Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Rasa Rindu


__ADS_3

๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Tidak ada penarikan saldo sama sekali Pak Rayan," kata suara diseberang telepon.


Rayan manggut-manggut mendengarkan.


Kali ini ganti Rayan menelpon nomer yang lain.


"Saya selalu berada di rumah setiap hari, tapi belum ada yang kesini," kali ini suara seorang perempuan di seberang telponnya.


"Kemana Intan?" ucap Rayan kesal. Rasa rindunya benar-benar membuncah. Rayan sangat ingin bertemu gadis itu. Rasa rindunya sampai membuatnya menggila.


Intan tak pernah memakai kartu ATM yang diberikannya, tidak juga tinggal di alamat yang diberikannya. Lalu kemana gadis itu? Rayan sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak melihat Johan, Asistennya, sudah berdiri didepannya.


"Apakah Tuan sedang tidak enak badan? haruskah aku menunda jadwal hari ini?" tanya Johan saat melihat Rayan khawatir.


"Aku baik-baik saja! tetap lanjutkan jadwal seperti biasa, jangan batalkanย  apapun hari ini. Oia, satu lagi, tolong cari informasi tentang orang di foto ini," pinta Rayan sembari menyerahkan selembar foto pada Johan, " Tolong cari keberadaanya, aktifitasnya dan apapun tentangnya. Gunakan detektif terbaik dan pastikan rahasia aman."


Johan menerima foto itu sambil mengangguk takdim. Bagi Johan, Rayan tak hanya bos baginya. Rayan sudah seperti senior dan panutannya. Rayan pula yang memberinya beasiswa sampai ia mampu mengangkat keluarganya yang dulunya cuma pemulung. Melihat bosnya sangat gelisah karena suatu masalah membuatnya ikut khawatir. Ia akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menemukan gadis dalam foto itu.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Intan sedang merenung membayangkan sesuatu yang segar sambil memegangi perutnya. Intan sangat ingin makan eskrim dan ia tahu, tidak ada persediaan eskrim di panti. Biasanya, anak-anak mendapatkan jatah eskrim seminggu sekali. Kendatipun ada eskrim, itu bukan eskrim keinginannya.


Cuaca sore ini sedang gerimis, kalau bukan gerimis Intan pasti sudah jalan kaki demi eskrimnya. Ada toko swalayan di desa yang punya beberapa stok eskrim. Cara agar tidak kehujanan adalah memakai payung atau jas hujan, hanya saja cuacanya dingin. ada mobil pasti tidak apa-apa, tidak akan kedinginan. Biar aku pinjam Pak Alan mobil, pikir Intan.


Intan mengetuk pintu kamar Alan berkali-kali, tetapi tidak ada sahutan. Mungkinkah Alan sedang berada di luar panti? Tapi mobil sedannya terparkir di halaman. Pastinya Alan masih di bagian lain panti. Intan berinisiatif ke gedung serbaguna karena lampunya masih nyala. Mungkin saja Alan berada disana, batin Intan.


Suara bola basket menggema di ruangan tersebut. Alan sedang main basket sendirian, tak banyak yang dilakukan Alan di pedesaan seperti ini. Bermain basket bisa membuang energinya sekaligus membunuh waktunya, lagipula basket salah satu olahraga favoritnya. Berulang kali Alan melakukan shot dan kalau beruntung beberapa slam dunk-nya sukses, ada perasaan keren saat ia bisa melakukannya.


Ternyata Intan melihat ketika Alan melakukannya. Betapa kerennya Alan saat ia bermain basket. Intan sampai melongo. Ia melihat tubuh atletis Alan melompat sambil memasukkan bola kedalam ring, terlihat indah dengan pendaratannya yang sempurna. Intan tak sadar mengelus-ngelus perutnya, Intan ingin anaknya mirip Alan, tampan dan sehat. Sangking antusiasnya, Intan sampai bertepuk tangan. Sejenak Intan lupa bahwa ia kesini hendak meminjam mobil.


Alan sedikit terkejut ada yang bertepuk tangan untuknya. Ia tak menyangka ada penonton yang menonton latihannya. Ketika ia melihat Intan bertepuk tangan, senyum Alan mengembang. Permainannya pasti benar-benar keren, batinnya bangga.


"Wah, aku punya penggemar ternyata," kata Alan sambil menyudahi permainannya dan mendekat ke arah Intan. Wajah Alan penuh keringat, dengan cueknya Alan mengusap wajah dengan kaosnya, yang membuat sebagian besar perutnya tereskspos, mempertontonkan otot perutnya dengan jelas, absnya terlihat keras dan solid.


