Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Hyperemesis 2


__ADS_3

🌺🌺🌺


Bu Ela mendapati kamar Intan terkunci. Bu Ela sudah mengetuk berulangkali namun tidak ada jawaban. Wajah tuanya diliputi kecemasan.


Dari kejauhan Alan melihat Bu Ela yang mengetuk pintu kamar tamu yang semalam ditempati Intan, tetapi pintu itu tak kunjung terbuka. Alan langsung berinisiatif kesana melihat.


"Ada apa Bu Ela?" tanya Alan.


"Ini nak, kenapa tidak ada sahutan dari dalam."


Alan mencoba mengetuk-ngetuk pintu lebih keras.


"Apa kita buka saja ya, Bu? kunci kamarnya ada di saya soalnya."


"Iya, nak Alan. Tolong, ya."


Alan bergegas ke kamarnya yang tak jauh dari situ. Ia menyambar kunci kamar yang belum sempat dikembalikannya semalam.


Begitu pintu kamar berhasil dibuka, Alan dan Bu Ela tidak mendapati Intan diranjangnya. Pintu kamar mandi terbuka dan Alan bergegas melihat ke kamar mandi. Ternyata Intan sudah terkulai lemas di lantai. Ada sisa muntahan tercecer disampingnya. Kondisinya kacau balau karena ia pasti telah muntah banyak sekali, rambutnya semrawut acak-acakan.


"Intan... " jerit Bu Ela sambil tergopoh-gopoh menghampiri.


Mereka saling mengenal. batin Alan sedikit bingung. Namun, ditundanya rasa penasaran itu karena kondisi Intan cukup mengkhawatirkan. Untunglah, kondisinya masih sadar.


"Kita bawa ke rumahsakit saja, Bu," saran Alan sambil mengangakat Intan. Gejala muntah di pagi hari. Alan menyimpulkan sendiri, mungkinkah Intan sedang mengalami morning sickness. Ada rasa kecewa dihati Alan melihat kesimpulannya itu karena jika apa yang disimpulkannha benar, berarti peluang untuk mendapatkan Intan adalah nol.


"Bu Ela, jangan beritahu Mas Eka aku ada disini. Jangan beritahu siapa-siapa. Aku mohon!" kata Intan dengan suara lemah sebelum jatuh pingsan.


🌺🌺🌺


Ketika Intan sudah sadar. Dia telah dirujuk ke dokter kandungan. Sebenarnya, Alan tak berhak ikut pemeriksaan, tapi tanpa setahu Intan, ia mengaku suaminya. Jadi disinilah mereka memandang layar USG yang memperlihatkan dua kantong janin berdampingan. Mereka terlihat imut. Dr Budi, SpOG, dokter yang memeriksa Intan, juga memperdengarkan suara detak jantungnya. Alan takjub. Baru sekali ini Alan melihat dan mendengar secara langsung bagaimana bentuk janin di layar USG juga suara detak jantungnya.


"Selamat Pak, Bu. Bayinya kembar."


Alan melihat Intan yang diliputi kebahagiaan. Air mata menggenangi kedua matanya. Alan tak yakin air mata apakah itu? mungkinkah airmata kebahagiaan, air mata kesedihan ataukah keduanya.


"Uk 11 weeks. Semua sehat. Tapi Ibu harus lebih banyak asupan gizinya. Karena kok saya lihat Ibu kurus sekali. Diperhatikan, ya, calon Ayahnya ini, Ibu ngidam apa dituruti biar makannya banyak. Dan pantangannya seperti durian, nanas, pepaya muda itu sudah saya persiapkan dalam daftarnya untuk dihindari, " kata Dr Budi sambil memandang Alan.


Alan cuma bisa manggut-manggut tanpa meralat kesalahpahaman bahwa Alan sebenarnya bukanlah Ayah bayinya.


"Kehamilan kembar memang beresiko. Tapi bisa dilihat disini Ibu Intan ini kehamilannya beda plasenta jadi bisa di pastikan non-identik, bayi nanti bisa berbeda jenis kelaminnya, atau bisa jenis kelaminnya sama cuma wajahnya mungkin tidak mirip. Karena beda plasenta bayi, kehamilan Ibu Intan akan terhindar dari twin-to-twin transfusion syndrome, asupan oksigen dan makanannya tidak berbagi otomatis resiko bayi lahir dengan berat yang berbeda bisa di minimalkan," terang dokter panjang lebar.


"Untuk kasus Ibu Intan yang mual muntah parah, ini di akibatkan Hormon HCG pada Ibu hamil kembar lebih tinggi, jadi efek mualnya juga lebih parah. Ibaratnya mualnya Ibu hamil bayi satu, tapi ketika bayi kembar, mualnya jadi double. Istilahnya hyperemesis. Jadi Ibu Intan jauhi hal-hal yang bikin stress, ya. Tolong Ayahnya ini nanti istrinya dijaga, jngan dibikin stress, jangan boleh kerja berat-berat, harus cukup istirahat dan minum vitamin secara teratur. Jangan lupa kontrol ke dokter secara berkala demi meminimalisir resiko."

__ADS_1


Intan dan Alan hanya berpandangan ketika dokter menyebut mereka suami istri. Intan juga tidak meralat ketika dibilang suami istri.


🌺🌺🌺


"Maaf," kata Intan saat perjalanan pulang kembali ke panti.


