Bulan Kesembilan

Bulan Kesembilan
Foto yang Tersebar


__ADS_3

🌺🌺🌺


Pagi pertama bagi Rayan di Indonesia sangat berkesan, ia disambut cuaca sejuk pagi hari yang menyegarkan. Langit terlihat bersemburat jingga cerah membawa aura positif bagi Rayan yang sengaja bangun pagi sekali. Tentu saja bangun pagi memang sudah kebiasaan Rayan. Bagaimana tidak, ia harus menyiapkan kebutuhan si kembar yang tentunya bermacam-macam dan sangat kompleks. Dan untuk kali pertama sejak kelahiran si kembar, ia bisa bangun pagi tanpa memusingkan hal-hal mengenai si kembar karena saat ini ia punya Intan yang akan membantunya untuk merawat mereka. Namun pagi indahnya tiba-tiba dikejutkan oleh berita buruk. Johan pagi sekali datang membawa berita buruk tentang Intan.


Rayan sedang membantu Intan menyiapkan sarapan untuk si kembar saat Johan datang. Ia sengaja membuat khusus karena si kembar belum terbiasa makan nasi sebagai sarapan mereka. Johan segera mengajak Rayan berbicara di tempat lain agar tidak terdengar oleh Intan. Rayan yang belum sempat menyelesaikan masakannya ikut saja kemauan Johan karena sepertinya yang akan diberitahukan padanya adalah masalah yang urgent.


“Apakah kalian sudah menyalakan televisi?” tanya Johan.


Rayan menggeleng, “ada apa?” tanya Rayan khawatir.


“Ada kabar buruk mengenai Ny. Intan. Hari ini sebaiknya Tn. Rayan segera memutus sambungan televisi. Jangan biarkan anak-anak melihatnya, pun jangan biarkan Ny. Intan melihatnya.” Karena melihat Rayan yang tidak mengerti, Johan segera menunjukkan ponselnya, setelah lebih dulu memasukkan kata pencarian, Intan.


“Akhirnya terkuak hubungan terlarang Intan yang membuatnya diceraikan”


“Putri keluarga terhormat yang bermaksiat : tersebarnya foto syur bukti perselingkuhan Intan, Putri bungsu keluarga Wibowo”


“Ternyata putri bungsu keluarga Wibowo tak sepolos yang kita kira”


“WOW! Skandal panas keluarga Wibowo.” Dengan foto Intan berciuman dengan seorang pria.


“Intan, putri keluarga Wibowo menggoda Anton Daisuke untuk kelancaran perusahaannya”


“Lihat di sini, foto syur putri keluarga Wibowo yang sedang bermesraan”


“Menghalalkan segala cara, bukti kekayaan tak bisa mengubah sifat seseorang: Intan Dwi Wibowo terlibat skandal percintaan”


“Kelakuan liar putri keluarga Wibowo sebagai alasan pernikahan satu harinya yang fenomenal”


Dan masih banyak lagi, Rayan tak sanggup lagi membacanya. Mereka malah mengaitkan foto itu dengan kisahnya dahulu, batinnya murka. Masalah ini membuatnya menyesal perbuatannya dulu telah meninggalkan citra buruk pada Intan.


“Kau bisa kan meredakan berita ini?” tanya Rayan pada Johan. Mereka sudah berpindah bicara ke dalam ruang kerja Rayan. Ia tak mau Ibunya dan Bu Sri pulang yang pulang dari berbelanja memergoki pembicaraan mereka.


“Aku mungkin bisa melakukannya, tapi komentar buruk terus saja muncul di sosial media,” jawab Johan, “mereka tidak bisa dihentikan kecuali kita membuat laporan kepolisian,” lanjut Johan.


“Kita tak mungkin melakukannya atau citra Intan akan semakin buruk.”


“Lantas apa yang harus kita lakukan?” tanya Johan.


“Aku sedang memikirnya,” ucap Rayan. “Oh, aku lupa belum mematikan sambungan televisi. Aku juga harus menyita ponsel Intan untuk sementara waktu. Kamu tunggu di sini,” perintahnya pada Johan.


