
🌺🌺🌺
Rayan memandang Intan yang berdiri gugup di sampingnya. Sejak pertama mereka tiba di tempat ini tak sekalipun Intan bisa tenang, meski ia sudah melakukan semua cara yang bisa dilakukannya untuk membuat Intan lebih baik, tapi tetap saja tidak semudah itu. Karena saat ini mereka sedang berada di sebuah hotel untuk melakukan jumpa pers guna mengklarifikasi foto Intan yang tersebar, siapa yang bisa tenang jika berada dalam posisi itu.
Jumpa pers ini adalah ide Johan yang disetujui Eka, dan saat mereka mendengarnya mereka juga setuju. Apalagi Rayan yang merasa bersalah telah membuat citra buruk pada Intan di masa lalu, kewajibannya lah mengembalikan reputasi Intan dan keluarganya. Mungkin apa yang dilakukannya ini sama seperti peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Ia bisa mendapat solusi masalah ini sekaligus mengobati luka di masa lalu.
Rayan lantas berdiri di samping Intan. Ia dengan lembut membenahi rambut Intan yang menjuntai di dahinya yang berkeringat. Pasti gadis itu gugup sampai bisa berkeringat di tempat yang ber-AC. “Kamu harus tenang dan menyerahkan semua padaku. Biar aku yang bicara. Kamu hanya tinggal tersenyum dan mengangguk,” terang Rayan.
Intan balik memandang Rayan, “kali ini, bisakah aku percaya padamu? Kenapa semua tentang kita berakhir buruk. Kenapa banyak sekali aral menghadang perjuangan kita? Mungkinkah sebenarnya kita tak berjodoh?” ujar Intan putus asa.
Rayan langsung menghujani Intan dengan ciuman, “jangan mengatakannya lagi, hatiku sakit mendengarnya.” Ia sangat takut Intan akan putus asa dan menyerah memperjuangkannya juga memperjuangkan anak-anak. Ia ingin identitas anak-anak sehingga mereka bisa dengan bangga menyebut Mama mereka dan bertemu banyak orang. Pun ia tidak mungkin selamanya mengurung anak-anak di rumah hanya untuk menyembunyikan keberadaan mereka dari Anton.
Intan memandang Rayan dengan wajah yang hampir menangis. Meski ia tak melanjutkan perkataannya di hadapan Rayan, tapi tak urung juga ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Sejak pernikahan mereka, tak ada hal bagus yang diterimanya kecuali air mata. Apakah bersama dengan Rayan adalah yang terbaik? Ia tak bisa mengatakannya dengan pasti. Tapi saat ia memandang Rayan, ia tahu, pria itu juga menderita sama sepertinya. Meski Rayan mengenakan setelan jas yang rapi dan terlihat sangat tenang. Ia tahu bahwa Rayan sangat gugup, kakinya bergoyang-goyang cepat dan sesekali memandang arloji ditangannya. Kita berdua telah melewati ujian untuk cinta kita, Tuhan kumohon berbaik hatilah! Berikan takdir terbaikmu kali ini, doa Intan dalam hati.
“kalian sudah siap?” tanya Eka yang baru masuk ke ruangan. Ia yang menyiapkan acara jumpa pers ini, makanya ia sangat sibuk wara-wiri. Johan tidak tampak karena ia telah ditugaskan untuk sesuatu yang lain, bagian dari skenario ini yang tak kalah pentingnya.
“Ya,” jawab Intan dan Rayan kompak.
“Baiklah, kita akan mulai dalam 5 menit.” Ujar Eka lagi yang lantas kembali meninggalkan mereka.
“kamu siap?” tanya Rayan.
Intan mengangguk mengiyakan. Segugup-gugupnya ia tentu Rayan yang lebih gugup. Tapi, ia yakin bersama akan membuat segalanya menjadi lebih mudah.
🌺🌺🌺
“Siang ini pihak Intan akan mengadakan jumpa pers, apakah Anda ingin menontonnya?” tanya Sania pada Anton. Ia menawarkannya dengan hati-hati, karena sejak berita mengenai Anton dan Intan mulai mencuat, bosnya menjadi semakin sibuk dan suka marah-marah. Padahal saham Daisuke Company mengalami penguatan, mestinya Anton bisa sedikit bernafas lega, tapi rupanya Anton tak menanggapi itu sama sekali.
