
🌺🌺🌺
Intan memasuki kawasan bandara internasional Changi Singapura untuk transit sebentar. Sebenarnya banyak hal yang bisa dikerjakan Intan demi membunuh waktu. Tapi, Intan lebih memilih bersantai di lounge dengan membaca buku.
Tak ada yang menarik dari bukunya. Intan merebahkan punggungnya pada sandaran sofa sambil melihat sekitar. Bandara changi selalu ramai seperti biasanya, semua orang terlihat sibuk dengan dirinya masing.
Tiba-tiba Intan dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita paruh baya yang mendekatinya dengan menggendong seorang bayi. Awalnya ia merasa sedikit aneh, tapi Intan tetap memasang senyum diwajahnya.
"Nyonya apakah kamu bisa menolongku," kata wanita itu memulai percakapan.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?" jawab Intan sambil meletakkan buku yang dibacanya.
"Apakah penerbanganmu akan tiba dalam waktu dekat?" alih-alih menjawab, wanita itu malah balik bertanya.
"Kurasa tidak, aku masih punya cukup waktu, apa yang bisa ku bantu?" tanya Intan lagi.
"Perkenalkan namaku Jemima. Perutku sedang tidak enak, aku hendak ke toilet, bisakah aku minta tolong untuk membawakan cucuku sebentar," pinta Jemima.
"Baiklah," jawab Intan tak kuasa menolak karena Jemima sudah mengulurkan cucunya pada Intan, rupanya panggilan alam sudah tak tertahankan.
"Aku juga akan mencari obat untuk meredakan perutku. Aku tak tahu akan berapa lama, mungkin sekitar 15 menit. Kuharap aku tak merepotkanmu."
Jemima tak menunggu jawaban Intan karena ia sudah langsung menghilang ke arah toilet.
Intan memandang bayi ditangannya, ada rasa tak percaya bahwa saat ini ia tengah memegang seorang bayi. Mau tak mau memorinya harus kembali mengingat tentang anaknya. Mungkinkah jika anaknya masih hidup ia akan sebesar ini. Intan mulai berkaca-kaca terbawa emosinya sendiri.
Bayi laki-laki ditangan Intan balik memandang Intan dengan senyum terkembang, matanya yang sipit sedikit terpejam saat tersenyum. Intan ikut terbawa dengan senyumnya yang ramah. Bayi laki-laki ini berambut hitam lebat tertutup topi rajut warna navy yang senada dengan bajunya, tangan mungilnya menggapai gapai wajah Intan dengan penasaran. Intan mendekatkan bayi itu ke arahnya agar memudahkan bayi itu menggapai wajahnya.
"Beh beh beh.. ," baby boy itu mulai berkata-kata dengan semangat. Namun, saat tangan mungilnya berhasil menggapai wajah Intan. Bayi itu seolah menyapanya.
"Maaaaaa maaaaa... "
Air mata yang tertahan dimata Intan langsung tumpah dipipinya. Air matanya jatuh menetes mengenai tangan mungil bayi kecil itu.
"Iya sayang, ini Mama," jawab Intan spontan tanpa disadarinya. Ia memasang senyum di wajahnya meski air mata menetes dikedua pipinya. Intan tak kuasa menahan diri untuk menciumi bayi itu dan mendekapnya kedalam pelukannya. Sungguh ia merindukan bisa dipanggil mama oleh anaknya.
Intan mencium bayi dipangkuannya dengan penuh kasih sayang. Mungkin Tuhan berbaik hati memberinya 15 menit kenikmatan bisa merasakan hadirnya seorang bayi. 15 menit untuknya merasakan menjadi seorang ibu, meski anak ini bukanlah bayinya. Terimakasih Tuhan, telah memberikan perasaan yang demikian dalam padaku. Terimakasih.
Intan menghapus air mata yang berlinang dipipinya. Dan menggantinya dengan wajah penuh senyum, dengan bersungguh-sungguh Intan bercengkrama dengan bayi nan lucu ini.
