
🌺🌺🌺
“Iya, tidak, iya, tidak, iya, tidak... argh...!” ucap Sania frustasi. Sudah puluhan kali ia menghitung kendaraan yang lalu lalang di depannya. Tapi, tetap saja ia tak bisa mengambil keputusan meski ia telah meyakinkan diri untuk mengambil kata tidak sebagai keputusannya. Pagi ini sungguh berat baginya.
Saat ini Sania berada di kafe dekat kepolisian. Ia sedang menunggu tim pengacara untuk bersama-sama mengunjungi Anton yang kemarin tertangkap polisi. Tapi masalah yang memberatkannya bukan berkenaan dengan penangkapan Anton, karena ia tahu Anton selalu bisa membuat celah untuk terbebas dari penjara, melainkan kenyataan yang baru beberapa jam lalu diketahuinya.
Sania mengenang beberapa jam yang lalu saat pagi harinya tiba-tiba terusik dengan kenyataan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia sampai kesulitan mencernanya. Bagaimana tidak? Pagi ini ia mendapati bahwa saat ini ia tengah berbadan dua. Ya, saat ini ia tengah hamil anak Anton!
🌺🌺🌺
Sania bolak-balik memandang benda di tangannya dan cermin di depannya. Wajah pucatnya tampak mengerikan dengan ekspresi keterkejutan yang nyata. Pasalnya, benda yang dipegangnya sungguhan bergaris dua.
Sania terduduk lemas di dudukan toilet apartemennya. Ia terenyak tak percaya dengan tes kehamilan ditangannya. Tidak mungkinkan aku hamil? Batinnya penuh keraguan. Seingatnya, ia minum obat dengan teratur. Apakah kontrasepsinya tidak berfungsi? Ia hanya ingat dokter memberinya antibiotik bulan lalu.
“Ah, sial! Bagaimana aku bisa seceroboh ini?” kata Sania sembari memegang perut datarnya. “Apa yang harus aku lakukan sekarang,” keluhnya sembari memijit-mijit kepalanya dengan bingung.
Awalnya ia hanya iseng melakukan tes ini. Ia melakukannya karena merasa penciumannya menjadi sangat sensitif terhadap bau, terutama kopi. Ia tak menyangka hasil tes iseng itu akan berakhir positif.
🌺🌺🌺
“Sudahlah,” gumam Sania sambil menyesap kopi yang dipesannya. Ia hanya perlu menggugurkannya dan semua akan kembali seperti biasa. Anton tidak akan pernah tahu, toh meskipun tahu, Anton pasti akan memintanya menggugurkan kandungan ini.
“Breaking news...!” suara berita di televisi membuyarkan lamunan Sania. Ia tak begitu tertarik mendengar kabar terbaru pagi ini. Karena ia tahu kabar terbaru pagi ini adalah mengenai penangkapan Anton. Tapi, begitu ia mendengar kelanjutannya, Sania dibuat terenyak tak percaya.
“Malam ini, terjadi penculikan cucu lelaki keluarga Wibowo. Anak yang baru saja dibicarakan orang tuanya semalam saat jumpa pers ternyata langsung mengundang komplotan penculik ke kediamannya di jalan Manggis timur nomor 17. Kejadian ini menewaskan 6 anggota tim keamanan yang berjaga di rumah. Berikut daftar korban meninggal. Pihak polisi masih melakukan pencarian kepada bocah lelaki itu. Bagi siapa saja yang melihat dan mengetahui keberadaan bocah ini, bisa langsung menghubungi polisi atau nomor yang tertera di bawah ini.” Layar berganti menampilkan profil bocah hilang tersebut berikut foto terbarunya.
Putra Intan hilang saat penangkapan. Apakah ini ada hubungannya dengan Anton, batin Sania. Apakah Anton yang melakukannya. Kumohon, tidak. Kalau Anton yang melakukan perbuatan itu, bisa-bisa bosnya akan benar-benar berakhir di penjara.
Sania melihat banyak mobil datang di depan kepolisian. Ia segera berdiri lebih dekat ke jendela untuk melihat keramaian itu. Mungkinkah mobil wartawan, pikirnya. Tapi kemudian ia melihat Intan dikelilingi beberapa orang pria masuk ke dalam kantor polisi. Apakah kecurigaannya benar jika Anton terlibat dengan penculikan itu? Sania segera mengambil tasnya kemudian berlalu untuk melihat dari dekat.
🌺🌺🌺
Intan meremas tangannya dengan keras, andai ada sesuatu ditangannya pasti telah hancur saking kuatnya genggaman itu. Ia tak sabar menunggu polisi memanggil Anton ke hadapannya. Ia ditemani Mas Eka dan Rayan datang ke kantor polisi untuk menanyakan tentang Rudy. Mereka yakin, Anton ada kaitannya dengan penculikan Rudy.