"Untuk apa?" tanya Alan pura-pura tidak tahu.


"Maaf karena sudah merepotkanmu hari ini."


"Tak apa, cukup bilang terimakasih. Tak perlu minta maaf."


"Iya terimakasih."


"Sama-sama"


"Juga aku minta maaf tidak meralat ketika dokter bilang pak Alan suamiku."


"Ah, aku sungguh terluka, perjaka sepertiku disangka suami yang tak bertanggungjawab sampai istrinya pingsan karena hyperemesis."


"Aku minta maaf Pak Alan."


"Sure, tapi sebagai gantinya aku ingin mengajukan pertanyaan dan harus jawab dengan jujur. Ngomong-ngomong dimana Ayah bayi ini?"


"Kalau keberatan gak usah jawab gapapa aku akan ganti pertanyaan yang lain," kata Alan salah tingkah.


"Kami sudah bercerai."


"Cerai?" tanya Alan tak percaya.


"Ya."


"Apa ex-suamimu tahu kalau kamu hamil?"


Intan menggeleng, "dia tak akan pernah tahu."


"Kenapa begitu, apa kalian bertengkar hebat saat bercerai."


"Dia menceraikanku secara sepihak. Aku yakin dia tak mau tahu apa yang terjadi padaku lagi."


"Aku yakin akan berbeda jika dia tahu kamu hamil Anaknya."


"Bisa kita bahas yang lain Pak Alan. Aku sedang tidak ingin membahas tentang itu. Itu membuatku stress. Ingat dokter tadi bilang jangan stress."

__ADS_1


"Well, ngomong-ngomong tak perlu terlalu formal. Panggil Alan saja. Aku masih cukup muda untuk di panggil Bapak," kata Alan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Intan hanya tertawa. Di samping badannya yang kekar ternyata Alan sosok yang humoris.


🌺🌺🌺


Kali ini Intan harus berurusan dengan Bu Ela, ketua panti asuhan ini. Beliau juga yang merawat Mas Eka seperti anak sendiri, makanya Mas Eka sangat terikat dengan tempat ini. Tempat ini seperti kampung halaman bagi Mas Eka.


Intan sudah berada di kantor Bu Ela, wajah Bu Ela yang sudah menua memandang Intan dengan perasaan kasih. Intan merasa bersalah karena meminta Bu Ela menyembunyikan masalah ini dari Kakaknya, Intan tahu Bu Ela dan Mas Eka sangat dekat.


"Apa yang terjadi sama Nak Rayan dan Nak Intan sampai Nak Intan harus berada di sini, sedang Ibu tidak boleh memberitahu Mas Eka."


Bu Ela tahu ceritanya tentang Rayan. Ia juga tahu tentang pernikahannya dengan Rayan, hanya saja beliau belum pernah bertemu dengannya.


"Kami sudah bercerai, Bu," jawab Intan jujur. Tak ada gunanya menyembunyikannya. Untuk bisa menerima perlindungan Bu Ela, Intan harus menceritakan apa adanya.


Intan lalu menceritakan kisah hidupnya dengan detail. Serasa kejadian itu baru kemarin,tapi bedanya kali ini, Intan menceritakannya tanpa menangis. Intan sudah bisa menerima harus membesarkan bayi kembarnya seorang diri.


Bu Ela mendengarkan dengan seksama sambil memegang tangan Intan dengan jemarinya yang mulai keriput. Ia mencoba mentransfer kekuatan pada gadis itu. Cobaan datang pada siapa saja yang Tuhan kehendaki, hanya saja melihat gadis sebaik Intan tersakiti, membuat Bu Ela ikut meneteskan air mata.


"Apa Nak Rayan tahu tentang kehamilan Nak Intan?" tanya Bu Ela hati-hati.


Intan menggeleng


"Mungkin hasil akhirnya akan berbeda jika Nak Rayan tahu kehamilanmu."


"Mas Rayan mungkin hanya menginginkan anaknya bukan aku, Bu. Dan aku tidak mau anakku diambil dariku," tegas Intan.


"Baiklah Ibu memahaminya, tapi kenapa kamu harus menyembunyikannya dari Nak Eka?"


"Kalau Mas Eka tahu, Papa pasti tahu. Aku ingin disini, Bu, menghabiskan masa kehamilanku dengan orang yang kukenal. Jika mereka tahu aku disini lebih baik aku pindah saja sekarang," ancam Intan.


Bu Ela terhenyak. Jujur Ia ingin memberi tahu Eka, tapi jika harus melepas Intan Bu Ela tidak bisa. Sangat buruk jika Intan harus pergi ketika dirinya tengah hamil. Pasti Eka memahami keputusannya.


"Aku akan mengajar bahas Inggris sebagai tambahan untuk anak-anak" tawar Intan. Hitung-hitung sebagai biaya tinggal disini.


Bu Ela manggut-manggut.


"Anak-anak cukup bandel. Nak Intan tidak perlu repot-repot. Nsk Intan cukup banyak istrirahat saja."


"Untuk kesibukan, Bu. Juga untuk hiburan. Aku suka anak-anak."


Bu Ela tersenyum mendengarnya. Intan tak hanya cantik tapi juga berhati malaikat. Semoga kasih sayang dan cinta senantiasa menyelimuti Intan juga bayi yang di kandungnya.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2