Saat Rayan keluar kamar, ia mendapati Eka sudah ada di rumahnya memereteli sambungan televisi dan telepon yang ada di rumahnya. Sedangkan Intan berada di samping Eka berusaha mencegah apa yang dilakukan Eka.


“Lihatlah apa yang dilakukan Mas Eka, ia menolak membicarakannya padaku apa yang terjadi malah melakukan sesuatu yang tak jelas seperti itu,” lapor Intan saat Rayan tiba.


“Ah, kau datang,” sambut Rayan. Masalah ini pasti berdampak sangat besar sampai Eka harus turun tangan sendiri.


Saat mendengar perkataan Rayan, Intan akhirnya menyadari bahwa Rayan pasti telah mengetahui sesuatu. “Kau juga mengetahuinya, ya kan! Katakan padaku ada masalah apa?” desaknya pada Rayan. Tapi Rayan tentunya tak mau mengatakan hal-hal yang akan membuat Intan khawatir, ia akan menyelesaikan masalah ini terlebih dulu sebelum memberitahu Intan masalah ini.


“Ada Johan di kamar kerjaku," kata Rayan sambil menunjuk kamar di samping ruang tengah, "kamu bisa menungguku di sana, sementara aku berbicara dengan Intan."


Setelah Eka berlalu, Rayan segera mengajak Intan ke arah kolam, sedikit lebih jauh dari pintu ruang tengah untuk mengantisipasi siapa saja yang tiba-tiba datang dan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


“Sebenarnya alasan keberadaanku di sini adalah untuk menyelesaikan masalah ini.”


“Masalah apa? Ayolah Rayan, jika masalah itu menyangkut aku tolong jujur padaku, kamu tidak bisa menyelamatkanku dengan membuatku tak tahu apa-apa. Ketidaktahuan malah akan membahayakanku, mestinya kamu tahu itu.”


Rayan segera memeluk Intan dan menenangkannya, “tolong percaya padaku sekali ini saja, jika aku sudah menemukan solusinya aku akan memberitahumu. Sekarang jangan melihat apapun di media sosialmu atau pencarian internet, begitu pula si kembar, jangan biarkan mereka melihat televisi.”


Intan melihat Rayan dengan tatapan tak terima. Tapi bagaimanapun juga ia harus menurutinya, berharap itu yang terbaik.

__ADS_1


“Apa anak-anak sudah bangun?”


“Ya,” jawab Intan, “mereka bermain di kamar Rudy. Rudy mengatakan akan membongkar mainan-mainan yang kutempatkan dikamarnya, jadi ia meminta Ruby menemaninya. Dulu saat mendekor kamar si kembar aku membeli beberapa mainan baru untuk mereka.”


“Sudahkah mereka sarapan?” tanya Rayan .


“Belum, kami menunggu Ibu pulang dari pasar, mungkin sebentar lagi.”


“Ku rasa Ibu akan lama pulangnya, kamu ajak anak-anak sarapan terlebih dahulu. Aku akan menemui Mas Eka dan Johan.”


“Baiklah,” kata Intan akhirnya, “Rayan bisakah kamu memberitahuku masalah apakah itu?” tanya Intan, ia mencoba sekali lagi peruntungannya.


Rayan melihat Intan iba, ia mempertanyakan motifnya dalam hati, akankah tidak memberitahu Intan adalah yang terbaik atau malah yang terbaik adalah memberitahukannya. Karena melihat Intan yang memandangnya dengan tatapan memelas, ia pun tak kuasa menceritakan masalah yang mereka hadapi meskipun tidak sedetail mungkin.


“Seseorang memeras Papamu menggunakan fotomu, foto itu tak pantas di lihat. Papamu kesulitan menyelesaikan masalah ini sendiri jadi ia memintaku. Sekarang foto itu sudah beredar luas di dunia maya jadi sampai aku menyelesaikan ini tolong percaya padaku,” terang Rayan.


Intan menarik nafas panjang. “Baiklah,” jawab Intan. “Aku bisa sekalian cuti kerja dan meluangkan waktu bersama anak-anak. Ingat aku mengandalkanmu,” kata Intan.