Begitu Anton duduk di hadapannya, Intan langsung melayangkan tamparan yang keras. Suara nyaring tamparannya mengisi keheningan ruangan.
Rayan tak sempat mencegah Istrinya melakukan itu, pun andainya ia tahu apa yang akan dilakukan Intan, ia tak akan mencegahnya. Intan saat ini bagaikan induk yang marah karena ada yang telah mengganggu anaknya. Polisi yang memang telah diberitahu bahwa tamu kali ini adalah orang penting, tak sedikit pun berani memarahi Intan karena telah menampar tahanan. Polisi itu memilih pergi dan pura-pura tidak melihatnya.
“Hahaha...” tawa Anton mengisi ruangan. Meski Intan menamparnya, Anton tak benar-benar merasakan sakitnya seolah hanya semut yang menggigitnya. Tangan mungil intan tentunya tak sebanding dengan figur wajahnya yang keras. Tapi...
“Duash...” tinju melayang di wajah Anton mengakhiri tawa iblisnya. Kali ini ia benar-benar merasakan sakit di wajahnya sampai-sampai tubuhnya ikut terjengkang. Rupanya Rayan telah melayangkan tinju padanya. Ia segera berusaha duduk kembali tapi kali ini ia lebih memilih duduk di lantai. Namun sepertinya tamunya kali ini tidak membiarkannya duduk tenang. Eka segera menarik Anton untuk kembali duduk di kursinya.
“Aku bertanya-tanya kenapa perlakuan polisi seolah tidak adil padaku. Ternyata kalian yang melakukannya,” ujar Anton memulai percakapan. Ia memandang tajam Rayan. Baru kali ini ia melihat Rayan dengan dekat. Meski hanya melihat sekilas, ia langsung bisa mengatakan bahwa figur pria di depannya ini memang bukanlah figur yang bisa dengan mudah dikalahkannya. Ia heran kenapa Pak Wibowo tidak minta tolong pria ini dari awal malah meminta tolong padanya.
“Kembalikan Rudy padaku,” kata Intan terus terang. Ia tak ingin basa-basi lagi.
“Kenapa kamu memintanya padaku, aku tidak tahu menahu apa yang kamu maksudkan,” ujar Anton sembari balik memandang Intan.
“Aku bisa mencabut semua laporan dan membuatmu terbebas dari penjara ini, asalkan kamu mau menukarnya dengan putraku,” kata Rayan.
“Kenapa kalian terus mengatakan itu, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan Putramu,” jawab Anton bersikukuh.
“Aku mulai ingin memukulmu lagi,” kata Rayan tak sabar.
Anton menggoyang-goyang kakinya dengan ketukan teratur. Ia menikmati ini, ia senang melihat kebingungan dan kecemasan di mata mereka.
__ADS_1
“Aku akan pastikan kamu membusuk di penjara tanpa keadilan jika kamu tidak memberitahukan keberadaan Putraku,” kata Rayan.
“Hei, Bung! Kamu menggonggong pada anjing yang salah,” kata Anton. Ia masih tidak mau mengakuinya.
“Tolonglah, aku akan memenuhi semua permintaanmu asalkan kembalikan Putraku,” kata Intan memohon-mohon.
“Benarkah?” ujar Anton sedikit tertarik. Tapi tentu saja itu hanya gurauan. Mana mungkin mereka mau menuruti apapun keinginannya. Sedangkan saat ini ia dalam keadaan tak berdaya. Mudah saja bagi mereka untuk membohonginya.
“Bagaimana dengan menghapus nama Daisuke di belakang namamu?” tanya Rayan tiba-tiba.
Demi mendengar pertanyaan Rayan, Anton langsung bereaksi. “Sania...!” teriak Anton kuat-kuat. Yang mengetahui tentang ini hanya Sania. Yang mengetahui tentang niatannya untuk menghapus nama belakangnya hanya Sania. Teganya Sania mengkhianatinya.
Sania yang ternyata sembunyi dibalik pintu langsung membeku. Pintu ini mestinya kedap suara tapi Sania bisa mendengar jeritan Anton memanggil namanya, rasa ketakutannya mulai muncul.
Kemarahan yang nyata muncul di wajah Anton, ia terlihat ganas dan penuh emosi. Ia menampilkan senyum remeh kepada pasangan di depannya. Ia telah mencoba berbagai cara agar bisa menghapus nama itu tapi tidak bisa, bagaimana dengan dua orang muda ini. Ia sama sekali tak yakin pada kemampuan mereka. Tapi tak urung juga ia sedikit tertarik dengan penawaran itu. “Apa jaminannya kalian tidak membohongiku?”
