Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Siti Nur Maria


__ADS_3

🌺🌺🌺


Maria sedang mengerjakan rangkaian bunganya saat seseorang masuk ke green house. Dia sedikit bertanya-tanya, siapakah gerangan yang sedang bertamu? Mungkin kah seseorang yang akan mengambil karangan bunga, tapi mereka sudah berjanji akan mengambilnya sore hari, bukan siang ini. Maria hendak menyapanya, tapi diurungkannya karena pria paruh baya yang bertamu itu terlihat mengagumi keindahan bunga yang ada di sekelilingnya. Maria tersenyum, siapa yang tak terpesona dengan keindahan taman ini. Putranya bekerja sangat keras untuk menumbuhkan bunga-bunga ini.


"Sungguh indah sekali, aku sangat beruntung bisa datang ke sini setidaknya sekali," gumam pria itu.


Maria langsung menajamkan pengamatannya saat pria itu menggumamkan kata dalam bahasa Indonesia. Maria begitu antusias saat mengetahui orang yang bertamu di green housenya adalah orang Indonesia.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" sapa Maria ramah.


Pria itu sedikit terkejut dengan panggilan Maria, ia lantas menoleh ke arah Maria.


Maria sejenak mengamati pria di depannya, pria ini mirip dengan seseorang. Pada awalnya, ia sedikit tak yakin, namun saat pria itu hendak bertanya, lesung pipit di pipi kanan pria itu tercetak jelas. Senyum mengembang menghiasi wajah Maria kala ia melihat lesung pipit itu. Sesuai dugaannya, pria ini adalah orang yang dikenalnya, orang yang pernah menjadi segalanya dihidupnya dahulu.


"Permisi, bisakah aku bertemu...."


Belumlah habis pertanyaan yang diajukan pria itu, Maria langsung memotong pertanyaan itu dengan antusias.


"Hasan, kaukah itu?" tanya Maria dengan nada tak percaya. Dia sudah tak bisa mengingat kapan terakhir ia berjumpa dengan Hasan, mungkin saat Rayan masih kecil. Hasan mungkin bertambah gemuk seiring waktu, tapi Maria tetap tak bisa melupakan lesung pipit yang cuma satu dipipi kanannya. Dulu ia sering mengolok-olok Hasan karena lesung pipinya bukan sepasang.


Maria segera meletakkan bunga aster yang dipegangnya ke atas meja, ia melepas sarung tangan yang dikenakannya dan mengulurkan tangannya pada Hasan untuk bersalaman.


Wajah Pak Wibowo terlihat sedikit kebingungan. Mungkinkah Hasan sudah melupakanku? batin Maria sedih, meski sedih ia tetap memasang wajah penuh senyum dan menunggu Hasan menyambut uluran tangannya.


Hasan terlihat berjalan mendekat, Maria sempat mengira Hasan akan menyambut uluran tangannya, namun ternyata Hasan malah berhenti di tempat. Maria menduga Hasan telah mengingatnya. Kisah mereka memang berakhir buruk, mungkinkah waktu belum menyembuhkan luka itu?


"Maria..." panggil Hasan pelan, ia telah jatuh terduduk seolah lututnya tak sanggup lagi menopang badannya, ia melihat Maria dengan air mata yang menggenangi matanya.


Maria tak bisa mengartikan air mata apakah itu? tapi ia sungguh ikut sedih melihat air mata yang mengalir dipipi pria yang pernah mengisi masa lalunya itu.


Maria menenangkan Hasan dan memaksa pria itu pindah ke tempat yang lebih nyaman, ada beberapa kursi di meja tempatnya merangkai bunga, ia meminta Hasan pindah ke sana. Dia lalu menuangkan segelas air minum dan meletakkannya di depan Hasan, dengan sabar ia menunggu pria itu lebih tenang sembari melanjutkan pekerjaannya, ia harus bergegas karena rangkaian bunga ini akan diambil sore untuk acara pernikahan, Rayan sudah mengerjakan rangkaian kecil sedangkan rangkaian yang lebih besar menjadi tanggung jawabnya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Hasan memulai percakapan setelah merasa lebih tenang.


