Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Masa Lalu 2


__ADS_3

๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Buagh... Buagh....


Suara Rayan meninju samsak terdengar nyaring mengisi keheningan penthousenya. Ia ingin melepas semua tekanan dan rasa tertekan atas kejadian hari ini. Semua hal berkecamuk dalam benaknya, dengan peluh mengucur Rayan menatap nanar poster seorang gadis yang tercetak besar di dinding ruang pribadinya.


Potret seorang wanita yang rambut panjangnya terurai lembut dengan latar suasana dermaga sore. Segelas cangkir minuman didepannya nampak mengepul. Pupil matanya yang hitam legam menyesatkan Rayan dalam kerinduan setiap kali ia memandang pesonanya. Senyuman gadis itu amatlah manis memabukkan, apalagi Rayan tahu senyuman saat foto ini di ambil ditujukan untuknya. Foto ini adalah foto terakhir pertemuan mereka sebelum menikah. Dialah gadis yang mencuri hatinya, Intan.


"Intan... Di mana kamu?" tangis Rayan pecah sambil menggumamkan nama Intan dengan lirih. Meskipun ia pemuda yang kuat, tapi ia tak kuasa menahan rasa sedihnya akibat keputusannya bermain cinta. Ibarat jika bermain api, makan ia akan terbakar. Sekarang ia terbakar oleh cintanya pada Intan. Api cinta yang menggerogotinya dari dalam.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Rayan bergegas memacu kendaraanya dengan kecepatan penuh. Ia baru saja mendapatkan berita dari informannya bahwa ayah kandungnya meninggal. Pria yang dibencinya karena menyakiti lbunya telah meninggal. Ada sedikit senyum tersungging dibibirnya. Ia harus menyaksikan sendiri pemakaman keparat tua itu.


Ayah yang selama ini telah dianggapnya mati telah menyerah dengan penyakitnya. Rayan tak perlu menjenguk Ayahnya saat sakit. Ia hanya perlu pergi ke pemakamannya.


Proses penguburan hampir selesai saat Rayan tiba. Ia hanya berdiri di kejauhan dengan kaca mata hitam dan setelan jas yang rapi. Bukankah anakmu terlihat keren, batin Rayan mencemooh.


Tapi saat para pelayat telah pergi, Rayan tak kuasa beranjak dari tempatnya. Terbersit dalam memorinya sekelebat kisah-kisah saat dirinya kecil dan kebahagiaan sederhana yang dilakukan ayahnya saat itu. Saat Ayahnya mengajarinya naik sepeda setiap sore sepulang kerja, tak peduli badannya yang lelah hanya demi Rayan kecilnya. Ayah juga yang menungguinya saat sakit, menjaganya sampai tak tidur. Ayah yang tak pernah absen membacakan dongeng dan menemaninya sampai tertidur. Semua kisah-kisah kecil yang terlalu biasa bahkan Rayan sendiri telah melupakannya. Kisah indah itu telah tertutup oleh kejamnya prilaku ayah pada Ibunya.ย Saat ini bayangan nostalgia itu menari-nari dipelupuk matanya. Sampai ia tak kuasa menahan kakinya untuk tak melangkah ke pusara Ayahnya.


Rayan berdiri mematung saat kakinya sampai di kuburan Ayahnya yang masih merah. Air mata mulai menggenangi matanya. Ia menghela nafas panjang, ia tak ingin menangis. Bukankah disini ia sedang bahagia menyaksikan orang yang dibencinya meninggal untuk selamanya.

__ADS_1


Kali ini Rayan mempertanyakan batinnya sendiri. Apakah ia benar benar bahagia dengan kematian Ayahnya ataukah justru ia bersedih. Ternyata saat ini Rayan tahu ia merasa sungguh menyesal dan berduka.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Setelah mematung beberapa lama dalam keheningan, Rayan lalu berjongkok merapikan bunga yang berserakan di kuburan Ayahnya, ia menghela nafas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya lalu melangkah pergi dan berlalu. Rayan melangkah menuju mobilnya dengan pikiran yang berkecamuk, sehingga tak menyadari bahwa seseorang mengikutinya.


Rayan tiba tiba menghentikan langkahnya ketika ia menyadari ada seseorang dibelakangnya lewat pantulan kaca mobilnya, terlihat seorang wanita tua tergopoh gopoh berjalan ke arahnya. Rayan diam terpaku. Meskipun gambar pantulannya tak jelas, Rayan tahu siapa yang datang ke arahnya.


"Nak Yayan..." Panggil Bude Siti. Bude Siti adalah kakak dari Ayahnya.


"Benarkah itu kamu?" Tanya Bude Siti memastikan saat Rayan tidak menjawab panggilannya.


Bude Siti berpawakan kecil dan sedang. Dulu wajahnya sangat cantik seperti wanita jawa pada umumnya. Namun sekarang wajah cantiknya semakin menua, wajahnya sudah penuh dengan keriput dan postur tubuhnya sudah sedikit membungkuk.


"Apa kabar Bude Siti?" Tanya Rayan sembari tetap diam ditempat dan hanya mengangguk sopan. Rayan sengaja tidak mendekat untuk berjabat tangan dan mencium punggung tangan Budenya.


