Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Kejadian


__ADS_3

🌺🌺🌺


“Kenapa sangat sunyi,” komentar Ny. Maria begitu ia dan Hadi, sopir keluarga sekaligus putra bungsu Bu Sri, tiba di halaman rumah. “Bukannya tadi ada petugas keamanan di sini,” komentarnya keheranan.


“Entahlah. Baik, aku akan mengecek keberadaan mereka,” jawab Hadi. Sejujurnya ia sudah sangat lelah dan ingin tidur saja. Tapi tetap saja, ia harus memastikan bahwa keanehan ini hanya perasaan majikannya saja atau memang telah terjadi sesuatu.


Ny. Maria segera masuk ke dalam rumah sementara Hadi memarkirkan mobil. Hadi terlihat ogah-ogahan melaksanakan tugasnya sampai ia mendengar teriakan Ny. Maria.


“Argh...” suara teriakan Ny. Maria terdengar dari dalam rumah.


Hadi segera berlari mencari sumber suara. Ternyata majikannya telah berdiri menghadap halaman samping dengan mulut ternganga dan tatapan penuh kengerian.


“Ada apa?” tanya Hadi bingung. Pria muda dengan kulit coklat itu tampak kusut karena mengantuk. Tapi mata kantuknya langsung terbuka lebar setelah ia melihat bercak darah yang mengarah ke kolam renang. Dengan gemetar ia membuka ponselnya dan menyalakan aplikasi senter sebagai penerang. Ia dengan hati-hati mendekat ke arah kolam untuk melihat yang terjadi.


Sedangkan Ny. Maria mencoba mengekor di belakang Hadi dengan rasa takut dan penasaran secara bersamaan. Sejatinya ia ingin mencari keberadaan menantu dan cucunya, tapi ia ketakutan jika harus mencarinya sendiri. Dan ia juga penasaran dengan apa yang terjadi di kolam, bisa saja itu cucu-cucunya yang tenggelam.


“Kolam ini, apakah karena gelap atau kah perasaanku saja jika warna kolam ini keruh,” ujar Hadi penasaran saat mereka mendekat.


“kamu benar. Warna air kolamnya keruh, bahkan meski memang gelap air kolam akan tetap jernih. Perasaanku atau kah penglihatan tuaku saja, jika warna gelap itu warna merah. Apakah ada yang sedang mengerjai rumah ini? Sungguh tidak lucu,” ujar Ny. Maria. Jika ada yang membuat prank lucu-lucuan karena menakuti mereka. Awas saja ia tak akan memberikan ampun, batinnya marah.


“Aku juga melihat warna kolamnya memerah dan aku melihat seperti ada sesuatu yang hitam di dalam kolam dan sangat banyak. Apakah itu?” tanyanya sendiri, ia tak berharap banyak karena majikannya yang ada di belakangnya, pasti tak melihat sebanyak yang ia lihat. “Argh...” teriak Hadi setelah mengidentifikasi apa yang dilihatnya. Ia segera berjalan mundur dengan ketakutan. Ponsel yang digunakannya untuk senter terjatuh saking takutnya.

__ADS_1


“Apa yang kamu lihat?” tanya Ny. Maria penasaran. Ia ingin melihatnya tapi Hadi buru-buru memungut ponselnya dan menarik majikannya supaya menjauh dari kolam.


“Aku harus menghubungi polisi dan Tuan Rayan,” ujar Hadi sembari memencet nomor di ponselnya.


“Katakan ada apa?” desak Ny. Maria.


“Aku melihat banyak mayat di sana. Mungkin petugas keamanan yang sebelumnya kita lihat saat meninggaalkan rumah. Mereka semua mati tenggelam di dasar kolam.”


“Kita harus mencari Intan dan si kembar,” ujar Ny. Maria.


“Tunggu dulu,” cegah Hadi. “Bisa jadi orang-orang jahat itu masih di sini.”


Tapi Ny. Maria tak mau mendengar, ia segera bergegas ke lantai atas. Tapi sebelum ia mengecek ke kamar anak-anak, ia melihat kamar Rayan terbuka dan ia segera masuk ke dalamnya. “Intan, Ruby, Rudy... di mana kalian?” teriak NY. Maria.


Seseorang segera memasuki kamar, tapi bukan Hadi, melainkan Eka, kakak Intan. Eka segera mengambil alih Intan dari tangan Ny. Maria. “Intan... Intan...” panggil Eka. Ia ketakutan saat melihat leher Intan yang berdarah. Tapi ia begitu lega saat Adiknya masih bernafas.


“Ny. Maria tolong cari si kembar, mereka pasti ada di sekitar sini. Aku akan memindahkan Intan,” perintahnya pada Ny. Maria, ia sendiri membawa Intan ke kamar sebelah, kamar Ruby. Selesai meletakkan Intan di ranjang ia segera melakukan panggilan telepon untuk menghubungi dokter keluarga dan orangtuanya.


“Aku sudah memanggil ambulans dan kepolisian,” kata Hadi yang ikut membantu Eka membukakan kamar.


“Kenapa kamu memanggil polisi?” tanya Eka marah.

__ADS_1


Hadi langsung menciut, ia takut pada Eka yang memarahinya. “Ada banyak mayat di kolam renang,” jawabnya pelan.


“Apa!” kata Eka terperanjat. “Mayat? Mayat apa? Kolam renang?” Dengan cepat ia menyibak tirai yang ada di kamar. Mulutnya langsung ternganga saat melihat banyak tubuh manusia di dalam kolam dan warna kolam telah memerah. Melihat dari pakaian yang mereka kenakan, sepertinya mereka adalah tim keamanan milik Johan. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi dalam 30 menit ia meninggalkan Intan. Ia telah berkendara selama 20 menit saat mendapat kabar sms dari Intan, ditambah 10 menit perjalanan kembali dengan mengebut dan ia telah mendapati Adiknya nyaris saja terbunuh.


“Apakah kamu sudah menghubungi Rayan?” tanyanya pada Hadi.


“Ya, beliau sedang dalam perjalanan.”


“Bagaimana dengan si kembar?” tanyanya lagi. Tapi ia tak menunggu jawaban dari Hadi melainkan langsung ke kamar tempat terjadinya penyerangan terhadap Intan. Ny. Maria telah berada di dalam kloset dan membujuk si kembar yang bersembunyi di dalam almari untuk keluar. Namun anggapannya salah, ternyata hanya Ruby yang berada di sana. Tak ada Rudy.


“Dia tak mau keluar dari almari, dia menunggu Rayan.”


“Ruby, sini sama Om Eka,” bujuk Eka.


“Ruby mau Papa, Ruby mau Papa,” ucapnya berulang-ulang.


Eka ingin sekali menariknya keluar dari dalam lemari yang sempit, tapi ia tak mau membuat keponakannya lebih trauma lagi.


“Kakak di mana, Sayang?”


“Aku mau Papa... aku mau Papa,” ujar Ruby yang malah menangis.

__ADS_1


Eka menghela nafas, Ah, sepertinya masalah ke depan kian rumit.


🌺🌺🌺


__ADS_2