Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Mutia


__ADS_3

๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Intan memandang kerumunan orang yang hadir dalam acara 7 bulanan kak Tia dalam diam, tak sedikit pun senyum terpancar diwajah cantiknya. Sebenarnya, ia enggan hadir di sini, disamping ada saja yang dengan sengaja mengatakan hal-hal menyakitkan padanya, ada juga orang yang sengaja dihindarinya, contohnya, Papanya.


Intan sangat membenci Papanya, melihat Papanya saja sudah membuatnya sakit hati. Ia masoh tak bisa memafkan perbuatan Papanya yang membuang putrinya karena malu dengan apa kata orang. Bahkan sekarang, demi sebuah reputasi, Papanya tega membuang cucunya. Kenapa bisa ada orang sedemikian tak berperasaan?


Intan melangkah memasuki ruangan sambil berpura-pura tak peduli dengan sekitar, ia datang untuk kak Tia, Mas Eka dan untuk si kecil Adam, kali ini Adam telah berusia 5 tahun dan Adam akan punya adik, andai Adam tahu ia juga punya adik sepupu yang lain, apakah Adam juga akan sebahagia ini? Adam terlihat sibuk bermain dengan teman-teman kecilnya yang lain. Banyak tamu hadir yang tentunya kebanyakan orangtua teman sekolah Adam. Para orang tua kaya pada dasarnya memperkenalkan anak-anaknya pada lingkungan kaya juga.


Intan mengelus perutnya dalam diam, ada rasa perih kehilangan mereka , apalagi yang merasa kehilangan hanya dia seorang. Papa benar-benar menutup rapat kisahnya, sehingga tak ada media yang tahu apa yang terjadi padanya terakhir ini. Orang hanya tahu kisah pernikahan singkatnya. tak ada yang tahu bahwa pernikahan singkat itu membawa buah keturunan Wibowo. Andai media tahu pasti saham PT Wibo akan terjun bebas.


Pak Wibowo terlihat tersenyum bahagia. Mungkin inilah kehidupan yang di inginkan Papanya, punya anak lelaki dan menantu perempuan dari keluarga kaya. dikelilingi cucu yang tertawa menggemaskan.


"Aish.... apakah aku sungguh iri dengan itu? aku tidak iri dengan ini, Mas Eka sudah kuanggap kakak kandungku sendiri. Kebahagiaan Mas Eka, kebahagiaanku juga," gumam Intan.


Meski Intan mengaku tak iri. Tak disangka air mata tetap menggenangi pelupuk matanya, sejujurnya bukan Intan iri dengan kakaknya, tapi Intan sakit hati dengan nasib anaknya, anaknya yang bahkan belum lahir pun sudah tak diinginkan. Jalan terbaik untuk saat ini adalah membiarkan anak kandungnya hidup bersama Rayan, setidaknya anaknya akan dicintai oleh Papanya. Ia menyadari bahwa ia belum cukup kuat untuk menjaga buah hatinya.


Untuk menjaga kesehatan mentalnya sendiri, Intan hanya muncul sekilas, menyalami kak Tia dan Mas Eka, lalu diam-diam pamit pulang ke apartemennya.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


~maaf, ada kelas yang harus ku hadiri~


Eka menghela nafas berat membaca pesan singkat dari adiknya. Eka tahu tak ada kelas hari ini, karena Ekalah yang memilih hari ini supaya Intan bisa hadir.


"Ada apa sayang?" tanya istrinya. Mutia Anggraini Kusuma adalah istri Eka, putri bungsu keluarga Kusuma, pemilik saham toko retail yang tersebar dibanyak wilayah di Indonesia.


Anak lelaki dari pemilik perusahaan makanan, PT. WIBO, bersanding dengan anak perempuan pemilik saham retail, bukankah mereka pasangan yang sempurna, yang satu tampan, yang satu cantik, mereka berdua juga pasangan yang saling mencintai. Keharmonisan mereka membuat iri siapapun yang melihatnya.


"Tak apa, mungkin ia agak kurang nyaman, bagaimanapun juga ia baru saja kehilangan buah hatinya, sejujurnya ia sudah menyempatkan datang sudah suatu kebahagiaan bagiku," jawab Tia menenangkan.