Intan sampai menelan ludah, baru kali ini ia melihat sixpack secara langsung. Rayan bukan tipe bodybuilding, tubuh Rayan mungkin punya sixpack tapi tak seindah punya Alan. Intan sampai melongo dan buru-buru mengalihkan pandangannya dengan malu. Ia berdehem keras meminta agar dirinya fokus pada tujuannya bukan pada tubuh indah Alan, lagipula dia disini untuk kehamilannya bukan untuk membangun romansa dengan pria lain.

__ADS_1


Alan duduk di lantai sambil minum, meskipun cuaca dingin, jika berpeluh keringat seperti ini rasanya Alan sanggup minum langsung 1 botol. Sedangkan Intan duduk di bangku memandangnya dengan sabar.


"Ada yang bisa kubantu, Bu Intan?"


"Panggil Intan saja. Ya, aku minta tolong sesuatu. Bisakah aku pinjam mobil?"


"Mobil? untuk apa?"


"Aku hendak membeli sesuatu."


"Apa tidak bisa besok saja? Besok aku hendak ada keperluan ke kota," tawar Alan.


"Aku butuhnya sekarang. Kalau tidak hujan, aku bisa jalan kaki," ujar Intan sedikit kesal karena Alan seolah hendak menolak meminjamkan mobilnya.


"Hujan-hujan begini ibu hamil butuh sesuatu yang tidak bisa di tawar. Hm


... sepertinya lagi ngidam," tebak Alan


Intan mengangguk tersipu, Intan benar-benar sangat menginginkan eskrim.


"Tapi aku tidak bisa meminjamkan mobilku, maaf ya."


"Alasannya, mobilku sudah dimodifikasi, jadi sedikit berbeda dari mobil biasanya, terlebih lagi jalanan licin karena hujan, juga banyak tanjakan naik turun dan belokan, dan yang lebih membahayakan lagi kondisi gelap karena cuaca sudah malam. Semua hal yang tidak menguntungkan itu bisa membahayakan bagimu," terang Alan panjang lebar.


Alasan yang masuk akal untuk tak meminjaminya mobil, tapi Intan gak bisa menepis bayangan eskrim dari benaknya. Hal itu membuatnya sedih.


Alan tersenyum melihat Intan yang kecewa, ternyata kecewanya bumil yang ngidam tak bisa ditutupi. Betapa lucunya wajah Intan antara manyun dan kecewa, Intan terlihat menggemaskan sekali. Sebenarnya, Alan tidak benar-benar menolak membantu. Hanya saja ia ingin menggoda Intan lebih dulu.


"Ada dua kemungkinan yang bisa kutawarkan, pertama aku yang belikan. Kedua, aku yang mengantarkan," kata Alan akhirnya.


"Aku pilih nomer dua saja. Biar aku sendiri yang pilih eskrimnya," jawab Intan antusias, wajah murungnya langsung hilang tak berbekas.


"Eskrim!" Alan terkejut bukan kepalang. Ternyata ngidam eskrim. Olala...! "Eskrim di cuaca dingin begini. Ngidam memang di luar nalar, ya!" gurau Alan sambil berdiri.


"Oke, biar aku bersiap-siap. Aku tak mungkin keluar dengan badan penuh keringat, jadi tolong minta izin dulu sama Bu Ela agar tidak menimbulkan kesalah pahaman. Nanti, temui aku 20 menit lagi di halaman depan."


Intan manggut-manggut sambil mengelus perutnya. Akhirnya bakal keturutan eskrim.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Sekarang Alan dan Intan sudah ada di mall terdekat. Intan yang mengenakan setelan putih terlihat bersinar dengan perutnya yang membuncit, kehamilan kembar membuat perutnya lebih besar dari usia kehamilan sebenarnya. Sedangkan, Alan terlihat keren dengan dandanan kasual. Kaos dan jaketnya tak bisa menyembunyikan badannya yang atletis, sampai-sampai meskipun Intan dengan perut buncit berjalan di sampingnya, wanita-wanita yang berpapasan dengan mereka tetap saja mencuri pandang ke arah Alan.


"Kurasa berjalan disampingku menurunkan peluangmu mendapatkan gebetan," gurau Intan.


