
🌺🌺🌺
Setelah identitas Rudy telah dikonfirmasi, berita mengenainya menjadi populer di sana. Khususnya di desa nelayan tempat Rudy diselamatkan. Apalagi Rayan menghadiahi banyak uang dan hadiah pada pemilik kapal dan para krunya. Semua orang bergosip mengenai betapa tampannya Rayan dan baik hatinya ia. Para warga berbondong-bondong datang menjenguk Rudy untuk membalas kebaikan mereka.
Rayan tak bisa melarang mereka, terlebih lagi mereka telah menyelamatkan Putranya. Para warga yang menjenguk membawa banyak makanan khas dan hadiah mainan untuk putranya bahkan boneka untuk Ruby. Kebanyakan mereka orang yang tulus dan baik hati, ia tak sampai hati melarang mereka datang, kedatangan mereka yang silih berganti sungguh menghibur dan membawa dampak bagus bagi perkembangan kesehatan Rudy. Kondisi Rudy pun semakin membaik. Setelah 5 hari dirawat besok Rudy sudah bisa pulang.
“Ruby, besok kakak pulang,” ujar Rudy saat melakukan panggilan video dengan Adik dan Mamanya. Rayan duduk di samping ranjang sambil memandang raut wajah bahagia Rudy.
“Benar ya...” ujar Ruby. Rudy balas mengangguk dan tersenyum, kedua lesung pipinya terlihat saat ia tersenyum.
“Hai, Sayang...apa kabar anak Papa? Apa Ruby hanya rindu kakak? Apa tidak ada nih yang rindu Papa?” goda Rayan sembari mendekat ke arah ponsel agar wajahnya terlihat di layar. Ia melihat Ruby yang ada di pangkuan Intan. Intan melambai ke arahnya sambil tersenyum manis. Ah, ia rindu Istrinya.
“Mama kangen Papa...” lapor Ruby.
Intan tersenyum malu digoda anaknya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengenyahkan wajah bersemu merahnya.
“Oh... benarkah...” gurau Rayan.
“Aha... tentu saja! Mama selalu melamun saat masak. Masakannya suka gosong jadi kita makan di rumah Tante Ema,” lapor Ruby dengan nada bicara yang meyakinkan. Intan segera memeluk Ruby dan menciumi pipinya berharap bisa menutup mulut besarnya itu.
Rayan dan Rudy hanya tertawa menanggapinya. Bagi Rayan kelakuan Intan sungguh manis, ia juga sungguh merindukan Para wanita di rumah, Ibu, Ruby, Istrinya.
__ADS_1
“Ruby, besok Mama jangan bolehin melamun. Jika masakannya gosong lagi, Papa dan aku mau makan apa, aku kan ingin makan masakan Mama,” pesan Rudy pada Adiknya.
“Siap,” jawab Ruby menyanggupi.
“Baiklah sekarang biarkan Kakak istirahat. Besok Kakak akan melakukan perjalanan jauh. Ruby juga harus menyiapkan makanan enak untuk Kakak besok. Ucapkan selamat tidur pada Kakak,” perintah Intan.
“Kakak, met malam. Besok harus pulang dengan selamat ya, Ruby menunggu Kakak. Ruby sayang Kakak,” ucap Rudy polos. Ia melambai ke arah Kakaknya. Dan memberi kecupan di ponselnya.
“Kakak juga sayang Ruby,” ujar Rudy sambil tersenyum manis. “Kakak janji akan pulang dengan selamat. Kakak kangen sekali, selamat tidur ya, mimpikan Kakak.” Rudy lalu menyerahkan ponselnya ke Papanya.
“Selamat tidur, sayang,” ujar Rayan pada Putrinya. Ruby memberinya ciuman jauh lalu mengakhiri sambungan teleponnya. Setelah Rudy ditemukan, Ruby berangsur sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit. Rayan tersenyum lega, semua berjalan dengan baik.
