Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Panti Asuhan Bumi Kasih


__ADS_3

🌺🌺🌺


Intan menangis didalam taksi. Ia masih belum memikirkan hendak kemana. Hatinya masih diliputi perasaan sakit hati akan sikap Papanya.


"Kita kemana, Neng?" tanya supir taksi.


"Jalan saja dulu, Pak."


"Baik."


Intan berpikir keras, ia akan menginap di mana malam ini. Tangannya memegang uang pemberian Mas Eka dengan erat.


"Oh iya, Mas Eka," cetusnya tiba-tiba. Intan teringat panti asuhan tempat Kakaknya dibesarkan, sebelum diadopsi oleh orangtuanya. Intan lalu menanyakan pada Pak Supir, berapa biaya perjalanan sampai daerah A. Supir itu lantas menyebut nominal tertentu.


Intan menghitung uang yang ada ditangannya, ternyata masih kurang sedikit. Ia menghela nafas. Namun, tetap diputuskannya kesana, sisanya ia akan berjalan kaki.


Rupanya Pak Supir itu cukup baik hati. Meskipun uang yang dimiliki Intan kurang, ia tetap berbaik hati mengantarkan Intan sampai gerbang panti asuhan.


Intan berucap terimakasih berkali-kali pada bapak itu.


"Hati-hati ya, neng. Sudah malam. Anak bapak seumuran kamu, jadi bapak tak tega menurunkan kamu malam-malam di pinggir jalan."


"Terimakasih pak, saya tak bisa membalas budi Bapak, semoga Tuhan membalas budi baik Bapak dengan yang lebih baik."


"Amin..."


"Terimakasih pak," ucap Intan sekali lagi sembari menunggu taksi menghilang dari pandangan.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Intan menyeret kopernya sampai gerbang Panti Asuhan, tertulis Panti Asuhan Bumi Kasih ditembok yang ada disamping gerbang besi bercat hijau itu. Suasana sunyi dan mencekam. Angin berhembus membawa hawa dingin menusuk. Intan tak pernah kesini selarut ini jadi dia kebingungan bagaimana caranya masuk.


Tiba-tiba Intan dikejutkan oleh sinar mobil dibelakangnya. Spontan ia menoleh kebelakang, tapi sejurus kemudian ia langsung menutupi matanya menggunakan tangan karena silau. Siluet seorang pria keluar dari pintu mobil menuju ke arahnya. Siapa yang datang selarut ini ke Panti? Apakah Mas Eka datang menjemputnya? batin Intan.


Ternyata bukan Mas Eka. Ada sedikit guratan kecewa menghampiri. Namun, Intan harus memaklumi, akan butuh waktu sampai Mas Eka tahu keberadaannya.


Seorang pria atletis dengan rambut cepak ala tentara berdiri didepannya. Pria itu mengenakan setelan jas yang rapi, hanya saja pria itu terlihat sedikit lelah. Maklum saat ini hari sudah menjelang pagi.


"Ada yang bisa saya bantu nona? kenapa Anda berdiri di depan panti malam-malam begini?"


Intan memandang pria tersebut dengan tatapan yang bernada anda siapa?


Tanggap dengan sinyal tatapan itu, pria tersebut mengganti pertanyaanya.


"Saya Alan Sebastian, guru magang di panti ini. Anda ingin bertemu siapa?"


"Bu Ela," jawab Intan singkat.


Perempuan ini terlihat kurus dan acak-acakan. Matanya sembab, terlihat habis menangis. Alan lantas menelpon Mang Ujang minta tolong untuk membukakan gerbang.


Tak lama kemudian seorang pria paruh baya datang tergopoh-gopoh sambil minta maaf pada Alan. Rupanya beliau sedang diare jadi bolak-balik dari pos jaganya ke wc. Alan hanya balik tersenyum dan mewanti-wanti untuk jaga kesehatan.


"Mang, tolong antar Nona ini ke kamar tamu untuk istirahat. Sudah larut malam untuk membangunkan Bu Ela" perintah Alan pada Mang Ujang.


Mang Ujang mengangguk sambil membuka gerbang. Alan memasuki mobilnya dan memarkirkan kendaraannya.