“Baik, putar saja, aku ingin melihat langkah apa yang dilakukan pak tua itu,” ujar Anton. “Buatkan aku kopi!” perintah Anton pada Sania. Sania menurut dan segera pergi dari ruangan setelah sebelumnya menyalakan televisi.
Membuat kopi adalah siksaan bagi Sania beberapa hari ini, ia tak yakin kenapa bau kopi mengganggunya. Padahal sebelumnya ia tak mempunyai masalah mengenai ini. Dengan memakai masker ia dengan hati-hati menyeduh kopi. Ia menuang beberapa sendok kopi, karena Anton menyukai kopi yang kuat. Sambil menunggu mesin kopi bekerja ia sejenak melamun. Sepertinya ke depannya kehidupan mereka tak akan sama lagi. Ia mengetahui dengan pasti beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh Anton. Jika memang musuh bosnya kali ini sangat kuat dan mampu mengulik beberapa kasus yang sudah disembunyikan dengan rapat, maka nasib mereka akan diujung tanduk, malahan Anton bisa masuk hotel prodeo dengan hukuman 1-5 tahun penjara. Ah, kuharap tak terjadi sesuatu yang buruk, batinnya sambil menuang kopi yang selesai dibuatnya.
“Dengan ini kami mengumumkan bahwa kami akan rujuk kembali, dan membesarkan anak kami bersama.” Begitu penggalan berita yang didengar Sania begitu ia masuk ke ruang kerja Anton.
“Siapa rujuk?” tanya Sania yang langsung dibalas dengan tatapan tajam dari Anton, ia begitu serius mendengarkan konferensi pers yang dibuat Rayan. Sania segera meletakkan segelas kopi di depan bosnya dan memposisikan duduknya untuk ikut melihat siaran langsung dengan saksama.
“Mengenai foto yang beredar, itu hanya ketidakpuasan dari seseorang yang tidak menyetujui kami kembali bersama,” ujar Rayan. Suaranya tenang dan dalam, meski ia sudah lama tidak berkecimpung dan berbicara langsung di depan banyak orang, tentunya bakat yang dimilikinya tidak serta merta hilang begitu saja.
“Kami percaya ada isu besar yang sengaja ditutupi dengan pemberitaan yang massif ini.”
“Lalu kenapa Anda menceraikannya waktu itu?” tanya seorang wartawan tiba-tiba. “Ya, kenapa?” sahut yang lain.
“Selalu ada ujian dalam rumah tangga, kami menganggap kejadian yang terjadi dalam masa lalu kami adalah salah satu ujian untuk kami. Kami bersabar dan berhasil melaluinya. Saat terpisah aku menyadari cintaku bukannya memudar malah semakin menguat,” ujar Rayan. Ia memandang Intan yang duduk di sampingnya sambil memegang tangan Intan yang mengenakan cincin. “Intan, aku mencintaimu,” ujar Rayan sambil mengecup punggung tangan Intan yang berada dalam genggamannya.
Intan hanya bisa mengangguk dan tersenyum, air mata mulai menggenangi matanya yang berkaca-kaca. Ia merasa tersentuh. Apalagi saat Rayan menyerahkan buket bunga besar, yang entah Rayan dapatkan dari mana, ia tak menyangka Rayan telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sedetail mungkin.
__ADS_1
Anton segera mematikan televisi, ia tak ingin melihat siaran langsung itu lagi. “Aku harus pergi,” ujarnya tiba-tiba. Ia seperti mendapat firasat akan terjadi sesuatu. Situasi kedepannya akan sangat buruk, karena tak pernah terpikirkan olehnya, jika Pak Tua itu akan meminta bantuan pada mantan menantu yang telah diusirnya sendiri. Sepertinya ia telah paham dengan situasinya, dimatanya Rayan yang membawa buket bunga besar itu seolah memberinya ucapan selamat karena polisi pasti akan segera menangkapnya.
Anton mulai ketakutan, saat ini ia harus bersembunyi dulu dan menyusun rencana baru. Tapi tampaknya ia kurang cepat, karena polisi telah mengepung kantornya.
Anton segera memberi isyarat pada Sania, Sania langsung paham maksud bosnya, gadis itu segera membuka pintu lain dan membiarkan bosnya melarikan diri. Ze yang mendesain kantornya dan membuat sistem keamanan untuknya saat terjadi sesuatu. Ia bahkan telah membunuh para pekerja demi rahasia keamanan gedungnya ini. Ia hanya butuh melarikan diri di tempat yang aman, ia akan menyerahkan sisanya pada Sania dan pengacaranya.
