Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Cinta


__ADS_3

🌺🌺🌺


Intan duduk di mobil dalam diam. Ada rasa tak percaya melingkupi hatinya jika saat ini ia berada satu mobil dengan Rayan, mantan suami sehari Intan.


"Apa kamu lapar?" tanya Rayan membuka percakapan sambil memandang Intan sebentar lalu kembali fokus ke jalanan. Jujur saja perasaan Rayan masih diliputi rasa keterkejutan yang luar biasa. Tak pernah terbersit dalam hatinya jika Tuhan masih memberinya kesempatan bersua dengan Intan.


"Sedikit," jawab Intan, "Tapi, apakah masih jauh?" tanya Intan. Mereka sudah berkendara hampir 2 jam tapi belum ada tanda mereka akan sampai. Intan tahu keinginannyalah untuk pergi sejauh mungkin, Intan tak menyangka memang sangat jauh.


"Ya, masih jauh. Ingat rumah yang pernah kucritakan di dalam surat waktu itu... " Rayan mendadak diam, tak seharusnya ia mengungkit ini. Rumah ini pernah di tulisnya dalam surat perpisahan mereka. Intan juga pura-pura mengantuk demi mengalihkan perhatiannya. Meskipun ia memaafkan Rayan tapi jika kisah itu diungkit kembali tentu saja perasaannya masihlah terasa sakit.


"Baiklah bangunkan aku jika sudah sampai, aku akan tidur sebentar. Rasanya aku lelah sekali," kata Intan sembari memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Nafasnya terasa berat jika mengingat malam itu. Jadi dicobanya melepas semua beban dipundaknya. Ia ingin sekali saja merasa nyaman.


Rayan ingin mengutuk mulutnya sendiri karena tak sengaja mengatakan hal yang berkaitan dengan malam itu. Saat ini dalam pikirannya hanya bagaimana cara menebus kesalahannya yang tak termaafkan. Rayan menyadari meski Intan sudah berbaik hati menerimanya, tak urung juga tetap sulit bagi mereka untuk kembali ke kehidupan mereka yang dahulu.


"Hmmm baiklah, buat dirimu nyaman," kata Rayan akhirnya.


Hari sudah menjelang dini hari ketika Rayan menepikan mobilnya di pom bensin. Dilihatnya Intan tertidur di sampingnya. Tangannya memeluk jaket putihnya dengan erat. Mungkinkah Intan kedinginan, batin Rayan yang langsung mencari selimut di jok belakang. Begitu Rayan menyelimuti Intan, Intan hanya bergumam pelan. Rayan tersenyum melihatnya. Ia rindu sekali moment ini. Moment saat berada didekat Intan.


Seperti merasa mobil telah berhenti Intan pun terjaga. Matanya mengerjap sebentar. Intan memergoki Rayan memandanginya saat tidur, tapi begitu tertangkap basah oleh Intan, Rayan buru-buru mengalihkan pandangan. Rupanya Rayan malu terpergok olehnya.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Intan masih menahan kantuk.


"Belum" Jawab Rayan.


"Apakah sejauh itu?" tanya Intan lagi. Kali ini ia merapikan selimut yang entah sejak kapan menyelimutinya. Pasti Rayan yang melakukannya.


"Ya" jawab Rayan pendek, sembari malu-malu memandang Intan.


"Hm baiklah, dimana kita sekarang?"


"Di pom bensin, mungkin kamu ingin buang air, aku akan mencari makanan"


"Hm boleh... Badanku juga terasa kaku," jawab Intan sembari membuka pintu mobil. Udara dini hari terasa dingin sehingga membuatnya terjaga. Intan lantas berjalan pelan ke arah toilet.


Rayan tak tega begitu melihat Intan terlihat bersusah payah dengan perutnya yang demikian besar. Rayan memegang lengan Intan dan mengantarnya ke toilet. Hati Rayan terasa sakit mengingat selama 9 bulan Intan bersusah payah sendiri. Bahkan Intan harus diusir orangtaunya.


Selesai dari toilet, Rayan meminta Intan menunggu di mobil. Ia akan mencari makanan. Sebenarnya Rayan tidak lapar tapi tentu tidak bagi Intan. Rayan membeli beberapa makanan ringan dan minuman lalu kembali lagi. Ketika Rayan kembali, ia mendapati Intan sudah tertidur . Dengan hati-hati Rayan menempatkan belanjaannya di kursi belakang dan mulai melanjutkan perjalanan.


