Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Bocah yang ditemukan


__ADS_3

🌺🌺🌺


Suasana rumah sakit terlihat lengang karena hari sudah malam, tak banyak orang yang lalu lalang di koridor rumah sakit, lorong-lorong tampak sepi. Tapi tidak dengan kamar rawat Ruby, suara erangan memecah kesunyian malam. Gadis itu terus saja mengerang dalam tidurnya dan demamnya pun tak kunjung membaik. Kedua orang tuanya tampak khawatir dan menunggui gadis itu di samping ranjang. Padahal obat-obatan sudah disuntikkan melalui selang infusnya tapi seolah obat itu sama sekali tak bereaksi padanya.


Intan dengan sabar mengganti kompres di kening putrinya. Sedangkan Rayan memegang tangan putri kecilnya sambil mulutnya komat-kamit membaca doa. Mereka belum menemukan Putranya dan sekarang Putri mereka pun tengah terbaring sakit, sungguh cobaan yang menyakitkan bagi orang tua jika itu menyangkut keselamatan buah hati.


“Kakak...,” racau Ruby.


Intan tak kuasa menahan air matanya yang berlinang, ia sedih melihat kondisi Ruby. Ia salah kira, ia dan Suaminya merasa paling kehilangan Rudy tapi agaknya bukan hanya mereka saja yang kehilangan Rudy, malahan bisa dikatakan Ruby lah yang paling kehilangan dengan kepergian saudara kembarnya itu.


Mereka adalah saudara kembar yang terbiasa bersama, melakukan semua hal bersama, bermain bersama, saling berbagi tawa maupun duka. Saudara kembar biasanya punya insting yang kuat dan ikatan batin yang lebih erat lebih dari saudara kandung biasa. Ketika salah satunya pergi pasti salah satunya kehilangan, bila salah satunya sakit maka salah satunya akan merasakan, dalam kasus yang sering terjadi beberapa anak kembar bahkan sering sakit secara bersamaan. Tiba-tiba Intan teringat akan sesuatu.


“Mas, apakah biasanya si kembar selalu sakit bersamaan?” tanya Intan memastikan kecurigaannya.


Rayan sedikit terkejut dengan pertanyaan istrinya, ia ingin menutupi ini tapi ketika Intan terlanjur bertanya, ia tak mungkin menutupinya lagi. Ia pun mengangguk mengiyakan.


Intan menutup mulutnya tak percaya. Apakah saat ini Rudy tengah sakit?


“Mas, apa yang terjadi pada Rudy saat ini?” tanya Intan. “Apa mungkin saat ini terjadi sesuatu pada Rudy? Apa itu berarti saat ini Rudy juga tengah sakit?” tangis Intan pecah. Dulu keluarganya membuat pusara untuk Rudy padahal anak itu masih hidup. Apakah saat ini mereka akan membuat pusara sungguhan untuk Putranya. Ia tak terima, hatinya sedih memikirkan itu. Tuhan, berikan pertolonganmu. Selamatkan putra hamba, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya, doanya dalam hati.


Rayan ikut menangis, betapa mahal harga yang harus ia bayar untuk sebuah kebersamaan. Apakah dosanya belum akan diampuni? Mengapa keluarganya harus menanggung semua kesakitan ini. Salah satu anaknya dibawa penculik, satu anaknya lagi sakit, dan Istrinya menangis pilu di hadapannya, dan ia sebagai kepala keluarga yang berjanji untuk menjaga mereka tidak bisa melakukan apa-apa.


Sementara nun jauh di sana di sebuah puskesmas kecil di Pulau Kalimantan, seorang bocah lelaki tak dikenal tengah terbaring meregang nyawa, beberapa perawat mengelilinginya. Seorang polisi menunggu di luar ruangan dengan bosan karena ia telah datang namun bocah yang ditemukan para nelayan itu belum bisa dimintai keterangan karena sedang kritis.

__ADS_1


“Pak Sobri, ini sudah dini hari sebaiknya Bapak beristirahat. Kondisi anak ini belum ada tanda membaik. Anda bisa kembali keesokan harinya, atau jika ada kabar lebih lanjut aku akan mengabari bapak,” ujar seorang perawat. Sepertinya Pak Sobri cukup terkenal dan sering ke puskesmas.


Pak Sobri mengangguk, ia sudah lelah. Lagi pula jarak puskesmas dari kantor polisi cukup dekat. Akhirnya Pak Sobri memilih undur diri dan kembali ke kantor polisi.