"Aih, lihatlah pipimu yang tembem ini, menggemaskan sekali, sini biar Mama memakannya." Intan berpura pura memakan pipinya.
"Maaaaaa maaaaa," ulang bayi itu merespon candaan Intan.
"Ada apa sayang? kamu merindukan Mama, ya," jawab Intan sambil menciumnya lagi dengan gemas. Bayi itu tertawa sampai matanya menyipit yang anehnya meski dengan fitur mata yang sipit, hidungnya masih demikian mancungnya. Ia sampai tak tahan berkomentar.
"Dengan mata sipit bagaimana bisa hidungmu sedemikian mancungnya. Papamu pasti sangat tampan. Kelak dewasa kamu pasti akan menjadi pria yang tampan. Ingat ya, jangan membuat banyak wanita patah hati."
Intan menggelitik perut bayi itu sampai bayi itu tertawa terpingkal-pingkal. Suara tawanya saja sudah mampu membuang rasa stress yang dibawa Intan selama ini. Ia tak bisa memikirkan apapun selain perasaan bahagia. Sampai-sampai tak terasa waktu pun berlalu dengan cepatnya dan Nyonya Jemima sudah kembali, mau tak mau ia harus menyerahkan cucunya kembali pada Nyonya Jemima.
"Terimakasih, aku sudah merepotkan. Kuharap cucuku tidak menyulitkan anda."
__ADS_1
"Jangan berkata begitu. Bayinya sungguh pintar. Ia sama sekali tidak rewel, ia benar-benar bayi tampan yang pintar."
"Sekali lagi terimakasih," jawab Jemima sambil berlalu. Intan kembali duduk di kursinya dengan tersenyum, Pengalaman ini tak akan pernah dilupakannya seumur hidup.
🌺🌺🌺
Intan hendak membaca bukunya lagi tapi tidak jadi karena seseorang telah duduk disampingnya. Ia melihat Seorang ibu muda sambil membawa bayi tengah duduk disampingnya. Ia sedikit keheranan, kenapa hari ini seolah ada magnet sehingga banyak bayi mengelilinginya? Tapi, Intan tak mempermasalahkannya, Intan malah merasa senang. Ia berharap dengan mengingat hari ini sudah cukup membawa kekuatannya untuk bertahan mengarungi kerasnya masa depan yang akan dipilihnya.
Ibu muda itu mendudukkan bayinya di samping Intan. Balita perempuan yang kira-kira usianya hampir setahun, balita yang sangat cantik dan menggemaskan. Balita perempuan itu memakai dress warna kuning dengan motif garis dibagian lengannya, dan bandana hitam bermotif floral tersemat dikepalanya menambah manis penampilannya. Bayi perempuan itu sedang memegang boneka bebek kuning dari karet yang bisa berbunyi saat ditekan, kelihatannya itu mainan kesukaannya karena bayi itu tak mengindahkan sekitar dan asik bermain sendiri.
"Dada dada... Nnn nnnn...," balyi itu mengoceh sendiri dengan riang.
Intan memberanikan diri menyapa bayi kecil itu.
"Cantiknya, sedang main apa sayang."
"Sedang main boneka Bebek, Tante." Ibu si bayi menjawab sapaan Intan.
"Perkenalkan, namaku Intan," kata Intan memperkenalkan diri.
"Salam kenal, namaku Sarah. Dan ini Ruby. Ruby salim dulu sama Tante,"
Intan menyodorkan tangannya, dibantu Sarah, Ruby kecil bersalaman dengan Intan.
"Aih pintarny," puji Intan sambil mengangkat Ruby ke pangkuannya.
Ruby yang sudah duduk dipangkuan Intan memandang Intan dengan mata bulatnya yang menggemaskan. Senyum kecil tersungging dibibir Ruby memperlihatkan deretan giginya yang baru ada beberapa.
