Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Intan


__ADS_3

🌺🌺🌺


"Ada kasus mendesak yang harus ku tangani, segera setelah selesai aku akan langsung kesana" Jawab Dr. Randi dari sambungan telfon. Setelah mendengar itu Rayan langsung melangkahkan kaki keluar dari kantor Dr Randi, seyogjanya kedatangan Rayan adalah untuk membahas masalah Ibunya dan rumahsakit, hanya saja janjian dengan seorang dokter tentu tidak selamanya tepat waktu, karena para Dokter selalu punya sesuatu yang mendesak untuk diutamakan.


Menunggu Dr Randi dari kantornya tentu membosankan, Rayan lantas turun mencari udara segar. Rencananya Rayan akan makan malam dengan Dr. Randi tapi  Rayan tidak tahu kapan Dr Randi selesai dengan tugasnya jadi Rayan lebih memilih makan malam terlebih dahulu.


Kantin rumahsakit cukup ramai mengingat saat ini memang jam makan malam. Masakan di kantin rumahsakit kebanyakan cita rasanya akan sedikit berbeda dari rumah makan konvensional. Jadi, Rayan memilih menu masakan yang paling umum yang cita rasanya kurang lebih sama bagi lidahnya yaitu nasi goreng. Walaupun rasa nasi goreng berbeda tiap rumah makan tapi semua nasi goreng lezat bagi Rayan. Terang saja karena nasi goreng adalah masakan kesukaannya.


Rayan menghabiskan nasi gorengnya sambil melihat sekeliling, ada begitu banyak wajah-wajah lelah disana. Maklum saja orang yang pergi ke rumahsakit lebih banyak berurusan dengan masalah kesehatan, jika bukan diri sendiri, bisa jadi itu kesehatan orang terkasihnya. Kesehatan memang segalanya, apalah arti kaya harta jika hidupnya harus bergantung pada perawatan dan obat-obatan.


Begitu hendak menghabiskan nasi gorengnya Rayan mendapati dirinya terpaku pada seseorang yang sangat mirip dengan Intan. Kali ini berbeda dengan kemarin, jika Rayan melihat orang yang mirip Intan, Rayan akan mengalihkan pandangannya dan bergumam dalam hati kalau ia sedang berhalusinasi. Tapi tidak malam ini.


Wanita itu memakai piyama rumahsakit warna hijau muda yang diluarnya tertutup jaket putih yang agak kebesaran sedang berdiri membeli minuman di bagian konter minuman, meski jaket itu menutupi tubuhnya Rayan masih bisa melihat perutnya yang membuncit, demi melihat caranya berjalan, Rayan menaksir wanita yang sangat mirip Intan itu sudah berada di semester ketiga kehamilan. Bisa jadi wanita itu tengah berada di rumahsakit untuk melahirkan.


Rayan memandang gerak-gerik wanita yang mirip intan itu dengan tatapan tajam mendeskripsikan setiap jengkalnya dan menyandingkan dengan Intan versi ingatannya. Meskipun berbeda, hati Rayan mengatakan mereka orang yang sama, terlebih saat wanita itu menyibakkan rambut pendeknya, sama persis seperti Intan yang diingatnya. Meski seingatnya Intan tak pernah berambut pendek.


Wanita itu melewati mejanya tanpa memperhatikan sekitar, hati Rayan tercekat, rasanya ia kembali pada masa dulu Rayan meninggalkan Intan saat bulan madu mereka. Dimana saat itu, Rayan berada sangat dekat dengan Intan di kafe hotel, Intan juga melewatinya tanpa meperhatikan sekelilingnya. Tanpa terasa Rayan melangkahkan kakinya mengikuti wanita itu. Terlihat segelas minuman ditangan kiri dan tangan kanannya sesekali memegangi perutnya yang membuncit. Wanita itu berjalan tertatih-tatih, rasa-rasanya perutnya terlalu besar dibanding ibu hamil biasanya. Rayan ingin sekali menuntunnya karena tak tega melihat wanita itu berjalan tertatih-tatih.