🌺🌺🌺
Suara jarum berdetak terdengar mengisi kesunyian menyambut Rudy yang tak sengaja terbangun tengah malam. Ia ingin ke kamar mandi, semalam ia langsung tidur sebelum ke kamar mandi, jadi ia harus terbangun tengah malam agar tidak mengompol. Ia memandang Papanya dan Uncle Jo yang tertidur. Sepertinya malam telah larut, Papanya terlihat tidur dengan nyenyak, kepala Uncle Jo sampai merosot ke samping karena posisi tidurnya yang tak nyaman. Haruskah aku membangunkan mereka, batinnya. Tapi ia memilih pergi ke kamar mandi sendiri. Ia merosot dari ranjang yang cukup tinggi untuk ukurannya. Ia mengeser tiang infus dan membawanya ke toilet tak jauh dari ranjangnya.
Setelah menyelesaikan urusannya, ia hendak keluar kamar. Tapi sebelum ia memutar gagang pintu, perasaan hatinya tiba-tiba tak enak. Ia merasa rasa takut yang kemarin sempat membelenggunya muncul kembali.
Ia segera mengenyahkan perasaan buruk di hatinya dan membuka pintu. Namun apa yang menunggu di depannya membuatnya langsung memundurkan langkahnya. Ketakutan langsung membayang di pelupuk matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, memastikan apa yang dilihatnya adalah mimpi. Tapi yang dilihatnya tetap ada di sana.
Ia melihat seorang pria muda yang tampan memakai kaos putih dan bertopi merah, tengah berjongkok di depan pintu menunggunya keluar dari kamar mandi. Ia melihat Kakak Ze di depanya, kendati wajah itu mengulas senyum tapi Rudy tak bisa membalas senyum, yang ada hanya keakutan. Mata kecilnya nanar mencari tahu keberadaan Papa dan Uncle Jo, apakah mereka baik-baik saja. Tapi ada jarak yang cukup jauh darinya dan Uncle Jo jadi ia tak bisa memastikan keadaan mereka. Ia hanya bisa melihat jendela yang terbuka lebar di samping ranjang yang lain, ruang inapnya memiliki dua ranjang dan ada satu jendela besar di samping tiap-tiap ranjang.
__ADS_1
Rudy ingin menangis, bagaimana kalau Kakak Ze menyakiti Papa dan Uncle Jo.
Ze meletakkan satu jarinya di mulutnya untuk memperingatkan Rudy agar tidak membuat suara, berteriak ataupun menangis.
Ze mendekatkan bibirnya ke telinga Rudy dan berbisik, “jika kamu menurut, aku tidak akan menyakiti mereka. Ingat jangan mengatakan tentang aku pada orang-orang. Apa kamu mengerti?”
Rudy hanya diam terpaku tak berani mengangguk ataupun menggeleng. Ia memegang tiang infus dengan erat, tangan mungilnya gemetar.
Rudy memejamkan matanya saat Ze mendekatkan wajahnya ke arahnya. Ia mengantisipasi ciuman yang akan diterimanya. Tapi sebelum itu terjadi, ia mendengar suara pukulan keras dan detik berikutnya ia merasakan tubuh jatuh menimpanya. Tubuh itu terasa berat menimpanya, tapi tak lama karena seseorang telah menyingkirkan tubuh itu lalu mengangkatnya ke gendongan, ia tak berani membuka matanya untuk melihat siapa penyelamatnya sampai ia mendengar suara menenangkan Papanya.
“Ada Papa, Sayang...” ujarnya sambil membawa Rudy menjauh.
Rudy memeluk Papanya sambil menangis, ia melihat sekilas adegan yang terjadi sebelum ia dibawa keluar ruangan. Ia melihat Kakak Ze terbaring di depan kamar mandi dan Uncle Jo mengikat tangan Kakak dari belakang. Antara lega dan takut yang masih menghinggapinya, Rudy memeluk Papanya dan tak ingin melepaskannya.
🌺🌺🌺
jangan lupa vote poin untuk Author ya...
biar Author ngetiknya semangat!
pada tahu caranya kasih poin kan ya...
__ADS_1