
🌺🌺🌺
Intan memimpin rapat perencanaan peluncuran brand perhiasannya dengan kepala sedikit tertekuk. Semua terlihat sesuai rencana dan tak ada kendala berarti dalam peluncuran ini. Tapi kendala justru timbul seusai peluncuran, bahan baku berkualitas telah dimonopoli perusahaan Daisuke.
"Kita harus meluncurkan brand lebih dulu, masalah bahan baku kita urus belakangan." kata intan akhirnya, sembari membubarkan rapat. Tidak mungkin mereka memundurkan jadwal peluncuran yang telah di persiapkan sedemikian lama hanya demi ini. Ia memijit-mijit keningnya karena bingung.
"Nathan, menurutmu mengapa perusahaan Daisuke berlaku sperti itu. Menurutku perusahaan itu tak cukup besar untuk memonopoli bahan baku terbaik."
"Perusahaan Daisuke telah menerima investasi dalam jumlah besar dari anonim. Dari sanalah sumber dana perusahaan Daisuke memonopoli bahan baku." terang Nathan.
"Hmmm, spertinya batu terjal selalu hadir di awal, ya. Oke tak masalah . Tolong kirim permintaan bertemu pada asistennya, aku ingin memberikan undangan peluncuran brand secara pribadi dan berbicara dengan pemimpinnya. Sepertinya kita harus bernegosiasi mengenai masalah ini."
"Baik. Tapi..." jawab Nathan. Namun, sepertinya Nathan hendak menyangkal sesuatu, tapi ia tak yakin harus mengatakannya atau tidak.
"Ada apa?" tanya Intan lagi tanpa menoleh dan masih sibuk memilah-milah berkas.
"Ah, bukan apa-apa" Jawab Nathan serba salah sambil buru-buru kabur.
"Katakanlah" Perintah Intan yang kali ini dengan sungguh-sungguh meninggalkan apa yang si kerjakannya dan fokus memandang Nathan.
"Pemimpin Daisuke company, Anton Daisuke adalah orang yang terkenal playboy, brengsek, dan suka menghalalkan segala cara. Kumohon jangan berurusan dengannya. Aku tahu meski perusahaan akan kesulitan tanpa bahan baku itu. Tapi pasti ada cara lain. Ku mohon sebaiknya pikirkanlah cara yang lain." Jawab Nathan jujur. Sebagai orang awam yang baru terjun pada bidang asisten. Rumor yang sampai di telinganya sangatlah mengerikan.
"Kita bahkan belum mencobanya. Kita coba saja dulu bertemu baru kita putuskan apakah kita akan cocok bekerja sama atau tidak." Jawab Intan bijak. "Oia, Setelah istirahat makan siang. Antarkan aku ke Hotel Sari,"Â Hotel Sari adalah tempat diselenggarakannya pembukaan brand milik intan. Intan membutuhkan penyesuaian terakhir sebelum acara berlangsung.
"Baik," Jawab Nathan sambil undur diri.
"Hm, semoga nanti peluncuran brandnya lancar tanpa kendala. Semoga saja," doa Intan.
🌺🌺🌺
"Maaf, aku terlambat" hanya kata itu yang bisa diucapkan Intan tatkala ia masuk ke kamar reservasi restoran yang sedianya sebagai tempat baginya menjamu Anton Daisuke, CEO Daisuke company.
Intan mengulurkan tangannya menyalami pria yang duduk di depannya. Tapi alih-alih menyambut uluran tangannya, yang ada malah Sania, asisten Anton yang berdiri menyambut uluran tangannya. Ketika ia kemudian mengulurkan tangannya pada Anton, pria itu malah memandang wajahnya terlebih dulu baru menyambut uluran tangannya. Senyum mengembang diwajah Anton saat tangan mereka bersentuhan. Intan sedikit bergidik, dalam moment ini, ia paham kenapa Nathan melarangnya bekerjasama dengan Anton, pria dihadapannya ini barusan tersenyum seperti iblis dengan wajah berkedok malaikat.
__ADS_1
Bagaimana tidak, pria didepan Intan usianya baru diawal 30-an, wajah tampannya terlihat sangat tegas dan keras, tubuhnya tinggi maskulin dengan bahu yang bidang dan lebar, dengan melihatnya saja Intan yakin pria ini menghabiskan lebih dari satu jam perhari ditempat gym. Meski terlihat garang, aura garangnya sedikit tertutupi dengan kesan rapi yangdimunculkan oleh tampilannya, Anton terlihat memakai setelan jas hitam yang pasti dibuat khusus untuknya, ditambah style rambutnya yang trendi, lengkap sudah sosoknya seperti seorang model yang baru keluar dari sesi pemotretan majalah fashion.