Rupanya Sania benar, ini adalah kelemahan Anton. Tapi mereka tak habis pikir kenapa Sania membantu mereka dan malah mengkhianati bosnya. Beberapa waktu yang lalu Sania mendatangi mereka saat hendak bertemu Anton. Sania berbicara dari hati ke hati dengan Intan, Rayan sendiri tidak tahu apa yang ada di pikiran para wanita itu tahu-tahu Intan mengatakan bahwa ia tahu kelemahan Anton. Tentu saja Sania tidak membantu mereka dengan gratis, Sania mau mereka membebaskan Anton dari penjara.
“Aku akan membebaskanmu begitu Putraku ditemukan. Aku punya rumah di Northland, tinggallah di sana dengan identitas baru dan mulailah hidup baru bersama keluarga kecilmu,” ujar Rayan.
“Keluarga? Aku tidak punya keluarga,” ujar Anton mencibir.
Rayan hanya tersenyum penuh arti saat melihat cibiran Anton.
“Panggil Sania ke sini. Aku akan memberikan keputusanku setelah bertemu dengannya,” kata Anton akhirnya.
“Kamu jangan menyakitinya,” kata Intan sebelum mereka pergi keluar. Tapi Anton hanya diam tidak menjawab perkataan Intan, pria itu seolah tak ingin berdebat lagi.
Mereka bertiga segera keluar dan berganti dengan Sania yang ketakutan. Tubuh kurus wanita itu tertutup jubah besar, seolah secara naluri ingin menyembunyikan sesuatu dari Anton.
🌺🌺🌺
Sania hanya menunduk, ia begitu takut akan kemarahan Anton. Tapi ia lebih takut melihat pria ini membuat kesalahan lain yang akan membuatnya lebih lama berada di penjara. Ia tak ingin melihat Anton dipenjara.
“Katakan kenapa kamu mengkhianatiku...!” seru Anton. Ia begitu marah saat ini. Tapi wanita di depannya seolah mengabaikan kemarahannya dan malah menciut karena ketakutan.
“Katakan Sania,” ujar Anton lagi, ia belum puas sebelum Sania menjawab pertanyaannya. “Kemarikan tanganmu,” pintanya.
Dengan ketakutan Sania mengeluarkan tangannya yang bersembunyi di dalam jubah. Tapi ketakutan Sania seolah tak beralasan. Pria di hadapannya ini malahan menggenggam tangannya dengan lembut. Hatinya sedikit pedih saat ia melihat borgol yang membelenggu tangan Anton.
“Katakan kenapa kamu mengkhianatiku?” kali ini Anton bertanya dengan nada yang lembut dan halus.
“Aku tidak ingin melihatmu melakukan kesalahan lagi dan berakhir dipenjara,” jawab Sania.
Anton menghela napas. Kenapa wanita begitu rentan hanya bermodalkan kasihan.
“Jika kamu berurusan dengan orang tuanya, jangan menyakiti anaknya,” ucap Sania. Ia sedikit mengelus perut datarnya, ia juga tak ingin ada yang menyakiti anaknya kelak.
Tiba-tiba Anton menarik tangan Sania dengan keras. Sania memekik kesakitan. Ia bergumam dalam hati, kenapa pria di depannya begitu sulit dipahami. Kepribadiannya berubah-ubah dengan sikap yang membingungkannya. Baru beberapa detik yang lalu pria ini memperlakukannya dengan lembut.
“Kamu hamil,” kata Anton. Matanya tajam menatap ke arah Sania.
Sania tak kuasa merespons perkataan Anton. Tapi tanpa perlu menjawab pun rona terkejut di wajahnya sudah menjelaskan semuanya. Ia seolah buku yang terbuka. Semua emosi terpampang di mimik wajahnya saat ini. Bagaimana Anton bisa tahu? Batinnya bertanya-tanya. Ia belum mengatakannya pada siapa pun.
“A... aku akan menggugurkannya,” ucap Sania buru-buru. Kalau boleh memilih, ia ingin Anton dipenjara untuk waktu yang cukup lama sampai ia melahirkan buah hatinya. Tapi sekarang setelah Anton tahu kehamilannya, sepertinya itu tak mungkin lagi.
__ADS_1
“Siapa bilang kamu boleh menggugurkan Anakku,” kata Anton.
Sania begitu tercengang dengan respons Anton. Benarkah Anton ingin ia membesarkan bayi ini. “Sungguhkah?" tanya Sania tak percaya.
“Ya, rawat ia dengan baik,” ujar Anton.
“Kenapa? Bukankah kita harus membesarkan anak ini bersama-sama?” tanya Sania tak mengerti. “Mereka berjanji akan membebaskanmu dari penjara, menghapus nama belakangmu, juga memberimu kehidupan baru, lalu kenapa? Apa masalahnya?”
“Masalahnya saat ini, aku tidak tahu di mana putra mereka berada.”
