
🌺🌺🌺
Rudy memandang langit-langit kamar tempatnya berada. Ia telah terbangun untuk kedua kalinya, tapi kali ini ia hanya diam saja dan tetap berbaring di atas ranjang. Ia memikirkan cara untuk selamat dari penculikan. Namun meski telah memikirkannya demikian dalam, tetap saja ia merasa kesulitan menemukan caranya. Ia hanya anak kecil berumur tujuh tahun. Apa yang bisa dilakukannya agar bisa membebaskan diri, sedangkan posisinya saat ini tengah berada di atas kapal yang sedang berlayar di tengah laut?
“Kriet...” Rudy mendengar suara pintu terkuak. Ia segera memejamkan matanya pura-pura tertidur. Ia telah belajar bagaimana cara pura-pura tidur, ia sangat mahir sehingga dulu Papanya sering terkecoh dengan tipuannya.
“Sudah bangun?” sapa pria itu. Pria yang meminta dirinya dipanggil kakak oleh Rudy.
Rudy diam tak berkutik. Papanya pernah mengatakan padanya sewaktu dulu, alasan kenapa papanya selalu tahu bahwa ia masih terjaga dan pura-pura tidur adalah meski sama-sama terpejam pupil matanya bergerak-gerak. Saat ini ia telah melakukannya dengan benar dan membuat pupil matanya diam seolah-olah tengah memandang satu arah dalam kegelapan. Tapi entah kenapa seolah Kakak ini tahu bahwa ia berbohong, apakah Papanya dulu memang pura-pura mengatakan bahwa ia sebenarnya tidur padahal terjaga atau kah...? Rudy sejenak tersadar alasan kenapa Kakak ini selalu datang tepat saat ia terjaga adalah Kakak ini sepertinya sudah mengalkulasikan pemberian obat tidur yang diminumnya sehingga Kakak ini bisa datang tepat waktu saat ia terjaga. Sepertinya percuma membohonginya, batin Rudy. “Ya, aku baru saja bangun,” jawabnya akhirnya. Ia kemudian bangun dengan malas. Apakah Kakak ini akan memberinya obat tidur lagi?
“Mau melihat matahari terbenam?” tanya Ze pada Rudy.
Rudy sedikit terkejut dengan pertanyaan kakak itu. Ia tak menyangka sama sekali karena telah ditawari melakukan hal yang seru. Ia menyangka akan diikat atau disuruh makan makanan yang mengandung obat tidur. Tapi penawaran ini sungguh di luar bayangannya sama sekali, tentu saja ia tertarik dengan penawarannya. Ia belum pernah melihat matahari terbenam dari atas kapal, apalagi kapal itu saat ini tengah berada di tengah laut. Sepertinya itu akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.
“Apakah kamu sungguh akan mengajakku melihatnya?” tanya Rudy dengan polosnya.
“Ya, tentu saja!” jawab Kakak itu.
“Kamu tidak akan menenggelamkanku kan?” tanya Rudy dengan sedikit takut. Bagaimana kalau tiba-tiba ia dibuang ke lautan karena orang tuanya tidak bisa memberikan tebusan.
__ADS_1
“Hahaha.. buat apa! Aku hanya ingin kamu menemaniku,” ucap Ze, ia mengganti posisi topinya menjadi terbalik sehingga Rudy bisa melihat wajah tampannya yang tengah tersenyum geli.
Rudy terkejut sekaligus senang melihat Kakak itu tertawa. Rasa bahagia menular kepada Rudy, sehingga ia menurunkan kewaspadaannya dan mencoba berteman. “Namaku Rudy, siapa namamu?” tanyanya sembari mengulurkan tangan. Ia begitu penasaran dengan matahari terbenam sehingga melupakan kenyataan bahwa Kakak di depannya saat ini adalah penculiknya. Mungkin begitulah pikiran anak-anak, selalu mudah terpesona dan teralihkan hal-hal baru.
Ze sedikit kagum melihat Rudy yang berani. Padahal tangannya begitu kotor oleh banyak kejahatan yang dilakukannya tapi bocah polos dan lugu ini seolah tidak melihatnya sekotor itu, malah mengajaknya kenalan. Sungguh bocah yang lucu, ia menjadi semakin menyukai bocah ini dan berpikir untuk menyimpan Rudy untuknya sendiri. Kejadian ini mungkin sedikit di luar skenario. Anton memintanya menculik anak Intan untuk barter kebebasan Anton dari penjara, tapi begitu ia melihat Rudy, ia terpesona. Meski ia seorang homoseksual tapi ia bukanlah paedofil, ia sangat tertarik dengan Rudy karena bocah itu mengingatkannya akan masa kecil yang tak pernah dipunyainya.