🌺🌺🌺
“Bagaimana dengan penangkapannya?” tanya Rayan pada Eka setelah acara jumpa pers yang dilakukannya.
“Belum ada kabar mengenai mereka dari tim Johan. Sepertinya Anton berhasil lolos.”
“Baiklah, sepertinya kita belum benar-benar aman. Teruskan pencarian." Rayan lantas memandang Intan yang menunggunya untuk pulang bersama, "biar Mas Eka yang mengantarkan mu pulang, aku harus menyusul Johan dan membantunya.”
“Kau tidak pulang dulu? Kamu juga harus makan terlebih dahulu, bagaimana kalau anak-anak menanyakan mu?” sanggah Intan.
“Aku akan makan bersama Johan nanti, bilang saja pada anak-anak kalau aku sedang bersama Paman Jo. Mas Eka, tolong ya!” pintanya pada Eka.
“Tapi kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?” tanya Intan khawatir, ia belum rela berpisah dengan Rayan, ia takut Rayan tiba-tiba menghilang lagi.
“Aku akan pulang dengan selamat, aku janji,” jawab Rayan sambil memasuki mobil. Intan memandangnya sampai mobil itu menghilang dari pandangan. Ya Tuhan, tolonglah lindungi Rayan, doanya dengan bersungguh-sungguh untuk keselamatan Rayan.
🌺🌺🌺
“Papa kenapa tidak pulang?” tanya Ruby pada Intan setelah Mamanya tiba di rumah sendirian. Karena urusan jumpa pers itu, mereka meminta Ema menjaga si kembar. Karena ia sudah kembali makan Ema dan Samuel pun pulang di antar Hadi, putra Bu Sri, yang sekarang menjadi sopir keluarga. Ny. Maria bahkan ikut mengantar mereka dan kembali bersama Hadi nanti.
Intan segera menyiapkan makan malam untuk mereka, membuatkan susu coklat hangat dan mengoleskan selai kacang di roti putrinya. Si kembar masih belum bisa beralih mengkonsumsi nasi sehingga mereka hanya makan roti. Karena Intan khawatir kejadian saat Ruby mogok kemarin, jadi ia tidak berani memasak sesuatu untuk si kembar. Jika ada Rayan, Rayan pasti akan membuatkan makanan yang lain dan bukan roti supaya mereka tidak bosan.
Ruby sudah mulai mau membuka diri pada Intan dan mau ditemani oleh Mamanya. Sedangkan Rudy tetap pendiam seperti biasa dan tidak bertanya apapun mengenai Rayan yang pulang terlambat. Jika Ruby suka selai kacang maka lain dengan Rudy, Rudy menyukai coklat. Rudy makan roti dengan olesan selai coklat dengan tenang dengan raut wajah tak peduli.
Intan hanya memandang kedua anaknya dengan wajah tersenyum. Meski keduanya anak kembar ternyata selera mereka berbeda ya. Rudy bahkan seolah alergi dengan kacang, ia akan menolak makanan apapun yang berbahan kacang.
Mumpung anak-anak sedang rileks, ia ingin membahas sekolah dengan mereka. Anak-anak bisa tinggal kelas jika mereka tidak segera mendaftar, lagi pula terlalu lama berdiam di rumah akan membuat mereka jenuh. “Karena kalian sudah libur cukup lama, bagaimana jika kalian mulai sekolah lagi?” tanya Intan.
“Bisakah kita kembali sekolah ke Akademi Northland lagi?” tanya Ruby.
“Tidak bisa sayang, kecuali kalian sudah cukup besar untuk hidup mandiri. Mungkin saat kalian kuliah nanti kalian bisa memutuskan kuliah di sana. Saat ini kalian sekolah di sini dulu,” jawab Intan.
“Samuel bilang sekolah di sini tidak enak,” kata Rudy tiba-tiba.
Intan cukup terkejut mendengarnya, “sungguh kah begitu? Pasti ia hanya bercanda,” sangkal Intan. Akan gawat jika si kembar mogok sekolah.
“Ya, dia bilang begitu, iya kan Ruby?” kata Rudy meminta dukungan.
Ruby yang tahu maksud kakaknya segera mengiyakan. “Iya, Ma. Samuel bilang ada anak sekelasnya yang di siram air satu ember,” Lanjut Ruby mendramatisir.