Rayan ingin cepat sampai karena tak tega Intan harus tidur di mobil yang sempit. Kakinya pasti kesemutan. Apalagi ia tahu kalau Intan tak pernah mengeluh. Intan gadis yang baik. Rayan melakukan panggilan singkat begitu ia keluar dari parkiran SPBU.

__ADS_1


🌺🌺🌺


"Intan kita sudah sampai," Rayan membangunkan Intan dengan lembut.


Intan mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau. Matahari sudah tinggi ketika mereka sampai di tempat tujuan Rayan. Intan keluar dari mobil dibantu Rayan yang tiba-tiba saja sudah ada di luar mobil. Sebetulnya Intan bisa saja keluar mobil sendiri tapi Intan menyukai perasaan bahwa sekarang Ia diperhatikan.


Mereka berdiri di depan rumah yang sangat newah. Rumah bercat putih ini bertingkat dengan balkon yang lebar. Taman di halamnnya juga sangat asri dan indah. Intan langsung menyukai rumah ini.


"Rumah yang Indah," komentar Intan.


"Terimakasih, aku memilihnya karena memikirkan seleramu. Aku senang kamu menyukainya," jawab Rayan, wajahnya terlihat kurang tidur. Maklumlah Rayan yang jarang menyetir mobil harus menyetir sendiri di jarak sejauh itu.


"Ayo masuk"


Rayan menekan bel, sambil membuka pintu yang tak terkunci. Intan mengerutkan keningnya. Apa ada orang lain yang telah tinggal disini?


Begitu mereka masuk, ada seorang wanita paruh baya yang menyambut mereka. Posturnya tinggi dengan wajah keibuan yang menyenangkan. Senyum lebar tersungging kala menyambut Rayan dan Intan.


"Mari silakan Tuan Rayan dan Nyonya Intan, perkenalkan saya Bu Sri" Wanita paruh baya itu memperkenalkan diri sembari bersalaman dan mengambil alih Intan dari tangan Rayan. Bu Sri lantas mendudukkan Intan di Ruang tengah dengan pemandangan taman yang asri di depannya.


"Terimakasih" jawab Intan sembari menyelonjorkan kakinya di sofa yang lebar. Rayan mengikuti Bu Sri ke dapur.


"Sudah Tuan, sarapan juga sudah siap. Mau sarapan sekarang?"


"Antar Intan ke kamarnya dulu untuk mandi dan ganti pakaian. Habis itu kita sarapan"


Bu Sri mengangguk dan lantas bergegas menghampiri Intan yang masih berada di sofa ruang keluarga. Rayan juga segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju.


🌺🌺🌺


"Mas Rayan mana?" tanya Intan pada Bu Sri begitu ia sudah ada di meja makan. Namun, Mas Rayan belum kelihatan. Mungkinkan Intan disuruh sarapan sendiri? Bkankah Ia disini karena mereka sudah berbaikan dan berupaya memulai dari awal.


"Mungkin Tuan Rayan masih belum selesai mandi," kata Bu Sri saat melihat kekhawatiran Intan.


"Baiklah, aku akan sarapan lebih dulu," kata Intan akhirnya, Ia masih harus sadar diri hubungan mereka tidak bisa serta merta seperti dulu. Apalagi ini pertemuan pertama mereka setelah malam pertama itu.


Makanan Bu Sri sangat enak, apalagi bagi Intan yang kelaparan. Ia sudah lama tidak makan makanan rumahan yang se enak ini. Intan sampai harus mengingatkan diri sendiri agar tak makan banyak. Karena Intan akan memuntahkannya jika terlampau penuh. Sangat disayangkan jika harus memuntahkan makanan seenak ini.


"Bu Sri, trimakasih makanannya. Semuanya sangat enak," kata Intan sambil membawa piring kotor ke area basin.

__ADS_1


Begitu melihat Intan membawa piring bekas makanannya, Bu Sri buru-buru mencegahnya. Semua bagian itu tugasnya. Apalagi melihat Nyonya Intan yang hamil tua, bisa-bisa Bu Sri kena omel Tuan Rayan jika membiarkan Nyonya Intan capek. Bu Sri cukup tau diri karena selama menjaga rumah ini bisa dikatakan Bu Sri dan Suaminya makan gaji buta. Selama menunggu rumah ini Bu Sri lebih banyak menganggur karena rumah ini selalu kosong. Baru kali ini Bu Sri merasa benar-benar bekerja dan itu melegakan.


"Dimana kamar Mas Rayan?" tanya Intan lagi. Ia ingin menanyakan langsung pada Rayan kenapa Ia harus makan sendirian, jika mereka berdua seharusnya berupaya untuk berbaikan.


