Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Tolong Selamatkan aku


__ADS_3

🌺🌺🌺


Rudy begitu bahagia saat Kakak Ze membiarkannya melihat pemandangan setelah sebelumnya hanya tertidur di dalam kamar yang apek dan membosankan. Meskipun ia juga tidak begitu ingat kondisi kamar karena ia hanya tertidur. Bahkan sebelumnya ia tak pernah tahu bahwa ia telah berada di kapal sampai kapal telah berlayar sangat jauh meninggalkan daratan. Ia bersorak kegirangan melihat banyak ikan berenang meloncati permukaan air. Berlatar langit sore yang indah meski sedikit berawan, ditambah semburat cahaya jingga yang meneranginya. Ia tak pernah tahu ada banyak hal indah tengah laut.


“Apa kamu senang?” tanya Ze padanya.


“Iya, terima kasih,” ucap Rudy malu-malu. Ia meloncat kegirangan sambil bertepuk tangan untuk mengekspresikan kegembiraannya. Sampai kapal tiba-tiba oleng dan tubuh mungilnya sedikit terhempas menabrak pembatas.


“Awas...” teriak Ze.


Rudy yang mendengar peringatannya langsung awas dan memegang pembatas.


“Pegang yang erat,” perintah Ze lagi. Ia terlihat berusaha meraih pegangannya sendiri. Ia tidak bisa menggapai Rudy karena bocah itu terhempas cukup jauh darinya. Akan sulit menyelamatkannya jika ia belum mendapat pegangan yang tepat untuk dirinya sendiri. Salah-salah bukannya menolong, bisa saja ia malah ikut terhempas.


Cuaca memburuk dengan cepat, angin mengombang-ambingkan kapal. Badai laut datang tak terduga. Rudy kecil memegang besi pembatas dengan kuat. Matanya buram oleh air hujan dan air mata ketakutannya. Ketakutan membayanginya saat ia melihat Ze berada cukup jauh darinya, “Kakak...” teriak Rudy lagi di sela isak tangisnya. Ia berharap Ze segera datang menolongnya.


Kemudian badai yang sesungguhnya datang. Ombak besar menghantam kapal, guncangannya yang dahsyat membuat genggaman tangan mungil Rudy terlepas. Tubuhnya selip di bawah pembatas yang tentunya cukup muat untuk tubuh mungilnya, untungnya Life jacket yang dikenakannya sedikit menghambat tubuhnya. Tapi kemudian ombak datang sekali lagi dan mendorong tubuhnya dengan keras dan kali ini tubuhnya sukses melewati celah, “Kakak...” teriak Rudy sebelum tubuhnya terjatuh ke laut dan ombak dengan senang hati membuka lebar tangannya memeluk tubuh kecil yang tak berdosa itu sampai lenyap tak tersisa.


🌺🌺🌺


Setelah badai berlalu dan permukaan laut kembali tenang. Rudy tersadar, ia mengerjapkan matanya dan sedikit terkejut mendapati hamparan langit saat ia membuka mata. Bajunya basah dan dingin menyebar di seluruh tubuhnya. Meskipun begitu ia merasa cukup baik terlepas dari kondisinya yang terlentang di hamparan laut yang luas seorang diri. Dalam sunyinya malam dan tubuh yang menggigil ia mengulang peristiwa yang di alaminya beberapa waktu yang lalu dalam benaknya. Meskipun ia cukup beruntung terlepas dari Kakak jahat penculiknya, tapi jika ia berakhir di tengah laut kedinginan dan kelaparan lalu apa bagusnya?


Ia merindukan Saudarinya, Ruby. Apakah makan malam itu adalah makan malam terakhirnya bersama Ruby dan Mamanya? Ia lapar sekarang. Ia berharap bisa minum segelas coklat hangat atau apa pun itu. Setelah merasakan bagaimana rasanya kelaparan, ia menyesal telah sedikit cerewet soal makanan sebelumnya. Ia tak pernah menyadari sebelumnya, ternyata bisa makan saja sudah termasuk suatu anugerah.


Rudy menatap ke langit yang dihiasi ribuan bintang dan terlihat sangat cerah sampai ia tak percaya bahwa saat ini ia berada di tengah samudra tanpa penerangan. Wajah saudarinya terbayang lagi, akankah ia bisa melihatnya lagi? Rudy menangis sembari memegang jaket pelampungnya yang sedikit kebesaran. Suatu berkah baginya bisa hidup dengan ombak yang menggulungnya karena bisa saja life jacket itu selip dan lepas dari tubuhnya. Ia tak bisa berenang atau meski ia bisa berenang, hanya menunggu waktu sampai ia tenggelam karena kelelahan dengan berenang di tengah lautan.


“Aku masih ingin hidup...” ucap Rudy lirih, air mata mulai menetes lagi. Ia menghapus air matanya dengan tangan mungilnya yang keriput karena terlalu lama terendam air. “Tuhan, aku ingin hidup... tolong selamatkan aku.”


Tubuh Rudy menggigil karena kedinginan, bibirnya biru dan kulitnya pucat. Ia berusaha terus terjaga sambil membayangkan yang indah-indah, ia takut jika terlelap nanti, ia tak akan bisa bangun lagi... dalam keheningan malam ia bernyanyi, suaranya serak dan parau. Dengan bibir bergetar suaranya terdengar lirih.

