
🌺🌺🌺
Rayan mengusap-usap keningnya yang penuh keringat di suatu siang yang terik. Meskipun angin perbukitan berhembus sepoi-sepoi membawa kesejukan di sekitarnya, namun tak cukup mengurangi keringat yang membasahi tubuhnya. Rayan berhenti sejenak sembari bertumpu pada sekop di tangan kanannya. Dipandanginya Ibunya yang duduk tak jauh dari tempatnya berkebun.
Rayan melihat Ibunya sedang merangkai bunga dalam rangkaian buket yang dipegang seorang pria paruh baya di sampingnya. Biasanya pasti muncul rasa khawatir ketika melihat Ibunya dekat dengan seseorang. Hanya saja ini sedikit berbeda, pria itu juga pasien disini. Rayan tak tahu bagaimana mereka berdua bisa kenal. Saat melihat Ibunya banyak beraktifitas membuat Rayan luluh, semoga dengan interaksi mereka, mereka berdua bisa saling menyembuhkan.
Rayan melanjutkan pekerjaannya sampai Suster Minah menghampirinya.
"Tuan Rayan, ada telfon dari dokter Randi."
" Benarkah!" ucap Rayan sembari mendongak. Dokter Randi adalah dokter yang di beri kuasa oleh Rayan untuk mengelola rumahsakit jiwa yang didirikan Rayan. Dokter Randi juga bertugas di rumahsakit dr. Sadikin tak jauh dari rumah sakit ini.
"Apa katanya?" tanya Rayan sambil menyiram tanaman yang baru saja di tanamnya, Rayan hampir selesai berkebun, sekarang ia tinggal menyiram tanamannya dengan cukup air. Kali ini Rayan tidak menanam tanaman bunga seperti biasanya. Ia sedang menanam bibit buah-buahan. Dan buah pertama yang cukup spesial untuk di tanam di taman rumahsakit ini adalah buah alpukat.
Alpukat adalah buah kesukaan Intan. Hanya dengan menanamnya saja sudah bisa membawa kebahagiaan dihati Rayan. Ia berharap suatu saat Rayan bisa mengajak Intan ke tempat ini. Dan menunjukkan padanya bahwa ia benar-benar masih mengingat Intan.
"Dr Randi ingin janji temu untuk membahas masalah rumahsakit dan juga berkenaan dengan Ny. Maria," jawab Suster Minah.
"Tolong katakan pada dokter Randi, besok malam minggu aku akan ke rumahsakit dr Sadikin untuk menemuinya," jawab Rayan setelah sebelumnya merenung sejenak. Rayan tidak terlalu hafal schedulnya. Biasanya, Johan yang mengurus semua untuknya.
"Baik Tuan," jawab suster Minah seraya pamit undur diri.
Rayan mengecek arlojinya. Ada meeting sebentar lagi.
"Mang Agus" panggil Rayan.
Pria tua yang bertugas sebagai tukang kebun disini datang tergopoh-gopoh.
"Tolong rapikan ini, dan jangan lupa rawat tanaman ini. Pastikan jangan sampai layu."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Rayan berbalik ke arah Ibunya yang kali ini sudah sendirian menunggunya. Senyum Ibunya merekah menyambut Rayan. Melihat senyum Ibunya, Rayan seakan terkesima senyum itu seperti senyum Ibu yang dahulu. Senyuman yang sama seakan Ibunya sudah sembuh.
"Rayan pamit dahulu Ibu, jangan lupa untuk selalu tersenyum. Jangan bersedih, Rayan akan sering-sering mengunjungi Ibu." pamit Rayan sambil mencium tangan Ibunya.
Ibunya hanya mengangguk dan menyerahkan buket bunga yang dirangkainya tadi.
"Terimakasih, bunganya indah sekali" Jawab Rayan tulus sembari mencium pipi Ibunya dan pamit undur diri"
"Hati-hati," jawab Ny Maria.
Rayan tersenyum senang. Sangat jarang dan hampir tak pernah Ibunya mengucapkan kata-kata, biasanya Ibunya hanya diam. Kali ini Ibunya memcemaskannya. Tak kuasa menahan haru Rayan memeluk Ibunya erat, yang dibalas Ibunya dengan pelukan yang tak kalah hangat sembari mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
🌺🌺🌺
Intan memandang jalanan di sekelilingnya dengan seksama dari dalam taksi, ia akan menjauh dari semua ini untuk sementara jadi Intan harus merekam pemandangan indah ini dalam benaknya.
"Suster Minah sedang mengevaluasi pasien," jawab bagian resepsionis.
Intan hanya manggut-manggut sembari berucap akan tetap menunggunya. Hitung-hitung sembari jalan jalan di taman rumahsakit.
Sekali mengunjungi taman ini maka sekali itu pula akan ketagihan. Taman ini begitu indah dan Intan sangat suka wangi bunga yang bermekaran. Intan duduk di bangku yang dulu pernah ditempati oleh Ibu yang pernah di obatinya. Ia mengeluarkan ponsel dan mengabadikan moment di sekelilingnya.
Sampai Intan melihat ada tanaman alpukat yang baru ditanam di sana. Intan mendekat ke arah tanaman itu untuk memotretnya dari dekat. Sungguh menakjubkan dari sekian banyak tanaman bunga disini ada tanaman buah, apalagi itu pohon alpukat, buah kesukaanya. Ada rasa senang dihatinya bahwa si empunya kebun memutuskan menanam buah. Alangkah senangnya jika musim panen apalagi kondisi alam perbukitan bagus untuk pertumbuhan alpukat.
