Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Rudy


__ADS_3

🌺🌺🌺


"Aku sudah mendapatkan darah Ab+ untuk Rudy," lapor Johan.


Rayan hanya mengangguk dan mengucap terimakasih pelan, matanya tetap tak lepas dari bayi Rudy diseberang kaca. Sudah 3 hari Rudy dirawat di ruang intensif, ia hanya bisa berdoa pasrah semoga putranya baik-baik saja. Dokter mengatakan bukan hal yang buruk dan Rudy akan baik-baik saja, tapi mengapa sampai 3 hari Rudy masih harus dirawat intensif.


Sudah hampir setahun setelah kejadian pengusiran keluarga mereka, ia dan keluarganya menetap sementara di Singapura. Ia belum bisa tinggal jauh dari Indonesia selama Johan belum mampu mengampu perusahaan seorang diri. Dan kini Rayan sudah merasa waktunya telah tiba, Johan sudah mampu berdikari dan mengambil keputusan sendiri. Sudah saatnya ia melepaskan urusan perusahaan dan fokus pada anak-anak. Ia sedang memikirkan tempat yang cocok untuk tumbuh kembang anak-anak. Tempat yang jauh dari kekuasaan kakek mereka.


Saat ini Rayan masih harus memperhatikan kesehatan Rudy. Rudy tumbuh sehat seperti saudarinya, hanya saja ia selalu tertidur lebih lama dari saudarinya. Jika itu masih bisa di anggap wajar, ia tak mencemaskannya karena si kembar masih bayi. Hanya saja tiga hari terakhir Rudy demam tinggi. Rayan khawatir mungkin ia terkena demam berdarah atau sejenisnya.


"Dokter, sebenarnya sakit apa putraku? " tanya Rayan sewaktu dokter selesai mengunjungi Rudy pagi ini.


"Ada kelainan darah pada putra anda. Kami masih melakukan tes menyeluruh mencari sebabnya."


Rayan langsung shock seketika, pikirannya tertuju pada penyakit-penyakit ganas semacam kanker darah atau sejenisnya. Semoga bukan seperti yang ditakutkannya, tepis Rayan.


"Apa penyebabnya dokter? apakah kelainan ini berakibat buruk padanya?"


"Hm... Anehnya meski kami tahu darahnya mengalami kelainan. Kami mendapati kelainan itu tak berdampak pada kesehatan putra anda, hanya demam yang tak kunjung turun yang menjadi fokus kami. Sementara kami masih membutuhkan transfusi darah untuk meminimalisir efek samping kelainannya jika demamnya sudah lewat putra anda sudah bisa pulang dan menjalani rawat jalan," terang dokter panjang lebar.


"Terimakasih, dokter. kami akan mengusahakan ketersediaan darahnya"


"Oh, mengenai itu, syukurlah kami sudah mendapatkan kabar stok darah akan diperbaharui besok, jadi stok darah akan aman."


"Syukurlah," jawab Rayan sambil bernafas lega.


"Baik, saya tinggal dulu," pamit dokter.


"Oh, silakan. Terimakasih."


"Kamu sudah dengar itu kan Johan, Rudy sekarang baik-baik saja, aku sangat khawatir. Sementara ini kupercayakan Ruby padamu, terimakasih sudah menjaganya."


"Sudah menjadi kewajibanku menjaga Ruby," jawab Johan. Toh, ia tidak benar-benar menjaganya. Ada pengasuh yang menjaga si kecil, Johan hanya memantau mereka.


"Sudah hampir setahun kita tinggal di Singapura. Setelah Rudy sehat aku dan si kembar akan pindah ke Finlandia. Tanyakan pada perawat yang sekarang bisakah ia ikut pindah? kalau tidak bisa, tolong cari perawat yang baru untuk si kembar di Finlandia. Ema sudah membawa Ibu kesana, setelah Rudy sembuh tolong urus izin visa dan paspor kami."


"Baik tuan."


"Setelah kami pergi ke Finlandia kamu bisa balik ke Indonesia."


"Saya akan selalu bersama tuan." kata Johan.


"Kali ini kamu tidak bisa ikut, aku ingin kamu mengurus perusahaan. Hanya kamu yang kupercaya mengelola perusahaan. Aku tidak ingin yang lain."


