
🌺🌺🌺
Sebuah mobil berwarna hitam terlihat memasuki halaman sebuah rumah mewah saat tengah malam. Beberapa orang tampak keluar dari rumah menyambut kedatangan tamu tengah malam mereka. Atau lebih tepatnya, kembali pulangnya anggota keluarga mereka.
“Sayang, kita sampai rumah,” ujar Rayan membangunkan Rudy, Putranya.
Sedangkan yang dibangunkan tampak mengerjap-ngerjapkan matanya, kendati masih mengantuk tapi ada raut kebahagiaan tampak dimatanya.
Rayan yang tahu Putranya masih belum sepenuhnya terjaga segera menggendongnya dan menemui keluarga yang menunggunya.
Mereka langsung disambut oleh Intan yang sudah sangat merindukan putranya. Intan segera menghujani ciuman dan pelukan pada Rudy. “Mama merindukanmu, Sayang,” ujarnya sambil mengambil alih Rudy dari gendongan Rayan.
“Rudy juga sayang Mama,” balas Rudy sambil memeluk Mamanya, “Rudy juga sayang Oma, Tante Ema, Om Edi, Ruby, Samuel. Rudy sayang semuanya,” ujarnya sambil memandang orang-orang di sekelilingnya. Nyatanya baik Samuel maupun Ruby tak tampak di sana. Tapi ia tahu semua orang baik-baik saja.
Mereka segera masuk ke dalam rumah dan bercengkerama di dalam. Mereka memilih ruangan tengah karena muat cukup banyak orang. Semua orang menantikan cerita lengkap mengenai tertangkapnya penculik itu.
“Malam ini Rudy mau tidur bersama Ruby, Papa dan Mama. Ayo, Ma, kita tidur berempat,” ujar Rudy memaksa sambil menarik tangan kedua orang tuanya. Ia sudah merindukan kumpul bersama keluarganya. Tapi saat hendak ke kamarnya, ia baru menyadari bahwa rumah mereka telah berubah. Ia tadi terlalu sibuk melepas rindu dan masih mengantuk sampai tidak menyadari perbedaan ini. Ia menoleh bingung ke arah orang tuanya.
__ADS_1
“Biar Mama tunjukkan kamarmu,” ujar Intan sembari menggandeng Rudy ke lantai atas.
“Papa...” panggil Rudy pada Papanya yang masih meladeni pertanyaan Tante Ema.
“Ah, baiklah. Kita bicara besok saja,” ujar Rayan meminta maaf pada keluarganya yang menunggunya.
Rudy dengan semangat memilih tidur di antara Ruby dan Mamanya. Ia merindukan keduanya karena selama beberapa hari yang lalu ia hanya bertemu Papanya. Kendati sangat merindukan Ruby dan Mamanya tapi tubuhnya terlalu letih untuk bercerita banyak hal pada Mamanya. Apalagi Mamanya melarangnya untuk membangunkan Ruby jadi ia memilih tidur sembari menggenggam tangan Adiknya. Tak butuh waktu lama bagi Rudy untuk jatuh tertidur.
Intan tersenyum memandang anak-anaknya yang tertidur dengan damai. Ia bersyukur akhirnya semua masalah telah selesai dengan baik. Keluarganya kembali berkumpul dengan selamat. Semoga ke depannya peristiwa seperti ini tak terulang kembali.
🌺🌺🌺
“Biar aku persiapkan air hangat,” tawar Intan.
“Tak perlu, aku tahu kamu lelah,” balas Rayan cepat. Meski lain di mulut di hati karena dalam hatinya sangat mengharapkan Intan menemaninya, tak cuma sekedar menghangatkan air mandinya tapi juga menghangatkan dirinya. Ia merindukan Intan. Hm, tunggu dulu. Intan tahu benar kebiasaannya mandi dengan air dingin bukan dengan air hangat. Apa mungkin Intan mengharapkan kehangatan sepertinya? Rayan lanjut tersenyum dan meralat ucapannya, “Tentu saja, kamu bisa melakukannya.”
Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk tiba di kamar karena kamar mereka ada di antara kamar si kembar. Begitu pintu tertutup keduanya langsung berciuman dengan dalam.
__ADS_1
“Aku merindukanmu...” bisik Rayan di telinga Istrinya.
“Aku juga merindukanmu, ketika kamu jauh. Hatiku terasa tak tenang, aku selalu dipenuhi kekhawatiran. Aku tak ingin kehilanganmu lagi, aku...” Intan tak sanggup meneruskan ucapannya karena mendadak air mata keluar di pipinya tanpa bisa ditahannya.
“Aku sudah di rumah, aku pulang dengan selamat, aku membawa Rudy pulang, aku bahkan menangkap penculiknya. Ada aku, kamu bisa mengandalkanku,” ujar Rayan sambil memeluk Intan. Ia tahu benar selama perjalanan kisah cinta mereka, Intan lah yang paling tersiksa. Dicampakkan olehnya setelah malam pertama, diusir orang tua kandungnya, menjalani 9 bulan kehamilan seorang diri, bahkan ketika bayinya lahir ia harus terpisah dari bayinya, ia hampir saja kehilangan Rudy bahkan kehilangan nyawanya sendiri. Setelah semua itu hatinya masih juga begitu baik dan mau menerimanya kembali kendati kesalahannya tak dapat dimaafkan. Bagaimana ia bisa hidup tanpa Intan setelah semua hal yang dikorbankan wanita ini untuknya.
“Aku mencintaimu...” ucap Rayan tulus.
“Aku juga mencintaimu,” jawab Intan sambil memeluk Suaminya. Suara detak jantung Rayan menenangkannya. Ia begitu mencintai pria ini. Ia begitu mencintainya, ia bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk kembali bersama Rayan. Ia tak tahu apa ia bisa menjalani hidup jika sesuatu yang buruk terjadi dengan pria ini.
Rayan langsung mengangkat tubuh mungil Intan dalam pelukannya dan membawanya ke ranjang. Ia mungkin akan menyalahi komitmennya sendiri, ia telah berjanji untuk memulai malam bersama setelah pesta pernikahan ulangnya. Tapi ia benar-benar tak ingin menghabiskan malam ini hanya dengan tidur beriringan. Ia ingin tidur bersama dalam artian khusus. Ia berhasrat merasakan kembali perasaan hangat saat berada dalam kedalaman cinta yang hanya pernah dirasakannya saat malam pertama mereka. Dan malam pertama itu terasa begitu lama dalam ingatannya, kalau diizinkan, ia ingin mengulang malam itu kembali.
Intan terlihat begitu cantik di bawahnya, terlihat begitu indah seindah intan mutiara, ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak melakukannya. Matanya nanar penuh hasrat mencari persetujuan di mata Intan. Rayan begitu ingin tapi ia harus menahannya sebelum Intan memberinya izin.
Intan balas tersenyum, ia tahu Rayan menahan diri. Jadi ia memulainya dengan mencium leher pria di atasnya ini. Menggodanya, memberinya izin untuk melakukannya. Ia telah lama siap melakukannya tapi pria keras kepala ini begitu teguh dengan komitmennya. Nyatanya mereka telah menandatangani dokumen pernikahan sipil begitu mereka memutuskan kembali bersama. Hanya saja setelah semua yang mereka alami, ketakutan, kerinduan, kekhawatiran, siapa yang peduli dengan komitmen? Siapa yang peduli dengan pesta?
Air mata menetes di pipi Rayan saat ia melakukannya, bukan ia bersedih, tapi ia begitu bahagia karena hidupnya terasa lengkap dengan cintanya, dengan keluarganya, dengan semua orang terkasih di sekelilingnya. Hm, ia melupakan kenyataan bahwa ia seharusnya mandi terlebih dahulu, semoga Intan tak keberatan dengan bau badan dan lengket ditubuhnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