Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Rayan


__ADS_3

๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Maaf, Mas Eka harus memberitahu Papa dan Mama tentangmu, mereka terus saja memohon membuat Mas tak tega. Malam ini papa dan mama menuju ke rumahsakit. Mas Eka masih di LN belum bisa mengunjungimu. Semoga semua baik-baik saja"


Intan menghela nafas panjang. Bunyi pesan yang di kirim Mas Eka barusan langsung menghantui pikirannya. Jujur, ia masih trauma akan sikap Papanya yang dengan tanpa perasaan memintanya menggugurkan kandungan.


Namun meskipun ragu, tak bisa di pungkiri dalam hatinya, Intan sangat merindukan kehadiran orangtuanya. Apalagi moment seperti ini, saat menanti kelahiran buah hatinya, rasa cemas, gelisah sekaligus antusias menghantuinya. Intan mengambil jaket untuk menutupi piyama rumahsakit dan mengambil tas slempang kecil berisi dompet yang sepaket dengan dokumen dokumen pentingnya. Intan akan menikmati segelas coklat hangat sembari menyongsong orangtuanya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Pa, jangan ngomong yang tidak-tidak di depan Intan," seru Ny. Rini pada suaminya. Tubuhnya yang sedikit berisi tergopoh gopoh mengikuti langkah cepat suaminya keluar dari areal parkir rumahsakit.


Setelah drama adu argumen dengan Eka akhirnya mereka berkesempatan menemui Intan. Hanya saja Ny. Rini salah kira, ternyata meskipun setelah sekian lama gagasan Pak Wibowo tentang Intan tidak berubah.


"Sudah, jangan ikut campur. Pokoknya ketika Intan siuman setelah operasi, aku mau bayi itu sudah tidak ada didekatnya. Taruh saja di panti asuhan," kata Pak Wibowo ketus.


Ny. Rini menghentikan langkahnya tiba-tiba saat mendengar kata-kata ketus suaminya.


"Mana hati nuranimu, Mas Wi," teriak Ny. Rini pada suaminya. Ia tak pernah meninggikan suaranya di depan suaminya, tapi kali ini sungguh kelewatan apa yang di ucapkan seorang Kakek pada cucunya yang bahkan belum lahir. Tidakkah bayi itu akan sedih karena tidak diinginkan? Suara lengkingan Ny Rini menarik perhatian orang-orang di lobi rumahsakit.


Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Ny Rini. Pak Wibowo yang tidak ingin menarik perhatian lantas menyeret istrinya di area taman tak jauh dari situ.


"Jangan pisahkan Intan dari anaknya. Aku mohon," jerit Ny Rini.


"Aku mau memaafkan Intan asalkan tidak dengan bayinya. Itu persyaratanku," ucap Pak Wibowo dengan nada dingin.

__ADS_1


"Bayi yang dikandung Intan itu darah dagingmu, Mas," balas istrinya sambil menangis.


"Bayi itu juga mengandung darah Hendrayan. Aku tidak mau itu. Aku membenci semua hal tentang Hendrayan"


"Sadarkan dirimu Mas. Apakah kamu memohon Eka memberitahumu tentang Intan supaya kamu bisa memisahkannya dari bayinya. Salah Intan apa Mas. Sehingga kamu begitu tega," Sekarang Ny. Rini tertunduk lesu bersimpuh dibawah kaki suaminya. Ny. Rini tahu percuma bersitegang dengan suaminya karena suaminya sangat keras kepala. Untuk hal lain Ny. Rini akan memakluminya, tapi tidak untuk kasus ini.


"Memang semua ini salah Hendrayan," kata Pak Wibowo.


"Dan juga salah Intan," lanjutnya mulai berapi-api.


"Kau tahu kenapa? karena ia lebih memilih mempertahankan darah daging Hendrayan daripada menuruti perintahku. Aku PAPAnya"


"Oh, Mas Wi, kenapa hatimu demikian keras. Apa yang menimpamu dulu sehingga hati nuranimu telah menghilang," ratap Ny. Rini


Dulu ia mencurahkan semua untuk Maria. Cintanya, waktunya perjuangannya, darah dan airamatanya. Tapi yang ada malah ia dikhianati. Maria memilih menikah dengan lelaki lain. Dan bodohnya lagi meski berusaha membenci pak Wibowo tetap tak bisa dan selalu terbayang-bayang cintanya dulu. Betapa menyakitkannya ketika anak gadis yang disayanginya terkena karma sepertinya yang masih menaruh hati pada orang yang sudah mencampakkannya.


