
🌺🌺🌺
Seorang wanita muda dengan paras yang cantik dan modis melenggang keluar dari bandara. Posturnya tinggi dan langsing dengan rambut pendek di tambah kaca mata hitam stylish membawa kesan misterius pada dirinya. Banyak orang sampai harus menengok dua kali karena pakaian serba hitamnya yang tak biasa.
Angin musim kemarau melambaikan rambut pendeknya, wanita muda itu menghela nafas panjang beberapa kali, seolah hendak menguatkan dirinya.
"Aku kembali," gumam Intan sambil menurunkan kaca matanya. Sambil menenteng koper kecil ia melambai ke arah taxi yang langsung siap didepannya.
"Antarkan aku ke alamat ini," kata Intan sambil menyodorkan alamat kepada supir taksi.
"Apa ini alamat yang benar?" tanya supir taksi ragu-ragu.
"Ya," jawab Intan pendek.
Tujuan yang aneh, batin supir taksi. Bagaimana tidak, rata-rata orang keluar dari bandara akan pergi ke hotel atau tempat rekreasi, lah ini malah pergi ke pemakaman.
Intan tak peduli dengan tatapan aneh pak supir karena saat ini Pandangannya fokus keluar jendela mobil. 4 tahun ia merantau dan semua sudah berubah. Bangunan demi bangunan sudah tumbuh cepat layaknya jamur di musim hujan, perekonomian juga sudah membaik, sepertinya bisnis akan semakin baik di tahun-tahun yang akan datang.
"When Camelia blooms... " ponsel Intan berbunyi, ia melihat layarnya sekilas, ternyata Mas Eka menelepon.
"Intan, kamu sudah pulang? Dimana kamu sekarang? Aku sekarang di bandara mencarimu," suara Mas Eka terdengar sedikit panik. Intan sudah meminta mas Eka untuk tidak menjemputnya, tapi rupanya mas Eka cukup keras kepala. Ia sudah bukan anak kecil lagi, perhatiannya membuat Intan susah mandiri.
"Aku sudah keluar dari bandara. Aku sudah bilang sama Mas Eka tak usah di jemput. Kenapa masih saja... "
__ADS_1
"Mas Eka sudah sangat kangen sama kamu, kita sudah lama tidak bertemu. Sekarang kamu dimana? niar mas Eka menjemputmu."
"Ada hal yang harus kuurus, nanti kukabari saat bertemu lagi."
"Baiklah," jawab Eka yang lantas segera menutup teleponnya, adiknya sangat keras kepala. Hmmm tapi Eka sudah bisa menebak tempat pertama yang akan dituju adiknya. Jadi ia langsung mengarahkan mobilnya ke sana.
🌺🌺🌺
Intan berdiri dalam keheningan sore hari, suasananya sama persis saat ia pertama kali kesini.
"Apa kabar, sayang. Mama kembali, maaf sudah lama tidak mengunjungimu." Sapa Intan sambil meletakkan buket bunga yang dibelinya di perjalanan. Ia juga meletakkan boneka bebek yang sama dengan milik putrinya, jika Ruby menyukai mainan ini tentunya putranya juga akan menyukainya.
"Mama kembali, jangan khawatir mama akan mencari saudarimu sekuat mama. Suatu saat mama akan mengajaknya kesini menemuimu. Tolong do'akan mama dari sana, ya sayang."
"Lihatlah foto ini" Kata intan sambil menunjukkan wallpaper ponselnya. Terdapat fotonya dengan Ruby. Sejak saat pertemuan Intan dan Ruby di bandara, ia tak pernah mengganti wallpaper ponselnya. Ia selalu memasang fotonya saat bersama Ruby karena hanya inilah kenangan yang di milikinya. Bagaimana bisa ia menggantinya dengan foto yang lain? Kecuali suatu saat ia mempunyai foto Ruby yang terbaru, saat itu ia akan menggantinya.
Intan melirik sebentar. Hanya dengan siluet nya Intan tahu siapa yang datang. Mas Eka tahu-tahu sudah berdiri di depannya. Mas Eka meletakkan sekeranjang besar bunga dengan dominasi warna putih di samping buket bunga yang dibawa Intan.
Intan memandang kakaknya. Wajah Mas Eka terlihat dewasa dengan sedikit jambang dan kumis menghiasi wajahnya. Namun ketampanannya seolah tak lekang oleh waktu, kakaknya telah menjelma menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana. Meski ia terlihat dewasa dan mandiri, namun tatapan matanya tetap teduh kala memandang Intan.
"Mas Eka selalu tahu tempat yang kamu tuju, jadi jangan melarikan diri lagi, selama kamu disana Mas rutin mengunjungi Rudy," ucap Mas Eka.
Memang mas Eka selalu tahu apa yang dimau Intan. Meski Intan mengelak harus diakuinya ia bukan siapa-siapa tanpa bantuan Mas Eka.
__ADS_1
"Terimakasih," Jawab Intan.
🌺🌺🌺
"Kapan mampir ke rumah Mas?" tanya Eka dalam perjalanan pulang
"Hm belum tahu, aku belum menyusun jadwalku."
"Jangan lama-lama, kak Tia sudah tak sabar ingin bertemu. Kak Tia bahkan sudah mempersiapkan menu yang akan dimasak untuk menyambutmu. Adam dan Wina juga sudah besar, kapan-kapan berkunjung ya. Jika memang susah menyusun jadwal, bagaimana kalau mempekerjakan asisten. Kelak saat kamu benar-benar fokus akan sesuatu kamu akan melupakan banyak hal, tanpa adanya asisten mungkin kamu akan kesulitan. Butuh Mas carikan asisten kah!" tawar Mas Eka.
"Benarkah Mas bisa mencarikannya? oke, catat ya! aku ingin asisten pria muda yang tampan, bertalenta dan jago beladiri. Sanggup mencarikannya?" tantang Intan. Ia yakin kakaknya tak akan bisa mencarikannya.
"Oh baiklah kalau begitu, Mas akan mencarikannya. Oia saat ini kamu mau kemana? Langsung pulang ke rumah, kah! Mama sudah kangen padamu."
"Mungkin besok aku ke rumah. Malam ini aku akan tidur di hotel saja. "
"Mas sudah membelikanmu apartemen atas namamu. Kamu tinggal disana saja, jangan tinggal di hotel."
"Aku akan mencari apartemenku sendiri terimakasih," tolak Intan. Menempati apartemen yang telah disediakan rasanya seperti dipenjara saja. Pasti Mas Eka melakukannya untuk mengawasinya.
"Jangan membantah. Mas memilihnya dengan seksama. Keamananmu lah yang paling penting. Disana privasi juga sangat terjaga. Mas tidak akan memataimu. Mas hanya ingin kamu berada di tempat yang aman. Kumohon sekali ini nurut ya sama Mas." jika mengenai Intan, Eka akan melakukan apapun. Apalagi, saat ini Eka tak lagi dibawah kendali Papanya. Apapun yang Intan butuhkan dengan sekuat tenaga Eka akan mengabulkannya.
"Baiklah," jawab Intan akhirnya.
__ADS_1
Eka hanya tersenyum sambil meneruskan perjalanan. Ia bahagia Intan tak harus membantah untuk ini.
🌺🌺🌺