
🌺🌺🌺
Rayan memandang kedua anaknya yang tengah sibuk, Ruby sedang memainkan boneka barbie kesayangannya dan Rudy sedang asyik menggambar. Kedua anaknya akan mengertikah jika ia membahas tentang mama yang bahkan tak pernah dibahas olehnya. Kedua anaknya mungkin saja percaya bahwa mama yang melahirkan mereka tak pernah ada.
Rayan mendesah, bagaimana ia menceritakan ini? Bagaimana ia menceritakan bahwa mereka akan pulang kampung? Ia memijit kepalanya yang pening, ia harus membuat cara agar kedua anaknya bisa mengerti.
“Ruby, Rudy,” panggil Rayan.
Hanya Ruby yang mendekat, ia lantas duduk di pangkuan Papanya, “ada apa, Pa?” tanya Ruby.
“Papa mau ngomong serius dengan kalian berdua. Berdua,” tegas Rayan karena melihat Rudy masih serius dengan pekerjaannya.
Ruby dengan segera menarik kakaknya untuk mendekat. Meski menurut, Rudy terlihat kesal.
“Ada apa? Apa berkaitan dengan kakek yang bertamu tadi sore?” tebak Rudy. Meskipun pendiam, Rudy sangat kritis.
Rayan mengangguk. “Sebenarnya ada rahasia besar yang harus Papa ceritakan pada kalian mengenai mama kalian.”
“Mama, ada apa dengannya?” tanya Rudy.
Pertanyaan yang aneh menurut Rayan karena ia dengan jelas pernah mengatakan bahwa Mama mereka meninggal setelah melahirkan.
“Kita akan pulang ke Indonesia untuk berkumpul dengan Mama kalian.”
“Benarkah!” kata Rudy.
“Sungguh!” sahut Ruby. Wajahnya berbinar-binar mengetahui ia sungguhan bisa berkumpul dengan Mamanya.
Rayan merasa heran dengan respons kedua buah hatinya. Apa-apaan respons anak-anak ini.
“Kenapa kalian tidak terkejut? Bukankah seharusnya kalian menanyakan kebenarannya mengapa Papa mengatakan bahwa Mama kalian telah meninggal saat melahirkan kalian?” tanya Rayan penasaran.
“Karena kami sudah tahu kalau Mama masih hidup,” jawab Rudy. Ruby juga ikut mengangguk mengiyakan.
“Dari mana kalian mengetahui hal itu, Siapa yang mengatakannya pada kalian?” Rayan sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa respons putra putrinya ternyata jauh dari apa yang dibayangkannya. Mungkinkah ia tak sengaja mengatakannya? Atau kah anak-anak mencuri dengar pembicaraannya dengan Johan. Atau kah Ema? Mungkinkah Ibunya? , batinnya bertanya-tanya.
“Samuel yang mengatakannya,” jawab Ruby. Sebenarnya Samuel meminta mereka merahasiakannya, tapi karena mereka akan kembali ke Indonesia dan bertemu Mama mereka secara langsung, sepertinya rahasia ini sudah tak penting lagi.
“Samuel?” tanya Rayan lagi. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Rayan benar-benar tak bisa berkata-kata, sungguh di luar bayangannya. Samuel? Putra Ema.
“Bagaimana Samuel bisa tahu?” tanya Rayan lagi, ia masih sangat penasaran. Sungguhkah Samuel yang mengatakannya? “dari mana Samuel mengetahuinya?” tanya Rayan lagi pada si kembar.
“Samuel menemukannya di google. Ada artikel tentang Papa dan Mama saat menikah. Dan pria yang datang tadi sore, Ayah dari Mama. Benar kan, Pa? Aku melihat fotonya. Ruby bisa sedikit bahasa Indonesia jadi dia mencari artikelnya bersamaku,” jawab Rudy.
Rayan hanya bisa geleng-geleng kepala. Kids zaman now, benar-benar sesuatu. Mereka punya akses teknologi dan informasi, mereka tahu semua yang terjadi di dunia hanya dari ponsel. Padahal Rayan sudah membatasi penggunaan ponsel pada anak-anak. Tapi tak apalah, dengan ini ia tak perlu membujuk si kembar atau menjelaskan detailnya.