Intan berdehem membuyarkan lamunan anehnya sendiri. Kali ini Nathan menolak ikut jamuan, Nathan hanya mengantarnya dan memilih menunggu di luar, ia sedikit memaklumi karena Nathan sebenarnya menolak pertemuan ini. Tapi untuk berjaga-jaga Nathan tetap akan mengikutinya tanpa ikut masuk ke ruangan yang sama. Bahkan Nathan newanti-wanti pertemuan ini tak boleh lebih dari 15 menit.
"Perkenalkan saya Intan Dwi Wibowo, pekan depan perusahaan kami akan mengadakan peluncuran brand perhiasan, sebagai orang yang sangat berpengaruh dibidang perhiasan saya mohon kehadirannya pada acara perusahaan kami," Kata Intan to the point sambil menyodorkan undangan ke arah Anton.
Sania dengan cekatan mengambil undangan yang disodorkan Intan. Ia menyerahkan undangan yang telah di bukanya dan menyerahkannya pada Anton untuk dibaca. Anton hanya membacanya sekilas sambil menyesap wine ditangannya.
"Baiklah, aku akan hadir," jawab Anton akhirnya. Tatapannya intens memandang Intan seolah ingin menelanjanginya. Malam ini Intan yang mengenakan setelan jas warna navy nampak tak nyaman di
pandang sedemikian rupa oleh Anton, sudah lama ia tak merasakan perasaan takut seperti ini.
"Terimaksih," jawab Intan pendek. Kali ini Intan hendak bersiap membahas terkait monopoli bahan baku oleh perusahaan Daisuke tapi lantas disela oleh Anton.
"Silakan minumannya. Jika tak keberatan karena wine ini memang sedikit keras. Aku yang memilihnya sembari menunggumu tadi," kata Anton sembari menuangakan segelas wine dan menyerahkannya pada Intan.
Karena Intan mengerti kesalahannyalah membuat Anton menunggu maka ia pun menerimanya, hitung-hitung sebagai permintaan maaf karena datang terlambat. Nathan menghilangkan kontak mobilnya sehingga mereka berakhir dengan meminjam mobil seorang karyawan yang lain, itulah alasannya terlambat hadir malam ini.
Intan menyesapnya perlahan. Rasa manis menyeruak di mulutnya, sedikit rasa sepat dan pahit dibagian akhir, aromanya juga luar biasa. Anton memang ahli memilihnya, dan pastinya harganya sangat mahal.
"Wine yang nikmat," komentar Intan, kali ini ia sudah lebih rileks.
Anton tak menjawabnya hanya memasang senyum ramah di wajahnya sambil menunggu obat dalam wine-nya bekerja. Bahkan jika tanpa obat, wine ini cukup untuk membuat gadis kecil didepannya mabuk dalam satu gelas. Namun Anton tentunya tak mau ambil resiko, ia ingin Intan tidur dengan cepat meski hanya minum satu tegukan.
Intan mengerjap-ngerjap, matanya mulai terasa berat. Intan tak yakin apakah ia sudah mulai mabuk. Senyum Anton di depannya terlihat lebih ramah dari sebelumnya. Perasaanyakah? batin Intan bingung.
"Ah, maaf sepertinya aku sedikit mabuk, kita lanjutkan perbincangan ini lain kali," pamit Intan cepat. Ia harus segera menghubungi Nathan sebelum ia benar-benar mabuk dan tak ingat apa pun. Ia segera memencet panggilan cepat, untung saja ia sudah menyimpan nomor Nathan sebagai panggilan cepatnya. Kalau itu adalah nomor Kakaknya, maka ia harus siap mendapatkan kuliah umum yang tak akan ada jeda sampai seminggu.
"Cegah dia!" perintah Anton pada Sania. Tapi untung saja panggilan itu sudah sampai pada Nathan sebelum Sania mencapai kursi Intan. Nathan telah lebih dulu tiba dengan ekspresi marah yang ditahan. Nathan telah berdiri didepan pintu yang terbuka lebar.
"Saya asisten Ny. Intan, biar saya yang mengurusnya,"kata Nathan, dengan sekali gerakan Nathan telah memindahkan Intan dilengannya. Tanpa menunggu persetujuan Anton, Nathan menjangkau tas slempang Intan dan membawanya keluar dari ruangan. Pintu otomatis tertutup begitu Anton keluar ruangan.
"Cari tahu tentang asisten itu!" perintah Anton marah sembari menenggak habis minumannya. Ternyata ada saja gangguan yang tidak di nginkan, sepertinya besok ia harus lebih berhati-hati.
__ADS_1
🌺🌺🌺
Susana malam peluncuran brand perhiasan Intan sangat meriah karena orangtua Intan orang lama dalam bidang bisnis jadi tak sedikit kolega orangtuanya yang datang. Kamera wartawan tak henti-henti menyorot banyak tamu yang hadir.