Rayan membuntuti wanita itu sampai taman rumahsakit, Rayan lalu berhenti dibawah naungan pepohonan yang gelap untuk menyamarkan diri. Wanita itu duduk tak jauh dari Rayan bersembunyi, anehnya wanita itu memilih duduk di bangku taman yang temaram, padahal ada bangku kosong di dekat tiang lentera.


Rayan berada cukup dekat dengan wanita itu. Namun Rayan ragu antara mendekat dan memastikan atau menunggu dan memperhatikan. Wanita itu mendongak ke arah langit. Entah apa yang ada di pikirannya, sampai-sampai ketika angin malam memainkan rambutnya, wanita itu tak sedikitpun  menggubrisnya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja tubuh Rayan meliha tubuh wanita itu bergetar, gelas ditangannya ikut bergetar dan menumpahkan sedikit isinya sebelum wanita itu meletakkan gelas itu pada bangku disampingnya. Wanita itu serta merta menutup kedua  telinganya dengan tangannya dan mulai menangis. Meski dalam temaram Rayan bisa melihat jelas air mata yang berlinang dipipi wanita itu. Rayan bisa merasakan tatapan pilu yang mengiris hati. Kesedihan yang sungguh menyayat hati bagi siapapun yang melihatnya, tak terkecuali Rayan.


Wanita itu mengusap air matanya dengan tangan kanannya dan satu tangannya lagi diletakkan di atas perutnya, wanita itu mengelus perut buncitnya sambil menangis pilu tanpa bersuara. Rayan tak kuasa mengalihkan pandangannya. Ingatannya kembali saat melihat Intan menangis sendirian di hamparan pasir pantai tempat bulan madu mereka. Rayan tak bisa memungkiri. Meski sosok Intan saat itu dan wanita hamil ini terlihat berbeda tapi Rayan meyakini wanita yang duduk di bangku taman ini adalah Intannya, Intan kekasihnya, pujaan hatinya, seseorang yang telah mencuri hatinya.


Rayan berjalan pelan ke arah Wanita itu duduk. Semakin mendekat semakin terlihat ciri-ciri Intannya pada wanita itu. Ada tahi lalat di ujung mata kirinya, persis seperti Intannya, wanita itu juga memakai anting dengan mutiara warna biru persis seperti yang diberikan Rayan pada Intan.


Rayan tak sanggup lagi menyebutkan detail Intan dalam ingatannya, menyakitkan jika harus mengenang Intan di masa lalu jika di depannya sekarang adalah Intan. Meski tak serupa cintanya tetaplah sama. Meski perutnya membuncit entah milik siapa, ia tak peduli lagi. Baginya, Intan tetaplah Intannya, miliknya, kekasihnya.


Rayan hanya bisa bergumam menyebut nama Intan dengan mulut bergetar sambil berjalan tertatih-tatih menguatkan diri menemui orang yang amat dirinduinya.


"Intan ... Intan... Intan..."


Serta merta Rayan berlutut didepan Intan. Tangan Rayan bergetar menahan gejolak didadanya kala ia harus berjumpa dengan Intan seperti ini. Ia tak pernah menyangka harus melihat Intan yang sedang menangis. Sekali saja Rayan ingin melihat terkasihnya sedang tersenyum bahagia.


Rayan mendongakkan wajahnya ke arah Intan yang masih menangis. Bahkan tangisannya semakin menjadi tatkala pandangan mata dua sejoli itu saling beradu, Rayan mengusap sisa air mata yang masih tersisa dipipi Intan dengan lembut. Tak kuasa hatinya melihat air mata Intan. Ia ingin sekali menciumi Intan untuk menghentikan tangisannya tapi Rayan menahan diri dan hanya bisa menyentuh wajah didepannya ini yang seolah bagaikan mimpi.


"Aku merindukanmu Mas Rayan..." ucap Intan di sela isak tangisnya.