"Kamar Tuan Rayan di lantai atas. Tepat di depan tangga Nyonya," jawab Bu Sri sembari merapikan meja makan. Bu Sri tak yakin apakah Tuan Rayan akan sarapan atau tidak. Jadi, Bu Sri hanya merapikannya tidak membereskan mejanya.


Intan manggut-manggut sambil berucap trimakasih.


"Ngomong-ngomong Bu Sri, panggil saja saya Intan. Tak usah terlalu formal begitu."


"Maaf Nyonya, saya tidak berani" Jawab Bu Sri jujur.


Intan hanya mengangguk kecil tanda mengerti, "biar saya yang ngomong ke Mas Rayan."


🌺🌺🌺


"Mas Rayan... Tok tok... Mas... " panggil Intan sambil mengetuk kamar Rayan. Namun, tak ada sahutan. Intan lalu memberanikan diri memutar ganggang pintu yang ternyata tidak dikunci. Intan menghela nafas menepis kegugupannya dan dengan langkah pelan memasuki kamar Rayan.


Kamar Rayan sangat luas dengan banyak cendela besar yang menjulang tinggi. Semua tertutupi gorden yang tebal sehingga kamar terlihat gelap. Intan berjalan ke arah jendela dan menyibak gordennya. Pemandangan yang Indah langsung memanjakan mata Intan. Panorama pegunungan membentang dengan dominasi warna hijau yang menyegarkan mata. Kolam renang di lantai bawah juga terlihat jelas dari atas. Kamar ini mempunyai spot terbaik untuk mengamati seantero aktifitas rumah.


Intan beralih ke gorden disamping tempat tidur. Tapi tangan Intan terhenti begitu melihat Rayan tertidur di ranjang. Rambutnya masih terlihat basah sehabis mandi. Terlihat Rayan hanya mengenakan celana panjang. Di tangan kanan Rayan, masih terdapat kaos yang akan dipakainya namun tak jadi karena Rayan keburu ketiduran. Bahkan, satu kaki Rayan masih menjuntai di sisi ranjang.


Intan tersenyum menyadari bahwa bukan berarti Rayan menghindarinya. Namun, Rayan tak bisa menghindari kantuk. Wajar saja, Rayan hampir tak tidur karena menyetir semalaman.


Intan lantas duduk di samping ranjang sembari memandang Rayan yang tengah tertidur. Wajahnya terlihat damai. Rambutnya sedikit lebih panjang dari Rayan yang biasa Intan kenal. Ada senyum tersungging di wajah Rayan, pasti mimpi Indah, gumam Intan. Intan tak yakin antara membangunkan atau pergi keluar. Namun godaan menyentuh wajah pria yang selalu hadir dalam mimpi Intan ini tak kuasa ditolak.


Intan mendaratkan tangannya diujung rambut Rayan. Intak tak berani menyentuh wajah Rayan langsung, khawatir membangunkannya, Intan pasti akan malu jika terpergok langsung. Tapi begitu tangan Intan memegang ujung rambut Rayan, tangan Rayan dengan cepat langsung memegangnya.


"Aduh!" pekik Intan terkejut. Tak di nyana rupanya Rayan tak benar-benar tertidur. Pasti tadi Rayan terbangun karena silau dengan cahaya yang menerobos kamar. Hanya saja Rayan pura-pura tidur saat tahu Intan yang melakukannya.


"Maafkan aku karena membangunkanmu," kata Intan pada Rayan yang masih tak mau melepas tangannya.


"Jangan pergi," pinta Rayan dengan mata yang masih terpejam, "temani aku sebentar saja. Biarkan tetap begini sampai aku tertidur. Kumohon!"


Intan mengangguk mengiyakan sambil memosisikan dirinya dengan nyaman disamping Rayan. Tangan mereka masih bertautan, ia tak yakin harus melepasnya atau tidak karena dalam hatinya ia juga merindukan hal ini. Akhirnya Intan memutuskan tak peduli. saat ini, biarlah hanya untuk saat ini, tak peduli ini mimpi atau nyata, ia hanya akan menikmati moment ini.


Saat mereka berdua tertidur bukan hanya tangan mereka yang saling bertaut, mereka berakhir dengan saling berpelukan. Mereka berdua mungkin bisa berlaku jaim dan malu-malu, namun mereka tak bisa membohongi tubuh mereka sendiri. Mereka berdua bisa saja tidak mengingatnya, tapi tubuh mereka dengan alami melakukan apa yang seharusnya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2