Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Perjumpaan


__ADS_3

🌺🌺🌺


Intan memandang Mamanya yang terlihat sedih melepasnya, ada rasa iba menggelayuti hatinya. Bagaimanapun juga Intan belum berbaikan dengan Mamanya dan kali ini Intan sudah harus berpisah lagi. Mamanya harus melepasnya pergi kuliah untuk waktu yang cukup lama.


Sedangankan Papa Intan, Pak Wibowo, berada cukup jauh dari Intan. Ia hanya melihat sekilas ke arah Papanya tanpa ekspresi. Intan masih mengingat jelas bahwa papanyalah yang memisahkan ia dengan putrinya, ia tak akan memaafkan papanya dengan mudah. Rasa-rasanya sifat keduanya sangat mirip, sama-sama keras kepala.


Intan sudah sangat ingin memasuki bandara dan menyudahi rasa canggung sampai Mas Eka datang menyelamatkan situasi canggung ini dengan membawa Adam.


"Untung masih sempat, aku harus menjemput Adam dulu di sekolah. Bagaimana Adam bisa melewatkan salam perpisahan dengan tantenya," Kata Mas Eka. Adam sudah berlari memeluk tantenya.


"Tante Intan jangan lupa oleh-olehnya, ya," kata Adam polos.


"Aih, anak ini. Setiba disana tante akan langsung mengirim oleh-oleh untuk Adam. Adam minta apa?" tanya Intan sambil memeluk mesra keponakannya.


"Adam minta boneka saja, tante, mau Adam kasihkan ke adek Wina. Kata Mama, adek Wina gak suka robot, tapi suka boneka, karena adek Wina perempuan dan Adam laki-laki," kata Adam polos.


Intan tersenyum manis sambil mengecup mesra pipi Adam.


"Adam sayang banget ya sama adek Wina."


"Iya, Adam sayang banget"


"Baiklah besok tante akan kasih oleh-olehnya robot buat Adam dan boneka buat adek Wina, bagaiamana? Adam suka?"


"Asik..... " teriak Adam kegirangan.

__ADS_1


Wina, putri kedua Mas Eka, Intan hanya sempat melihatnya dua kali, waktu kelahirannya dan waktu kemarin berpamitan. Beruntungnya mas Eka, punya dua putra dan putri yang cantik dan tampan. Ketika memikirkan bahwa ia tak akan pulang untuk beberapa tahun, Intan merasa ia akan akan sangat merindukan Adam dan Wina.


"Mas Eka, Intan pamit dulu," kata Intan sambil memeluk kakaknya.


"Jaga dirimu, kami akan sering-sering berkunjung kesana."


"Cepat pulang tante," sahut Adam yang sudah berpindah ke gendongan Papanya.


"Siap, kakak," gurau Intan.


"Jaga kesehatan, ya nak. Kalau ada apa-apa telfon Mama," kata Mamanya.


Intan hanya menyambutnya dengan pelukan. Kali ini ia menoleh ke arah Papanya, ia penasaran apa kata terakhir papa untuknya.


"Ya, sampai jumpa lagi," kata Papanya setelah merenung sejenak. Intan mau tak mau tetap memeluk Papanya meski singkat. Bagaimanapun bencinya ia pada Papanya, ia tahu Papa berusaha melindunginya, hanya caranya saja yang salah. Meski begitu, ia masih merasa berat untuk memaklumi sikap Papanya.


"Sampai jumpa lagi," kata Intan sambil melambaikan tangannya. Kali ini Intan tak menoleh lagi, baginya hari ini akan menjadi masa lalu. Kelak saat kembali ia akan berdiri tegak untuk menentukan masa depannya sendiri.


🌺🌺🌺


"Johan, kenapa kamu menyuruh kami datang kesini lebih awal padahal jadwal penerbangan masih 4 jam lagi. Kamu benar-benar. Apa sih yang ada di fikiranmu?" ujar Rayan gusar, hanya demi kejutan untuk si kembar, Johan menyuruh mereka datang ke bandara seawal ini. Saat ini sudah lewat 1 jam dan tak ada yang terjadi, untung si kecil gak rewel.


"Ah, maafkan aku, sepertinya informaku kurang perhitungan. Tapi yakinlah penantian ini tak akan sia-sia," janji Johan.


Rayan menunggu dengan sabar, sedangkan Johan tengah sibuk dengan ponselnya entah menghubungi siapa.

__ADS_1


"Oh, baiklah sudah tiba. Sarah dan Bu Jemima laksanakan sesuai arahanku, ya," kata Johan.


Jemima dan Sarah berjalan secara terpisah ke arah kursi tunggu. Rayan yang tak paham maksudnya hendak membantah, untuk apa memisahkan anak-anak dari rombongan, kalau ada kejadian buruk, siapa yang akan bertanggung jawab. Namun, belum sempat Rayan berargumen, Johan sudah menyeretnya ke arah yang lain, cukup dekat untuk mengawasi si kembar jika terjadi sesuatu.


