Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Pesta End


__ADS_3

🌺🌺🌺


Kebun di samping rumah telah diubah oleh Ny. Maria dan beberapa asisten dari toko bunga menjadi sebuah tempat diselenggarakannya pesta kebun untuk merayakan bersatunya kembali Putranya dan Menantunya. Pernikahan Rayan yang pertama tak sempat dilihatnya karena saat itu ia masih berada di rumah sakit jiwa, pun pernikahan itu dilakukan dengan niat yang buruk. Kendati sekarang pesta pernikahan ulang ini diperuntukkan untuk dua sejoli yang sama namun tentunya dengan sedikit perbedaan karena kali ini niat tulus dan doa dari sahabat dan kerabat mengiringi mereka.


Bunga mawar, aster, krisan, lili, tulip dan berbagai macam bunga segar lain menghiasi kebun dengan apik, bau harumnya semerbak di sekitar membawa ketenangan dan kegembiraan. Tangan dingin Ny. Maria dan pengalamannya sebagai florist selama di Northland dituangkannya dalam pesta kali ini. Backdrop latar pesta tampak tak tertahankan saking indahnya. Tamu-tamu silih berganti mencoba berswafoto di sana mumpung acara belum di mulai.


Anak-anak kecil berlarian dengan gembira, senyum mengembang penuh kebahagiaan terpancar di wajah polos mereka. Gaun para gadis-gadis kecil itu berumbai-rumbai layaknya peri. Celoteh riang mereka menularkan bahagia di sekitar mereka. Sedangkan para bocah lelaki tampak tampan dengan tuksedo kecil mereka.


Para wanita mengenakan gaun malam yang indah dengan dandanan cantik. Para pria yang malam ini memakai jas rapi tampak saling menyapa kenalan masing-masing atau mulai berkenalan dengan orang yang duduk di dekat mereka.


Makanan dan minuman disuplai terus menerus oleh para pelayan, makanan yang tentunya buatan koki ternama, untuk memanjakan lidah para tamu yang hadir. Ema dan Edi adalah orang yang bertanggung jawab untuk urusan makanan selama acara ini.


Meski pesta ini tergolong kecil namun tak kurang beberapa kolega penting tak ingin melewatkan momen pesta ini.


“Ruby bisa ikut bermain dengan Rudy dan saudara sepupu yang lain. Apa Ruby tidak bosan di sini?” tanya Intan saat Ruby melihat anak-anak bermain dari lantai atas.


Wajah Ruby terlihat ingin tapi ia menggeleng saat mendapat pertanyaan dari Mamanya. Ia ingin bersama Mamanya di sini.


“Yakin tak mau ikut Tante ke bawah?” tanya Kak Tia. Kak Tia adalah orang yang bertanggung jawab merias Intan untuk acara malam ini.


Ruby memegang ujung gaun merah muda miliknya. Ia terlihat ingin tapi ia berulang kali memandang Mamanya.


Tiba-tiba pintu terbuka, Rudy dengan senyum manisnya memasuki ruangan. Di belakangnya Rayan menyusul tak kalah tampan dari Putranya, senyumnya pun tak kalah memesona.


Rayan mendekat ke arah Istrinya, ia mengagumi betapa cantik Istrinya, gaun malam warna putihnya, terlihat indah namun tidak berlebihan, khas Intan. Ia mengecup mesra kening Istrinya dan menawarkan lengannya.


Intan menyambutnya, senyum lebar menghiasi bibirnya. Ia begitu bahagia di kelilingi keluarga kecilnya. Tak terhitung betapa banyak kesulitan dan kesusahan yang di alaminya. Terlebih dalam 9 bulan kehamilannya, ia dihadapkan pada kenyataan dicampakkan, sendirian dan berusaha memaafkan. Akhirnya Tuhan membalas semua kesakitan itu dengan kebahagiaan melimpah yang diterimanya hari ini.


Rudy mengikuti cara Papanya dan menawarkan lengannya untuk Ruby. Ruby menyambutnya dengan senang hati. Senyum yang dari tadi ditahannya tampak merekah lebar penuh kebahagiaan. Ia tak sabar bertemu saudara sepupu dan teman-temannya.


