Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Babies


__ADS_3

🌺🌺🌺


Seumur hidup Rayan, tak ada yang lebih mengejutkan dari hari ini. Bagaimana tidak, baru kemarin Rayan tahu bahwa dirinya calon Ayah, dan sekarang calon Ayah itu telah berada di ruang operasi menunggu calon bayinya lahir.


Intan menggenggam tangan Rayan dengan lembut, matanya menatap Rayan dengan penuh pengharapan. Bagaimana tidak, ketika bius di suntikkan, maka sekali itu Intan akan terlelap, dan Intan tak tahu apakah ia bisa terbangun untuk melihat bayinya, ataukah ia akan terlelap untuk selamanya.


"Aku serahkan diriku dan anak anak padamu, tolong jaga kami," ucap Intan perlahan dengan menahan tangis. Intan bersyukur, setelah semua masalah yang dihadapinya seorang diri, kini dengan lega Intan bisa bersandar pada seseorang. Sungguh membahagiakan bisa percaya pada seseorang. Bahkan jika nanti ia tak akan bangun lagi, tak ada penyesalan baginya.


Rayan mengangguk sembari mencium kening Intan kala bagian anastesi menyuntikkan bius.


"Aku mencintaimu" Ucap Intan sebelum hilang kesadaran.


"Aku juga mencintaimu," balas Rayan sebelum Intan benar-benar tak sadar.


🌺🌺🌺


Rayan tak pernah berada di tempat operasi caesar sebelumnya. Dokter Fuadi yang memimpin jalannya operasi, sejenak mengheningkan cipta berdoa supaya operasi berjalan lancar, doa yang diamini oleh semua yang ada di rungan. Suara monitor jantung mengisi keheningan ruang operasi, dibagian ujung ruangan seorang birth photographer mengabadikan moment lahirnya buah hatinya. Rayan juga tak tahu kenapa ia menyetujui layanan fotografer dalam paket operasi Intan. Hanya saja kali ini Rayan tak memikirkan itu, karena ia tak henti hentinya sibuk berdoa memohon keselamatan untuk Intan dan anaknya.


Rayan sedikit ngeri tatkala dokter mulai menyayat perut Intan, apalagi saat harus melihat dokter memasukkan tangannya ke dalam lubang sayatan yang kini telah sepenuhnya berwarna merah. Namun, tak lama kengerian itu berubah menjadi rasa takjub, pasalnya dari lubang sayatan itu dokter mengeluarkan seorang bayi mungil. Rayan tak kuasa meneteskan air mata bahagia, anaknya telah lahir, gadis mungil secantik Intan.


Setelah memotong tali pusat sang bayi Dokter Fuadi menyerahkan bayi tersebut pada asisten disampingnya, yang dengan cekatan memasukkan selang penyedot lendir pada hidung dan mulut sang bayi, sedetik kemudian tangisan bayi pun pecah memenuhi ruangan. Asisten dokter menyerahkan sang bayi pada dokter anak yang sudah menunggu disampingnya dan membawa bayinya keluar ruangan.


Kali ini air mata benar-benar menetes tak terbendung tatkala sekali lagi dokter Fuadi mengeluarkan bayi yang lain, Bayi lelaki yang lebih besar dari saudari kembarnya tadi Rayan mencium Intan yang tergolek di depannya, seraya berbisik


"Sayang, jagoan kita telah lahir, terimakasih sudah menjadi ibu bagi anak-anakku"

__ADS_1


"Oekkk... Oeeeekkk .... " Tangisan bayi laki-laki Rayan tak kalah kencang dari saudarinya. Rayan pun mengikuti perawat yang membawa keluar bayinya dari ruang operasi. Rayan sebenarnya ingin menunggui Intan di sini, tapi apalah daya ia harus mengantar bayi-bayinya ke kamar bayi, unit yang cukup jauh dari ruang operasi Intan.


Sebelum pergi Rayan menyempatkan memberi kecupan di kening Intan yanv masih tak sadarkan diri.


