Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Ancaman baru


__ADS_3

🌺🌺🌺


Malam telah larut, keheningan menyelimuti rumah besar Rayan, apalagi beberapa waktu yang lalu rumah ini sempat ramai oleh hadirnya beberapa kerabat. Intan melihat keluarga kecilnya, si kembar dan Rayan, semua telah tertidur nyenyak. Mereka pasti lelah karena perjalanan jauh, Intan hanya bisa memandangi mereka yang terlelap, ia tak bisa memejamkan matanya sedikit pun karena rasa bahagia yang melingkupinya, pun juga rasa takut jika ia terlelap kebahagiaan yang baru dirasakannya mungkin saja akan pergi. Tetapi rasa senang itu ternyata bukan hanya dirasakannya seorang, karena ternyata anak-anak juga merasa antusias dengan pertemuan pertama setelah bertahun-tahun ini. Si kembar bahkan meminta tidur bersama. Ya, saat ini untuk pertama kalinya mereka tidur berempat. Tak terperi rasa senang yang melingkupi Intan, akhirnya ia bisa berkumpul lagi bersama keluarga kecilnya


Intan melihat si kembar yang tidur terlelap di samping kanan kirinya, ia teringat drama sebelum tidur ketika kedua buah hatinya saling berebut tidur di sampingnya. Akhirnya Rayan dengan sigap menempatkan Intan di tengah sehingga si kembar bisa tidur sambil sama-sama memeluk Intan dengan adil. Intan bisa membayangkan betapa susahnya membesarkan anak kembar yang ternyata penuh drama.


“Kamu tidak tidur?” tanya Rayan tiba-tiba mengagetkan Intan. Ia baru saja terjaga, mungkin karena tubuhnya masih belum terbiasa dengan perbedaan waktu di Northland dan di sini.


“Aku sedikit takut untuk tidur, hari ini seperti mimpi, aku khawatir kebahagiaan ini akan berakhir saat aku terpejam. Ingat saat aku melahirkan si kembar, saat aku terbangun, kamu dan anak-anak menghilang,” ucap Intan sedih.


“Aku minta maaf,” ujar Rayan. Saat kelahiran si kembar, bukan hanya meninggalkan trauma pada Intan tapi juga padanya. Pak Wibowo juga tak serta merta meninggalkan Rayan hidup tenang meski ia sudah meninggalkan Indonesia. Karena ia selalu merasa ada saja orang yang membuntuti mereka, karena ia tak tahu motif para penguntit yang sesungguhnya membuat Rayan terus saja hidup berpindah-pindah. “Mau minum kopi?” tawar Rayan.


“Lalu bagaimana dengan mereka?” tanya Intan sembari mengarahkan pandangannya pada si kembar yang terlelap, jika ia pergi pasti mereka akan terbangun mencarinya.


“Tenang saja,” ujar Rayan sambil menarik Intan bangun dan menggantinya dengan bantal.


“Wah!” ucap Intan takjub dengan ide brilian Rayan.


“Aku terbiasa melakukan ini saat mereka masih kecil. Bukan sesuatu yang spesial,” ujar Rayan. Sebagai single father, ia harus membagi waktunya sebaik mungkin, apalagi Ibunya belum benar-benar sembuh saat si kembar balita. Untunglah selama mereka tinggal berpindah-pindah, ada pengobatan yang cocok untuk ibunya sehingga ibunya bisa sembuh. Pasti Tuhan yang telah mengaturnya, jika mereka tidak pontang-panting di luaran sana, pasti saat ini, ibunya masih menjadi penghuni tetap rumahsakit jiwa.


Tapi hal yang menurut Rayan biasa saja, tentunya tidak demikian bagi Intan. Baginya yang seorang ibu, ia merasa gagal karena ia tak pernah sekalipun menggantikan popok anaknya, “aku bahkan tidak tahu trik simpel seperti itu,” ujar Intan sedih.

__ADS_1


“Jangan bersedih,” hibur Rayan sambil mengajak Intan keluar kamar.


Intan menghela nafas sambil mengekor Rayan keluar kamar. Namun saat Intan baru saja menutup pintu kamar, ia dikejutkan oleh Rayan yang tiba-tiba sudah menariknya mendekat sambil berbisik mesra, “sayang, haruskah kita membuatkan si kembar adik?”


Tubuh Intan merinding sejenak mendengar bisikan Rayan, ia terkejut dengan apa yang dilontarkan Rayan, sungguh di luar bayangannya. Ia lantas memandang wajah Rayan sambil tersenyum manis. “haruskah?” godanya.


Rayan lantas menggaruk kepalanya dengan frustasi, ia lantas mempererat pelukannya untuk menunjukkan sesuatu yang keras miliknya. “Intan, kamu tak tahu betapa aku merindukanmu, saat ini hasratku demikian besarnya untuk tenggelam dalam kehangatanmu. Tapi demi ketulusanku, aku akan bersabar sampai pernikahan kita nanti. Mari rujuk dan membangun keluarga ini bersama,” ucap Rayan sungguh-sungguh.