“Pa, jika kami sudah lebih besar, bisakah memberitahu kami kenapa kita harus berpisah dengan Mama?” pinta Ruby.
Rayan mengangguk, tapi Papa mungkin akan menceritakannya saat kalian sudah benar-benar dewasa, Rayan tak mau akhirnya si kembar tumbuh dengan dendam dalam hatinya. Apalagi kenyataan bahwa kakeknyalah yang mengusir mereka sejauh ini.
Awalnya Rayan mengira akan kesulitan memberitahu si kembar tentang masalah ini, namun ternyata perkiraan Rayan salah besar. Justru kesulitan terbesar adalah mengajak pindah Ibunya.
“Aku tidak mau,” jawab Ibunya gondok
“Ayolah Ibu, apa Ibu tak ingin berkumpul dengan Ema? Apa tidak ingin berkumpul dengan Samuel? Ibu bisa sering-sering berkumpul dengan cucu-cucu Ibu.”
Ny. Maria masih saja menggerutu dan berbalik ke kamarnya tanpa berkata-kata. Rayan hanya bisa mengangkat bahu. Bagaimana ini. Si kembar yang melihatnya hanya ikut geleng-geleng kepala. Uh, ada-ada saja! Rayan harus mencoba membujuk Ibunya besok.
🌺🌺🌺
Esok harinya, Ibunya mogok memasak sarapan, Rayan langsung kalang kabut mengurus anak-anak, untung si kembar terbiasa mandiri jadi Rayan tak terlalu terbebani. Bagaimanapun juga mengurus seorang dan anak-anak tentu saja berbeda. Apalagi Rudy yang pendiam membuat Rayan kesulitan memahami keinginannya.
“Oh Tuhan, bagaimana bisa ibu melakukan ini. Aku harus menyelamatkan Intan, tapi aku juga tidak mau jadi anak durhaka.”
__ADS_1
Setelah mengantar si kembar naik bus jemputan sekolah, Rayan segera mencari Ibunya. Ibunya tengah berada di green house melakukan perawatan rutin pada tanaman bunga mereka. Ia mendekat ke arah ibunya untuk berbicara dari hati ke hati.
“Ibu, sebenarnya kenapa Ibu enggan kembali ke Indonesia?” tanya Rayan.
“Siapa yang mengurus tanaman-tanaman ini kalau kita kembali ke sana?”
“He, Jangan bilang Ibu menolak pulang tanaman ini?”
Ny. Maria mengangguk. Rayan tak bisa berkata-kata, sungguhkah hanya karena ini Ibunya bersikap kekanakan sampai mogok bikin sarapan?
“Ibu, kita kan bisa meminta orang mengurusnya, Rayan janji akan buatkan green house yang lebih besar dari ini di Indonesia,” janji Rayan, yang penting sekarang Ibunya mau diajak pindah. “Lagian apa Ibu tidak penasaran seperti apa menantu Ibu?” rayu Rayan lagi.
“Hem... Ibu akan memikirkannya dulu,” jawab Ny. Maria akhirnya.
“Baiklah,” kata Rayan akhirnya, ia tak ingin terlalu memaksa Ibunya, ia hanya harus melakukan pendekatan lagi.
“Si kembar juga sudah merindukan Mamanya. Tidakkah Ibu kasihan pada mereka? mereka sudah terpisah sedari kecil. Baiklah, Ibu pikirkanlah dulu, aku harus menyiapkan segala sesuatunya.”
“Benarkah kamu akan membuatkanku kebun bunga yang lebih besar?” tanya Ny. Maria lagi.
Rayan mengangguk mengiyakan, “apapun yang Ibu mau, Rayan akan melakukannya semampu Rayan.”
🌺🌺🌺
Rayan segera melakukan sambungan video call kepada Johan, ia sungguh antusias meminta Johan mempersiapkan kepulangannya ke Indonesia. Johan tengah makan siang saat Rayan meneleponnya.