"Aku akan mengantar anak-anak dulu," pamit Rayan sembari memandang wajah Intan yang terpejam rapat. Ia enggan berpisah dari Intan. Ada rasa mengganjal dihatinya yang entah bersumber dari apa. Akhirnya, ia menepis perasaan itu karena seharusnya saat ini adalah saat paling membahagiakan baginya, tak ada alasan baginya untuk larut dalam hal-hal yang belum jelas.


Rayan mendorong kereta bayi yang berisi dua buah hatinya dengan riang sembari menelpon Johan. Ia benar-benar butuh bantuan untuk menjaga buah hatinya agar bisa fokus menemani Intan.


"Johan, kamu dimana"


"Aku di rumahsakit"


"Rumahsakit mana? apakah ada yang sakit, kalau sudah selesai urusanmu disana segera kemari, aku butuh bantuanmu."


"Ya, aku segera datang"


"Ah, syukurlah kalian datang. Tapi bagaimana Ema bisa datang?" tanya Rayan penasaran.


"Aku memanggilnya, aku minta maaf, aku berinisiatif sendiri, ku fikir Tuan Rayan pasti membutuhkan keluarga saat ini," jawab Johan setengah takut dimarahi. Johan benar-benar tak tega jika tuannya melewati hari ini begitu saja tanpa kenangan yang berarti dari saudara satu-satunya.


"Bagaimana aku bisa melewatkan moment kakakku menjadi Ayah. Aduh, lihat betapa bahagianya, keponakanku langsung dua" Kata Ema sambil mengambil alih mendorong kereta bayi. "Tenang kakak-kakak kecil, adek bayi ini sebentar lagi akan ikut menemani kalian bermain," kata Ema sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit, saat ini Ema sedang hamil 5 bulan.


"Selamat bro, sudah jadi Daddy sekarang. Ingat berarti sudah bertambah tua," gurau Edi sembari menepuk pundak Rayan.


"Thanks," jawab Rayan singkat, sambil tak bisa menghentikan senyum bahagia yang terukir diwajahnya. Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan.

__ADS_1


"Kalau begitu aku serahkan Bayi-bayi ini pada pengawasan kalian, awas jangan lengah nanti bayi ini bisa tertukar dengan bayi orang lain. Oia, anak perempuanku lahir lebih dulu, baru anak laki-lakiku."


"Wow, mereka berdua sepasang, betapa beruntungnya," kata Ema sembari mendekat ke arah kereta dorong. Ia tak menyangka keponakannya cowok dan cewek, wajah Ema yang mulai berisi karena kehamilannya menyunggingkan senyum yang tak kalah menggemaskan dari wajah kedua keponakannya.


"Dalam adat kebiasaan daerah, anak yang lahir terakhir adalah kakaknya karena dia membantu adiknya untuk lahir lebih dulu, kakak yang bertugas menolong dan mengalah untuk adiknya," celutuk Johan.


Teorinya yang aneh membuat Ema dan Rayan mamandang Johan dengan tatapan penasaran.


"Iyakah demikian? Aku tak pernah tahu," kata Rayan.


"Aku juga tidak," jawab Ema.


"Aku pernah mendengarnya," kata Edi, "kembar yang lahir terakhir akan menjadi kakak."


"Benarkah, kalau begitu anak laki lakiku akan menjadi kakak dan anak perempuanku adalah adiknya," kata Rayan memutuskan, "Ah, kita sudah sampai."


Tanpa terasa Mereka sudah sampai di pintu kamar bayi, Rayan buru-buru teringat bahwa Rayan terlalu lama meninggalkan Intan sendirian di kamar operasi.


"Aku akan menunggui Intan. Kalian jaga anak-anak," perintah Rayan sambil melambaikan tangan berbalik pergi.


"Kakak, siapa namanya ?" teriak Ema pada Rayan yang sudah menjauh.


"Aku belum tahu, aku akan bertanya pada Intan dulu. Sementara tulis saja Intan dan Rayan."


"Siap, Bos!" jawab Johan, wajah tampan Johan yang dingin bahkan ikut tersenyum bahagia menyambut buah hati Rayan.

__ADS_1


Rayan menyunggingkan senyum sembari bergumam dalam hati, wahai Intanku, kamulah sumber kebahagianku dan orang-orang disekitarku. Terimakasih, telag hadir dalam hidupku.


🌺🌺🌺


__ADS_2