
🌺🌺🌺
"Lihat kakakku tidak?" tanya Ema cemas, sudah beberapa jam berlalu dan Kakaknya masih belum kembali dari ruang operasi Intan. Ema khawatir sesuatu yang buruk tengah terjadi pada operasi Intan.
"Aku akan pergi mencarinya," kata Johan yang langsung bangkit dari duduknya. Meskipun ia mendapat mandat untuk menunggui bayi bossnya. Namun ada Ema dan suaminya, seharusnya ia tak terlalu khawatir, kan.
"Tolong, ya" Pinta Edi, Edi sendiri lebih suka menunggu Ema, apalagi Ema tengah hamil.
"Jangan pergi sebelum aku kembali. Jangan pernah biarkan pandangan kalian teralihkan dari bayi-bayi ini," kata Johan tegas pada Ema, Edi juga Bu Sri dan suaminya.
"Baik, serahkan pada kami," jawab Edi menyanggupi
"Hm... baiklah," kata Johan seraya berlalu. Sudah dari tadi ia curiga, kenapa Rayan tak mengangkat telfonnya? dengan langkah tergesa-gesa ia pergi mencari Rayan.
🌺🌺🌺
"Shine bright like a diamond....
Shine bright like a diamond......"
Rayan mengerjap ngerjapkan matanya, dering telepon yang nyaring memecah kesunyian dalam ruangan yang gelap. Rayan yang tengah terlentang didalam kamar tersadar dari pingsannya karena terganggu suara dering teleponnya yang nyaring.
Rayan meraih handphone disaku celananya dengan susah payah, badannya terasa remuk semua. Pengawal Pak Wibowo benar benar tak menahan diri saat menghajarnya. Akibatnya saat ini untuk bernafaspun Rayan merasa susah, pasti tulang rusuknya retak terkena pukulan dan tendangan mereka.
"Hallo...." Jawab Rayan dengan pelan, untung ponselnya baik-baik saja, tak sia-sia ia menghabiskan banyak uang untuk ponsel ini.
"Tuan Rayan... Anda dimana?" terdengar suara Johan yang panik.
__ADS_1
"Aku..." Rayan langsung terdiam, sudut bibirnya yang sobek terasa menyakitkan saat berbicara, ia lantas mematikan ponselnya dan memilih mengirim chat pada Johan.
"Situasiku buruk, datanglah ke kamar 44" tulis Rayan. Ia lalu bersusah payah duduk dan mencari sandaran. Meskipun ruangan gelap gulita, ia merasa badannya kotor dan penampilannya pasti sangat berantakan. Orang yang rapi sepertinya punya saat-saat buruk seperti ini, benar-benar memalukan. Dan yang lebih memalukan lagi, detik ini juga ia telah kehilangan Intan, ia tak akan bisa berjumpa untuk waktu yang sangat lama.
Rayan diam termenung menatap ke luar jendela yang gelap, hari sudah malam, entah berapa lama ia pingsan. Ia tak menyangka semua rencananya sia-sia, ia berencana menikahi Intan begitu bayi mereka lahir. Dan sekarang jangankan pernikahan, bahkan bertemu Intan adalah hal yang terlarang baginya.
Ah Pak tua itu, bagaimana bisa ia begitu brengsek menukar kebebasan Intan dengan kebebasan buah hatinya. Yang lebih menyedihkan lagi, saat ini, ia tak bisa membenci pak tua itu karena hari ini, saat Rayan merasakan jadi seorang ayah, sedikit banyak Rayan bisa merasakan apa yang dirasakan pak Wibowo akan Intan. Apapun akan dilakukan seorang ayah untuk anak-anaknya. Belum genap 24 jam menjadi seorang ayah, ia sudah rela dipukuli demi anak-anaknya.
Ada sedikit penyesalan saat Rayan harus memilih di antara dua pilihan tersulit dalam hidupnya. Ia tahu pilihannya sudah tepat, karena jika Intan berada pada posisinya saat itu, Intan juga akan memilih bayi mereka. Rayan juga tak kuasa bila anaknya harus hidup di panti asuhan yang tak seorangpun akan mengasihinya. Saat ini cukuplah ia seorang yang akan mengasihi putra-putrinya.