"Maaaaa maaaaa.. . . Daaaa daaaa" Respon Ruby kala Intan mengambil fotonya, kali ini Intan hanya bisa menggigit bibirnya mendengar ocehan Ruby, ada Mama Ruby yang asli disini, ia tak bisa menjawabnya meskipun ingin.
"Tolong ambil foto kami," pinta Intan. Ia ingin menyimpan memori ini.
Terlihat Sarah sedikit terkejut. Tapi sudah kepalang, jika ia menolak pasti suasananya menjadi canggung. Toh sehabis ini Tuan Rayan akan pergi jauh, semoga ia tak marah. Dengan sedikit terpaksa karena takut, Sarah mengambil foto mereka. Senyum merekah tersungging dari keduanya, Ny. Intan terlihat sangat cantik, Ruby juga tak kalah cantiknya, benar-benar gen yang menurun.
"Ini sudah," kata Sarah akhirnya.
"Terimakasih," jawab Intan sembari menerima ponselnya.
"Ngomong-ngomong usia berapa Ruby sekarang?" tanya Intan yang masih menempatkan Ruby pada pangkuannya.
"Hampir setahun sebentar lagi."
"Jika anakku masih bersamaku, usianya kira-kira sepantaran Ruby," curhat Intan sambil menghela nafas.
"Aku turut bersedih," jawab Sarah. Ada rasa sedih pada suaranya karena Sarah tahu bayi yang dirindukan Intan ada di pangkuannya saat ini. Bukankah kenyataan itu sangat miris.
"Tak apa, mungkin takdir belum menentukan kita bersama," jawab Intan sambil terus menciumi Ruby seolah Intan benar-benar melampiaskan kerinduan bayinya pada Ruby.
"Ruby sangat cantik, kelak dewasa Ruby pasti akan jauh lebih cantik, semoga kelak Ruby menjadi anak yang membanggakan."
"Amin, terimakasih tante," jawab Sarah,
__ADS_1
"Maaf, tante, sepertinya kami harus pergi, lenerbangan kami sebentar lagi, maaf sudah merepotkan," kata Sarah sambil mengulurkan tangannya meminta Ruby. Meski merasa enggan berpisah, Intan pun menyerahkan Ruby pada Sarah.
Intan terbengong bengong sepeninggal Sarah dan Ruby, ada rasa tak rela berpisah dengan Ruby. Intan terduduk lagi di sofa, setelah bercengkrama dengan bayi rasanya suasana menjadi kosong, lebih baik ia mencari makan. Ketika beres beres, ia mendapati mainan Ruby, boneka Bebek karet ada di sela kakinya, pasti terjatuh saat bersamanya tadi. Serta merta Intan memungutnya dan berinisiatif mencari Ruby.
Intan menolehkan pandangannya ke arah lalu-lalang orang. Tadi Intan lupa menanyakan ke mana arah tujuan Sarah dan Ruby. Intan lantas mencari bayi yang memakai baju kuning di sekitarnya. Intan sudah mondar mandir putus asa. sampai matanya bersirobok dengan seorang pria yang menggendong bayi dengan baju kuning sedang melewati pemeriksaan boarding pass. Intan terpaku ditempatnya.
Intan tak yakin apakah ia masih sempat berlari kesana, bagi sebagian orang mainan anak-anak sangat lumrah hilang dan dengan mudah membeli mainan baru. Apakah sopan jika ia berteriak hanya karena mainan anak-anak? Tapi naluri Intan mengatakan ia harus menyerahkannya. Intan lantas berlari mendekat sambil berteriak.
"Ruby... ," teriak Intan, jarak yang jauh membuat suaranya demikian kecilnya.
"Ruby... " teriak Intan lagi. Kali ini Intan berhasil menarik perhatian pria itu. Pria itu lantas menoleh ke arahnya.