__ADS_1
“Ugh, sungguh kah! Bagaimana dengan guru-gurunya, itu kan tindakan yang buruk. Bagaimana itu bisa terjadi. Mama tak akan memasukkan kalian ke sekolah seperti itu,” lanjut Intan khawatir. Bagaimana jika si kembar yang di bully. Duh, jangan sampai deh! “Lalu bagaimana dengan Samuel? Apa ia diam saja melihat kejadian seperti itu?” tanya Intan, ia berharap mendapat cerita heroik mengenai kebaikan keponakannya. Tapi,
“Tentu saja Samuel yang menyiramnya!” jawab Rudy.
“Eh... Samuel yang melakukannya. Dia? Samuel yang lucu itu?” tanya Intan tak percaya.
“hahaha....” tawa si kembar langsung pecah saat melihat Mamanya yang terkejut. Si kembar sangat senang karena berhasil mengerjai Mamanya.
“Tentu saja bukan!” lanjut Ruby, “Samuel bahkan penakut orangnya.”
“Oh, syukurlah!” ujar Intan, ia lega mendengarnya.
“Mama terlalu takut pada kita, kita gak gigit, kok!” kata Ruby, ia mendekat ke arah Intan dan memeluk Mamanya itu. “Ruby minta maaf karena kejadian kemarin, membuat Mama jadi segan sama Ruby, padahal Ruby kangen sama Mama. Ruby sebenarnya hanya kecewa kenapa Mama gak muncul lebih awal. Itu saja, kami pikir, apa Mama gak sayang sama kita?”
“Mama menyayangimu, sayang!” ujar Intan sambil memeluk putrinya. “Mama minta maaf, Mama mungkin terlalu khawatir tidak bisa menjadi Mama yang baik bagi kalian.”
“Mama selalu jadi yang terbaik untuk kami dan Papa,” ujar Rudy yang ikut mendekat dan memeluk Intan. “Papa selalu menangis setiap kami membahas tentang Mama, Papa bilang ia rindu sama Mama. Kami bahagia mengetahui Mama masih hidup.”
Intan terenyuh mendengarnya. Ia pernah mendengar dari Rayan bahwa Rayan berbohong pada anak-anak dan mengatakan bahwa ia sudah meninggal. Ia tak bisa marah, karena ia juga tidak tahu Rudy masih hidup, malah mendoakan pusaranya di setiap kesempatan. Ia langsung menghancurkan pusara itu begitu mengetahui Rudy masih hidup.
“Mama akan bersama kalian seumur hidup Mama, Mama akan melindungi kalian sekuat Mama,” janji Intan. “Baik, sekarang selesaikan makan malam kalian, sikat gigi dan kita tidur sama-sama di kasur Papa yang lebar, bagaimana? Supaya jika Papa pulang ia akan terkejut melihat kita,” usul Intan yang disambut antusias oleh si kembar.
“Oia, Ma, kami ingin sekolah di tempat yang sama dengan Samuel. Mama bilang ya sama Papa,” kata Rudy.
“Papa bilang kalian harus sekolah di tempat yang paling dekat dari rumah. Pemerintah juga melakukan sistem zonasi. Hmm... Sepertinya tidak bisa, deh!”
“Apa sih zonasi itu?” tanya Ruby.
“Semua siswa harus sekolah di sekolah yang dekat dengan rumah mereka.”
“Uhm...” Ruby cemberut kecewa.
“Kita pindah saja di dekat Samuel, biar sekolahnya dekat,” sahut Rudy.
“Eh,,,” usul Rudy sangat jenius tapi mereka tidak bisa tiba-tiba pindah begitu saja. Sudahlah, biar Rayan yang memutuskan, batinnya. "Nanti Mama bantu ngomong ke Papa, ya," jawab Intan akhirnya.
“krak...! Byur...!” tiba-tiba terdengar suara mencurigakan dari halaman samping rumah.
“Siapa?” panggil Intan. Ia mulai merasa takut ada sesuatu, tapi Mas Eka bilang sudah mengutus orang untuk melakukan penjagaan di rumah. Mungkin itu suara mereka, meski Intan tak melihat satupun di antara mereka. “Apakah Oma kalian sudah pulang dari rumah Samuel?”
“Belum...”
“Ayo cepat ikut Mama ke atas,” kata Intan, ia tiba-tiba merasa khawatir. “Lebih baik ia mengajak anak-anak ke kamar dan segera menghubungi Rayan.”
🌺🌺🌺
__ADS_1
Terimakasih untuk ucapan selamat Tahun baru-nya...
jangan lupa di cek kembali tgl 01 Januari untuk mendapatkan poin dari mangatoon