Cukup lama menunggu dan Intan Suster Minah belum kunjung bertemu menemuinya. Akhirnya Intan memutuskan kembali. Tak apalah mungkin suster sibuk, batin Intan. Semoga saling di beri panjang umur sehingga dapat bersua kembali.
Didalam perjalanan ke rumah sakit. Intan mengunggah foto pohon alpukat di instagramnya. Sambil menulis caption manis.
__ADS_1
"Semoga bisa berkunjung kesini lagi dan melihat pohon alpukat ini tumbuh besar, sebesar cintaku padamu _r_"
🌺🌺🌺
Rayan memandang ke luar jendela dari lantai atas rumahsakit. Rambutnya masih basah sehabis keramas, air masih menetes dari rambutnya membawa sensasi segar ketika tertiup angin sepoi-sepoi di siang yang terik. Ia mengedarkan pandangannya ke arah kejauhan sambil perlahan mengenakan kemejanya. Badannya yang solid terlihat indah tertimpa sinar matahari.
Rayan memang menyediakan kamar untuknya dibagian atas bangunan rumahsakit. Satu kamar untuknya jika memang terpaksa harus menginap atau bersiap sebelum melanjutkan ke agendanya yang padat.
Tatapan Rayan sejenak terpaku pada sosok ibu muda di taman rumahsakit. Dari atas ia memang tidak melihat wajahnya dengan detail. Tapi yang jelas ibu muda itu cukup cantik, rambutnya pendek dan berkulit putih. Perutnya membuncit sekali, seperti kehamilannya sudah memasuki trisemester akhir. Gaun floral dengan warna dasar putih terlihat pendek karena perut buncitnya. Sekilas gaun itu mengingatkannya pada Intan. Tapi Rayan langsung menepisnya. Ia bisa berakhir di rumahsakit jiwa jika tidak bisa mengontrol bayang-bayang Intan dan memisahkannya antara mimpi dan kenyataan.
Rayan tengah mengenakan dasi ketika ibu muda itu mulai memotret taman dengan ponselnya. Melihat itu Rayan langsung bereaksi. Siapakah gerangan ibu muda itu? bukankah dirinya sudah meminta keamanan untuk diperketat. Rayan serta merta meraih jas hitamnya dan bergegas turun untuk menegurnya.
Rayan menyangsikan keperluan Ibu muda itu. Pastinya ia bukan keluarga pasien, bukan pula petugas di sini. Ia lantas mengingat cerita suster Minah bahwa ada ibu guru yang sedang hamil besar, yang waktu itu mengobati tangan Ibunya sampai dijambak. Mungkinkah itu guru yang sama hanya saja sekarang ia memilih memotong rambutnya. Kalau begitu sekalian ia bisa berterimakasih dan memintanya dengan sopan untuk menjaga privasi rumahsakit.
Hanya saja begitu sampai di lantai bawah. Johan sudah menunggunya. Johan yang tinggi jangkung itu langsung berdiri begitu melihat dirinya datang. Rayan memang meminta Johan untuk menjemputnya tapi ia tak menyangka meskipun jaraknya jauh Johan selalu on time. Melihat Johan naluri bisnisnya langsung keluar dan melupakan niatnya untuk menghampiri ibu hamil yang akan ditemuinya.
"Bagaimana kondisi di kantor?" tanya Rayan yang langsung berjalan dengan cepat ke arah parkiran.
"Semua berjalan seperti biasa" jawab Johan sambil berjalan sedikit di belakang Rayan. Johan tak berani jika harus berdiri sejajar, itu bukan tempatnya.
"Proyek A bagaimana kemajuannya?" tanya Rayan lagi.
"Tidak banyak, masih terkendala pembebasan lahan," jawab Johan yang dengan sigap membuka pintu mobil dan mempersilakan Rayan masuk.
"Naikkan 3 kali lipat. Pembebasan lahan harusnya sudah selesai minggu lalu. Ultimatum Amar untuk menyelesaikannya minggu ini kalau tidak ingin dipecat," jawab Rayan tegas sambil masuk ke mobil.
Johan hanya mengangguk takdim sambil menutup pintu mobil dengan sopan. Di lanjut Johan masuk ke kemudi mobil dan sedetik kemudian mobil sudah meluncur menuruni bukit. Sebelum benar benar meninggalkan parkiran Rayan melihat sekilas Ibu muda yang hendak ditegurnya tadi.
Wajahnya cantik dan bercahaya. Sekilas melihatnya Rayan langsung terpana ibu muda itu sangat mirip dengan Intan. Buru-buru Rayan menutup matanya. Rayan takut ia akan menjadi gila ketika melihat semua wanita seperti melihat Intan. Rayan menghela nafas panjang, ia sangat merindukan Intan. Namun, bukan begini caranya Tuhan! keluh Rayan. Aku ingin Intan yang benar-benar Intan. Wanita yang kucintai dan kurindukan.
__ADS_1
Rayan tidak tahu padahal Tuhan tengah mengabulkan doanya, doa anak yang berbakti pada Ibunya. Ia tidak tahu bahwa ibu hamil yang dilihatnya benar-benar Intan dan Rayan sendirilah yang menolak percaya. Mungkin takdir harus menunggu pertemuan mereka.
🌺🌺🌺