“Bukankah penculikan itu atas perintahmu?” tanya Sania tak mengerti jalan pikiran Anton.
“Mungkin awalnya, tapi ketika pria itu hanya membawa anak lelaki saja, aku rasa ini sudah di luar skenario,” lanjut Anton. “Tolong panggil mereka ke sini! Meski tidak yakin. Sepertinya aku tahu sesuatu.”
Mereka bertiga yang memantau pembicaraan dari ruangan yang ada di samping buru-buru mendatangi ruangan tempat Anton diinterogasi.
“Aku harus mengatakan yang sejujurnya bahwa saat ini aku tidak tahu di mana Putramu berada. Tapi mungkin aku bisa memberimu petunjuk,” kata Anton. Ia tak ingin keluarga di depannya berharap terlalu banyak padanya.
“Apapun itu, kamu bisa mengatakannya,” kata Eka. Ketua tim pencarian Rudy adalah dirinya. Sekecil apapun informasi itu, ia tetap membutuhkannya.
“Putramu mungkin dalam perjalanan ke Pulau Kalimantan, lewat laut.”
“Kalimantan? Kenapa sejauh itu mereka membawanya?” tanya Intan diliputi kecemasan. Putranya tak pernah melakukan perjalanan laut. Bagaimana kalau ia mabuk laut dan kesehatannya memburuk?
“Tenang, Intan. Komplotan itu tidak akan kabur. Kita akan menangkapnya,” ujar Eka.
“Salah! Bukan komplotan, tapi seorang, hanya seorang,” ujar Anton membenarkan.
“Hanya seorang?” tanya Rayan terkejut. Ia tak menyangka ada orang yang begitu kejam melakukan pembunuhan pada begitu banyak orang.
"Kalian tak perlu repot-repot menangkapnya karena pria itu tak bisa ditangkap,” ujar Anton. “Cukup buat pencarian secara masif, mungkin ia akan meninggalkan Putramu sendirian untuk melarikan diri dan Putramu akan selamat. Kalian masih punya waktu karena saat ini mereka pasti masih berada di lautan.”
“Bagaimana kami bisa mempercayaimu?” tanya Rayan.
“Jika kalian tidak mempercayaiku, kalian akan percaya pada siapa lagi?” ujar Anton sarkasme.
“Sesuai perjanjian, kami akan membebaskanmu jika Putraku ditemukan,” ujar Rayan. Informasi ini penting, tapi ia belum yakin akan kebenarannya. Bisa saja Anton membohongi mereka dan malah memberi kesempatan pada penculik itu untuk melarikan diri.
Anton hanya mengangkat bahu, ia telah mengatakan yang diketahuinya. Ia tidak akan membocorkan identitas Ze, karena bagi dirinya sendiri. Ia juga takut akan pembalasan Ze padanya. Ya, semenakutkan itulah Ze.
Setelah Intan dan kedua prianya keluar dari ruangan. Anton meminta sedikit waktu pada Sania untuk berbicara.
“Apakah kamu sungguhan akan menggugurkannya jika aku tidak tahu tentang kehamilanmu?” tanya Anton.
Sania menggeleng. “Aku akan membesarkannya diam-diam saat kamu masih di penjara. Tapi, aku juga tak ingin kamu di penjara. Sejujurnya jawabanmu sedikit mengejutkanku, kukira kamu tidak ingin bayi ini.”
“Meski aku tidak tahu cara membesarkan seorang anak, tapi aku menginginkannya.”
“Kamu pasti bisa menjadi Papa yang baik,” ujar Sania.
“Jika anak Intan tidak ditemukan dan aku masih tetap di penjara, kuharap kamu bisa memberitahu anak ini bahwa aku menginginkannya,” pinta Anton. Masa kecilnya penuh dengan kenangan buruk. Ia tak ingin kelak Anaknya juga mengalami hal yang sama sepertinya. Meski ia tak tahu bagaimana Sania bisa hamil, padahal gadis itu meminum obatnya dengan rutin. Tapi ia tak akan mempertanyakannya, yang harus ia lakukan adalah mempercayainya. Anak ini pasti dikirimkan Tuhan untuk menghentikan kelakuan buruknya.
“Kemarilah,” pintanya. Ia lalu menaikkan gadis itu dalam pangkuannya dengan susah payah karena terhalang borgol yang dikenakannya. “Jaga dirimu dan bayi ini dengan baik, aku belum bisa menjagamu dan anak ini. Tetaplah sehat.”
Sania mengangguk dan balik memeluk Anton, entah kenapa Anton tidak seperti Anton yang biasanya. Anton menciumnya sejenak sebelum meninggalkannya. Semoga hanya perasaannya saja, batin Sania.
__ADS_1
🌺🌺🌺