"Terimakasih, kamu sungguh pengertian dan baik hati," kata Mas Eka sembari mendaratkan kecupan dikening istrinya. fotografer yang disewa dan tak sedikit para wartawan mengabadikan momen ini. Tak banyak wartawan yang datang, karena yang datang hanya wartawan yang memenangkan kontrak eksklusif yang bisa meliput acara ini.


Ada cerita dibalik Mutia yang penurut saat ini, tak ada yang tahu kalau ia dan Ekaย pernah mempertaruhkan pernikahan mereka karena Intan. Eka dari sejak Intan lahir, sudah dididik mendahulukan kepentingan Intan lebih dari apapun, bahkan dari kepentingan Eka sendiri .


Di awal pernikahan sangat sulit bagi Mutia untuk memahami itu, Mutia adalah anak bungsu dari keluarga kaya, semua hal tentangnya, tentunya yang paling utama. Tapi ia dihadapkan dengan suami yang menomorduakan segala urusannya. Kalau bukan karena cinta Mutia yang sangat besar masalah ini mungkin akan berakhir di meja perceraian. Eka yang dari kecil dididik untuk membalas budi pada orang tua angkatnya dengan cara menjaga dan menyayangi adik angkatnya, hal itu bukanlah suatu yang bisa dengan mudah dirubahnya. Akhirnya Mutia menyadari satu hal bahwa menjadi istri seorang Eka Wibowo sama saja menanggung beban tanggungjawab suaminya, jika memang Intan adalah prioritas Eka, maka Intan adalah prioritas Mutia juga.

__ADS_1


Titik balik bagi Mutia menyadari hal itu adalah sejak kasus pernikahan singkat Intan dan Rayan. Mutia semakin menyadari arti menjadi seorang kakak. dan ia secara tulus bersimpati atas peristiwa yang terjadi pada Intan. Jika ia berada diposisi Intan, tak tahu apa yang akan dilakukannya, mungkin sudah dari awal ia akan menyerah, tapi Intan sungguh pribadi yang kuat. Ia berdoa dengan tulus semoga hal baik akan menyapa Intan suatu saat hari.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Intan tiba di apartemennya dengan wajah tertekuk sedih. Meski sudah beberapa bulan berlalu namun mengingat anak yang dilahirkan Intan yang bahkan belum pernah dilihatnya membuat hatinya teriris sedih. Anaknya sangat tidak beruntung. Apakah dulu melahirkannya adalah sebuah pilihan yang baik? pikir Intan galau. Namun, ia lantas menepis keraguannya sendiri. Tak ada yang buruk dengan pilihannya.


Anakku, meski seluruh dunia tak mengakuimu, mama yakin dengan pasti bahwa Papa Rayan akan menjaga kalian dengan sepenuh hati.


Anakku, tunggu Mama menjadi kuat, mama akan mencarimu, nak. Apapun itu, Mama akan berkorban segalanya untukmu anakku.


Intan lantas menghapus air matanya, menangis tak akan mengubah keadaannya. Ia pun berkutat dengan laptopnya, Ia mempelajari lagi seni menggambar yang dulu sempat di pelajarinya. Meski, intan bukan kategori berbakat namun ia yakin dengan berusaha ia akan mampu mendesign sendiri. Atau paling tidak, dengan terjun dibidang ini secaralangsung, ia bisa menemukan designer berbakat yang bisa bekerja untuknya nanti. Intan tak akan melewatkan apapun, selama ia masih sanggup mengusahakannya, ia akan terus berusaha. Sebenarnya tekad ini juga dipelajarinya dari Rayan, Rayanlah yang mengajarinya menjalankan bisnis pertamanya.


Intan menargetkan 5 tahun untuk mempersiapkan semua hal, sekolah bisnis, sekolah seni perhiasan dan design, ia bertekad memulai bisnisnya sendiri. Mas Rayan, kuharap kamu bisa menjaga anak kita sampai hari itu tiba.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


p

__ADS_1


__ADS_2