"Ah, bagus dong! paling tidak, tak ada yang berani nyamperin minta nomer telepon. Kurasa kita harus lebih mesra biar cewek-cewek pada kabur semua, " kata Alan sambil menempatkan tangan Intan dilingkar lengannya.


"Apaan sih, aku sebagai penyamaran ternyata, ya!" kata Intan malu, tapi Intan pun tak menarik tangannya, alhasil mereka terlihat seperti pasangan muda yang lagi menanti buah hati.


"Untung aku bukan pasanganmu, aku bisa cemburu semua cewek melihat kepadamau."


"Hahahaha... benarkah aku sekeren itu?" tanya Alan. Alan tahu dirinya gak jelek-jelek amat, tapi ketika Intan mengatakan bahwa dirinya pantas dicemburui, hal itu membuatnya tersenyum senang.


Mereka lalu menuju ke kedai eskrim. Intan langsung antusias memilih eskrim yang disukainya. Ia memesan berbagai rasa dengan ukuran ekstra. Alan hanya menggeleng ketika ditawari, Alan lebih suka melihat Intan makan.


Alan melihat Intan melahap eskrim dengan bahagia, matanya terlihat berbinar-binar. Alan yang duduk didepannya sampai tak kuasa mengambil foto Intan karena Intan terlihat menggemaskan. Alan bahkan melakukan wefie, Intan hanya tersenyum melihat kelakuan Alan.


"Baiklah, kita akan melakukan wawancara dengan bumil twins disini," kata Alan sambil menyalakan fitur rekam. Ia hendak mengabadikan moment Intan makan eskrim.


"Ngomong-ngomong bumil kenapa sangat ingin makan eskrim? Apakah benar jika ngidam tidak dituruti akan menjadikan anaknya nanti ngileran?"


"Hmmm apa, ya! mitos mungkin, ya! Yang ngiler Ibunya, kok!" jawab Intan sambil tertawa.


"Ya ampun, baiklah, pertanyaan selanjutnya. Aduh, apakah bisa makannya pelan-pelan? lihatlah eskrim di wajahmu," Alan mengeluarkan saputangan dan mengelap bibir tipis Intan. Intan hanya terpaku melihatnya, ketika sadar Intan langsung meminta saputangannya.


"Biar aku saja. Terimakasih sudah perhatian," kata Intan sambil tersenyum manis. jujur hatinya berdegup kencang hampir saja ia lupa diri.


Alan juga salah tingkah. Senyuman manis Intan membuat hatinya meleleh, meski ia tahu gadis di depannya sedang hamil anak orang lain. Namun, tak ada salahnya, kan. Toh, mereka sudah resmi bercerai, batin Alan menghibur diri.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Foto Intan sedang makan eskrim berserakan di depan Rayan. Ia melihat gadis itu terlihat gemuk dan bahagia bersama cowok macho nan atletis membuat Rayan terbakar cemburu sekaligus patah hati secara bersamaan. Apa haknya merasa cemburu dan marah kalau gadis itu sudah move on dan mendapatkan lelaki yang terlihat menyayangi Intan lebih dari dirinya? Lelaki yang bahkan dari fotonya saja terlihat lebih bertanggungjawab darinya.


Rayan menghela nafas, dadanya terasa sesak. Dirapikannya foto-foto yang berserakan itu, pikirannya diliputi kekecewaan. Rayan bergegas pulang untuk meluapkan emosinya, meninju samsak mungkin bagus membuang energi berlebih dipikirannya.


Rayan berpeluh keringat karena meninju samsak dengan keras. Meskipun menggunakan sarung tangan, itu tak mengurangi rasa sakit ditangannya, sekarang tangannya pasti sudah memerah. Tangannya mungkin terasa sakit tapi lebih sakit lagi hatinya ketika mengingat Intan, senyum lepas Intan di foto itu membuatnya tak bisa berkata-kata. Sungguh, membuang seseorang seperti Intan suatu kerugian yang nyata baginya, seperti membuang batu intan yang susah payah di dapatkannya.

__ADS_1


Gadis itu sekarang telah pergi membawa hatinya, membawa separuh jiwaya. Rayan tak kuasa menahan tangis. Dosa apa yang telah di perbuatnya sehingga ia harus menanggung rindu seberat ini. Kehilangan Intan ternyata sesakit ini. Kalau tahu sesakit ini, lebih baik ia tak pernah mengenal Intan, lebih baik ia tak pernah mengenal apa itu cinta. Sekarang Rayan telah terjerat oleh cinta yang bahkan tak pernah ia sadari awal-mulanya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2