“Tentu saja kamu bisa mengandalkanku,” kata Rayan sambil mengecup mesra kening Intan. Setelah melihat Intan berlalu menuju kamar anak-anak ia segera kembali ke ruang kerja karena ia sudah ditunggu Eka dan Johan.


“Bagaimana?” tanya Rayan pada keduanya saat ia masuk ke ruangan.


“Aku sudah berusaha memblokir media sebisaku,” jawab Eka.


“Ya, aku juga,” kata Johan, “akan tetapi... “ Johan tidak melanjutkan perkataannya malah memandang Eka. Eka yang mengerti maksud Johan segera melanjutkan perkataan Johan.


“Saham PT Wibo telah terjun bebas,” jawab Eka melanjutkan ucapan Johan, “tentunya juga Ruby's Diamond, karena Intan pemiliknya, maka sudah dipastikan ia telah bangkrut. Untung saja nilai perhiasan tidak pernah berkurang jadi ia tak benar-benar jatuh tapi tentu saja Intan mengalami kerugian yang sangat banyak. Melihat perusahaan Anton yang semakin menguat sepertinya hal ini memang ulahnya.”


Rayan melihat Eka yang masih memakai pakaian olahraga, ia menduga pastinya Eka langsung datang saat itu juga tatkala mendengar kabar ini, betapa beruntungnya Intan memiliki saudara yang sepeduli Eka. Sayang sekali kenapa Pak Wibowo tidak memberitahu Eka tentang masalah ini. Ia menduga alasan Johan melempar pertanyaan pada Eka adalah agar ia memberi penjelasan pada Eka mengenai masalah ini karena menilik dari perkataan yang diajukan Eka, terlihat jelas Eka tidak mengetahui detail masalahnya.


“Pasti foto ini editan,” Kata Eka, “kita hanya perlu mengatakan sejujurnya lewat konferensi pers.


“Apa! kapan Intan mengalami penculikan?” tanya Eka tak mengerti. Ia terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang didengarnya. Intan baru saja mengenal Anton, apa mungkin kejadian ini terjadi baru-baru ini, batinnya menduga-duga.


“Belum lama ini, Jhon bahkan harus dioperasi karena patah tulang,” jawab Johan.


“Jhon?” tanya Eka sambil mengingat-ingat, ia seperti pernah mendengar nama itu, tapi akhirnya ia mengingatnya juga,” Oh, Jonathan. Aku bertanya-tanya kenapa ia tidak muncul saat aku menyuruhnya mengantar Intan. Apakah kejadiannya malam itu?” tanya Eka penasaran.


“Ya” jawab Johan pendek.


“Bagaimana kau mengenal Jonathan?” selidik Eka. Jonathan adalah didikannya, bagaimana pria ini mengenalnya.


“Dia adikku,” jawab Johan.


“Oh!” jawaban Johan menjelaskan semuanya. Mungkinkah Rayan menyusupkan Jonathan padanya? Eka tak yakin. “Lalu langkah apa yang harus kita lakukan mengenai masalah ini?” jujur saja semua terasa sangat tiba-tiba bagi Eka. Ia belum bisa memikirkannya dengan jernih.


“Haruskah kita menuntut Anton sekarang? Kita sudah punya cukup bukti,” kata Johan.


“Jangan lakukan itu!” sergah Eka.


“Ya, jangan melakukannya,” kata Rayan sambil menggelengkan kepalanya menolak usul Johan.


“Kenapa?” tanya Johan tak mengerti.


“Jika kita membuka kasusnya sekarang maka citra Intan akan semakin buruk,” jawab Rayan.


“Ya, jangan membuat citra adikku semakin buruk. Pasti ada cara yang lain. Aku tak masalah soal jatuhnya saham atau menjadi bangkrut, tapi tolong pilih solusi yang baik untuknya. Adikku sudah cukup menderita dengan rumor yang berkembang apalagi ditambah mempolisikan Anton, rumor pasti akan menggila bahwa kita sengaja membuat Anton dipolisikan untuk menutup skandal ini. Tidak bisakah kita mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi itu?” tanya Eka.


