya berjalan sukses, tinggal menunggunya siuman."


"Syukurlah."


"Bagaimana keadaan perusahaan?" Tanya Rayan lagi, ia jarang menanyakan tentang perusahaan karena ia percaya pada Johan. Tapi kini ia tergerak menanyakannya karena Rayan mempunyai firasat bahwa ia akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat.


"Semua berjalan baik. Aku akan meminta sekertarisku mengirim berkasnya lewat email supaya Tuan bisa mengevaluasinya."


"Bagus, kamu memang bisa diandalkan," puji Rayan.


Meski Johan pontang-panting menjalankan perusahaan karena posisi Rayan yang jauh. Tapi perusahaan berjalan dengan sangat baik bahkan bisa dibilang semakin maju karena berhasil melebarkan sayap pada berbagai bidang.


Kalau bukan karena kejeniusan Johan, mungkin ia harus memulai dari nol lagi saat pulang ke Indonesia. Terimaksih Johan, aku berhutang banyak hal padamu, suatu saat nanti izinkan aku membalasnya.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2