Sedangkan para nelayan yang menemukan bocah lelaki itu masih nongkrong di warung kopi dan membahas identitas si bocah dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Suasananya ramai dengan suara riuh rendah para nelayan yang bercerita dan saling menimpali satu sama lain. Para penikmat kopi lainnya tampak ikut nimbrung untuk mendapatkan info seakurat mungkin. Bahkan pemilik warung yang biasanya lebih memilih tidur tampak hilang kantuknya karena berita heboh ini.


“Bocah itu selamat?” tanya Pak Gun, pemilik warung.


“Tentu saja. Tapi apa kamu tahu awal mula ditemukan? saat itu tubuhnya keriput karena terlalu lama terendam oleh air, wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Siapa pun pasti mengira bocah itu telah meninggal. Tapi Pak Hasan malah menyuruh Samsul untuk memeluk tubuh itu, hi...” cerita Somad, salah satu awak kapal sambil bergidik ngeri membayangkan memeluk bocah yang telah meninggal. Pak Hasan adalah pemilik kapal, jadi kata-kata yang diucapkannya mungkin sedikit tak bisa ditolak.


“Kenapa Pak Hasan menyuruh Samsul?” tanya yang lain.


“Karena Samsul yang paling gemuk di antara kami,” ujar awak yang lain. “Pak Hasan percaya bocah itu belum meninggal, hanya kedinginan. Padahal kalau aku melihatnya, bocah itu sudah dalam keadaan meninggal.”


“Tapi Pak Hasan benar, setelah kami mengganti bajunya, dan membiarkan Somad memeluknya, secara ajaib bocah itu kembali bernafas. Dan kami bergegas kembari ke daratan dengan mengebut,” sambung yang lain.


“Di kantor polisi.”


“Wah...” semua orang langsung berpikir tidak-tidak.


“Lalu bocah itu sekarang di man?” tanya yang lain.


“Di puskesmas.”

__ADS_1


“Bagaimana kondisinya?”


“Kritis”


“Kira-kira siapa bocah itu sebenarnya? Apakah tidak ada yang melaporkan kehilangan seorang anak?”


“Tidak ada. Lagi pula sepertinya bocah itu terlihat seperti anak orang kaya, tapi baju yang dikenakannya terlihat seperti gembel.”


“Pasti anak itu korban penculikan lalu dijual,” ujar Haris menebak-nebak. Semua orang langsung menoleh ke arahnya dengan melotot saat mendengar tebakannya, Haris terlihat bingung ditatap banyak orang. “kan mungkin saja,” ujarnya membela diri, ia hanya sekedar asal ucap saja. Haris terlihat yang paling muda di sana, jadi orang-orang mungkin menganggap pendapatnya terlalu konyol karena sudah terkontaminasi drama-drama televisi.


“Padahal bocah itu terlihat tampan,” ujar Somad.


“Apakah ada fotonya?” tanya Haris penasaran. “Kita bisa menaruhnya di fbook jadi siapa pun yang merasa kehilangan anaknya bisa melapor polisi.”


“Aku punya, tadi seseorang mengirim fotonya di grup wasap awak kapal,” ujar Somad sambil menunjukkan ponselnya.


Terlihat seorang bocah dalam pelukan seorang bertubuh tambun yang diduga Samsul, seperti yang diceritakan tadi. Di foto kedua terlihat fokus ke anak tersebut. Matanya terpejam, dengan kulit pucat dan bibir yang biru, namun hidungnya yang mancung membuat visual tampannya tak terbantahkan, bocah ini terlihat seperti boneka. Rambutnya yang sedikit menyembul dibalik kain sarung yang digunakan untuk menghangatkannya, membuatnya terlihat seperti tengah tidur dalam dekapan Ayahnya.


“Iya, bocah ini tampan sekali. Kasihan sekali orang tuanya. Haris coba kau kirim ke fbookmu itu siapa tahu viral dan orang tua atau keluarganya bisa mengenalinya,” usul Pak Gun yang diamini oleh banyak orang.


“Baiklah aku akan mengirimnya di fbook. Tapi biasanya orang-orang mengunggah yang viral itu lewat titter, tapi aku tak punya titter,” jawab Haris.


“Mbok ya daftar, apa tak kasihan dengan anak ini,” sahut Somad. Menurut mereka Haris yang masih muda adalah orang yang paling mengerti tentang sosial media.

__ADS_1


Haris sedikit mesem karena para bapak ini tak tahu maksudnya, bukan ia tak kasihan tapi ya sudahlah, apa salahnya daftar. Akhirnya Haris mengirim informasi itu ke Fbook dan titter yang baru didaftarkannya. Ia berharap informasinya diviralkan dan orang tua bocah ini bisa bertemu dengan anaknya lagi.


🌺🌺🌺


__ADS_2