Kak Tia yang belum sempat turun ke lantai bawah menyerahkan buket bunga yang didominasi warna putih yang telah dipersiapkan Ny. Maria pada Intan, dan buket yang lebih kecil untuk Ruby.

__ADS_1


“Terima kasih, Kak Tia,” ucap Intan sembari menerima buket bunga.


Dengan langkah pasti keluarga kecil itu menuju tempat pesta, musik lembut mengiringi kedatangan mereka. Setelah mereka berada di depan orang-orang, musik berhenti berganti tepuk tangan. Rayan mengangkat tangannya yang bebas dan suara tepuk tangan pun berhenti. Ia memandang Istrinya sebelum berbicara kepada para tamu yang hadir.


“Terima kasih telah hadir pada pesta penyatuan keluarga kami. Terima kasih atas doa restu dan kepedulian kalian. Kami sangat menghargai itu. Semoga keluarga kecil kami selalu dalam lindungan Tuhan dan senantiasa diliputi kebahagiaan. Aku, Istriku dan kedua buah hati kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ujar Rayan sambil membungkukkan badannya, diikuti Intan dan si kembar.


Setelah Rayan selesai mengucapkan kata sambutan musik berganti ke lagu bertempo pelan tanda bagi mereka untuk memulai dansa. Rayan membungkuk ke arah Istrinya sambil mengulurkan tangan. Intan menyambut uluran tangan Suaminya dan mulai berdansa.


Para tamu sementara menunggu empunya acara menyelesaikan satu lagu sebelum ikut melantai bersama.


Intan melihat banyak orang terkasihnya datang. Orang tuanya tampak bahagia dengan senyum yang merekah. Mertuanya tersenyum melambai ke arah mereka. Edi tampak berdiri di belakang Ema dan satu tangannya memegang perut Istrinya, sepertinya mereka tak sabar menunggu lagu pertama selesai untuk ikut melantai. Mas Eka tampak sibuk menenangkan Wina yang menangis dan tak jauh darinya tampak Kak Tia tengah menguliahi Adam, sepertinya Adam telah membuat Adiknya menangis. Johan datang bersama orang tua dan Adiknya, Jonathan, juga seorang gadis yang sepertinya kekasihnya. Koleganya, kolega Papa dan kolega Mas Rayan juga turut hadir, kendati ia tak begitu mengenal mereka tampaknya mereka cukup bersenang-senang. Intan juga cukup terkejut dengan kedatangan Alan, guru magang di Panti dahulu. Meski Alan sudah tidak lagi bekerja di Panti, namun Intan tetap berhubungan baik dengannya. Tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah kedatangan Sania. Gadis itu datang dengan gaun warna hitam, sepertinya Sania sengaja mengenakan gaun yang cukup lebar untuk menyembunyikan perut buncitnya. Sania tersenyum dan melambai saat mata mereka berserobok. Sania datang sendiri karena Anton masih di penjara. Pria itu lebih memilih penjara daripada menyandang nama Daisuke, jadi Rayan membantunya menghapus nama itu tapi tidak bisa menghilangkan hukuman penjara yang memang dengan sadar telah dilakukannya.


Setelah lagu pertama selesai, orang kedua yang mengajak Intan berdansa adalah Papanya.


“Maafkan Papa, Sayang,” ujar Pak Wibowo begitu ia mulai berdansa.


“Tak perlu minta maaf, Pa. Semua sudah menjadi masa lalu,” jawab Intan sambil menggeleng.


“Tak apa. Aku memaafkan Papa,” balas Intan. Ia tak ingin Papanya masih memikirkan masa lalu padahal sekarang adalah hari bahagianya.


Tapi Pak Wibowo rupanya tak mendengar karena sibuk menyeka air matanya. Intan merasa sedih melihatnya. Sebesar apa pun dosa Papanya, baginya selalu ada maaf untuk Papanya. Berdansa seperti ini membuatnya teringat masa lalu. Papanya adalah orang pertama yang mengajarinya berdansa, orang pertama yang memperkenalkan dunia padanya, orang pertama yang selalu ada untuknya. Meski semua yang terjadi di masa lalu tampak salah, mungkin Tuhan memang berlaku demikian. Jadi sebagai manusia adalah tugasnya menjalankan peran itu dengan sebaik-baiknya karena ia percaya dibalik suatu kesulitan akan ada kemudahan.