Perhiasan yang dipamerkan juga menuai banyak decak kagum disamping designnya yang spesial. Material yang di gunakan Intan adalah material langka. Ia memang sengaja membidik kalangan menengah ke atas. Perhiasan yang tak hanya indah tapi juga bernilai investasi tinggi.
Semua orang penting telah hadir dan duduk dikursinya masing-maisng. Intan segera meminta pada panitia supaya acara segera dimulai. Ia sangat senang dengan banyaknya tamu yang hadir karena semua orang penting ini akan membuat review yang bagus untuk perhiasannya.
Musik pengiring berhenti digantikan seorang wanita elegan yang menjadi pembawa acara pada malam ini.
"Malam ini kita sungguh berbahagia dapat menjadi saksi berdirinya brand perhiasan yang akan menjadi trend global. Perhiasan yang tak hanya menonjolkan nilai-nilai keindahan tapi juga mengangkat kearifan lokal. Brand ini akan menonjolkan penggunaan batu berharga khas Indonesia. Mari kita sambut Nyonya Intan Dwi Wibowo. Owner sekaligus tuan rumah acara peresmian brand perhiasan Ruby's Diamond. Silakan nyonya Intan untuk memberi sambutan," pembawa acara mempersilakan Intan naik ke panggung.
Intan yang sudah berdiri disamping panggung keluar dengan elegan. Malam ini Intan sengaja mengenakan gaun malam model mermaid berwarna Burgundy off shoulder yang mewah, kerah v sengaja dipilih Intan untuk memamerkan koleksi kalung yang menjadi ikon acara malam ini.
Paduan mutiara dan batu Ruby berkualitas dari Mogok Valley, Myanmar, hasil perburuan Intan bersama seorang temannya di pasar Mandalay telah membentuk sebuah kalung indah yang tak ternilai harganya. Batu ruby berbentuk tear drop ini terlihat sangat pas berada didadanya, seakan bersinar membawa aura kesuksesan malam ini. Sedangkan rangkaian batu intan membentuk lingkaran kalung yang menghiasi tulang selangka Intan yang mempesona.
Intan berusaha keras membentuk tubuhnya demi terlihat sempurna untuk acara ini. Malam ini hasil kerja kerasnya terpahat indah dibalik gaun mermaid yang dibuat khusus untuknya, semua pandangan seakan terpaku pada Intan. Satu set anting dan gelang melengkapi penampilan Intan malam ini, membuatnya menjadi manekin hidup yang menakjubkan.
Intan merapikan rambut pendeknya sambil tersenyum menyapa tamu undangan, "selamat malam kepada semua tamu undangan yang berkenan hadir dalam rangka pembukaan dan peluncuran perdana koleksi Ruby's Diamond. Kelak Ruby's Diamond akan ikut serta memajukan kearifan lokal ke tingkat Internasional, terimaksih," ucap Intan mengakhiri pidatonya disambut tepuk tangan gegap gempita para hadirin.
Panitia meminta Intan maju kedepan untuk melakukan prosesi gunting pita. Ia sudah memegang gunting hendak memotong pita warna putih didepannya. Namun, hiruk pikuk dipintu masuk membuatnya sedikit terganggu dan mengalihkan pandangannya untuk melihat keributan yang terjadi.
Seorang pria tampan memasuki ruangan diikuti para wartawan yang heboh mengambil gambar. Anton Daisuke memasuki ruangan dengan percaya diri, senyum profesional tersungging dibibirnya kala ia melihat Intan berdiri ditengah ruangan membawa gunting hendak memulai prosesi. Intan sedikit kecewa moment pentingnya terganggu dengan kehadiran makhluk ini. Tapi tanpa disangka Anton tidak duduk dikursi melainkan langsung mengarah kearahnya.
Intan sedikit terkejut melihat kelakuannya. Apa yang di rencanakan pria ini di acara pentingnya? batin Intan kesal.
Anton langsung menuju kesamping Intan, tangannya memegang tangan Intan yang masih memegang gunting. Dengan cepat dan luwes, ia memeluk Intan dari belakang sementara tangannya menyatu dengan tangan Intan, lantas tanpa aba-aba ia memotong pita dengan tangannya dan tangan Intan bersama. Intan mengepalkan tangannya marah.
"Tersenyumlah, aku membantumu membuat berita besar. Kau tak akan mau wajahmu terlihat cemberut disampul utama bukan," bisik Anton.
Intan mau tak mau tersenyum meski dalam hati ingin menangis,coba ia percaya Nathan dari awal, hal sperti ini tak akan terjadi. Sekarang setelah nasi menjadi bubur apa yang akan dilakukannya untuk mengklarifikasi semuanya, ia berharap Rayan dan putrinya tidak melihat ini.
🌺🌺🌺
__ADS_1