“Maaf sedikit lama, aku tengah makan siang,” kata Johan meminta maaf. Rayan melihat sekilas ada seorang wanita yang duduk di samping Johan, tapi Rayan mengesampingkan dulu hal itu, karena ia tengah antusias dengan beritanya sendiri.
“Johan, tolong persiapkan kepulanganku ke Indonesia, kami akan pulang dalam waktu dekat,” perintah rayan melalui sambungan video call.
“Sungguh! Tentu saja aku akan menyiapkan semuanya. Apakah Tn. Rayan akan kembali ke rumah yang dahulu, atau perlu kupersiapkan rumah yang baru?” tanya Johan.
“Rumah yang dulu tak masalah, aku akan meminta Intan menyiapkannya untuk kami, jadi tolong perintahkan orang untuk membantunya.”
“Baiklah, aku mengandalkanmu. Btw, bagaimana kabar Jonathan?” tanya Rayan.
“Ia masih butuh kira-kira sebulan pemulihan agar bisa melepas gips ditangannya.”
“Lalu, siapa yang menjadi asisten Intan sekarang?”
“Ia memakai asisten kakaknya.”
“Bisakah kau memberiku nomor Intan?”
Johan tersenyum, “akhirnya,” ujar Johan sembari mengirim nomor Intan. “Seharusnya kamu melakukannya lebih awal.”
“He, tak terhitung berapa kali nyawa anak-anak terancam. Kalau bukan karena Pak Tua itu datang sendiri aku juga tak akan berani menghubungi Intan.”
“Oke, oke nomor sudah kukirim. Tapi sepertinya Ny. Intan sedang makan siang dengan klien, apa kamu akan mengganggunya?”
“Sudah diamlah, aku melihat gadis di sampingmu, apakah kamu sengaja tidak memberitahuku?”
“Eh, ya sudah hubungi sana,” kata Johan salah tingkah.
🌺🌺🌺
Rayan sedikit merapikan penampilan wajahnya, ia memiliki kumis dan jambang tipis yang belum sempat dicukurnya, Intan tak pernah melihat penampilanku yang seperti ini. Kuharap dia suka, batinnya.
Setelah memastikan tampilan wajahnya rapi, tatanan rambutnya oke, baju yang dikenakannya bagus, latar belakangnya juga tampak kece di layar. Setelah memastikan semua telah siap, ia segera melakukan panggilan video. Ia berharap Intan mau mengangkat panggilan videonya meski nomornya bukan nomor yang dikenal.
Ternyata kekhawatirannya tak beralasan. Karena detik berikutnya, ia melihat panggilannya telah tersambung dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka di bandara, Rayan akhirnya bertatapan langsung dengan Intan.
Intan tengah memandang ke arahnya dengan tatapan penuh rasa terkejut, wanita itu bahkan menghabiskan beberapa menit pertama untuk memastikan dirinya sendiri, benarkah yang ada di depan layarnya sekarang adalah Rayan.
__ADS_1
“Mas Rayan,” panggil Intan antusias. Wajah cantiknya mengulas senyum di samping rasa terkejut yang tak bisa disembunyikannya.
Rayan memandang kekasihnya, Ibu dari anak-anaknya, “Ya, ini aku. Apa kabar?”
Intan menutup mulutnya tak percaya, tak pernah terpikirkan olehnya bisa berhubungan lagi dengan Rayan setelah semua yang terjadi di antara mereka.
“Aku merindukanku, Mas,” ucap Intan alih-alih menjawab pertanyaan Rayan.
“Aku juga merindukanmu,” ujar Rayan sambil tangannya menggapai layar seolah berusaha menggapai Intan, ia merindukan Intan selalu.
“Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Ruby? Apa ia baik-baik saja? Apa ia sehat? Bisakah aku melihatnya?” tanya Intan bertubi-tubi. Ia ingin melihat putrinya, ia sangat merindukannya.