“Kita mungkin akan mempermalukan diri sendiri karena foto itu autentik tanpa rekayasa,” jawab Rayan. “Tapi, aku sepertinya bisa melakukan klarifikasi mengenai pernikahanku dengan Intan. Setidaknya aku harus membuat narasi percintaan yang bagus untuk Intan.”

__ADS_1


Eka memandang Rayan dengan tatapan aneh, jujur saja ia masih tidak bisa menerima semua perlakuan Rayan pada adiknya. Apalagi ia tahu semua masalah yang terjadi pada Intan bermula dari Rayan. Tapi kalau boleh jujur masalah ini bermula dari Papanya, tapi tentu saja Intannya yang paling menderita. Jika memang Papanya telah luluh dan membiarkan Rayan bertanggungjawab maka tugasnya sebagai Kakak adalah percaya dan mengawal pria ini agar tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


“Hu... hu.... Papa... huhu...” tiba-tiba suasana serius mereka dikejutkan oleh tangisan Ruby yang terdengar nyaring dari ruang makan. Rayan dengan segera berlari keluar diikuti Eka dan Johan.


“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyanya saat tiba di sana. Ia melihat Ruby tengah duduk di meja makan sambil menangis sedangkan Rudy hanya diam sambil memegang sendoknya. Sedangkan Intan duduk di samping Ruby berusaha menenangkan.


“Ruby ingin telur mata sapi seperti milikku, tapi Mama selalu salah membuatnya,” jawab Rudy. Ada banyak piring dengan masakan telur mata sapi.


Intan memandang Rayan dengan tatapan tak berdaya saat Ruby berlari ke arah Rayan mencoba mengadukan Intan. “Aku sudah mengatakan mau telur setengah matang, tapi Mama terus membuatkanku telur yang matang. Aku juga tidak mau ada hijau-hijau,” kata Ruby sambil menunjuk daun bawang yang tersebar di telurnya.


“Kan Ruby tinggal bilang sama Mama mau yang seperti apa, nanti dibuatkan,” kata Rayan sambil menggendong Ruby.


“Aku sudah mengatakannya, sungguh!”


“Telur setengah matang tidak bagus untuk anak-anak, banyak bakteri yang belum mati bisa membuatnya sakit,” terang Intan memberi penjelasan.


Ruby mencebik, “aku juga tidak mau hijau-hijau itu,” lanjutnya. “Pokoknya Ruby mau Papa yang membuatnya.


“Ih, Ruby tidak boleh begitu, Ruby harus dengar apa kata Mama. Kalau tidak boleh ya harus dijauhi, kan demi kebaikan Ruby juga.”


“Ruby gak mau makan,” ujar Ruby sabil merosot dari gendongan Papanya.


“Ok, baiklah Tuan Puteri, Papa akan jadi koki,” ujar Rayan akhirnya sambil menatap Intan dengan isyarat maaf.


“Papa, kenapa kita tidak pulang saja, Ruby mau sama Papa, kakak dan nenek saja,” rajuk Ruby.


“Hush, Ruby tidak boleh ngomong seperti itu,” sahut Rayan cepat.


“Hiks, Papa sudah tidak sayang sama Ruby,” ujar Ruby sambil berlari ke kamarnya. Rayan tak kuasa mengejar Ruby tatkala ia melihat wajah kecewa Intan.


Intan langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain kala mendengar pernyataan Ruby, hatinya sakit. Ternyata tak semudah itu mengambil hati anak-anak, secara biologis ia adalah Ibunya, tapi secara realitas ia tak pernah berperan sebagai Ibu bagi si kembar. Jadi wajar saja ada penolakan saat ia masuk ke dalam lingkaran keluarga kecil mereka karena saat ini bisa dikatakan ia adalah orang luar yang baru sekali ditemui anak-anaknya. Mungkin butuh waktu bagi anak-anak untuk menerimanya, khususnya Ruby.