Maria, bagaimana kabarmu, bisik Pak Wibowo dalam hati. Hatinya mulai luluh mengenang masa lalu. Meskipun ia terpuruk, meski hatinya milik orang lain. Masih ada seseorang yang selalu setia padanya, membawa kebahagiaan untuknya, ialah istrinya, Rini. Wanita yang mebuatnya bertahan melewati semua kepahitan masa lalu itu. Dengan penuh kasih sayang, Pak Wibowo membantu istrinya bangkit.


"Kamu bisa merawat bayi itu tanpa sepengetahuanku dan Intan. Asalkan bayi itu bisa jauh dari Intan. Aku ingin Intan bisa memulai hidup baru dan bahagia," bagaimanapun juga, baginya sebagai orangtua kebahagiaan Intan lah yang terpenting.


"Ayolah, hapus air matamu, aku sangat merindukan putri kita."


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Suara teriakan dan gaduh di lobi rumahsakit membuat Intan sedikit terkejut sampai coklat hangat di genggamannya tumpah.

__ADS_1


Ketika sibuk membersihkan tumpahan coklat ditangannya, ia dikejutkan oleh suara familiar yang berada tak jauh dari tempatnya. Tapi ia lebih terkejut lagi dengan perkataan yang didengarnya


"Jangan pisahkan Intan dari anaknya. Aku mohon"


Demi mendengar itu tubuh Intan bergetar, badannya menggigil, wajahnya langsung pucat pasi. Tanpa perlu melihat Intan sudah tahu pasti siapa yang sedang membicarakannya. Papa dan Mamanya sedang berdebat tentangnya, tentang bagaimana memisahkan dirinya dan bayinya.


Air mata berlinang tak kuasa di tahan Intan. Untung Intan duduk membelakangi mereka sehingga mereka tak mungkin tahu bahwa Intan telah mendengar semuanya. Intan bahkan berusaha untuk tak mendengarkan kelanjutan perdebatan orangtuanya karena yang didengarnya lebih menyakitkannya lagi.


Intan mengelus perutnya dengan deraian airmata. Matanya nanar memandang kegelapan disekelilingnya, Intan harus segera pergi dari sini, apapun yang terjadi, orangtuanya tak boleh sampai bertemu dengannya. Untuk sekali ini, Intan harus benar-benar menyelamatkan kedua malaikat kecilnya.


"Ya Tuhan, selamatkanlah kami. Tak ada lagi yang bisa kupercaya. Bukan bu Ela, Mas Eka, Papa, Mama, aku tak bisa mempercayai mereka lagi. Mereka begitu tega ingin memisahkanku dengan buah hatiku. Kirimkanlah penyelamat untuk kami bertiga, Ya Tuhan, seseorang yang bisa menjaga kami dan tulus menyayangi. Seseorang yang...."


Intan terdiam tak meneruskan doanya... Karena seseorang telah berlutut di depannya. Seseorang itu memandangnya dengan mata penuh kerinduan.


Demi melihat air mata yang mengalir di pipi Intan, seseorang itu pun tak kuasa menghapus air mata Intan dengan tangannya yang bergetar.


Intanย  yang melihat seseorang itu pun tak kuasa menahan tangisnya sendiri. Bahkan tangisanya menjadi semakin kencang. Seseorang itu adalah orang yang paling dirindukannya selama ini. Seseorang yang masih mengisi sebagian besar tempat di hatinya.


Dan seseorang itu adalah Rayan.


"Aku merindukanmu Mas Rayan," bisik Intan sambil memeluk pria didepannya dengan erat. Intan tak mau lagi melepaskannya.


"Bawa aku pergi jauh dari sini Mas. Selamatkanlah kami... Selamatkan aku dan anak kita"


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ

__ADS_1


__ADS_2