
🌺🌺🌺
Semilir angin lembut memainkan sore hari di kota Northland, gerimis yang sempat turun beberapa waktu lalu membawa hawa sejuk di sekitarnya. Tapi hawa sejuk itu tentunya tidak dirasakan dua pria yang tengah duduk di bawah naungan pohon kowhai yang ada di depan green house. Untungnya mereka dipisahkan oleh meja taman yang lumayan besar, kalau tidak, mungkin pria tua yang sedang berhadapan dengan pria muda di depannya ini tak akan sanggup duduk lebih lama lagi.
Rayan memandang Pak Wibowo yang tengah mengompres wajahnya, sekedar untuk meringankan bengkak akibat pukulannya. Ia memandang pria tua ini dengan sedikit khawatir, paling tidak jika Intan melihatnya memukuli Pak Wibowo, Intan pasti tak akan menyukainya. Tapi Rayan benar-benar jengkel. Jadi ia berharap Intan memakluminya.
Untung Rayan menempatkan kursi taman di sini, jadi ia tak harus menjamu Pak Wibowo ke dalam rumah. Yang mana Rayan tidak ingin si kembar melihat Pak Wibowo. Tapi Ibunya tetap berbaik hati membuatkan flat white untuk pria ini, hmm, Ibunya terlalu baik hati.
Rayan menatap tajam mantan mertuanya, ia merasa terganggu dengan kemunculan Papa Intan yang mendadak. Bukan hanya ketidakmampuan Pak Wibowo menjaga Intan tapi juga kemunculannya di sini bisa menimbulkan trauma pada Ibunya yang sudah sembuh. Masalah apa gerangan yang membuat Pak Wibowo senekat itu datang ke sini seorang diri.
Meskipun cuaca cukup sejuk tapi Pak Wibowo terlihat berkeringat dingin menghadapi Rayan yang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. Ia lantas meletakkan kompres di atas meja dan memulai percakapan. Ia berharap Rayan mau mendengarnya sampai selesai, terlebih lagi jika Rayan berkenan membantunya, maka ia akan sangat berterima kasih.
“Aku datang ke sini demi putriku, jadi kumohon dengarkan permintaanku,” kata Pak Wibowo memulai percakapan.
Rayan tak menjawab, ia menunggu cerita Pak Wibowo sambil menyeruput flat white coffee yang dibuatkan Ibunya, meskipun tampilannya tak seindah buatan barista, tapi kopi buatan ibunya adalah salah satu favoritnya.
Hening, kenapa Pria Tua ini tak segera bercerita, Rayan lantas menatap ke arah lawan bicaranya. Ia terenyak melihat Pak Wibowo sibuk mengusap air mata yang mengalir di pipi tuanya yang mulai keriput.
“Hiks... “ Pak Wibowo tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Ia tak tahu harus mulai dari mana.
“Ada apa dengan Intan? Katakan padaku!” perintah Rayan dengan nada memaksa. Ia segera meletakkan gelas kopinya dan menatap pria tua yang sibuk menenangkan diri ini.
“Semua ini salahku! “ jerit Pak Wibowo, “kalau aku tidak minta bantuan pada Anton, kejadian ini pasti tidak akan terjadi.”
__ADS_1
“Katakan dengan jelas! Apakah penculikan Intan berkaitan dengan Anton?”
“Penculikan?” tanya Pak Wibowo dengan sedikit keheranan, “penculikan apa?”
“Kau bahkan tak tahu Intan habis diculik,” kata Rayan mencemooh.
“Jadi, foto itu, foto itu saat Intan diculik?” kata Pak Wibowo.
“Foto apa?” tanya Rayan kesal. Ia bosan dengan perkataan Pak Wibowo yang berbelit-belut.
“Anton memaksaku mengumumkan bahwa ia adalah tunangan dengan ancaman akan menyebarkan foto yang dikirimkan padaku,” jawab Pak Wibowo sedikit terbata-bata karena melihat Rayan terlihat sangat marah padanya.
“Brak...!” Rayan menggebrak meja dengan keras. Ia sudah tak bisa mentolerir kesabarannya. “Katakan padaku pria tua! FOTO APA yang kamu maksudkan!”
“Anton mengirimkan padaku fotonya bersama Intan tengah berhubungan,”
“Aku tidak mau menyerahkan Intan padanya, jadi kumohon tolong lepaskan Intan dari Anton. Aku akan melupakan semua yang terjadi, aku akan merestui kalian berdua, jadi kumohon tolonglah Intanku. Jangan biarkan Intanku hancur sekali lagi, aku hanya punya Intan,” Kata Pak Wibowo menahan tangis.
“Tak perlu memohon. Aku akan melakukan apapun untuk Intan. Sekarang pulanglah! Aku akan meminta Johan untuk mencari tahu semua tentang Anton. Tapi sementara itu jangan beritahu apapun pada Intan dan perketat penjagaan untuknya.”
Pak Wibowo mengucap syukur saat Rayan menyetujui permintaannya menolong Intan, “jadi kapan kamu akan kembali ke Indonesia.”
“Secepatnya,” jawab Rayan.
__ADS_1
“Anu, Rayan, bisakah aku minta satu hal lagi padamu.”
“Katakanlah!”
“Bisakah aku bertemu cucuku”
Rayan menoleh ketus, “Bukankah kamu tidak mengakuinya, untuk apa bertemu lagi.”
“Maafkan aku yang dulu, tak apa kalau tidak boleh,” ucap Pak Wibowo sedikit kecewa.
“Baiklah,” kata Rayan akhirnya. “Tunggu di sini aku akan panggilkan mereka.”
Mereka? batin Pak Wibowo. Apakah cucunya sepasang? Pertanyaannya terjawab sudah kala Rayan datang dengan menggendong gadis kecil dan menggandeng bocah lelaki yang tampan dengan rambut kecokelatan, persis Rayan. Mungkinkah ini Rudy? Cucu yang dibuatkan pusara olehnya meski masih hidup? Bercucuran air mata Pak Wibowo menyambut cucu-cucunya. Dosaku demikian besarnya, batinnya.
“Kenalkan ini Rudy, dan ini Ruby,” kata Rayan sembari menurunkan putrinya untuk bersalaman.
“Ini kakek sayang, peluk kakek,” ucap Pak Wibowo. “terima kasih telah membesarkan cucu-cucuku, terima kasih.”
Suasana syahdu sore hari kota Northland menjadi saksi bertemunya Pak Wibowo dengan cucu-cucunya untuk pertama kali. Meskipun begitu bahagia bisa bertemu dengan cucunya, Pak Wibowo menolak tinggal untuk makan malam. Baginya bertemu saja sudah cukup. Ia harus segera kembali sebelum orang-orang menyadari bahwa ia menghilang.
Rayan mengantar Pak Wibowo ke bandara, dalam perjalanan ia pun berucap maaf pada Pak Wibowo.
“Maafkan aku karena telah menyakiti Intan dan mempermalukan keluargamu. Baru aku tahu tak ada yang bagus dari balas dendam. Sudah jangan pikirkan tentang Anton lagi. Aku yang akan mengurusnya.”
__ADS_1
Pak Wibowo mengangguk, tak sia-sia perjalanan jauhnya sampai ke Northland. Akhirnya putrinya bisa diselamatkan. Semua kejadian yang dialaminya selama ini mungkin buah dari kelakuannya sendiri. Tak patutlah ia menyalahkan orang lain. Semoga dengan kejadian ini menjadikan hikmah bagi banyak orang.
🌺🌺🌺