Ia tak pernah menculik bocah sebelumnya, sehingga ia tak tahu bagaimana memperlakukan Rudy dengan baik. Jadi selama perjalanan ia selalu memastikan bocah ini terus tertidur. Tapi setelah dipikir-pikir mereka ada di kapal sekarang? Apa yang ditakutkannya? Anak ini tidak akan bisa kabur darinya. Pun tidak ada yang bisa menolongnya karena saat ini mereka naik kapal ilegal. Ia bahkan sudah membawa scorkl 3 buah di dalam tasnya sebagai persiapan melarikan diri jika sesuatu menjadi buruk. Tentu saja pasti tidak akan ada penangkapan karena tidak akan ada yang tahu saat ini ia berada di mana, tidak juga Anton. Tapi, ia tidak mau mengambil risiko dan terus membawanya tasnya ke mana pun ia berada.
“Bocah manis, namaku Ze. Hanya untukmu tapi jika seseorang bertanya padamu kamu harus bilang namaku Doni. Dan salam kenal...” jawab Ze sembari menyambut uluran tangan Rudy.
"Baik, Kak Ze. Sekarang kita berteman," ujar Rudy sambil tersenyum manis.
🌺🌺🌺
Setelah menindaklanjuti perkataan Anton, Eka dan timnya mengalihkan pencarian di pelabuhan dan dermaga. Mereka juga menyisir CCTV yang ada di sekitarnya. Setelah mereka melakukan pencarian masif, akhirnya mereka mendapatkan titik terang pencarian Rudy. Mereka menemukan baju terakhir yang dipakai Rudy di tempat sampah pelabuhan. Meski mereka tidak menemukan sosok Rudy dan penculiknya di CCTV tapi mereka cukup senang dengan kemajuan itu. Berarti perkataan Anton bukan sekedar bualan.
“Apakah ada kabar terbaru tentang Rudy?” tanya Intan begitu melihat Rayan mendapatkan pesan di ponselnya. Ia sudah begitu antusias menunggu kabar baik setelah mereka mendapat bantuan informasi dari Anton.
“Iya, mereka mengatakan telah menemukan pakaian Rudy di tempat sampah pelabuhan kota A.”
__ADS_1
“Benarkah? Lalu bagaimana sekarang. Apa mereka bisa melacaknya. Apakah mereka menemukan petunjuknya?” tanya Intan antusias.
“Mereka tidak menemukan CCTV yang menunjukkan seorang pria dan anak sebaya Rudy. Jadi sekarang mereka menyasar semua kapal maupun perahu yang mengarah ke Pulau Kalimantan. Pihak kepolisian Kalimantan juga sudah berjaga di pelabuhan dan pesisir pantai Pulau Kalimantan. Kita hanya tinggal berdoa semoga ada petunjuk lain dan Rudy segera ditemukan,” kata Rayan.
“Amin... semoga Rudy segera ditemukan,” jawab Intan.
“Ruby di mana? Aku tidak melihatnya?” tanya Rayan.
“Dia bermain dengan Samuel, kuharap ia sedikit melupakan tentang Rudy, dari kemarin ia terus menangis menanyakan di mana Kakaknya.”
“Kamu belum makan,” ujar Rayan mengingatkan Istrinya.
“Aku tidak berselera makan sebelum ada kabar baik tentang Rudy,” jawab Intan.
“Jangan keras kepala,” ujar Rayan sembari merangkul istrinya dan mengajaknya ke dapur. “Kamu harus tetap sehat untuk si kembar, dan untukku juga,” jawab Rayan sembari mencium bibir Istrinya. Untung saja mereka telah pindah di rumah sendiri di samping rumah Ema, kalau mereka masih menumpang, betapa malunya Intan dengan perlakuan Rayan.
“Kamu juga harus tetap sehat untukku dan anak-anak,” kata Intan. Ia berharap Rudy segera ditemukan dan tidak ada lagi halangan atas kebahagiaan mereka.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Mataku sakit... Maaf atas up pendeknya.