Mang Ujang membantu Intan membawa kopernya tapi, belum jauh mereka berjalan, Mang Ujang pamit lagi ke wc. Intan lalu membawa kopernya sendiri. Dia sudah sering kesini menemani Kakaknya. Intan berdiri sambil memandang sekeliling. Bangunan panti sudah lebih baik sekarang. Kakaknya berusaha keras membuat panti ini menjadi hunian yang lebih layak. Intan menoleh ke sana ke mari, Ia bingung di manakah yang dimaksud kamar tamu itu.


Di tengah kebingungannya, seseorang mengambil alih pegangan kopernya dari tangan Intan. Intan menoleh dengan terkejut, ternyata Alan, guru yang ditemuinya tadi.

__ADS_1


"Mari saya antar, kasihan Mang Ujang."


Dengan gentle Alan mengantar Intan. Suasana hening menyertai mereka. Alan ragu memulai pertanyaan karena Intan terlihat sedang tidak ingin bicara.


"Ada yang bisa saya bantu? sepertinya Anda terlihat banyak fikiran," tawar Alan.


Intan hanya menggeleng. Ia merasa sangat lelah. Sudah cukup pertengkarannya dengan Papanya hari ini. Intan belum ingin berkenalan. Namun, sepertinya pria ini cukup gigih mengajaknya bicara.


"Kalau boleh tahu siapa nama Anda, Nona?" tanya Alan. Paling tidak sebagai seorang guru, dia punya wewenang untuk bertanya pada orang asing yang masuk ke Panti.


"Intan," jawab Intan akhirnya.


"Well, Intan selamat beristirahat" kata Alan ketika mereka sampai di kamar yang dimaksud. Namun, mendadak Alan mengingat sesuatu, "Oh My God! Aku lupa kuncinya ada di Mang Ujang. Emm tunggu sebentar, biar kuambilkan" kata Alan sambil menoleh ke arah perempuan disampingnya. Intan terlihat kedinginan karena baju yang dipakainya tipis.


"Kurasa kamu kedinginan, pakailah," ujar Alan sembari melepas jasnya dan mengenakannya pada Intan.


"Terimakasih," jawab Intan, Ia kemudian duduk bersandar di tembok sambil melihat Alan yang bergegas.


🌺🌺🌺


Tak lama kemudian, Alan kembali dengan tergopoh-gopoh. Namun, dlihatnya Intan telah tertidur bersandar pada kopernya. Intan pasti kelelahan.


Alan lalu membuka kunci kamar dan menyalakan lampu, sedikit merapikan tempat tidur, lalu keluar lagi. Alan merasa kasihan jika harus membangunkanya tapi ia juga tak mungkin membopongnya. Akhirnya, karena tak tega membangunkannya Alan langsung saja membopongnya.


Tubuh Intan terasa ringan saja bagi Alan yang terbiasa berolahraga. Begitu dia membaringkan Intan, wajah mereka pun berdekatan. Mau tak mau Alan pun memperhatikan wajah Intan dengan seksama. Alan baru menyadari bahwa Intan sangat cantik meski, banyak guratan kesedihan diwajahnya, kesedihannya tak bisa menutupi kecantikannya. Ada rasa iba dihati Alan melihat perempuan muda secantik Intan terlihat sangat sedih. Alan mengamati wajah cantik Intan beberapa saat. Alan menelan ludah melihat bibir Intan sedikit terbuka, bibirnya terlihat manis mengundang. Tanpa sadar Alan mendaratkan bibirnya di sana, terasa lembut, tapi begitu sadar Alan langsung terhenyak tak percaya.


Buru-buru Alan memasukkan koper Intan kedalam, mengunci tombol pintu dan menutup pintunya dari luar. Alan tak tahu lagi apa yang akan terjadi jika ia berada di sana lebih lama. Ia bukan orang yang gampang mengambil keuntungan dari orang lemah. Bukan pula pria gampangan yang mudah berhasrat pada sembarang orang.


Untuk mengusir pikiran-pikaran aneh dikepalanya, Alan mandi, air dingin pegunungan pasti mampu meredam hasratnya. Namun, tak urung jua pikirannya dipenuhi oleh Intan, perempuan yang bahkan baru ditemuinya, yang mungkin saja telah mencuri hatinya. Siapa yang tahu?

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2