
🌺🌺🌺
Rayan sama sekali tak bisa menyipitkan matanya dalam perjalanan ke Pulau Kalimantan. Ia telah melakukan penerbangan pertama dan menempuh perjalanan tanpa berhenti demi menemui bocah yang diduga adalah Putranya. Kendati Mas Eka maupun Johan bersedia melakukan perjalanan jauh menggantikan dirinya demi memastikan kebenaran berita yang tengah viral itu. Tapi Rayan tak bisa mewakilkan ini ke orang lain, bukan ia tak percaya dengan mereka, hanya saja ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri kebenaran berita itu. Apalagi ia tahu benar bahwa hanya dirinya adalah yang paling mengenal Rudy. Selain dirinya mungkin ada Ibunya dan Ruby, tapi di antara ketiganya hanya ia yang memungkinkan bisa melakukannya. Akhirnya ia ditemani Johan datang sejauh ini untuk memastikan bocah itu dari dekat.
Menilik dari foto yang beredar, memang benar bocah lelaki itu sangat mirip Putranya tapi semua yang melekat pada Putranya saat ditemukan tak merujuk satu pun dengan ciri-ciri Putranya.
Mereka tiba di puskesmas yang dimaksud saat tengah hari, namun bukan teriknya panas yang menanti. Tapi hujan yang turun demikian lebatnya. Rayan dan Johan berlari kecil menuju ke pintu lobi Puskesmas Jaya, nama puskesmas yang dimaksud.
Dengan sedikit basah kuyup, Rayan berdiri di depan meja resepsionis untuk menanyakan perihal Rudy. Tapi johan melarangnya dan memberi isyarat padanya untuk membiarkan Johan yang melakukannya. Ia pun menurut dan membiarkan Johan melakukannya. Mungkin karena sudah terbiasa melakukan urusan lobi-melobi, tanpa menunggu lama mereka akhirnya berjalan menuju ke kamar rawat Rudy ditemani seorang perawat muda.
Karena puskesmas tak terlalu besar hanya butuh 5 menit untuk sampai di rawat inap yang dimaksud. Di luar pintu kamar yang dimaksud seorang polisi tampak berjaga. Perawat yang menemani mereka tadi berbicara dengan pihak polisi, dibantu penjelasan dari Johan akhirnya polisi itu mendekat ke arah Rayan yang sibuk mengintip di balik kaca, siapa tahu ia bisa melihat sosok yang terbaring di sana.
“Perkenalkan, saya Pak Sobri, polisi yang bertugas menjaga bocah yang ditemukan ini,” ujar polisi itu memperkenalkan diri.
“Nama saya Rayan, seperti yang dijelaskan oleh asisten saya. Bahwa saya telah kehilangan Putra saya karena diculik. Saya melihat informasi yang beredar dan anak ini mirip dengan Putra saya,” ujar Rayan.
“Berarti Anda ke sini untuk memastikan informasi yang beredar bahwa ada kemungkinan kemiripan anak yang ditemukan ini dengan anak kandung Bapak?” tanya polisi itu.
Rayan mengangguk, ia sudah tak sabar ingin melihat kondisi bocah itu, tapi polisi ini terlihat bertele-tele, mengulur waktunya dan itu membuatnya sedikit emosi.
“Terus terang saja, Anda bukan orang pertama yang datang ke sini dan mengaku sebagai orang tuanya,” ujar polisi itu.
__ADS_1
Rayan sedikit terkejut dengan penjelasan polisi itu, apa mungkin bocah yang di dalam ini bukan Rudy? batinnya bertanya-tanya.
“Bapak harus membuat laporan kehilangan dulu di kantor polisi,” ujar polisi itu menyarankan.
“Saya telah melakukannya, Pak,” balas Rayan.
“Saya belum melihat laporannya,” ujar Pak Sobri berkeras.
Rayan menghela nafas, jika Pak Sobri belum melihatnya bukan berarti ia berbohong. Hanya saja kantor polisi kan bukan di sini saja. ingin sekali Rayan melayangkan tinjunya ke arah polisi ini tapi ditahannya tangannya, ia tak ingin membuat masalah baru. Ia harus menahan egonya.