Bude Siti yang lama tak menjumpai keponakannya, hanya bisa memandang keponakaannya dengan mata rabunnya. Bude Siti melihat keponakannya telah tumbuh menjadi sangat tinggi dan tampan. Ada rasa sedih karena Yayan tak hanya membenci Ayahnya tapi masih membencinya juga.


"Nak apa kau masih membenci Ayahmu?" tanya Bude Siti saat mereka sudah ada di kafe tak jauh dari pemakaman.


Rayan tak kuasa menjawab hanya mengangguk.

__ADS_1


"Bude minta maaf baru bisa menceritakan kisah ini padamu. Bude menunggumu menjenguk Ayahmu. Namun, bude tahu itu tak mungkin terjadi. Kisah ini akan membantumu untuk memaafkan dan tidak saling menyalahkan"


"Kisah ini dulu sekali sebelum Ayah dan Ibumu bertemu. Sebenarnya dulu Ibumu mempunyai kekasih, yang tampan, sederhana, dan pekerja keras namun dari kalangan biasa. Lelaki itu berusaha keras untuk menjadi sepadan dengan Ibumu, tapi itu tak cukup bagi keluarga Ibumu. Akhirnya, demi memisahkan Ibumu dan kekasihnya. Dimulailah kesalah pahaman itu, seorang membisiki Ibumu bahwa kekasihnya telah menyerah akan dirinya dan bertunangan dengan gadis kaya yang lain. Mereka mengatakan bahwa pria itu tak benar-benar memilih Ibumu karena cinta tapi karena harta," kata Budhe Siti sambil menghela nafas panjang, sepertinya berat baginya mengisahkan ini.


Rayan menyimak dengan teliti. Mungkinkah kekasih Ibunya yang di maksud adalah Pak Wibowo, Papa Intan.


"Tentu saja Ibumu tak serta merta percaya. Ternyata yang di hasut tak hanya Ibumu tapi juga pria itu. Bisik-bisik sampai di telinga kekasihnya bahwa Ibumu menyerah pada hubungan ini dan memilih untuk menerima perjodohan dengan pria kaya yang lain. Tentu saja Ibumu dan pria itu tak langsung percaya. Akhirnya dua sejoli itu memutuskan bertemu. Hanya saja waktu pertemuan itu dirubah oleh pelayan yang menyampaikan pesan. Alhasil meski mereka berdua datang tapi mereka tak bisa bertemu. Pria itu menunggu Ibumu semalaman sampai pagi dan Ibumu tak kunjung datang dan Ibumu menunggu dari pagi sampai malam tapi kekasihnya juga tidak datang. Itulah akhirnya mereka berdua mempercayai gosip itu."


"Pria yang patah hati itu, akhirnya menemukan seseorang yang lain. Ibumu yang mendengar pria itu menikah dengan gadis lain, benar-benar depresi dan menjadi gila. Ia dirawat di rumahsakit. Ayahmu yang waktu bekerja di rumahsakit jatuh cinta pada Ibumu. Ia merawat Ibumu sampai sembuh dan menikahinya. Tentu saja keluarga Ibumu memperbolehkannya, karena bagi mereka Ibumu sudah seperti Aib keluarga. Demi menjauhkannya dari pengaruh buruk, Ayahmu menetap di daerah yang tenang jauh dari hiruk pikuk dan kalian hidup bahagia."


"Petaka selanjutnya bermula saat seseorang mengatakan bahwa Ibumu berselingkuh. Ayahmu tak lantas percaya, ia kemudian menelusuri masa lalu Ibumu. Namun suatu saat Ayahmu melihat Ibumu dan kamu turun dari sebuah mobil mewah, waktu itu Ema masih masih dalam kandungan. Ayahmu yang posesif dengan cintanya mulai marah marah dan menyakiti Ibumu agar tak berpaling. Bude yang tak tega pada kemalangan kalian berupaya supaya Ibumu bisa terlepas dari Adikku. Setelah lepas kalian terbang bagai burung yang lepas dari sangkarnya, kalian bertiga pun menghilang."


"Ayahmu akhirnya menyesal setelah kalian pergi, sedetik pun ia tak lelah mencari, ia mencari kalian sampai tak memperdulikan kesehatannya. Ia pun sakit keras beberapa tahun sebelum akhirnya meninggal."


Cerita yang ini Rayan tahu dari informannya, bertahun-tahun Ayahnya menyebarkan selebaran orang hilang demi mencari mereka. Ayahnya memasang foto wisata sekolahnya di poster itu. Ema masih dalam kandungan, ayah dan Ibunya juga masih muda, Rayan sendiri masih sangat kecil. Ia sendiri mengutuk Ayahnya yang sedemikian bodoh dan naif, Apa setelah bertahun-tahun balita di poster itu masih tetap sama? Bagaimana bisa Ayahnya menemukan mereka dengan poster itu?


"Nak yayan..." Panggil Bude sembari menggenggam tangan Rayan. "Aku tak bisa memaksamu memaafkan Ayahmu. Tapi aku ingin kamu tahu, Ayahmu benar-benar mencintai kalian," pungkas Bude mengakhiri ceritanya.


Sepeninggal Budenya, Rayan benar-benar menangis. Ia telah lama mengetahui keberadaan Ayahnya tapi malah memilih menjauhinya. Sampai mati, Ayahnya tetap mencari mereka. Kenapa hidupnya kini penuh penyesalan? Karma apa yang sedang menimpanya?


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ

__ADS_1


__ADS_2