"Seperti yang kamu lihat, saat ini aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? Apakah gerangan yang membawamu ke sini?" tanya Maria sambil tetap fokus merangkai. Kali ini ia sedang menggunting mawar putih dan menempatkannya dengan terampil. Merangkai bunga selalu menjadi kesukaannya, bahkan saat pikirannya tidak stabil, hobinya tetap tidak berubah.


"Aku, bisakah aku bertemu Hendrayan?" tanya Hasan sedikit takut Maria akan menolak permintaannya.


"Tentu saja, sebentar lagi Rayan akan datang, ia tengah menjemput anak-anak di sekolah."


"Maria?" panggil Hasan pelan.


"Ada apa? Katakanlah, aku tak apa," sebenarnya Maria juga merasa berat harus berkonfrontasi secara langsung dengan masa lalunya, ia sangat takut harus kembali ke rumah sakit jiwa, tapi sejak ia dinyatakan sembuh, ia selalu mengulang skenario pertemuan ini dibenaknya. Karena ia tahu cepat atau lambat pertemuan ini akan terjadi juga, dan jika saat itu tiba ia harus bisa menghadapinya, demi putra-putrinya, demi cucu-cucunya.


"Kenapa saat itu kamu tak datang?" tanya Pak Wibowo dengan hati-hati, tentang masa lalu itu, ia ingin jawaban langsung dari Maria.


"Justru aku yang harus menanyakannya padamu, kenapa kamu tak datang. Aku menunggumu dari pagi sampai malam." kata Maria emosi, ia sudah menunggu selama itu, bagaimana bisa Hasan mengatakan padanya bahwa ia tak datang.

__ADS_1


"Aku menunggumu semalaman sampai pagi, kamu tak datang" kata Pak Wibowo.


"Siapa yang mengatakan bahwa aku membuat janji pada malam hari. Aku persis mengatakan pada Bibi Romlah bahwa aku akan datang saat pagi."


"Tapi, bibi Romlah juga mengatakan padaku dengan jelas bahwa aku harus menunggumu jam 7 malam. Aku bahkan sudah datang lebih awal,” ujar Pak Wibowo tak mau kalah.


"Bagaimana bisa?" gumam Maria akhirnya, "apakah mereka sengaja melakukannya pada kita saat itu?"


Pak Wibowo menggelengkan kepala tak percaya. Apakah semua yang terjadi saat itu hanya kesalah pahaman? Bagaimana bisa? Apakah ada seseorang yang memang sengaja melakukannya? Kenyataan ini menyakitkannya, ia berjuang demikian lama untuk memaafkan pengkhianatan Maria. Tapi saat ini, ia tak bisa menyebutkan pengkhianatan yang mana, karena semua yang terjadi saat itu hanya kesalah pahaman.


"Jadi, siapa yang melakukannya?" tanya Pak Wibowo terbata-bata.


"Tak penting siapa yang melakukannya, semua sudah menjadi masa lalu sekarang," jawab Maria sambil menyelesaikan karyanya, tinggal sebentar lagi rangkaian bunganya akan siap. Ia harus menyiapkan makan siang untuk putra dan cucu-cucunya, ia juga punya tamu sekarang, mungkin saja Hasan berkenan makan bersama mereka.


"Mungkinkah jika kesalah pahaman ini tidak terjadi, saat ini kita masih bisa bersama," ucap Pak Wibowo berandai-andai.


"Tak perlulah berandai-andai lagi, aku sudah menghabiskan banyak umurku di rumah sakit jiwa, aku sungguh tak ingin lagi."


"Rumah sakit jiwa? untuk apa? kamu..." Pak Wibowo tak meneruskan perkataannya, ia sedikit bingung.


"Saat itu aku sedikit bodoh, karena terlalu mencintaimu membuatku berakhir di rumah sakit jiwa."


"Tidak mungkin!" sangkal Pak Wibowo, yang harusnya kecewa dan tertekan adalah dirinya, bukan Maria, yang ia dengar Maria telah bertunangan dengan pria kaya.