Rayan mengedarkan pandangannya dengan seksama, melihat apa yang dimaksud kejutan oleh Johan.


Rayan terdiam seketika begitu matanya bersirobok dengan sesosok yang di kenalnya, sosok yang teramat dirindukannya, ia sampai tak kuasa berdiri, lututnya terasa lemas. Ia bersimpuh di lantai memandang kekasihnya yang duduk tak jauh darinya. Tak jauh dari tempat si kembar berada, ia melihat Intan tengah duduk dengan anggunnya.


Wajah Intan terlihat berseri dengan make up tipisnya. Meski tanpa senyuman, Rayan tahu kehidupan Intan sudah jauh lebih baik, rambutnya masih pendek seperti yang terakhir Rayan ingat. Rayan bergumam, mungkinkah ia tak akan pernah melihat Intan memanjangkan rambutnya lagi. Intan terlihat misterius dengan pakaian serba hitam dengan padanan blouse dan celana. Intan tengah memegang buku di tangannya. Tapi, Rayan melihat matanya tak lepas dari Rudy yang duduk tak jauh darinya. Apakah akhirnya Intan menyadari nalurinya bahwa putranya berada tak jauh darinya.


Rayan menahan diri untuk tidak menangis. Ia sangat ingin berlari ke arah Intan dan memeluknya. Ia tak percaya saat ini ia melihat Intan dengan mata kepalanya sendiri. Hatinya seakan meledak penuh kerinduan, ia bersyukur masih bisa bersua dengan Intan meskipun tak bisa menyapanya.


Tiba-tiba Rayan melihat Jemima berdiri dan mendekat ke arah Intan sambil menggumamkan sesuatu. Ia tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena Rayan berada cukup jauh untuk bisa mendengarnya. Jemima lantas menyerahkan Rudy pada Intan, sebelum berlalu pergi.


Dan pemandangan berikutnya membuat Rayan tak kuasa meneteskan air matanya. Rudy telah berada di pangkuan Intan, tangan mungilnya menggapai-gapai wajah Intan seolah ingin menyapanya. Intan menyambut uluran tangan Rudy sambil mengecup pipi Rudy dengan penuh kasih sayang. Intan tersenyum memandang putranya dengan mata berkaca-kaca. Intan menimang putranya tanpa rasa canggung, seolah mereka sudah saling mengenal sebelumnya, Padahal sesungguhnya mereka baru bertemu sedetik yang lalu, namun chemistry antara mereka tak terbantahkan.


Melihat pemandangan yang mengharukan ini sungguh sebuah karunia yang tak bisa Rayan bayangkan. Ini benar benar kado terindah untuk si kembar. Ia lantas memandang johan di sampingnya dengan tatapan terimakasih yang dalam.


Johan menepuk punggung Rayan menenangkan. Johan melakukan ini untuk terakhir kalinya, karena ia tak akan bisa merekayasa takdir seperi saat ini. Pertemuan ini, benar-benar kebetulan yang tak semudah itu direkayasa Johan. Tuhan sedang berbaik hati mempertemukan mereka.


Waktu seakan berlalu singkat, Jemima telah kembali mengambil Rudy dan berlalu pergi. Kali ini giliran Sarah yang mendekat ke arah Intan sambil membawa Ruby. Sarah tidak berlalu dan menitipkan Ruby seperti Jemima. Sarah hanya duduk disamping Intan dan membiarkan Intan bercengkrama dengan Ruby. Mereka menghabiskan waktu yang lama bersama. Intan bahkan sempat mengambil foto Ruby. Rayan tak tahu akankah itu baik atau buruk, yang dipedulikannya saat ini adalah betapa bersyukurnya ia atas kesempatan ini, meski sekali anak-anaknya sudah pernah merasakan sentuhan Ibunya.


Rayan juga sangat bersyukur ia bisa melihat senyuman Intan, ternyata intan tetaplah wanita tercantik dimatanya. Senyumnya mampu mengalihkan dunia. Sekarang, ia bisa pergi dengan tenang hanya dengan memandang senyumannya. Ia sampai tak sadar telah mengambil foto Intan yang tengah tersenyum. Sangking fokusnya sampai ia tak mengindahkan Johan yang tengah pamit ke tempat Jemima.


Rayan baru tersadar saat pemberitahuan penerbangan mereka sudah di umumkan. Sarah berpamitan dengan Intan. Sekali lagi Intan mengecup Ruby dengan penuh kasih sayang. Andai Intan tahu Ruby adalah putrinya. Betapa bahagianya. Namun, ketidak tahuan itulah yang terbaik untuknya saat ini.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2