“Terima kasih. Semoga kebahagiaan terus menyertaimu,” ujar Papanya sambil mengembalikan Intan kepada Rayan. Namun Mas Eka rupanya telah menunggu untuk berdansa dengan Intan.


Pak Wibowo hendak beralih untuk berdansa dengan Istrinya. Tapi Istrinya tengah berdansa dengan Rudy. Pak Wibowo berada tepat tak jauh dari Rayan saat Rayan selesai berdansa dengan Ibunya jadi Pak Wibowo pun menawari Maria untuk berdansa dengannya.


“Apa kabar?” sapa Pak Wibowo ramah.


“Baik,” jawab Ny. Maria pendek. Ia sedikit canggung berdansa dengan mantan kekasihnya dulu yang sekarang menjadi besannya.


“Aku ingin meminta maaf padamu. Semua tragedi yang terjadi bermula atas kesalahanku,” ujar Pak Wibowo.

__ADS_1


“Untuk apa membicarakan itu dalam suasana yang bahagia,” sergah Ny. Maria. “Toh apa pun yang terjadi di masa lalu, yang terpenting saat ini kita adalah keluarga. Mungkin yang berjodoh bukan kita, tapi anak kita,” lanjutnya sambil mengedikkan pandangannya ke arah Intan dan Rayan yang masing-masing berdansa dengan Ema dan Edi.


“Kamu benar. Terima kasih telah memaafkanku.”


Ny. Maria tersenyum dan melepas Pak Wibowo saat lagu telah berakhir.


Setelah berdansa silih berganti, Rayan kembali berdansa dengan Intan.


“Lihatlah Rudy, ia begitu populer di antara gadis-gadis kecil,” ujar Intan sembari menunjuk ke arah Rudy yang di kelilingi banyak gadis yang mengantre untuk berdansa dengannya. Tapi tampaknya para gadis itu tak akan mendapat kesempatan karena saudari kembarnya, cukup posesif dan tak berkeinginan untuk membiarkan para gadis berdansa dengan Rudy.


“Dia populer sepertiku,” gumam Rayan bangga. Intan segera menginjak kaki Suaminya, populer itu berarti banyak saingan pelakor dan ia tak menyukai itu.


“Hei, jangan cemburu dulu. Kali ini cintaku hanya untukmu dan anak kita,” ujar Rayan buru-buru mengklarifikasi.


Intan pura-pura sebal dan merajuk. Rayan yang melihat Intan begitu imut tak sadar langsung mencium pipi Intan. Intan terenyak langsung berbisik, “Apa yang kamu lakukan? Kita berada di tengah pesta dengan banyak orang di sini.”


“Aku tak sabar untuk memilikimu sendirian. Ntah kapan para tamu akan pulang,” ujar Rayan dengan wajah sedikit manyun. Beberapa hari ini ia tak sempat bersama Intan karena Istrinya begitu sibuk.


“haha...” Intan tertawa kecil menanggapi Suaminya. “Nanti lah...”


“Sungguh...” ujar Rayan dengan wajah penuh harap.


“Tentu saja,” jawab Intan meyakinkan.


“Ehem, apa yang kalian bicarakan. Sepertinya sesuatu banget,” gurau Ema yang melantai tak jauh dari mereka.


Intan langsung bersemu merah, sedangkan Rayan memelototi Adiknya sambil berucap, “Uh, mau tahu saja.”


Mereka yang berada di sekitar ikut tertawa mendengar gurauan kedua saudara itu. Sepertinya malam ini malam yang membahagiakan bagi semua orang.


Setiap orang berhak bahagia. Percayalah di setiap ada kesulitan pasti akan kebahagiaan menanti, di setiap ada musibah pasti ada hikmah menunggu. Tinggal kita bersabar dan menata hati. Semoga kebahagiaan menyertai kalian di mana pun kalian berada.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2