Namun, begitu pria itu menoleh, detik berikutnya Intan terdiam. Suasana di sekelilingnya tiba-tiba hening, tak ada suara, tak ada gerakan. Seolah-olah dunia disekitarnya berhenti bergerak.
"Rayan..." gumam Intan tak bersuara hanya bibirnya mengucap nama kekasihnya dengan lirih.
Rayan yang tengah menggendong Ruby balik memandang Intan dengan sedikit terkejut namun tetap tenang. Intan yakin Rayanlah yang mempersiapkan pertemuan ini.
Intan tak kuasa meneteskan air mata saat menyadari Ruby adalah anaknya. Ia begitu dekat tadi, ternyata Rayan secara sembunyi-sembunyi mempertemukan mereka. Intan menangis dan tertawa bersamaan, Rayan berani mengambil resiko demi bisa mempertemukan mereka. Oh Tuhan, Apakah benar ini takdirMu?
Rayan membantu Ruby melambaikan tangan kearah Intan.
Intan hanya bisa berdiri mematung, air matanya tetap menetes, ia ingin sekali berlari kearah putrinya. Namun Intan menyadari batasannya. Saat ini, hanya inilah kesempatan yang bisa didapatnya. Ia tak hendak melangkahi Papanya karena ia tahu papanya menggunakan keselamatan putrinya sebagai jaminan.
Intan melihat petugas menyuruh Rayan bergegas. Rayan menoleh sekali lagi ke arahnya dengan tersenyum. Rayan masih tetap tampan seperti biasa dan Rayan akan selalu menjadi yang paling tampan dalam hatinya.
Ketika Rayan sudah menghilang dari pandangan barulah Intan melambaikan tangannya, selamat tinggal Ruby, putriku. Mama akan selalu berdoa yang terbaik untukmu. Tetaplah sehat sampai kita bertemu lagi, doa Intan.
🌺🌺🌺
Rayan kebagian menggendong Ruby sambil berjalan terakhir melewati pemeriksaan boarding pass. Sarah, Jemima, Rudy dan Johan sudah lebih dulu masuk. Entah kenapa Rayan merasa sedikit memiliki prasangka ada yang menahannya untuk tidak segera pergi.
"Ruby... "
Rayan mendengar sayup-sayup seseorang memanggil nama putrinya. Namun, Rayan tak yakin.
"Ruby... "
Panggilan kali ini lebih jelas. Rayan memberanikan diri menoleh ke belakang. Seseorang berdiri di kejauhan memandangnya. Rayan tercekat, jantungnya serasa berhenti berdetak saat ia melihat Intan, ibu dari anak-anaknya, wanita yang dicintainya tengah berdiri di sana memandangnya.
Rambut Intan sangat pendek dengan sedikit poni menutup keningnya. Sejak kapan Intan mulai suka rambut pendek, batin Rayan, tapi tetap saja, ia terlihat seperti dewi meski dengan pakaian super hitam dari atas ke bawah, sedangkan ditangannya ada boneka bebek karet warna kuning milik Ruby.
Rayan tersenyum, sekarang Intan sudah tahu bahwa Ruby adalah putrinya. Rayan sangat bersyukur. Namun, ia tak berani mendekatkan putrinya kesana. Demi keselamatan putra-putrinya ia sudah berjanji menjauhkan Ruby dan Rudy dengan Intan. Rayan menggapai tangan Ruby untuk melambaikan tangan pada Ibunya.
Petugas lantas meminta Rayan segera bergerak karena ia menghalangi antrian. Rayan sekali lagi menoleh ke arah Intan sambil berucap pelan, "I love you"
"I love you too," jawab Intan, ia masih berdiri disana dengan air mata berlinang. Takdir demikian kejam untuk mereka.
Intan hiduplah dengan baik aku akan menyusulmu, batin Rayan yang dengan mantap berjalan kedepan tanpa menoleh lagi.
🌺🌺🌺
__ADS_1