“Anak-anak sedang sekolah, kenapa kamu hanya ingin menemui Ruby? Tidakkah kamu juga merindukan Rudy?” tanya Rayan keheranan. Kenapa Intan pilih kasih dan merindukan salah satu dari mereka.
“Aku merindukannya juga. Aku setiap minggu datang menemui Rudy,” kata Intan yang tak mengerti maksud pertanyaan Rayan, ibu mana yang tak merindukan anaknya, ia bahkan belum pernah melihat Rudy satu kali pun sejak ia melahirkannya, tahu-tahu putranya sudah dikebumikan.
“Menemuinya di mana?” tanya Rayan lagi, ia tak paham maksud Intan.
“Tentu saja di pusaranya!”
“Rudy masih hidup, bagaimana bisa kamu membangun pusara untuknya,” Rayan menjadi sedikit tak nyaman dengan pembicaraan ini.
“Masih hidup?” tanya Intan terkejut, “sungguhkah putraku masih hidup?” tanya Intan sekali lagi menegaskan.
“Iya, aku membesarkan keduanya, aku membesarkan si kembar, aku akan menunjukkan mereka,” kata Rayan sembari berdiri, tapi kemudian dia ingat bahwa si kembar tengah sekolah. “Ah, aku lupa, anak-anak sedang sekolah, apakah kamu ingat bocah lelaki di bandara? Sebelum kamu menggendong Ruby?”
Intan mengingat sebentar lalu mengangguk, “apakah bocah lelaki itu Rudy?” tebaknya.
“Ya.”
“Oh Tuhan, aku mengunjungi pusaranya setiap aku senggang. Aku mendoakannya selalu padahal ia masih hidup, lalu siapa yang membangun pusara untuknya jika dia masih hidup? Siapa yang setega itu?” Intan mulai sedikit emosional, ia marah juga sedih bersamaan.
Rayan tak menjawabnya. Ia tak ingin membuat Intan sedih, toh jika Intan mau berpikir sejenak, Intan akan tahu siapa yang melakukannya. Rayan segera mengubah topik dan tidak membiarkan Intan memikirkannya.
“Intan, aku punya kabar bagus, coba tebak?"
"Apakah kita akan bertemu?" tebak Intan.
Rayan tersenyum penuh arti, ia tak sabar membagikan kabar gembira ini. "Ya, kami akan ke Indonesia dalam waktu dekat, kita akan berkumpul lagi,” ungkap Rayan.
“Sungguhkah? Apakah kamu tidak sedang membohongiku?” tanya Intan masih ragu dengan berita yang didengarnya. Ia tak ingin senang dulu.
“Aku tidak sedang bercanda, aku hanya perlu membujuk Ibuku?”
“Ibu? Kamu masih punya ibu? Aku tak pernah melihatnya,” ucap Intan. Dulu ia merasa paling mengenal Rayan, tak tahunya ia tak tahu apa-apa. Rayan lah yang sangat mengenalnya.
“Ya, aku akan mengenalkan padamu setibanya di sana. Oia, ingat rumah yang waktu itu?”
Intan mengangguk mengiyakan, ia ingat rumah bercat putih yang baru ditinggalinya sehari.
“Maukah kamu mempersiapkannya untuk kami?” pinta Rayan.
Intan menyanggupi. “Akan kulakukan. Tapi kamu harus berjanji, jangan membohongiku lagi, ya! Jangan pergi lagi!” ia takut Rayan akan menghilang lagi dan meninggalkannya.
“Tak akan, aku selalu menunggu saat bertemu denganmu. Anak-anak juga merindukanmu, dan aku juga,” aku Rayan malu-malu.
“Aku juga, aku merindukan kalian, aku tak sabar menunggu.” Intan mengakhiri panggilan videonya dengan mata berbinar, akhirnya kesabarannya membuahkan hasil. Keluarga kecilnya akhirnya berkumpul kembali. Ia sampai mengabaikan klien yang terbengong-bengoh karena diacuhkan olehnya.
🌺🌺🌺
Untuk silent reader,
Jangan lupa kasi jempol 👍, ya!
__ADS_1
yang minta up, jangan lupa vote oke.