Johan yang melihat Bosnya tak sabar segera mengambil alih pembicaraan dan berdiskusi dengan Pak Sobri. Akhirnya setelah beberapa menit berdiskusi Pak Sobri akhirnya memperbolehkan mereka masuk ke ruangan untuk melihat apakah benar bocah yang ditemukan itu adalah Rudy, Putranya.
Mereka berempat lalu berjalan ke dalam. Hujan deras masih mengguyur dengan diselingi petir dan kilat yang menyambar. Rayan menguatkan hatinya mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Saat Rayan menyibak telinga itu, di detik berikutnya ia jatuh bersungkur di samping ranjang sambil menangis.
“Akhirnya Papa menemukanmu, akhirnya Papa menemukanmu...” ujar Rayan sambil menangis, ia memegang tangan kiri Putranya dan menciuminya. Kendati kondisi Putranya masih belum stabil tapi itu tak mengurangi rasa syukurnya karena bisa bertemu lagi dengan Putranya.
Rayan merasakan tangan dalam genggamannya bergerak, ia segera menoleh ke arah Rudy. Apakah Rudy telah siuman.
“Papa...” gumam Rudy lirih.
__ADS_1
Rayan tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. “Ini Papa, Sayang. Ini Papa.”
Air mata Rudy mulai mengalir di balik mata kecilnya, ia senang Papanya ada di sini. Kalau bukan Papanya ia tak akan membuka matanya dan akan terus pura-pura tidur. Ia bahkan telah berjanji pada dirinya kalau bukan Papanya ia tak akan berbicara sepatah kata pun meski ditanya seribu kali. Setelah semua peristiwa menakutkan yang dialaminya dengan penculik, hampir mati di tengah laut, juga banyak orang datang mengaku menjadi orang tuanya membuat hati kecilnya tak sanggup menanggung semuanya seorang diri. Untung Papanya datang, Papa penyelamatnya. “Papa, aku takut,” ucapnya di sela isak tangis.
Rayan langsung memeluk Putranya, “tak apa, Sayang. Papa di sini. Semua akan baik-baik saja. Ada Papa.”
“Mama... bagaimana dengan Mama?” tanya Rudy. Kali ini ia melepaskan alat bantu pernapasan miliknya supaya ia bisa berbicara lebih leluasa.
“Mama baik-baik saja, Ruby juga baik. Semua baik,” ujar Rayan. Ia tak memberitahukan Rudy kalau Adiknya itu tengah sakit.
Rudy bernapas lega, dan melepas pelukannya. Kali ini ia terlihat begitu lega dan lapang. Ia memandang ke arah orang-orang dewasa yang mengelilinginya. Ia tersenyum lemah dan kembali memejamkan matanya. Kali ini ia benar-benar membutuhkan istirahat. Sudah ada Papanya, ia tak khawatir lagi, semua terserah Papanya. Ia lega mendengar semua orang selamat.
Perawat itu tampak terkejut karena bocah yang sekarang ia tahu bernama Rudy masih menguatkan dirinya untuk berbicara demi Papanya, betapa menyentuhnya.
Pak Sobri juga tampak tak bisa berkata-kata karena ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa bocah itu langsung mengenali Rayan sebagai orang tuanya padahal beberapa pasang orang tua yang datang mengaku tak ada satu pun yang diresponsnya.
“Johan, beritahu Intan, aku telah menemukan Rudy,” perintahnya pada Johan. Ia tak ingin membuat Intan menunggu kabar darinya dengan khawatir. Apalagi Intan sebelumnya telah memaksa untuk ikut, tapi Rayan memintanya untuk menjaga Ruby. Sekarang setelah kedua anaknya telah ditemukan, ia berharap kondisi si kembar membaik dengan cepat. Sisanya ia tak peduli, baginya cukuplah anaknya ditemukan. Ia tak ingin yang lain.
🌺🌺🌺
jika suka vote y
__ADS_1
thanks untuk follow-nya.