Tapi benarkah itu? Sangkal Pak Wibowo dalam hati.


"Hasan, marilah kita sudahi ini, aku telah memaafkan semua kesalah pahaman yang terjadi diantara kita. Takdir kita telah selesai, masing-masing dari kita telah memperoleh kehidupan sendiri-sendiri."


"Aku minta maaf," ucap Pak Wibowo, ia tak tahu harus berkata apa lagi. Ia tak menyangka jika Maria sampai berada di rumahsakit jiwa karena perbuatannya.


Pak Wibowo mengenang kisah cintanya dulu. Siti Nur Maria adalah cinta pertamanya, mereka berpacaran sejak tahun pertama SMA, mereka pasangan yang serasi, mereka berdua tetap tak tergoyahkan meski keluarga Maria tidak setuju. Ia berjuang sedemikian kerasnya agar bisa menikahi Maria. Namun ia mendengar bahwa Maria telah menyerah memperjuangkan cinta mereka. Setelah kesalah pahaman berhembus karena pertemuan mereka yang gagal, ia mendengar Maria bertunangan, karena ingin membuktikan bahwa ia bisa move on, ia pun menikahi Rini, yang menjadi istrinya sekarang. Mungkin karena mendengar pernikahannya, Maria menderita dan berakhir di rumahsakit jiwa. Tapi terakhir kali ia melihat Maria, Maria sudah mempunyai anak laki-laki dan sedang hamil besar. Lalu apa yang terjadi, bukankah seharusnya Maria bahagia dengan pernikahannya?


"Tak apa, semua sudah berlalu, biarlah yang terjadi di masa lalu tetap menjadi masa lalu” pungkas Maria. Ia berdiri sambil memandang hasil karyanya yang sudah jadi, “ Rayan akan segera datang, maukah kau ikut makan siang bersama? Mungkin kamu merindukan cucu-cucumu juga.”


“Bisakah aku melakukannya, aku tak berani, aku yang mengusir cucuku ke luar negeri dan menolak mengakuinya.”


“Dosamu cukup banyak juga ternyata?” gurau Maria.


“Apakah kamu tidak marah padaku?” tanya Pak Wibowo keheranan.


Maria yang telah berusaha menahan emosinya dari tadi langsung meledak.


“Kau, kau tahu betapa aku ingin sekali memukulmu, kenapa kamu begitu jahat padaku, sekarang kamu juga begitu jahat pada putraku, katakan untuk apa kamu menemuinya? Kamu sudah mengusirnya sejauh ini. Untuk apa lagi kamu mendatanginya?” teriak Maria marah.


“Maafkan aku, aku tidak tahu kalau Rayan adalah putramu, aku sungguh tidak tahu,” ucap Pak Wibowo meminta maaf, “aku baru mengetahuinya hari ini bahwa Rayan adalah putramu.”


“Kau tidak hanya mengusir putraku, kau juga mengusir cucuku, padahal dalam tubuh mereka mengalir darahmu, kenapa kamu begitu kejam,” teriak Maria, tak kuasa ia memukuli Hasan. Ia sangat marah, putranya telah banyak menderita akibat perbuatan Hasan. Maria mungkin bisa memaafkan perbuatan Hasan padanya, tapi ia tak bisa memaafkan perbuatan Hasan pada putra dan cucunya.

__ADS_1


Pak Wibowo memegang tangan Maria agar berhenti memukulinya, “maafkan aku Maria, jika aku tahu bahwa Rayan adalah putramu, aku rela jika Rayan balas dendam padaku, tapi kenapa ia harus menyakiti putriku. Putriku satu-satunya.”


Maria menangis, sejujurnya ia juga tahu perbuatan putranya yang menuntut balas atas perbuatan Hasan. Semua yang terjadi pada Rayan dan Intan adalah buah dari kisahnya dan Hasan. Semua ini karma. Seolah semuanya telah terkait oleh takdir.


“Aku janji akan menebus semua kesalahanku, kumohon pertemukan aku dengan Rayan demi putriku, kumohon,” pinta Pak Wibowo.