Rayan memejamkan mata meresapi suara Intan. Merekamnya dalam memori. Betapa Rayan merindukan panggilan ini, betapa di mimpi terdalamnya, Rayan berulangkali ingin Intan mengatakan bahwa ia masih di rindukan.


Intan lantas memeluk Rayan dengan erat seolah tak ingin lagi berpisah. Rayan mengusap punggung Intan berharap bisa mengurangi isak tangis Intan, tapi tangan Rayan langsung terhenti saat mendengar perkataan Intan.

__ADS_1


"Bawa aku pergi jauh dari sini, Mas. Selamatkanlah kami. Selamatkan aku dan anak kita"


Perkataan Intan  bagai petir yang menyambar di siang bolong saat mendengar bahwasannya bayi dalam kandungan Intan adalah darah dagingnya, Rayan langsung menangis. Tangisannya pun tak kalah keras dari Intan. Rupanya saat malam pertama mereka, Rayan telah menitipkan benih cintanya pada Intan. Meskipun Rayan telah menyakiti Intan, tetapi Intan masih merawat buah cinta mereka dengan penuh kasih.


Sekarang teranglah bagi Rayan kenapa Intan diusir dari rumah. Rupanya Intan lebih memilih memepertahankan buah cintanya. Rayan tak bisa membayangkan lagi betapa kejamnya perlakuannya pada Intan. Betapa jahatnya perbuatannya dulu. Bukan untuk pak wibowo tapi semua berimbas pada Intan dan anaknya.


Rayan menyadari betapa ia telah menelantarkan istri dan calon buah hatinya. Meskipun sekarang belumlah terlambat memperbaiki itu, tapi apa yang dilakukannya amatlah buruk. Ia adalah Ayah yang buruk. Ia pun menangis antara penyesalan dan kebahagiaan.


Terimakasih, Tuhan. karena masih memberiku kesempatan bertemu dengan mereka. Terimakasih karena masih memberiku kesempatan untuk menebus dosa ini, batin Rayan penuh syukur.


"Maafkan aku selama ini Intan," kata Rayan terbata-bata, suaranya terdengar sengau karena menangis. Ia selalu berusaha tegar, tetapi kenyataan ini benar benar-benar mengiris hatinya.


"Aku berjanji akan menjagamu dan anak kita. Aku tidak akan melepaskan kalian lagi apapun yang terjadi.Aku akan menebus semua dosaku. Aku masih mencintaimu Intan. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku juga sangat merindukanmu," tangis Rayan pecah kala mengakui betapa Intan masihlah pemilik ruang dihatinya.


Intan menyudahi pelukannya dan memandang Rayan. Dengan tangannya Intan menghapus air mata dipipi Rayan. Hatinya ikut sakit tatkala tahu bahwa selama ini ternyata mereka saling mencintai. Dan salahnyalah menjauhi Rayan tanpa memberi kabar. Namun, Tuhan Maha Adil, Dia memberi mereka waktu untuk saling intropeksi diri atas sikap egois mereka, Tuhan telah menyadarkan mereka agar lebih menghargai karunia yang di berikan Tuhan pada mereka.


Rayan masih tetap sama seperti terakhir Intan melihatnya. Hanya saja berbeda dengan Intan yang makin kesini makin gemuk karena kehamilannya. Rayan makin kesini terlihat makin tirus. Intan juga masih bisa melihat sisa kesedihan yang masih membayang dimata Rayan.


Intan ingin menghapus kesedihan itu.


Intan tak kuasa mendaratkan ciumannya dibibir Rayan. Rayan hanya bisa terpaku, sedikit terkejut Intan menciumnya. Tapi hanya sebentar, Rayan sudah balas mencium Intan dengan dalam dan panjang. Seolah ia sedang melepaskan hasratnya selama ini. Ciuman yang mewakili kerinduannya, mewakili cintanya dan mewakili lembaran baru yang membentang untuk mereka. Terberkatilah cinta.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2