Oh Tuhan, jagalah Intan untukku, aku berjanji akan menjaga buah hati kami yang tak berdosa ini.
🌺🌺🌺
Brak...
"Tuan RAYAN..." pekik Johan yang baru memasuki ruangan, untung saja Rayan sudah dalam kondisi bersandar, coba kalau Johan datang saat Rayan tergletak di tengah ruangan, pasti Johan akan lebih histeris.
Johan lantas berjongkok disisi Rayan.
"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu? katakan padaku. Aku akan membuat perhitungan pada mereka."
"Tenanglah, aku baik. Sekarang yang terpenting adalah mengeluarkan anak-anak dari sini," jawab Rayan dengan suara pelan.
"Maksud Tuan? Lalu apa yang terjadi pada Nyonya Intan?" tanya Johan ingin tahu.
"Sejak kapan kamu mulai mempertanyakan perintahku?" tanya Rayan jengkel.
__ADS_1
"Ah, maafkan aku," ucap Johan tersadar. Tak seharusnya ia berkata yang tak perlu karena melihat kondisi Rayan yang babak belur Johan jadi lupa mengontrol diri.
"Kita harus segera pergi dari negara ini. Tolong urus administrasi kedua anakku. Siapkan paspor dan visa. Kita ke Singapura, Kurasa tulang rusukku retak, aku butuh perawatan."
"Baik" Jawab Johan mengiyakan. Tapi jika harus mengurus paspor lantas siapakah nama si kembar?
"Sudahkah Tuan menentukan namanya?"
"Ya" Jawab Rayan yang lantas mulai mengetik nama kedua anaknya pada ponselnya. Tak berapa lama ponsel Johan berbunyi menandakan pesannya telah sampai.
"Ruby D. Hendrayan dan Rudy D. Hendrayan. Nama yang cantik," ujar Johan membaca kiriman Rayan.
"Tolong lakukan sesuatu agar hanya anak laki-lakiku yang tercatat di administrasi rumahsakit. Aku ingin melindungi putriku. Kurasa mereka tak tahu Intan melahirkan kembar. Dan suatu saat jika Intan bisa melacak kelahiran bayinya, Intan akan tahu bahwa buah hatinya aman padaku. Intan akan tahu aku tidak meninggalkannya secara sengaja," Rayan menerangkan panjang lebar, rasa sakit dibibirnya sudah tak bisa di asakannya lag karena saat ini hatinya jauh lebih sakit.
"Baik, akan aku laksanakan"
"Bantu aku ke kamar mandi, penampilanku akan membuat Ema khawatir. Aku akan mandi, siapkan pakaianku," perintah Rayan pada Johan. Johan memapah Rayan ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan.
"Aku akan segera kembali" ujar Johan sebelum meninggalkan Rayan.
"Terimakasih," gumam Rayan pelan. Bagaimanapun juga, ia sangat bersyukur ada Johan yang menemaninya saat ini. Aku harus menyusun rencana untuk memindahkan Ibu keluar negri. Ada banyak hal yang harus ku urus. Intan, bersabarlah, setelah aku cukup kuat nanti aku akan menjemputmu.
Gemricik air terasa menyegarkan bagi luka-luka Rayan, juga menyegarkan pikiran kalutnya. Saat ini ada banyak yang harus dijaganya. Ia juga harus mengecoh anak buah Pak tua itu agar tak bisa melacak negara persembunyiannya. Kali ini Rayan harus merantau ke luar negeri dan bertahan hidup.
"Ruby, Rudy, maafkan Papa kali ini, untuk kedepannya Papa harus mengatakan bahwa Mamamu meninggal saat melahirkanmu. Papa minta maaf. Maafkan papa karena tidak cukup kuat untuk melindungi kalian. Tapi kalian harus tahu bahwa kalian benar-benar dicintai sepenuh hati"
Sehari setelah keberangkatan Rayan dan si kembar ke Singapura, Nyonya Maria juga pergi ke benua Eropa bersama Ema dan Edi. Tak ada yang tahu dimana mereka tinggal karena banyaknya negara transit yang disinggahi. Rayan dan keluarganya pun seolah hilang di telan bumi.
__ADS_1
🌺🌺🌺