"Tapi," Johan sangat ingin ikut juga ke sana. Tentunya  ketika Rayan di Singapura mudah saja baginya hilir mudik menanyakan perihal tugas kantor, ketika jarak mereka semakin jauh, untuk membahas banyak masalah mereka hanya bisa bergantung pada alat komunikasi, yang mana bagi orang yang hati-hati seperti Johan alat komunikasi rawan penyadapan. Apalagi Johan tahu mata-mata Pak Wibowo dimana-mana, mungkin lain kali perlu mempertimbangkan perusahaan mereka untuk terjun di bidang IT supaya lebih aman.


"Jangan tapi-tapian kali ini kamu harus belajar mengelola perusahaan tanpaku"

__ADS_1


"Baiklah," kata Johan akhirnya, "saya mohon bimbingannya. Saya akan berusaha keras mengembangkan bisnis ini. Kelak jika tuan pulang ke Indonesia, perusahaan sudah semakin berkembang."


Rayan tersenyum, Johan memang masih muda, tapi rayan sudah mendidiknya sejak masih sangat kecil. Tentunya sudah waktunya melihat hasil pelatihannya. Rayan percaya Johan tidak akan mengecewakannya.


🌺🌺🌺


Rayan tinggal bersama si kembar di apartemen yang berada di tengah kota. Selain mobilisasi tinggi, privasi dan keamanan juga sangat baik disini.


"Aih, bagaimana kabar putri papa yang manis," sapa Rayan pada Ruby.


Ruby yang sedang bermain dengan Sarah, babysitternya, merangkak ke arahnya. Rayan menyambut putrinya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Ruby kangen, ya, sama papa."


"Brrrr wawa wa... " jawab Ruby tak jelas, rambut poninya yang lucu sangat menggemaskan.


"Kamu bisa istirahat sekarang, biar Ruby saya yang tidurkan," kata Rayan pada Sarah, babysitter Ruby. Meski Rayan memberi kebebasan pada pengasuh si kembar untuk beraktifitas diluar. Tapi Sarah, pengasuh Ruby lebih memilih tinggal dirumah. Sedangkan Jemima, pengasuh Rudy, selalu pulang tepat waktu atau paling tidak selalu menunggu Johan atau Rayan di rumah untuk memasrahkan Rudy.


Jemima sudah dewasa, orangnya sangat cekatan, Ia perawat senior di biro jasa parenting bayi. Berkat Jemima pula kelainan Rudy bisa terdeteksi di awal.


Sedangkan Sarah, usianya baru awal 20-an, Sarah bilang ia butuh uang tambahan untuk biaya kuliah, saat ini ia sedang cuti. Meski terbilang masih muda namun Sarah sudah mengampu sertifikasi dalam bidang ini.


Setelah menidurkan Rudy, Rayan bermain sebentar dengan Ruby sampai Ruby pun juga tertidur kelelahan. Tinggal Rayan yang duduk termenung menatap balkon apartemen. Johan membawa kopi ke balkon dan menemani bossnya menghabiskan malam.


"Aku sudah membuatkan visa dan paspor untuk Tuan dan si kembar. Sayangnya baik Sarah maupun Ibu Jemima tidak bisa ikut tinggal di Finlandia. Namun mereka menyanggupi menemani perjalanan di pesawat, bagaimanapun juga si kembar sudah akrab dengan pengasuh masing-masing, mereka bisa menenangkan si kembar nanti dalam perjalanan."


"Terimakasih Johan. Aku tak bisa bayangkan hidupku nanti tanpamu."


"Aku tak bisa membiarkanmu menghabiskan pelatihanku dengan sia-sia."


"Oh baiklah, oia, aku juga sudah menyiapkan jadwal keberangkatannya. Tuan akan berangkat 3 hari lagi."


"Tak terasa sangat cepat."


"Bagaiamana kabar perusahaan?"


"Semua baik. Aku sudah mengambil alih perusahaan atas dasar saham terbesar. Jangka panjangnya nanti aku berencana expansi ke ranah IT."


Rayan adalah pemilik saham terbesar di perusahaannya. Meski ia pemilik saham terbesar, namanya tertulis anonim jadi ia bisa mengontrol perusahaannya secara profesional dan membawa kemajuan yang pesat pada perusahaannya.


"Mengapa kesana? Pasar properti sudah sangat bagus." perusahaan Rayan bergerak dibidang properti, perusahaanya sudah punya banyak cabang yang tersebar di penjuru Indonesia.