“Rudy, ajak adikmu kemari. Papa yang akan membuatkan sarapan,” perintah Rayan pada Rudy, Rudy yang memang dasarnya penurut segera melaksanakan perintah Rayan. Rayan bersyukur dengan adanya Rudy, kalau tidak karena Rudy yang pengertian akan sangat sulit baginya mengerti kemauan Ruby yang pemilih. Mungkin salahnya jugalah yang terlalu menuruti Ruby, tapi apa hendak dikata sebagai orang tua single yang terpenting adalah anak-anaknya bahagia, tak penting apapun itu akan dilakukannya.


“Jangan terlalu diambil hati,” ujar Eka menghibur adiknya, “anak perempuan memang sedikit berbeda, Wina juga seperti itu kok!”


“Ya, jangan hiraukan kata-katanya, Ruby memang sedikit sensitif, mungkin karena belum terbiasa, cepat atau lambat ia akan mengerti dan menerima, kamu yang sabar, ya. Salahku jugalah terlalu memanjakannya,” jawab Rayan.


Intan menggeleng, “aku memang belum terbiasa dengan anak-anak, meski aku ibunya aku belum benar-benar melakukan hal yang harusnya seorang ibu lakukan. Saat mendengarnya tidak menginginkanku aku merasa sedih,” jawab Intan pelan.


Rayan segera mendekat ke arah Intan dan memeluknya, “jangan pernah mengatakan itu, kamu akan segera menjadi Ibu terbaik untuk mereka. Kita hanya perlu membesarkannya bersama dan menjadi orang tua hebat untuk anak-anak,” kata Rayan menenangkan.


Intan memandang Rayan dengan tatapan berterima kasih. Ia jadi tahu perjuangan Rayan membesarkan anak yang ternyata tidak semudah bayangannya. Rayan tak pernah mengeluh padanya tentang susahnya mendidik si kembar, bandingkan dengan ia yang baru beberapa hari sudah ingin mengeluh karena perkataan Ruby.


“Sekarang bantu aku siapkan mejanya, Mas Eka dan Johan akan sarapan juga bersama kita. Sebentar lagi Ibu juga akan datang. Kita sarapan bersama-sama,” ujar Rayan meminta tolong pada Intan. Rayan dengan cekatan menyalakan kompor untuk menghangatkan makanan yang telah disiapkan Bu Sri dan memasak ulang makanan untuk Ruby.


Intan mengangguk, ia melihat punggung Rayan sedang sibuk di dapur. Rayan telah melalui berbagai cobaan untuk membesarkan si kembar, tentang bagaimana rewelnya saat anak punya keinginan, atau saat anak-anak sakit. Merawat si kembar setiap hari dari bangun tidur sampai tidur lagi, mengawasi mereka sambil bekerja, menyiapkan segala keperluan mereka. Bahkan ketika sampai di sini, Rayan tak sedikit pun membebankan si kembar padanya. Saat ini tak ada yang bisa dilakukannya untuk menebus perjuangan Rayan kecuali rasa cintanya yang makin bertambah untuk Rayan. Ingin rasanya ia memeluk pria itu untuk mengatakan bahwa ia sangat bersyukur telah memilikinya. Intan segera mendatangi Rayan dan membantunya memasak, ia bertekad akan belajar memasak mulai sekarang.


Johan yang melihat kemesraan Rayan dan Intan tiba-tiba terpikirkan sesuatu, “aku rasa aku telah menemukan solusi terbaik untuk masalah ini, apakah kau sependapat denganku?” tanyanya pada Eka.


Eka yang ternyata berpikiran sama hanya mengangguk, “Ya, ku rasa ini solusi terbaik untuk masa depan mereka. Mari kita membahas masalah ini setelah sarapan. Sementara itu aku akan ke atas untuk berbicara pada Ruby, karena ia seusia Wina kukira aku bisa meluluhkannya,” ujarnya sambil bergegas ke kamar Ruby. Johan yang ditinggal sendirian akhirnya membantu Rayan menata meja makan.


🌺🌺🌺


Terimakasih untuk follower dan viewer


jika suka karya Author bisa kasih kritik dan saran yang membangun di kolom yang disediakan.


selamat natal dan tahun baru.

__ADS_1


kemarin rayain anniv jadi baru bisa up hari ini, maafkan Author.


__ADS_2