“Ibu... “ panggil seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam green house.


Pak Wibowo, melihat seseorang datang, Maria tak mendengarnya karena sibuk memarahinya, tapi ia tahu siapa yang datang. Ya, yang berjalan ke arahnya adalah Rayan, Rayan berjalan lurus ke arahnya dengan cepat, dan tanpa basa basi langsung melayangkan tinju bertubi-tubi padanya.


Maria langsung berusaha melerai mereka tapi rupanya Rayan tak mau mendengarnya, sampai suara gadis kecil memaksa Rayan menghentikan pukulannya.


“Papa... “


Pak Wibowo melihat seorang gadis cilik menangis memanggil Rayan, papa. Ia menutup mulutnya dan meneteskan air mata tak percaya, gadis kecil itu pastilah cucunya, wajahnya terlihat sama persis seperti Intan waktu kecil, “cucuku...” panggil Pak Wibowo lirih saat melihat Rayan membawa cucunya pergi.


🌺🌺🌺


Rayan tiba bersama anak-anak dari sekolah. Ia memandang si kembar dengan penuh kasih sayang, si kembar Ruby dan Rudy tumbuh menjadi anak yang rupawan. Ruby sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik, dengan mata hitam yang jernih, kulit putih langsat khas gadis Jawa, serta rambut hitam yang panjang. Betapa miripnya Ruby dengan Intan.


Sedangkan jagoannya, Rudy, dia tumbuh menjadi anak yang pintar dan cekatan. Rambutnya sedikit coklat dengan tekstur yang halus, persis seperti milik Rayan, Rudy memiliki lesung pipi yang tajam di kedua pipinya, membuatnya terlihat manis saat tersenyum. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Ruby, sedang posturnya kurus mirip sepupunya, Samuel, putra semata wayang Ema.


“Kenapa pintu gerbang terbuka, siapa yang bertamu?” gumam Rayan seraya memarkirkan mobilnya ke halaman rumah.


“Ada apa, Pa?” tanya Rudy saat melihat Papanya yang keheranan.


“Oh, tidak ada apa-apa sayang, ajak adikmu masuk ke rumah, ganti baju dan kita akan bersiap makan siang, Papa akan memanggil Oma kalian,” perintahnya pada Rudy.


Rudy lantas menurut dan beriringan bersama adiknya masuk ke rumah.


Rayan bergegas menuju ke green house, karena ia tahu Ibunya pasti ada di sana. Tapi saat melihat pintu green house terbuka lebar, ia segera berlari ke dalam. Ia takut terjadi sesuatu pada Ibunya. Apalagi terdengar suara Ibunya berteriak dengan nada tinggi. Ia khawatir depresi Ibunya kambuh lagi, padahal Ibunya sudah dinyatakan sembuh 5 tahun yang lalu.


“Ibu... “ teriak Rayan.


Rayan melihat Ibunya tengah bersama seseorang. Tapi saat Rayan melihat siapa yang bersama Ibunya, Rayan langsung diliputi emosi dan bergegas ke arah pria tua itu dan, “buagh...” tanpa pikir panjang, ia langsung melayangkan tinjunya secara membabi buta.


“Rayan... “ pekik Maria menghentikan putranya.


Rayan tak peduli pada teriakan Ibunya dan terus memukuli Pak Wibowo tanpa ampun.


“Papa...” panggil Ruby sambil menangis, ia ketakutan melihat Papanya memukul seseorang. Ternyata Ruby membuntuti Papanya ke dalam green house.


Rayan tersadar dari emosinya kala mendengar putrinya menangis, ia lantas melepaskan Pak Wibowo dan berbalik memeluk putrinya.


“Maafkan Papa sayang, Papa menakutimu,” bisik Rayan sambil menenangkan putrinya. Ia lantas menggendong putrinya ke luar green house, ia pasti lupa memberikan kunci rumah sehingga Ruby membuntutinya ke sini.


Rayan terlebih dulu harus menjauhkan Ruby dan Rudy sebelum ia meminta penjelasan pada Pak Wibowo.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2