"Setelah ini kita hanya akan mengandalkan alat komunikasi untuk berhubungan. Hanya yang menguasai bidang IT yang punya kemampuan anti penyadapan. Aku ingin privasi tuan dan keluarga aman jadi kedepannya kalian tak perlu pindah-pindah setiap tahun. Di Finlandia pikirkanlah matang-matang negara yang aman untuk si kecil. Aku tahu Finlandia negara yang aman, tapi cuacanya terlalu extrim."


"Hm ternyata kamu sudah memikirkan sejauh ini, kamu benar-benar sudah dewasa. Oia kapan kamu akan mengenalkan Sarah padaku?" tanya Rayan yang langsung to the point. Sontak saja Johan gelagapan, ternyata tak ada yang bisa disembunyikan dari Rayan, pengmatannya benar-benar jeli.


Rayan tersenyum simpul melihat Johan malu-malu, baginya, Johan serasa adik kandung sendiri. Sudah sejak lama ia menganggap Johan saudara, tapi Johan selalu memperlakukannya layaknya majikan.

__ADS_1


"Apa aku terlalu kelihatan?" tanya Johan.


"Aih... Apa kamu belum mengatakannya?" tebak Rayan.


"Belum. Aku malu sekali," kata Johan.


"Besok ikutlah kami ke Finlandia dan ajak Sarah berlibur. Siapa tahu ia akan melihat ketulusanmu?"


"Aku tidak sepemberani itu, aku bukanlah pria tampan yang bisa membuat gadis tergila-gila," kilah Johan. Hanya Johan yang menganggap dirinya kurang menarik, padahal Johan sendiri sangatlah tampan, ia adalah pemuda misterius yang bertalenta. Banyak cewek-cewek dikantor naksir padanya hanya saja sama sekali tak digubrisnya. Ternyata yang seperti Johan bisa malu malu juga.


"Oho... Siapa yang mengatakan kamu tidak tampan. Ketampanan itu relatif, jika memang semua wanita mencari ketampanan mungkin banyak pemuda lajang sekarang. Kamu sudah besar, sudah tahu apa itu cinta dan konsekuensinya, jadi berpikirlah dengan hatimu, jika itu terbaik menurut hatimu maka kejarlah. Jangan sepertiku, termakan dendam malah membuatku berpisah dengan Intan. Saat ini aku sudah tak ingin wanita lain lagi, kuharap masih ada jodoh diantara Intan dan aku."


"Ngomong-ngomong soal Nyonya Intan, aku diam-diam menyelidikinya tanpa sepengetahuanmu, sebelumnya aku minta maaf, tapi kuharap ini akan menjadi kado terindah untuk si kembar nantinya."


"Apakah itu?"


"Rahasia"


"Aih... jika memang rahasia kenapa kamu utarakan"


"Maaf, tuan. Maaf"


"Aku akan mengatakannya pada Sarah jika kamu tak mau memberitahuku."


"Aduh, jangan dong, mana harga diriku. Aku harus mengatakannya sendiri."


"Hayo pilih mana"


"Tuan," rajuk Johan.


"Ku hitung satu


Dua


Ti..... "


"Pyar..... " suara gelas jatuh mengagetkan mereka.


"Siapa?" Teriak Rayan.


Johan langsung masuk ke dapur. Disana Sarah tengah memunguti pecahan gelas di lantai.


"Kamu masih belum tidur?" tanya Johan sedikit khawatir omongannya dengan Rayan terdengar oleh Sarah.


"Hm sudah, Aku hanya haus. Karena masih mengantuk aku tak sengaja," ujar Sarah malu, ia serba salah. Ia harus mengakui bahwa ia mendengar ucapan Johan tentang mengakui sendiri, mendengarnya membuat Sarah gugup dan tak sengaja menjatuhkan gelas.


"Aku akan membersihkannya. Kamu lanjutkan minum saja," ucap Johan sambil mengambil alih sapu. Sedang Sarah hanya bisa menunduk malu, rambut pendeknya tak bisa menutupi semburat merah dipipinya. Rayan yang melihat mereka diam-diam ke kamar mandi membersihkan diri dan bersiap tidur.

__ADS_1


"Aih, manisnya masa muda," gumam Rayan iri. Meskipun Rayan penasaran apa yang dirahasiakan Johan tapi Rayan cukup yakin kejutan itu benar-benar akan kado terindah untuk putra putrinya, semoga saja.


🌺🌺🌺


__ADS_2