__ADS_1


Twinkle, twinkle, little star


How I wonder what you are


Up above the world so high


Like a diamond in the sky


Twinkle, twinkle little star


How I wonder what you are


Air mata mengalir di pipi pucatnya, ia rindu Saudarinya. Ia teringat sewaktu dulu mereka mulai menumbuhkan bunga di Northland, Papa mengajak Oma, Adiknya dan ia berkemah di bawah pohon kowhai yang saat itu tengah berbunga, dengan warna kuningnya yang semarak, langit juga seindah ini. Mereka menyanyikan lagu twinkle dengan gembira. Saat ini ia menyanyikannya dan mengulang memori indah itu. Tubuhnya sudah letih, ia tak tahu berapa lama lagi ia akan bertahan. Matanya nanar menatap bintang di langit. Tubuhnya terasa lemah, sampai ia bisa merasakan ombak mengombang-ambingkannya. Rudy sedikit terisak tapi ia melanjutkan nyanyiannya dengan suara yang lebih lirih, nyaris tak terdengar.


When the blazing sun is gone


Then you show your little light


Twinkle, twinkle, all the night


Twinkle, twinkle, little star


How I wonder what you are


Suara nyanyiannya terbawa angin sampai bocah itu sendiri tak bisa mendengar apa yang diucapkannya. Atau... bukan angin yang membawa nyanyiannya, tapi memang nyanyiannya sudah tak terdengar lagi. Bocah kecil yang mempertaruhkan hidupnya demi Mamanya, bocah yang berusaha tegar dan berpura-pura ramah pada penculiknya, bocah yang bertahan hidup itu kini telah terpejam, matanya tertutup rapat, bibirnya membiru dengan tubuh yang pucat.


Tak jauh darinya sebuah kapal nelayan berlayar mendekat, ada hiruk pikuk di antara para awak kapal tentang life jacket yang berwarna cerah itu apakah berisi orang atau hanya hanyut saja tak ada orangnya.


“Sudah kubilang ada orangnya,” ujar orang bertubuh tambun. Sepertinya ia yang pertama kali melihat pelampung Rudy.

__ADS_1


“Coba kulihat,” kata seseorang yang lain sambil mengambil alih teropong dari tangan temannya. “Ya, kamu benar. Tapi sepertinya anak-anak. Pantas saja orang-orang tak melihatnya.”


Kapal semakin mendekat untuk melakukan penolongan. Meski mereka tak yakin apakah korban selamat atau tidak, para nelayan yang baik hati itu tetap bahu membahu mengevakuasi Rudy.


🌺🌺🌺


“Aku memberitahumu yang sesungguhnya,” sergah Anton.


“Kamu sengaja mengalihkan pencarian kami dan membiarkan mereka kabur,” jerit Intan.


“Untuk apa aku melakukannya?” tantang Anton. “Aku mempertaruhkan diriku sendiri dengan memberikan informasi ini padamu. Apakah kamu tidak tahu betapa mengerikannya bocah itu?” ucap Anton marah.


“Kupikir kamu sungguh ingin menghapus nama Daisuke di belakang namamu?” kata Rayan mencoba tenang. Ia juga ingin melampiaskan kemarahannya pada Anton karena membuat mereka membuang waktu pencarian mereka yang berharga.


“Kamu sangat ingin menemukan Putramu kan?” tanya Anton. Rayan dan Intan mengangguk. “Begitulah perasaanku. Aku juga SANGAT INGIN!” ujar Anton marah. “Bagiku, menghapus nama itu sama inginnya seperti inginmu menemukan putramu, SANGAT INGIN,” lanjut Anton.


Rayan dan Intan berpandangan. Mereka sedikit terkejut melihat Anton yang emosional.


“Tapi mereka tak menemukannya di mana pun di pelabuhan juga di lautan,” sanggah Intan. Suaranya parau, ia sudah menahan tangis dari tadi. “Kamu juga tidak mengatakan bahwa penculik itu gay. Tidak benarkan bahwa dia gay?” tanyanya memastikan. Ia ingin jawaban tidak, tapi ekspresi yang ditunjukkan oleh Anton seolah membenarkannya. Ia tak kuasa menahan guncangan perasannya dan hampir terjatuh. Untung Rayan segera menangkapnya.


“Lautan itu luas dan mereka tak akan selamanya berada di lautan. Perketat penjagaan meski bukan di wilayah dermaga dan pelabuhan resmi. Bisa saja mereka bersandar di mana saja,” saran Anton. “Jika benar bocah itu menyukai Putramu, Putramu pasti akan selamat. Karena siapa pun yang tak sejalan dengannya pasti mati,” terang Anton.


Ting


Terdengar dering notifikasi dan Rayan melihat ponselnya. Ia segera menoleh ke arah Istrinya yang tengah memandangnya penuh tanda tanya. “Ada apa?” tanya Intan.


“Ruby sakit,” ucap Rayan. Wajahnya memucat dengan cepat. Si kembar selalu sakit bersamaan. Apa mungkin saat ini Rudy tengah sakit atau nyawanya terancam? Rayan menyimpan informasi ini untuk dirinya sendiri, ia tak mau Intan lebih khawatir lagi. Tanpa menoleh ke arah Anton, Rayan segera mengajak Intan pergi. Mereka cenderung mengabaikan Ruby dan sibuk mencari Rudy, mereka harus segera memeriksakan Ruby ke rumah sakit dan berharap sakitnya Ruby tak ada hubungannya dengan Rudy.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2