Intan mengangguk, “kamu juga harus tahu, selama berpisah denganmu selalu namamu yang setia mengisi hatiku, dan itu tak pernah berubah meski seiring waktu. Aku mencintaimu,” ucap Intan.


“Aku juga mencintaimu,” jawab Rayan sambil mencium Intan dengan dalam dan penuh penghayatan, seolah ia menumpahkan seluruh kerinduannya selama bertahun-tahun dalam satu ciuman.


Intan juga tak kalah mesra menyambut ciuman Rayan, ia telah menanggung kerinduan, kesepian, kekhawatiran, penantian dan air mata yang tak terhitung banyaknya demi pertemuan ini. Ia menumpahkan semuanya dalam ciuman ini.


🌺🌺🌺


“Kenapa Perusahaan Xplor mau mencari gara-gara denganku?” seru Anton marah saat mendapat kabar mengenai kasusnya yang dulu diungkit-ungkit kembali, seolah ada perintah dari seseorang yang hendak membuat gara-gara dengannya dengan mencari bukti-bukti kejahatannya. Meski ia cukup rapi melakukannya, tetap saja ada koleganya yang tak sekuat dirinya. Hmmm akan menjadi masalah kalau sampai semua aset yang diperolehnya dengan susah payah harus di sita kepolisian, batinnya marah.


“Perusahaan Xplor adalah anak perusahaan Property & real Estate Hendra Brother, CEO-nya saat ini adalah Johan, kakak dari asisten Intan yang terluka saat peristiwa malam itu,” terang Sania.


“Hahaha...” Anton tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Oh, pantas saja. Ternyata Jonathan bukan orang sembarangan, sepertinya kita akan menemui masalah. Sania, beritahukan pada pihak pengacara untuk mengalihkan semua kepemilikan saham dan perusahaan atas namamu. Malam ini aku akan menemui Ze, kami harus membuat strategi baru,” perintah Anton.

__ADS_1


“Baik,” jawab Sania, ia sudah pernah mendengar tentang rencana ini, jika suatu saat kondisi perusahaan akan berjalan ke arah yang buruk, semua kepemilikan sementara akan di alihkan padanya.


🌺🌺🌺


“Apakah kamu sudah mencari informasi mengenai Johan?” tanya Anton pada Ze. Ze adalah informan Anton yang terpercaya, tak ada yang pernah melihatnya kecuali dirinya, karena Ze bukanlah seperti yang digambarkan orang-orang.


Ze hanya seorang pria muda genius yang mempunyai kelainan seksual. Ia seorang gay, penyuka sesama jenis. Dan Anton yang memenuhi semua hasratnya dengan menyediakan pasangan-pasangan untuknya. Anton kadang harus merelakan dirinya jika Ze menginginkannya, untungnya tak selalu seperti itu, karena tentu saja, Anton adalah pria yang lurus.


Ze juga sangat mahir melakukan hal-hal kasar lainnya, terkadang ZE menggunakan tangannya atau meminjam tangan orang lain. Ia merupakan paket lengkap penjahat masa depan.


“Pemilik perusahaan Hendra Brother adalah Hendrayan, mantan suami Intan,” hanya satu kalimat pendek yang diucapkan Ze, sudah mewakili semua hal yang terjadi pada Anton akhir-akhir ini.


“Prank...” suara gelas yang dilempar Anton terdengar nyaring mengisi ruangan khusus yang biasa dipakainya untuk bertemu dengan Ze. Anton sangat marah saat mengetahui Pak Tua itu ternyata meminta bantuan pada Hendrayan, mantan suami Intan yang dulu. Kemarahan memenuhi hatinya, ia sudah memperingatkan Pak Tua itu tentang konsekuensi yang akan didapatnya jika tidak mengumumkan pertunangan Intan dengannya, sekarang tidak hanya menolak mengumumkan pertunangan malah mengumumkan perang dengannya. Bahkan jika ia berakhir masuk penjara, ia tak akan membiarkan Pak Tua itu tidur dengan nyenyak.


“Ku rasa aku harus menunjukkan dengan jelas pada Pak Tua itu bahwa ia sedang berurusan dengan siapa. Lihat saja, ia akan melihat anak perempuannya menjadi berita utama pagi ini,” kata Anton sembari mengirim berkas foto pada beberapa wartawan yang telah melakukan perjanjian dengannya terlebih dahulu.


Sedangkan Ze yang tak peduli urusan drama seperti itu langsung keluar dari ruangan.


🌺🌺🌺


Jempol adalah anonim{tanpa nama}

__ADS_1


silent reader jangan lupa jempolnya.


__ADS_2